Pemilihan telah selesai. Pemenang sudah dilantik. Namun, di sejumlah rumah, warung kopi, dan percakapan sehari-hari, perbedaan pilihan masih menyisakan jarak. Ada sahabat yang tak lagi akrab, keluarga yang berhati-hati berbicara, dan warga yang merasa asing di kampung sendiri. Di beberapa daerah, sebuah cerita tentang luka politik, hubungan antarmanusia, dan usaha sederhana untuk kembali duduk bersama.
Pagi di kaki Gunung Lokon masih dingin. Hujan yang turun semalam meninggalkan titik-titik air di dedaunan. Kabut perlahan bergerak menutupi pepohonan, sementara atap-atap seng rumah penduduk tampak basah.
Dari beranda rumah panggungnya, Om Karel memandangi suasana pagi itu. Sudah bertahun-tahun ia tinggal di sana. Ia mengenal perubahan cuaca di kotanya, termasuk kebiasaan kabut yang datang dan pergi tanpa perlu menunggu siapa pun.
Namun, pagi itu perhatiannya lebih banyak tertuju pada ponsel tua di tangannya.
Ia membuka sebuah grup WhatsApp. Dulu grup itu ramai. Ada kabar keluarga yang merantau, informasi kedukaan, jadwal ibadah, undangan acara, sampai cerita sehari-hari yang kadang tidak terlalu penting, tetapi cukup membuat orang saling menyapa.
Sekarang percakapan di grup itu tidak lagi seramai dulu.
“Orang-orang takut salah bicara,” katanya pelan.
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Padahal kita satu daerah. Satu kampung. Sama-sama tinggal di bawah Gunung Lokon dan Gunung Mahawu.”
Om Karel tidak sedang membicarakan cuaca atau perubahan kebiasaan orang menggunakan telepon genggam.
Ia sedang membicarakan sesuatu yang tertinggal setelah pemilihan umum selesai. Sesuatu yang tidak tercantum dalam berita acara penghitungan suara, tidak masuk dalam keputusan Komisi Pemilihan Umum, dan tidak ikut berakhir ketika para pemenang dilantik.
Perbedaan pilihan politik.
Di tempat lain di Kota Tomohon, Tanta Neke sedang membuka warung kopinya. Air mendidih di dapur kecil. Aroma kopi tubruk mulai memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi biapong dan roti bakar.
Di salah satu meja, dua pria duduk berhadapan.
“Ngana so tahu toch sapa yang kita dukung,” kata Yos.
“Kita tahu. Mar ngana juga tahu toch sapa yang kita dukung,” jawab Pet.
Percakapan itu berhenti sebentar.
Tidak ada yang meninggikan suara. Tidak ada pertengkaran. Hanya deru kendaraan dari jalan dan suara air mendidih yang terdengar di antara mereka.
Bagi Tanta Neke, suasana seperti itu bukan sesuatu yang asing lagi.
Dulu warungnya menjadi tempat orang bercerita tentang apa saja. Harga kebutuhan pokok, pekerjaan, keluarga, pertandingan sepak bola, sampai urusan kampung. Orang bisa berbeda pendapat, kemudian tertawa bersama.
Sekarang, pembicaraan tertentu sering membuat orang berhati-hati.
Terutama ketika seseorang mulai bertanya, “Waktu itu ngana dukung sapa?”
Pertanyaan yang terdengar sederhana itu kadang cukup untuk mengubah suasana.
Orang yang sebelumnya banyak bicara mendadak diam. Ada yang tertawa untuk menghindari jawaban. Ada pula yang menjawab, tetapi setelah itu percakapan tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.
Pemilihan sudah selesai. Namun, bagi sebagian orang, urusan memilih ternyata belum benar-benar berakhir.
Kota Bunga yang Tidak Selalu Wangi
Tomohon dikenal sebagai Kota Bunga. Setiap tahun, Tomohon International Flower Festival (TIFF) menjadi salah satu kegiatan yang memperkenalkan kota ini kepada masyarakat luas.
