Di tangga sebuah supermarket di Airmadidi Atas, seorang lelaki tua duduk ditemani tiga sapu lidi. Namanya Yoce Robot. Usianya mendekati 80 tahun. Ia pernah berlatih menembak bersama Permesta, merantau ke Gorontalo, dan menyimpan cerita yang tak semuanya ingin dibuka. Kini, dari sapu lidi seharga Rp20 ribu, Opa Yoce menyambung hidupnya, entah sampai kapan.
Hari memang belum tinggi-tinggi amat. Namun hawa panas mulai menyeruak tubuh ini.
Dengan motor tua keluaran tahun 2012 saya menapaki Jalan Raya Manado - Bitung. Niatnya mau menuju Bitung.
Ya, Bitung! Kota yang kerap dijuluki Kota Cakalang. Di kota ini terdapat ikon berupa Tugu Cakalang lho!
Saya mulai memasuki wilayah Airmadidi Atas, Kabupaten Minahasa Utara. Karena haus dan kebetulan sekalian ingin membeli underpad untuk ibu saya yang sudah lansia, saya pun singgah ke sebuah supermarket di Airmadidi Atas.
Sepeda motor saya parkir.
Entah mengapa usai memarkir sepeda motor pandangan saya tertuju kepada seorang lelaki tua dengan topi dengan pakaian agak lusuh serta sebuah tas rajuk plastik.
Lelaki tua dengan gigi bagian depan yang sudah tanggal itu duduk di tangga pintu masuk supermarket tersebut. Di sampingnya ada tiga sapu lidi. Ya, hanya tiga sapu lidi.
Saya memilih untuk duduk di sampingnya.
“Pagi opa,” saya menyapa.
Dia kaget dan membalas sapaan saya.
Tidak butuh waktu lama akhirnya kami ngobrol tentang sepak terjang diri lelaki yang rambutnya sudah memutih. Beruntung topi menutupi uban di rambutnya. Wajahnya suka menebar senyum.
Lelaki tua itu memperkenalkan namanya sebagai Yoce Robot. Dia mengaku lupa dengan tahun kelahirannya tetapi katanya usianya sekarang mendekati 80 tahun.
“Saya panggil Opa Yoce saja ya,” tutur saya. Opa Yoce mengangguknya kepalanya. Lagi-lagi dia membuang senyum.
Opa Yoce sehari-hari berjualan sapu lidi persis di tangga masuk supermarket tersebut. Supermarket di Airmadidi Atas, Minahasa Utara.
Di tempat lain, para pedagang kecil juga punya cerita tentang usaha mempertahankan penghidupan. Seperti salah satu tulisan dalam blog ini Jalan Pasar Lama Tomohon, ketika perubahan sebuah kawasan ikut mengubah kehidupan orang-orang yang mencari nafkah di sana.
“Saya dulu kuat bawa 20 sapu lidi. Tetapi sekarang hanya 10 sapu lidi saja. Punggung saya so tidak kuat. Jika masuk musim dingin suka sakit,” katanya.
Sinar matanya melihat wajah saya. Dia tahu saya bukan kelahiran Manado, Sulawesi Utara.
Saya benarkan itu. Saya bilang saya lahir, besar dan bekerja di Jakarta. Ayah saya orang Toraja. Sedangkan ibu saya orang Minahasa.
Mendengar itu, Opa Yoce tertawa. Dia mengangkat topinya. Rambut memutih yang agak gondrong terlihat jelas.
Saya ditanya tempat kelahirannya, lelaki tua dengan sandal jepit agak kumuh mengaku lahir di Amurang. Sekarang dia tinggal di daerah Kema.
“Saya sudah tinggal 50 tahun di Kema,” ujarnya.
Saya tanya keluarganya, Opa Yoce terdiam. Dia menundukkan kepalanya. Agaknya ada “sesuatu” yang agak berat untuk dia ceritakan. Saya pun terdiam sesaat.
Yang menarik dari Opa Yoce ini adalah pengakuan bahwa dirinya pernah ikut berjuang bersama Permesta alias Perjuangan Rakyat Semesta. Ya sama seperti Opa Adrian Paath, opa saya yang lahir dan besar di Desa Kamangta, Kabupaten Minahasa.
