Dindingnya mengelupas, atapnya berkarat, dan layar-layarnya telah lama padam. Tetapi bagi generasi yang tumbuh di Tomohon pada 1970-an hingga 1990-an, Sonja dan Nusantara bukan sekadar tempat menonton film. Di sanalah persahabatan tumbuh, cinta menemukan keberanian, dan kenangan tercipta. Kini, ketika dua bioskop itu tinggal cerita, sebagian warga masih berharap suatu hari layar kembali menyala di kota mereka.
Bangunan Tua yang Membuat Orang Kembali Muda
Waktu rupanya tidak selalu berhasil menghapus segala sesuatu.
Di Kamasi dan Paslaten, Tomohon, jejak dua bioskop tua masih menyimpan cerita tentang sebuah masa ketika malam Minggu begitu dinantikan, selembar karcis bisa membuat hati berdebar, dan mengajak seseorang menonton film membutuhkan keberanian yang kadang lebih besar daripada menghadapi ujian sekolah.
Namanya Sonja dan Nusantara.
Dua bioskop yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tomohon sepanjang dekade 1970-an hingga 1990-an. Tempat orang datang bukan hanya untuk menyaksikan cerita di layar lebar, tetapi juga untuk menciptakan cerita mereka sendiri.
Bioskop Sonja lebih dulu hadir menghibur warga Tomohon dan sekitarnya masa itu, disusul kemudian Nusantara.
Kini, waktu telah mengubah wajah keduanya.
Jejak Sonja masih dapat dikenali melalui dokumentasi bangunan dengan tulisan SONJA THEATER pada dinding tuanya, bagian atas yang kini sudah tertutupi dengan bagunan toko (supermarket)—sehingga sulit lagi dilihat. Sementara Nusantara, yang pernah menjadi tempat keramaian di Paslaten, memperlihatkan dinding mengelupas, balkon yang ditumbuhi tanaman liar, serta atap berkarat yang perlahan menyerah kepada cuaca.
Tak ada lagi cahaya proyektor yang membelah kegelapan. Tak terdengar suara penonton bersorak ketika jagoan dalam film berhasil mengalahkan lawannya. Tak ada lagi anak-anak muda yang berkerumun di depan loket, berpura-pura membicarakan film padahal diam-diam menunggu seseorang datang.
Tetapi rupanya, ada yang belum benar-benar selesai dari dua bioskop itu.
Cukup menyebut nama Sonja dan Nusantara, kenangan puluhan tahun silam seperti menemukan jalan pulang.
Sebab bagi sebagian orang, Sonja dan Nusantara bukan sekadar dua gedung tempat film diputar.
Di sanalah mereka pernah menunggu seseorang dengan jantung berdebar. Menghabiskan uang jajan untuk membeli dua lembar karcis. Duduk dalam kegelapan, mencoba mencari keberanian untuk menggenggam tangan orang yang disukai.
Dan bertahun-tahun kemudian, ketika rambut mulai memutih dan kehidupan telah membawa mereka ke berbagai arah, ingatan tentang tempat itu ternyata masih tinggal.
Mungkin judul filmnya sudah lupa.
Mungkin jalan ceritanya pun tak lagi diingat.
Tetapi orang yang dahulu duduk di sebelah mereka, belum tentu.
Kini, tidak ada lagi orang berkerumun di depan loket untuk membeli karcis. Tidak ada poster film yang mengundang rasa penasaran. Tidak terdengar suara proyektor, teriakan penonton, atau percakapan anak muda yang berusaha mengalahkan kegugupan ketika mengajak seseorang menonton.
Yang tersisa adalah bangunan, foto, dan ingatan.
Tetapi jangan salah. Dua bioskop yang telah kehilangan penontonnya itu ternyata masih mampu membuat orang tertawa.
“Monumen cinta nyong dan nona orang Tomohon atau yang pernah tinggal di Tomohon di era tahun 70, 80, 90an,” kata Ibur saat mengomentari postingan di media sosial sambil tertawa.
Komentar itu terdengar seperti gurauan. Namun, di balik kelucuannya tersimpan sebuah pengakuan yang sulit dibantah. Bagi banyak orang, bioskop memang bukan sekadar tempat menonton film.
Di sanalah seseorang pernah menunggu kekasih. Di sanalah sekelompok teman menghabiskan malam Minggu. Di sanalah mungkin ada tangan yang pertama kali berani digenggam, atau perasaan yang tak pernah berhasil diucapkan sampai pertunjukan selesai.
Puluhan tahun kemudian, sebagian orang mungkin sudah lupa judul film yang mereka tonton.
Tetapi belum tentu mereka lupa siapa yang duduk di sebelahnya.
Dan barangkali, itulah sebabnya dua bangunan tua tersebut masih mampu menghidupkan percakapan.
Bukan karena orang merindukan tembok yang mengelupas.
Melainkan karena di balik tembok itu, pernah ada bagian dari hidup mereka yang tidak mungkin terulang.
Sore yang Dahulu Selalu Menjanjikan Sesuatu
Untuk memahami mengapa Sonja dan Nusantara begitu membekas, ingatan perlu dibawa kembali ke Tomohon beberapa puluh tahun silam.