Orang datang menyaksikan kendaraan hias, bunga-bunga yang ditata dengan berbagai bentuk, dan kemeriahan yang memenuhi jalan-jalan kota.
Tomohon juga memiliki sejarah panjang sebagai kota pendidikan dan kehidupan keagamaan. Namun, sebagaimana daerah lain, kehidupan masyarakatnya tidak hanya berisi hal-hal yang terlihat dalam perayaan.
Ada persoalan yang berlangsung dalam percakapan sehari-hari. Ada hubungan pertemanan yang berubah. Ada keluarga yang mulai menghindari pembicaraan tertentu ketika berkumpul.
Salah satu penyebabnya adalah perbedaan pilihan politik.
Secara resmi, pemilihan telah berakhir. Hasil telah ditetapkan, sengketa yang diajukan melalui mekanisme hukum telah diproses, dan mereka yang terpilih telah menjalankan jabatan.
Tetapi keputusan resmi tidak selalu membuat perasaan masyarakat ikut selesai. Ada yang masih merasa menang. Ada yang belum menerima kekalahan. Ada yang kecewa karena calon pilihannya tidak terpilih.
Ada pula yang sebenarnya sudah menerima hasil pemilihan, tetapi masih harus menghadapi sikap orang lain yang terus mengingatkan bahwa ia pernah berada di kubu berbeda.
Di grup WhatsApp, Facebook, warung kopi, pasar, sampai acara keluarga, perbedaan itu kadang muncul kembali.
Tidak selalu dalam bentuk pertengkaran. Kadang hanya sindiran. Kadang sebuah unggahan. Kadang seseorang memilih tidak menyapa orang yang dikenalnya sejak lama.
Di Pasar Tomohon, kegiatan jual beli berlangsung seperti biasa. Pedagang menawarkan kol, wortel, daun bawang, rica, dan berbagai kebutuhan dapur. Pembeli menawar harga. Orang saling bertanya tentang dagangan dan keadaan keluarga.
Namun, politik bisa menjadi topik yang membuat percakapan berubah.
“Jangan bahas di sini,” kata Marten, seorang pedagang sayur, kepada temannya.
Ia mengucapkannya sambil tersenyum canggung kepada pembeli.
Marten barangkali hanya ingin menjaga suasana. Ia tahu pembicaraan politik tidak selalu berakhir dengan perdebatan yang menyenangkan.
Di sebuah kampung, seorang warga bahkan mengaku tidak lagi mengundang beberapa saudara dan sahabat ke rumah ketika mengadakan acara.
Padahal sebelumnya mereka biasa saling membantu.
“Saya tidak marah,” katanya. “Tapi setiap kali kami bertemu, takut salah bicara. Takut salah dipahami.”
Ia kemudian tertawa kecil.
“Itu karena kami berbeda calon pada pemilihan lalu. Perbedaan itu hanya satu hari. Kenapa harus menjadi perbedaan seumur hidup?”
Pertanyaan itu terdengar ringan. Namun, ada sesuatu yang mengganggu di baliknya. Seseorang yang dulu merasa dekat dengan keluarga dan sahabatnya kini harus memikirkan kata-kata sebelum berbicara. Seolah hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun bisa berubah hanya karena pilihan di bilik suara.
Ketika Dua Sahabat Memilih Jalan Berbeda
Saya mengenal dua orang yang sudah lama bersahabat. Sebut saja Ventje dan Ferdie. Mereka berteman sejak sekolah. Sering bepergian bersama, berekreasi, dan saling membantu ketika menghadapi kesulitan.
Hubungan mereka bukan pertemanan yang baru tumbuh karena sering bertemu di sebuah acara. Mereka mengenal keluarga masing-masing. Tahu kebiasaan satu sama lain. Bahkan pernah berada dalam kelompok relawan calon yang sama pada sebuah pemilihan.