Ya, Permesta dideklarasikan pada 2 Maret 1957. Semula Permesta bermarkas di Makassar, Sulawesi Selatan. Belakangan dipindahkan ke Manado, Sulawesi Utara.
“Saya ikut berjuang dengan teman-teman di Permesta. Saya ikut latihan menembak di hutan,” Opa Yoce mengenang hal itu.
Setelah sepenggal cerita itu. Tiba-tiba wajahnya tampak sedih. Sepertinya Opa Yoce menyimpan kenangan pahit ketika keluar masuk hutan.
Dia tidak mau cerita mengenai kenangan pahit itu ketika saya tanya lebih jauh. Ia mengepal kedua tangannya. Akhirnya saya beralih ke soal lain.
“Berapa untung dari jual sapu lidi ini,” tanya saya.
Opa Yoce menyebutkan bahwa sapu lidi diambil sebuah pabrik. Dari sana dia membeli Rp9.000 per sapu lidi. Lalu ia menjual Rp20 ribu per satu satu lidi.
“Ya lumayan. Dari menjual sapu lidi saya bisa hidup. Kadang ada pembeli yang memberi uang lebih. Tete Manis (Tuhan Yesus-red) baik,” ia melanjutkan.
Perjumpaan dengan Opa Yoce juga mengingatkan saya pada pentingnya mendengarkan suara orang-orang biasa. Dalam tulisan tentang hubungan jurnalis, intelektual, dan kekuasaan, dalam artikel ini mempersoalkan, siapa yang masih bersedia bertanya dan mendengarkan masyarakat.
Hari mulai meninggi. Panas mulai meraja.
Tetapi kami tetap asyik ngobrol. Kami tetap duduk bersama di tangga supermarket tersebut. Lalu-lalang kendaraan melintas di depan kami. Tukang parkir sibuk mengatur parkir yang masuk dan keluar.
Melihat Opa Yoce duduk di tangga supermarket, saya teringat artikel di blog ini tentang ruang kota bagi orang-orang yang berjalan kaki. Bagaimana sebuah kota menyediakan ruang yang layak bagi warganya, terutama mereka yang sudah lanjut usia?
Opa Yoce melanjutkan ceritanya.
Katanya, dia pernah merantau ke Gorontalo. Ada apa di sana? Tanya saya. Dia kembali terdiam. Wajahnya kembali menunduk.
Untuk membunuh keadaan itu saya pun lalu menawari camilan. Kebetulan dekat supermarket itu ada beberapa warung penjualan camilan. Kami menyantap dengan sesekali tertawa. Dan lagi-lagi kami melihat lalu-lalang kendaraan di depan supermarket itu. Sesekali kami tertawa lepas.
Saya senang Opa Yoce bisa tertawa lebar walau gigi depannya sudah pamit. Entah kapan.
Akhirnya saya pun pamit karena Kembali melanjutkan perjalanan ke Bitung.
Beberapa lembar rupiah saya selipkan di tangannya yang menghitam dan kebal itu. Opa Yoce memandang saya. Lalu dia tersenyum lebar. Ia kembali membuka topinya.
Kami pun berpisah. Sebelum meninggalkan tempat parkir sepeda motor, tukang parkir yang melihat saya ngobrol dengan Opa Yoce bilang bahwa lelaki tua itu setiap pagi menjajakan sapu lidi di tangga pintu masuk supermarket.
Suara motor saya sudah berbunyi. Sebelum jalan, saya lambaikan tangan ke Opa Yoce. Dia kembali membuka topinya dan melambaikan tangan.
Dalam hati saya: tetap bersemangat Opa Yoce! Dan ngeng…ngeng saya kembali mengaspal Jalan Raya Manado - Bitung.
Sepanjang perjalanan wajah Opa Yoce mencubit hati saya. Sulit dibayangkan perjalanan hidup Opa Yoce yang baru saya kenal itu.
Dalam hati saya yang tidak bersih-bersih amat, sepenggal doa saya lantungkan ke langit yang cerah. Tuhan lindungi Opa Yoce. Beri berkat-Mu. Amin!