Bayangkan sebuah sore pada dekade 1980-an.
Matahari perlahan turun di balik perbukitan. Udara dataran tinggi Tomohonm, Minahasa mulai terasa lebih dingin. Aktivitas perdagangan di pusat kota berangsur mereda, sementara orang-orang bersiap mengakhiri pekerjaan.
Namun, bagi sebagian anak muda, sore justru menjadi awal dari sesuatu yang telah mereka tunggu sejak pagi.
Pergi menonton.
Pada masa ketika telepon genggam, internet, dan layanan streaming belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, menonton film di bioskop merupakan sebuah acara.
Orang tidak sekadar memutuskan hendak menonton, lalu menekan tombol pada layar.
Mereka harus mengetahui film apa yang sedang diputar, kapan jadwal pertunjukannya, berapa harga karcisnya, dan dengan siapa mereka akan pergi.
Ada persiapan yang kadang lebih menarik daripada film itu sendiri.
Uang jajan disisihkan. Pakaian dipilih. Teman-teman diajak. Janji dibuat, sering kali tanpa kepastian apakah semua orang akan datang tepat waktu.
Bagi mereka yang sedang jatuh cinta, persoalannya bisa jauh lebih rumit.
Mengajak seseorang menonton membutuhkan keberanian tersendiri. Kalimatnya mungkin sederhana.
“Suka mo ba uni film (di Sonja atau Nusantara)?”
Tetapi bagi orang yang mengucapkannya, pertanyaan itu bisa terasa lebih menegangkan daripada adegan perkelahian dalam film laga.
Bagaimana kalau ditolak?
Bagaimana kalau diterima?
Dan kalau diterima, apakah nanti mereka akan duduk bersebelahan?
Di Bioskop Sonja dan Nusantara, pertanyaan-pertanyaan kecil semacam itu pernah menjadi bagian dari kehidupan anak muda Tomohon.
Pertunjukan biasanya dimulai sekitar pukul lima sore, disusul jadwal sekitar pukul tujuh malam. Pada malam Minggu, terkadang ada tambahan pertunjukan larut malam yang dikenal sebagai midnight.
Di sekitar pintu masuk, suasana mempunyai kehidupan tersendiri.
Pedagang menawarkan kacang goreng, kwaci, dan rokok. Orang-orang bercakap-cakap sambil menunggu pintu dibuka. Sesekali terdengar tawa yang meledak dari sebuah kelompok, disusul gurauan yang hanya dipahami mereka sendiri.
Bau makanan bercampur udara dingin yang datang dari luar.
Lalu karcis dibeli.
Selembar kertas kecil berpindah tangan, diperiksa, kemudian dirobek oleh petugas di pintu masuk.
Di dalam, kursi-kursi menunggu untuk diduduki. Orang mencari tempat yang dianggap paling nyaman. Ada yang memilih bagian tengah agar layar terlihat jelas. Ada yang lebih suka di belakang, ada yang naik ka balkon.
Dan ada pula yang mungkin tidak terlalu peduli di mana ia duduk, asalkan orang yang diajak menonton berada di sebelahnya.
Sebelum lampu lampu dipadamkan masih ada pedagang yang lalu lalang menawarkan rokok, kacang goreng, kwaci, atau dagangan lainnya.
Ketika lampu mulai dipadamkan, percakapan perlahan mengecil.
Cahaya proyektor menembus kegelapan.
Layar menyala.
Untuk beberapa jam, Tomohon seakan memiliki pintu menuju dunia lain.
Di layar itu, penonton dapat mengikuti kisah cinta yang mengharukan, pertarungan para pendekar, petualangan di negeri jauh, atau drama keluarga yang membuat orang diam-diam menyeka air mata.
Sementara di luar gedung, kehidupan berjalan seperti biasa.
Udara tetap dingin. Jalanan tetap dilalui kendaraan. Pekerjaan dan kewajiban masih menunggu keesokan hari.
Namun, di dalam bioskop, semua itu untuk sementara dapat dilupakan.
Dan ketika film selesai, orang-orang keluar membawa sesuatu yang tidak selalu sama.
Ada yang membawa kegembiraan.
Ada yang membawa kekecewaan karena filmnya tidak sebagus yang dibayangkan.
Ada yang pulang sambil memperdebatkan adegan terakhir.
Ada pula yang membawa kenangan tentang seseorang.
Kenangan yang ternyata bertahan jauh lebih lama daripada film yang baru saja mereka tonton.
Monumen Cinta Nyong dan Nona
Menyebut Sonja dan Nusantara sebagai monumen cinta mungkin terdengar berlebihan bagi orang yang tidak pernah mengalami masa kejayaannya.
Tetapi bagi generasi yang tumbuh pada 1970-an, 1980-an, hingga 1990-an, ungkapan itu memiliki makna tersendiri.
Bioskop adalah salah satu ruang pertemuan sosial yang penting. Orang datang bersama keluarga, teman sekolah, rekan kerja, atau pasangan. Anak muda dapat bertemu orang-orang yang mungkin tidak akan mereka jumpai dalam rutinitas sehari-hari.