Tetapi pada Pilkada terakhir, keduanya memilih jalan berbeda.
Ventje mendukung salah satu pasangan calon karena merasa figur itu lebih dekat dengan masyarakat dan memahami keadaan daerah.
Ferdie mendukung calon lain. Ia kecewa dengan pelayanan publik selama beberapa tahun sebelumnya dan berharap ada perubahan.
“Bukan soal benci,” kata Ferdie ketika kami membicarakan pilihan mereka.
“Aku hanya ingin pemerintah bekerja. Aku ingin jalan tidak rusak terus. Aku ingin pendidikan mendapat perhatian lebih.”
Ventje yang duduk di seberangnya mengangguk.
“Aku sependapat dengan kamu. Apa yang kamu inginkan sama seperti keinginanku. Tapi aku merasa calon yang aku dukung lebih paham kondisi kota dan masyarakatnya sekarang ini.”
Sebenarnya, dari percakapan itu terlihat bahwa keduanya menginginkan hal yang tidak jauh berbeda. Mereka ingin daerahnya menjadi lebih baik.
Perbedaannya terletak pada siapa yang mereka percaya mampu mewujudkannya. Namun, persoalan tidak berhenti pada pilihan calon.
Ferdie mengaku sedih ketika melihat Ventje membagikan unggahan di media sosial yang menyebut pendukung lawan sebagai orang-orang yang tidak mencintai daerah.
“Aku lahir dan besar di sini,” kata Ferdie.
“Mata pencaharianku di sini. Aku memakamkan ayahku di kampung ini. Mengapa kemudian disebut tidak cinta daerah hanya karena aku tidak memilih orang yang sama dengan mereka?”
Ventje mendengarkan.
Saya tidak tahu apakah percakapan itu cukup untuk menyelesaikan perasaan yang mengganjal di antara mereka. Namun, dari keduanya terlihat satu persoalan yang lebih luas.
Dalam persaingan politik, orang kadang tidak lagi membedakan antara mengkritik pilihan seseorang dan merendahkan orang yang membuat pilihan itu.
Padahal keduanya berbeda.
Seseorang boleh menganggap calon pilihannya lebih baik. Ia juga boleh tidak sependapat dengan alasan orang lain memilih calon berbeda. Tetapi ketika perbedaan itu berubah menjadi tuduhan bahwa seseorang tidak mencintai daerahnya sendiri, persoalannya sudah melampaui urusan pemilihan.
Yang dipertanyakan bukan lagi pilihan politik, melainkan rasa memiliki seseorang terhadap tempat ia lahir dan hidup.
Sindiran yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
Media sosial membuat persoalan itu semakin rumit.
Di daerah, orang yang menyebarkan narasi politik tidak selalu menggunakan akun besar dengan ribuan pengikut.
Ada akun anonim dengan foto profil pemandangan. Ada yang menggunakan gambar kartun atau kutipan bijak. Ada pula akun pribadi yang sehari-hari membagikan kegiatan keluarga, tetapi berubah menjadi sangat agresif ketika membicarakan politik.
Kalimat yang digunakan sering pendek.
“Belum move on.”
“Sapa suruh dukung yang kalah.”
“Kalah toch, terima nasib jo.”
Bagi sebagian orang, kalimat seperti itu mungkin hanya dianggap gurauan.
Tetapi bagi orang yang terus-menerus menjadi sasaran, sindiran tersebut bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman.
Apalagi ketika setiap kritik terhadap pemerintah segera dibalas dengan tuduhan bahwa pengkritik masih sakit hati karena kalah dalam pemilihan.
Akibatnya, pembicaraan mengenai kebijakan publik sering bergeser menjadi perdebatan mengenai siapa mendukung siapa.
Padahal jalan rusak tidak mengenal pilihan politik penggunanya. Sampah yang menumpuk tidak memilih halaman rumah berdasarkan dukungan pemiliknya. Begitu pula pelayanan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan mencari pekerjaan.
Semua itu adalah persoalan warga.