Di sana, kehidupan sosial tidak dibatasi sepenuhnya oleh lingkungan rumah, sekolah, atau tempat kerja.
Dua orang yang saling menyukai bisa membuat janji menonton. Sekelompok teman bisa merencanakan malam Minggu. Seseorang yang diam-diam menaruh hati mungkin datang hanya karena mengetahui orang yang disukainya juga akan berada di sana.
Film menjadi alasan yang masuk akal untuk bertemu.
Mungkin ada yang menghabiskan lebih banyak waktu memperhatikan orang di sebelahnya daripada mengikuti cerita di layar.
Mungkin ada yang tidak berani berbicara sepanjang pertunjukan.
Atau ada yang pulang dengan perasaan berbunga-bunga hanya karena ajakan menontonnya diterima.
Tentu tidak semua cerita berakhir sebagai kisah cinta.
Sebagian hubungan mungkin hanya berlangsung beberapa minggu. Sebagian berakhir sebelum benar-benar dimulai. Sebagian lagi mungkin tumbuh menjadi pernikahan, keluarga, dan kehidupan panjang bersama.
Namun, yang membuat pengalaman itu berharga bukan selalu hasil akhirnya.
Melainkan bagaimana perasaan seseorang ketika mengalaminya.
Bagi mereka yang kini telah berusia enam puluh, tujuh puluh, delapan puluh tahun, atau bahkan lebih, mengenang Sonja dan Nusantara berarti membuka kembali bagian kehidupan ketika tubuh masih kuat, waktu terasa panjang, dan masa depan belum sepenuhnya dapat ditebak.
Barangkali mereka kini telah mempunyai cucu.
Barangkali pasangan yang dahulu diajak menonton masih duduk bersama di rumah.
Atau mungkin orang tersebut sudah lama pergi, meninggalkan kenangan yang sesekali muncul ketika sebuah nama tempat disebut.
Itulah sifat ingatan.
Ia tidak selalu datang ketika dicari.
Kadang hanya diperlukan sebuah foto bangunan tua, lalu puluhan tahun kehidupan mendadak terasa dekat kembali.
Seseorang menambahkan komentar singkat dalam bahasa Inggris:
“The old memories,” ucap Elo mengenang.
Kalimat itu tidak menjelaskan banyak hal. Singkatan yang digunakannya pun menyimpan konteks yang hanya diketahui penulisnya atau orang-orang yang memiliki pengalaman serupa.
Tetapi justru di situlah menariknya.
Tidak semua kenangan dapat diterangkan kepada orang lain.
Ada nama, tempat, peristiwa, atau gurauan yang hanya dimengerti oleh mereka yang pernah berada dalam lingkaran kehidupan yang sama.
Bagi orang luar, komentar itu mungkin tidak berarti apa-apa.
Bagi penulisnya, mungkin cukup untuk membuka kembali satu bab kehidupan yang telah lama tertutup.
Sonja dan Nusantara menjadi semacam alamat bagi kenangan-kenangan pribadi tersebut.
Alamat yang tidak lagi menawarkan pertunjukan, tetapi masih dapat ditemukan dalam ingatan.
Dua Bioskop, Dua Dunia Hiburan
Meskipun sama-sama menjadi tempat menonton film, Sonja dan Nusantara mempunyai daya tarik masing-masing.
Bioskop Sonja di Kamasi dikenal dengan pemutaran film-film drama dan laga Indonesia, film laga Hong Kong, serta produksi Hollywood.
Sementara Nusantara di Paslaten juga menghadirkan film-film Indonesia, India, dan laga Hong Kong.
Bagi penonton masa itu, pilihan film dapat menentukan ke mana mereka akan pergi.
Penggemar film India memiliki alasan untuk mendatangi Nusantara. Mereka yang ingin menikmati aksi laga atau produksi Barat bisa memilih Sonja, bergantung pada film yang sedang diputar.
Film India, misalnya, menawarkan pengalaman yang berbeda dari film laga.
Ada kisah cinta yang panjang, konflik keluarga, pengorbanan, nyanyian, dan tarian yang menjadi bagian dari perjalanan cerita.
Sementara film laga Hong Kong menghadirkan pertarungan cepat, aksi akrobatik, serta tokoh-tokoh pendekar yang mampu membuat penonton terpaku pada layar.
Film Indonesia pun mempunyai tempat tersendiri.
Dari drama percintaan hingga kisah kepahlawanan dan komedi, penonton menemukan cerita yang lebih dekat dengan bahasa serta kehidupan mereka.
Tetapi daya tarik dua bioskop tersebut tidak berhenti pada film.
Bangunan Nusantara, misalnya, memiliki karakter yang menarik.
Gedungnya memanjang, menghubungkan kawasan jalan belakang dengan jalan utama Tomohon–Manado.
Bagian depannya pernah menjadi tempat berbagai kegiatan perdagangan. Terdapat deretan toko dan tempat bermain biliar, sementara akses menuju ruang bioskop berada di bagian belakang.
Seolah-olah Nusantara memiliki dua kehidupan.
Pada siang hari, orang mendatanginya untuk berbagai urusan praktis.
Menjelang sore, sebagian orang datang untuk mencari hiburan.
Di satu bagian, orang membeli kebutuhan hidup.
Di bagian lain, mereka membeli kesempatan untuk sejenak melupakan kesibukan hidup.
Dua kegiatan yang berbeda, tetapi sama-sama penting dalam sebuah kota.
Karena manusia tidak hanya membutuhkan tempat untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mereka juga membutuhkan tempat untuk menikmati kehidupan.
Sonja dan Nusantara pernah menyediakan ruang itu.
Dengan segala keterbatasan fasilitas pada zamannya, kedua bioskop tersebut menjadi bagian dari pengalaman sosial masyarakat Tomohon.
Dan di antara kursi-kursi penonton, cahaya proyektor, serta suara film yang memenuhi ruangan, ribuan cerita manusia berlangsung tanpa pernah masuk dalam catatan sejarah resmi.
Sonja, Sebuah Nama dan Kisah Kehilangan
Di balik nama Bioskop Sonja terdapat cerita lain yang membawa ingatan Tomohon ke dunia musik populer Indonesia.
Nama Sonja dikaitkan dengan Sonja Tulaar, perempuan asal Tomohon yang berasal dari keluarga pemilik bioskop tersebut.
Dalam kisah yang dikenal masyarakat setempat, nama gedung pertunjukan itu diambil dari namanya.
Sonja kemudian menikah dengan Yok Koeswoyo, salah satu personel Koes Plus, kelompok musik yang mempunyai tempat penting dalam sejarah musik Indonesia.
Dari pernikahan mereka lahir Rangga Koeswoyo dan Sari Koeswoyo.
Hubungan tersebut mempertemukan Tomohon dengan dunia musik nasional.
Sebuah kota di dataran tinggi Minahasa terhubung dengan kehidupan musisi yang lagu-lagunya dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Namun, perjalanan hidup Sonja berakhir terlalu cepat.
Pada 1975, ia meninggal dunia akibat kecelakaan mobil di Tarahan, Lampung.
Kisah kepergiannya menjadi bagian dari sejarah keluarga yang menyimpan duka. Dalam sejumlah penuturan, peristiwa itu juga dikaitkan dengan lagu-lagu Koes Plus.
Di Tomohon, nama Sonja terus hidup melalui sebuah gedung bioskop.
Orang datang menonton, membeli karcis, dan membuat janji bertemu dengan menyebut nama itu.
Mungkin sebagian besar tidak pernah mengenal perempuan yang namanya digunakan.
Mungkin mereka bahkan tidak mengetahui hubungan Sonja dengan keluarga Koeswoyo.
Tetapi nama tersebut menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.
Sebuah nama pribadi berubah menjadi penanda tempat.
Lalu menjadi bagian dari ingatan kolektif kota.
Dan ketika bioskop berhenti beroperasi, nama itu tidak sepenuhnya menghilang.
Ia tetap disebut ketika orang membicarakan masa lalu Tomohon.
Ada sesuatu yang menyentuh dalam perjalanan sebuah nama seperti itu.
Seseorang mungkin hanya hidup selama waktu yang terbatas, tetapi namanya dapat terus hadir melalui cerita orang-orang yang bahkan tidak pernah mengenalnya.
Ketika Penonton Pulang dan Tidak Kembali
Kapan berakhirnya masa kejayaan dua bioskop tersebut?
Perubahan kebiasaan menonton berlangsung bertahap.
Televisi semakin mudah dimiliki. Perangkat pemutar video menghadirkan film ke ruang keluarga. Kaset VHS, VCD, dan kemudian DVD membuat orang tidak selalu harus pergi ke bioskop untuk menikmati cerita di layar.
Perkembangan teknologi terus berlanjut.
Internet menghadirkan cara baru mengakses hiburan. Telepon pintar membuat film dapat ditonton hampir di mana saja.
Orang tidak lagi harus menyesuaikan waktu dengan jadwal pertunjukan.
Kini, justru film yang dapat disesuaikan dengan waktu penontonnya.
Perubahan itu membawa banyak kemudahan. Namun, ada pengalaman yang ikut bergeser.
Dahulu, pergi menonton berarti meninggalkan rumah, bertemu orang lain, menunggu pertunjukan dimulai, lalu pulang membawa cerita untuk dibicarakan bersama.
Sekarang, seseorang dapat menyelesaikan sebuah film tanpa beranjak dari tempat tidur.
Bahkan mungkin tanpa berbicara dengan siapa pun.
Tentu kemunduran bioskop lama tidak dapat dijelaskan hanya melalui perubahan teknologi. Biaya operasional, persaingan, distribusi film, kondisi bangunan, dan kelayakan usaha juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.
Namun, bagi penonton, hasil akhirnya sederhana sekaligus menyedihkan.
Sonja dan Nusantara tidak lagi memutar film.
Suatu masa berakhir.
Bangunan Sonja kemudian mengalami perubahan fungsi. Dalam perjalanan berikutnya, gedung tersebut pernah disewa dan dipugar untuk kegiatan usaha, termasuk supermarket.
Nusantara menjalani nasib berbeda.
Bangunannya masih dapat dikenali, tetapi kondisinya semakin menua.
Atap berkarat. Dinding mengelupas. Tanaman liar tumbuh di beberapa bagian. Struktur bangunan yang dahulu menjadi tempat orang berkumpul kini memperlihatkan bekas panjangnya perjalanan waktu.
Seorang pria berusia lebih dari enam puluh tahun mengenang perbedaan nasib keduanya.
“Kalu Sonja mungkin so ilang, mar kalu Nusantara baru-baru kita pernah lewat di muka situ rupanya masih ada mar so tabiar,” kata Jan, dalam dialek Tomohon yang kental.
Dalam bahasa Indonesia, ia kurang lebih mengatakan bahwa Sonja mungkin sudah hilang, tetapi Nusantara masih dilihatnya ketika melintas di depan bangunan tersebut, meskipun kondisinya tampak telantar.
Komentar itu sederhana.
Tidak ada uraian panjang tentang sejarah arsitektur, kepemilikan, atau masa depan bangunan.
Hanya pengamatan seseorang yang pernah mengenal dua tempat tersebut.
Tetapi justru dari kalimat seperti itulah sebuah kota dapat melihat dirinya sendiri.
Bagi generasi yang lebih muda, bangunan Nusantara mungkin sekadar gedung tua yang perlu diperbaiki atau dimanfaatkan kembali.
Bagi pria tersebut, ia merupakan bagian dari peta kehidupan yang pernah dijalaninya.
Ia mengenal tempat itu ketika masih mempunyai fungsi.
Ketika orang datang.
Ketika pertunjukan berlangsung.
Dan kini ia menyaksikannya setelah semuanya berhenti.
Ada jarak puluhan tahun di antara dua keadaan itu.
Jarak yang bukan hanya mengubah bangunan.
Melainkan juga orang-orang yang pernah datang ke sana.
Bakso Nusantara dan Ingatan yang Tidak Selalu Serius
Tidak semua komentar tentang Sonja dan Nusantara bernada sendu. Ada pula yang mengingat masa lalu dengan cara yang jauh lebih ringan.
“Kita kurang riki dia pe mi Bakso Nusantara dengan MTV,” kata Frans seorang anak muda sambil tertawa terbahak-bahak.
Komentar itu seperti mengembalikan suasana percakapan ke kehidupan sehari-hari.
Di tengah nostalgia tentang film, cinta, dan bangunan tua, seseorang justru teringat mi bakso serta rumah makan.
Dan mengapa tidak?
Ingatan manusia memang tidak bekerja seperti buku sejarah yang disusun berdasarkan urutan tahun.
Seseorang dapat mengenang sebuah tempat melalui film yang ditontonnya.
Orang lain mengingatnya melalui kekasih yang pernah diajak ke sana.
Sementara yang lain lagi mungkin justru teringat makanan, musik, atau tempat nongkrong di sekitarnya.
Semuanya sah sebagai pengalaman pribadi.
Komentar tentang Bakso Nusantara dan rumah makan MTV tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa keduanya merupakan bagian dari operasional bioskop. Bakso Nusantara yang dimaksud karena ketika itu ada rumah makan yang berada di samping Bioskop Nusantara, sementara MTV, juga hadir kemudian di jalan itu. Itu memperlihatkan bagaimana sebuah nama tempat dapat memanggil ingatan yang lebih luas daripada fungsi aslinya.
Bagi sebagian orang, sebuah kawasan dikenang melalui suara musik di rumah makan yang pernah populer. Bagi yang lain, melalui rasa makanan yang dahulu sering dinikmati.
Atau melalui teman-teman yang selalu hadir pada masa tertentu.
Kita sering mengira sejarah kota hanya tersimpan dalam bangunan dan dokumen.
Padahal, ia juga hidup dalam ingatan tentang makanan, lagu, gurauan, dan kebiasaan kecil yang pernah dilakukan bersama.
Seseorang mungkin lupa kapan sebuah bioskop berhenti beroperasi.
Tetapi ia masih ingat rasa mi bakso yang pernah dimakannya ketika masih muda.
Begitulah ingatan bekerja.
Tidak selalu tertib.
Tidak selalu serius.
Dan kadang justru paling jujur ketika disampaikan sambil tertawa.
Sebuah Kota yang Kehilangan Tempat Berkumpul
Kisah Sonja dan Nusantara pada akhirnya membawa kita pada pertanyaan yang lebih luas.
Apa yang sebenarnya hilang ketika sebuah bioskop berhenti beroperasi?
Jawaban paling mudah tentu tempat menonton film.
Tetapi bagi masyarakat yang pernah mengalaminya, kehilangan tersebut bisa berarti lebih banyak.
Sebuah bioskop merupakan ruang tempat orang-orang dari berbagai lingkungan bertemu.
Mereka mungkin tidak saling mengenal. Tidak memiliki pekerjaan yang sama. Tidak tinggal di kawasan yang sama.
Namun, selama pertunjukan berlangsung, semuanya menghadap layar yang sama.
Mereka tertawa pada adegan yang sama.
Terkejut pada kejadian yang sama.
Kadang ikut terdiam ketika cerita mencapai bagian yang menyedihkan.
Pengalaman bersama seperti itu mempunyai nilai sosial yang tidak selalu mudah diukur.
Ia menciptakan kenangan kolektif.
Membuat sebuah tempat memiliki arti yang melampaui fungsi ekonominya.
Tomohon sekarang tentu berbeda dari Tomohon beberapa puluh tahun silam.
Kegiatan perdagangan berkembang. Kafe, restoran, dan berbagai tempat berkumpul menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kota juga memiliki daya tarik wisata yang semakin dikenal.
Namun, kehadiran tempat usaha dan tempat wisata tidak otomatis menggantikan semua fungsi ruang hiburan bersama.
Setiap generasi membutuhkan ruang untuk menikmati waktunya.
Bagi generasi terdahulu, Sonja dan Nusantara pernah menjadi salah satu pilihan.
Bagi generasi sekarang, kebutuhan itu tetap ada, meskipun bentuk hiburan yang diinginkan telah berubah.
Seorang warga menyampaikan harapan yang cukup jelas.
“Tomohon butuh bioskop supaya tidak ke Manado lagi. Menurut saya di beberapa tempat ada bangunan yang cocok untuk jadikan bioskop. Kalau tidak bisa, masih banyak lahan yang dijual yang cocok untuk dibangun bioskop. Semoga cinema XXI dan Cinepolis Indonesia bisa membuat bioskop di Tomohon,” harap Philep.
Ucapan tersebut menunjukkan sisi lain dari nostalgia. Bukan lagi sekadar mengenang sesuatu yang pernah ada. Melainkan membayangkan sesuatu yang mungkin kembali hadir.
Warga itu berharap Tomohon memiliki bioskop modern sehingga masyarakat tidak perlu pergi ke Manado hanya untuk menonton film di layar lebar.
Harapan tersebut tentu tidak otomatis berarti pembangunan bioskop akan segera terwujud.
Ada persoalan investasi, jumlah penonton potensial, daya beli, lokasi, akses transportasi, dan kelayakan usaha yang perlu diperhitungkan.
Namun, gagasan dasarnya menarik.
Sebuah kota yang dahulu pernah mempunyai dua bioskop kini masih memiliki warga yang menginginkan kehadiran bioskop kembali.
Bukan berarti Sonja dan Nusantara harus dibangun ulang persis seperti dahulu.
Zaman telah berubah.
Standar kenyamanan, teknologi pemutaran, keamanan bangunan, serta kebiasaan menonton juga berbeda.
Tetapi kebutuhan manusia untuk menikmati cerita bersama orang lain belum hilang.
Barangkali itulah yang membuat pengalaman menonton di bioskop tetap memiliki daya tarik meskipun film dapat diakses melalui telepon genggam.
Layar besar bukan sekadar soal ukuran.
Ia menawarkan pengalaman bersama.
Dan bagi sebuah kota, pengalaman bersama merupakan sesuatu yang berharga.
Ketika Kenangan Menjadi Warisan
Suatu hari nanti, mungkin akan semakin sedikit orang yang dapat bercerita bagaimana rasanya menonton film di Sonja dan Nusantara.
Mereka yang dahulu datang sebagai anak sekolah, remaja, atau pasangan muda kini telah menjalani kehidupan yang panjang. Sebagian sudah menjadi kakek dan nenek. Anak-anak mereka tumbuh dewasa, sementara cucu-cucu mereka mengenal film dari layar televisi, telepon genggam, dan berbagai layanan digital.
Bagi generasi itu, Sonja dan Nusantara mungkin hanya dua nama yang sesekali muncul dalam percakapan orang tua. Nama tempat yang tidak pernah mereka datangi, dari sebuah masa yang tidak pernah mereka alami.
Tetapi bagi orang-orang yang pernah duduk di dalamnya, kedua bioskop tersebut menyimpan sesuatu yang jauh lebih pribadi daripada sekadar sejarah sebuah bangunan.
Mungkin masih ada seseorang yang mengingat persis di mana ia biasa duduk. Seorang mantan penonton yang masih dapat membayangkan suasana di depan loket pada malam Minggu. Atau pedagang yang dahulu menggantungkan sebagian penghasilannya pada keramaian orang-orang yang datang menonton.
Barangkali masih tersimpan selembar karcis dalam kotak berisi barang-barang lama. Foto yang warnanya mulai pudar. Poster film yang pernah ditempel di dinding kamar. Benda-benda sederhana yang tidak memiliki nilai besar bagi orang lain, tetapi terlalu berharga untuk dibuang oleh pemiliknya.
Di balik semua itu terdapat kisah tentang bagaimana orang Tomohon pernah menikmati hidup.
Tentang anak-anak muda yang menabung dari uang jajan agar bisa menonton pada akhir pekan. Tentang persahabatan yang tumbuh dari kebiasaan pergi bersama. Tentang orang tua yang mengajak anak-anaknya menyaksikan film, tanpa mengetahui bahwa pengalaman sederhana tersebut kelak akan menjadi salah satu kenangan paling hangat dalam kehidupan mereka.
Dan tentu saja, tentang cinta.
Cinta yang mungkin dimulai dari ajakan menonton. Cinta yang bertahan hingga puluhan tahun. Atau cinta yang tidak pernah sampai ke mana-mana, tetapi masih mampu membuat seseorang tersenyum ketika mengingatnya.
Cerita-cerita seperti itu jarang ditemukan dalam catatan resmi sebuah kota. Tidak ada prasasti yang mencatat siapa pertama kali jatuh cinta di bangku penonton Nusantara. Tidak ada dokumen pemerintah yang menyimpan nama pasangan yang dahulu menghabiskan malam Minggu di Sonja.
Namun, bukan berarti pengalaman tersebut tidak penting.
Justru dari kisah-kisah kecil itulah kita dapat memahami sebuah kota secara lebih manusiawi. Bukan hanya bagaimana jalan dibangun, gedung didirikan, atau pemerintahan berganti, melainkan bagaimana warganya menjalani hari-hari biasa, menemukan kebahagiaan, menghadapi kehilangan, dan membangun hubungan satu sama lain.
Sebab sebuah kota sesungguhnya tidak hanya dibentuk oleh bangunan dan peristiwa besar. Ia juga dibentuk oleh kenangan orang-orang yang pernah hidup di dalamnya.
Masalahnya, ingatan manusia tidak bertahan selamanya.
Ada cerita yang perlahan kehilangan detailnya. Nama seseorang mulai terlupakan. Tahun sebuah peristiwa tidak lagi dapat dipastikan. Wajah teman lama semakin samar, hingga suatu hari yang tersisa hanyalah perasaan bahwa sesuatu yang indah pernah terjadi.
Dan ketika orang terakhir yang mengingatnya telah tiada, cerita itu mungkin ikut pergi.
Karena itulah, kisah Sonja dan Nusantara layak terus diceritakan. Bukan untuk mengagungkan masa lalu seolah-olah kehidupan dahulu selalu lebih baik daripada sekarang, melainkan agar generasi berikutnya mengetahui bahwa Tomohon pernah mempunyai ruang hiburan yang begitu dekat dengan kehidupan warganya.
Bahwa sebelum film dapat ditonton melalui layar yang digenggam di tangan, orang-orang pernah berjalan menuju sebuah gedung, membeli karcis, lalu duduk bersama orang lain untuk menikmati cerita yang sama.
Bahwa di balik bangunan yang sekarang tampak tua dan kehilangan fungsinya, pernah ada kehidupan yang ramai, hangat, dan penuh harapan.
Mungkin suatu ketika seorang cucu akan bertanya kepada kakeknya mengapa setiap kali melewati kawasan Paslaten, sang kakek selalu menoleh ke arah sebuah bangunan tua.
Dan mungkin sang kakek akan mulai bercerita.
Tentang bioskop yang dahulu berdiri di sana. Tentang film yang pernah ditonton. Tentang teman-teman yang selalu datang bersama.
Barangkali juga tentang seorang gadis yang pernah membuatnya gugup sepanjang pertunjukan.
Sang cucu mungkin tidak sepenuhnya memahami mengapa cerita itu begitu berarti. Tetapi setidaknya, sejak hari itu, bangunan tua tersebut tidak lagi sekadar menjadi bagian dari pemandangan kota.
Ia telah memiliki cerita.
Dan selama cerita itu masih diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, Sonja dan Nusantara belum sepenuhnya hilang dari kehidupan Tomohon.
Sebab bangunan dapat kehilangan fungsinya, tetapi sebuah tempat baru benar-benar kehilangan sejarahnya ketika tak seorang pun lagi mengingat cerita manusia yang pernah hidup di dalamnya.
Tulisan di Dinding dan Seseorang yang Masih Menunggu
Ada sebuah detail lain dari bekas Bioskop Nusantara yang terasa seperti potongan cerita yang belum selesai.
Pada salah satu dindingnya pernah terlihat tulisan berbahasa Inggris:
I wait for my queen even though time flies.
Aku menunggu ratuku, meskipun waktu terus berlalu.
Di bawahnya terdapat sebuah huruf: R.
Tidak diketahui siapa penulisnya.
Tidak diketahui pula siapa perempuan yang dimaksud.
Bisa jadi hanya tulisan iseng.
Bisa pula sebuah pesan pribadi yang tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca banyak orang.
Namun, pada bangunan yang dahulu menjadi tempat orang menonton kisah cinta, kalimat itu mempunyai daya tarik tersendiri.
Seseorang menunggu.
Sementara waktu terus berjalan.
Barangkali itulah gambaran yang paling dekat dengan keadaan Nusantara sekarang.
Bangunan itu tidak benar-benar menunggu siapa pun. Ia hanyalah struktur beton, kayu, seng, dan besi yang perlahan menua.
Tetapi manusia yang pernah mengenalnya dapat membaca sesuatu yang lebih dalam.
Mereka melihat tempat yang dahulu ramai, kemudian membandingkannya dengan keadaan sekarang.
Mereka mengingat wajah-wajah yang pernah hadir.
Teman yang mungkin sudah lama tidak ditemui.
Kekasih yang mungkin telah menjalani kehidupan berbeda.
Orang tua yang dahulu mengajak mereka menonton, tetapi kini sudah tiada.
Pada titik itulah nostalgia dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih menyentuh.
Sebab yang dirindukan bukan hanya bioskop.
Melainkan masa ketika orang-orang tersebut masih berada dalam kehidupan mereka.
Masa ketika malam Minggu terasa begitu panjang.
Ketika uang untuk membeli karcis harus disisihkan.
Ketika menunggu seseorang di depan bioskop bisa menjadi peristiwa paling penting sepanjang hari.
Dan ketika orang belum menyadari bahwa pengalaman-pengalaman kecil itu suatu hari akan berubah menjadi kenangan yang sangat berharga.
Barangkali yang Kita Rindukan Adalah Diri Kita Sendiri
Masa lalu selalu mempunyai cara yang aneh untuk membuat manusia tersenyum sekaligus terdiam.
Ketika melihat foto Sonja dan Nusantara, seseorang mungkin tertawa mengingat kelakuan teman-temannya.
Orang lain mungkin langsung teringat film Holywood dan Bolywood serta laga Hongkong yang pernah ditonton.
Ada yang mengenang makanan.
Ada yang teringat lagu-lagu lama.
Dan ada yang mungkin mendadak teringat seseorang yang namanya sudah puluhan tahun tidak disebut.
Namun, di balik semua kenangan tersebut terdapat sesuatu yang lebih mendasar.
Kita tidak selalu merindukan sebuah tempat karena bangunannya indah atau fasilitasnya istimewa.
Kadang kita merindukannya karena di sanalah kita pernah menjadi versi diri sendiri yang berbeda.
Lebih muda.
Lebih berani.
Lebih mudah tertawa.
Lebih mudah jatuh cinta.
Dan mungkin belum terlalu banyak memikirkan persoalan hidup.
Bioskop Sonja dan Nusantara menjadi bagian dari masa itu bagi banyak warga Tomohon.
Kini, ketika generasi yang dahulu memadati ruang pertunjukannya telah memasuki usia senja, dua nama tersebut masih mampu menghidupkan percakapan.
“Monumen cinta nyong dan nona,” kata Ibur.
Yang lain mengingat masa lalu dengan kalimat singkat.
Seorang pria tua membandingkan nasib kedua bangunan.
Seorang anak muda tertawa mengenang mi bakso dan MTV.
Sementara warga lainnya berharap bioskop kembali hadir di Tomohon.
Lima komentar dengan arah yang berbeda.
Tetapi semuanya memperlihatkan satu hal yang sama.
Sebuah tempat dapat berhenti menjalankan fungsinya, tetapi tidak serta-merta berhenti hidup dalam ingatan masyarakat.
Sonja dan Nusantara adalah contohnya.
Dan mungkin suatu hari, ketika Tomohon kembali memiliki bioskop, generasi baru akan menciptakan kenangannya sendiri.
Mereka akan datang bersama teman-teman.
Membeli karcis, mungkin bukan lagi dari loket kecil, melainkan melalui aplikasi di telepon genggam.
Memesan makanan.
Mencari kursi.
Lalu menunggu lampu dipadamkan.
Teknologinya boleh berbeda.
Bangunannya mungkin jauh lebih modern.
Tetapi perasaan yang dibawa manusia ke dalam ruang pertunjukan barangkali tidak akan banyak berubah.
Akan selalu ada seseorang yang datang karena ingin menonton film.
Ada yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga.
Ada yang mencari hiburan setelah hari yang melelahkan.
Dan mungkin akan selalu ada anak muda yang sebenarnya lebih gugup menghadapi orang di sebelahnya daripada mengikuti cerita di layar.
Puluhan tahun kemudian, ketika generasi tersebut telah menua, mereka mungkin akan mengenang bioskop baru itu sebagaimana orang-orang sekarang mengenang Sonja dan Nusantara.
Mereka mungkin lupa judul filmnya.
Tetapi masih ingat siapa yang menemani.
Karena pada akhirnya, bioskop tidak hanya menyimpan cerita yang diputar di layar.
Ia juga menjadi tempat cerita kehidupan manusia berlangsung.
Dan di Tomohon, dua layar itu memang telah lama padam.
Namun, bagi orang-orang yang pernah muda di dalamnya, pertunjukan sesungguhnya belum benar-benar selesai.
Ia masih berlangsung dalam ingatan.
Dalam tawa ketika masa lalu disebut.
Dalam kerinduan yang sesekali datang tanpa diundang.
Dan mungkin, dalam senyum seorang kakek ketika cucunya suatu hari bertanya:
“Dulu Opa deng Oma pertama kali baku kenal di mana?”
Sang kakek mungkin terdiam sebentar.
Lalu tersenyum, sebelum menjawab:
“Di bioskop.”
“Film apa, Opa?”
Ia berpikir cukup lama.
Judul filmnya sudah tidak diingat.
Tetapi wajah perempuan yang dahulu duduk di sebelahnya masih jelas dalam ingatan.
Sebab ada cerita yang selesai ketika lampu bioskop dinyalakan kembali. Tetapi ada pula cerita yang justru dimulai ketika lampu itu dipadamkan.