Seorang pemuda yang pernah aktif dalam komunitas pendukung calon mengaku pernah ikut menyebarkan unggahan politik yang menyerang pihak berbeda.
Ia mengatakan tidak menerima bayaran. Ia melakukannya karena merasa figur yang didukungnya terus diserang.
“Dulu aku pikir itu bentuk loyalitas,” katanya. “Tapi lama-lama aku sadar, aku tidak lagi membela gagasan. Aku hanya ikut-ikutan.”
Sekarang ia lebih berhati-hati.
Sebelum membagikan unggahan, ia mencoba memeriksa apakah informasi itu benar, dari mana sumbernya, dan apakah isinya memang perlu disebarkan.
Ia juga mulai memikirkan akibatnya bagi orang lain.
Perubahan sikap itu mungkin terlihat kecil. Tetapi di tengah kebiasaan orang membagikan sesuatu hanya karena sesuai dengan keyakinan politiknya, kemauan untuk memeriksa informasi merupakan langkah yang penting. Sebab tidak semua unggahan yang membela calon atau pejabat tertentu benar-benar membantu orang yang dibelanya.
Ada yang justru membuat masyarakat semakin sulit berbicara satu sama lain.
Pemerintahan Bukan Milik Satu Kubu
Perbedaan politik seharusnya tidak menjadi masalah besar ketika pemilihan selesai.
Warga yang memilih calon berbeda tetap tinggal di kampung yang sama. Mereka menggunakan jalan yang sama, berbelanja di pasar yang sama, dan membutuhkan pelayanan pemerintah yang sama. Namun, persoalan menjadi lebih serius ketika muncul anggapan bahwa dukungan politik menentukan siapa yang berhak mendapatkan perhatian.
Misalnya, ketika warga mencurigai bantuan pemerintah lebih mudah diperoleh kelompok tertentu. Ketika sebuah wilayah merasa kurang diperhatikan karena dianggap tidak mendukung pemenang. Atau ketika seseorang merasa tidak lagi dilibatkan dalam kegiatan masyarakat karena pilihan politiknya.
Perasaan seperti itu perlu didengar. Pada saat yang sama, dugaan perlakuan diskriminatif harus diperiksa berdasarkan fakta, bukan sekadar kabar yang beredar. Sebab ketidakadilan yang benar-benar terjadi dan kecurigaan yang terus dibiarkan sama-sama dapat merusak kepercayaan masyarakat.
Seorang warga yang mengaku pernah menjadi bagian dari tim sukses menyampaikan pandangannya.
“Kami tidak menuntut semua orang diberi jabatan,” katanya. “Kami hanya ingin diperlakukan adil.”
Baginya, rekonsiliasi tidak cukup dilakukan melalui pertemuan resmi atau foto bersama. Ia ingin melihat perlakuan yang sama dalam pelayanan pemerintah.
“Kalau ada jalan rusak, perbaiki di semua kampung. Kalau ada bantuan, bagikan berdasarkan kebutuhan. Jangan berdasarkan siapa yang mendukung dan tidak mendukung.”
Pernyataan itu sederhana. Namun, justru di situlah ukuran penting kepemimpinan setelah pemilihan.
Ketika kampanye berlangsung, para calon berusaha meyakinkan masyarakat bahwa mereka layak memimpin. Mereka mengunjungi warga, mendengarkan keluhan, dan menjanjikan berbagai perbaikan.
Setelah terpilih, tanggung jawab mereka berubah.
Mereka bukan lagi calon milik kelompok pendukung. Mereka telah menjadi pemimpin bagi seluruh masyarakat, termasuk orang-orang yang tidak memilih mereka.
Hal yang sama berlaku bagi anggota DPRD dan pejabat publik lainnya.
Jabatan publik membawa kewajiban untuk melayani berdasarkan aturan, kebutuhan, dan kepentingan masyarakat. Bukan berdasarkan daftar siapa yang pernah membantu memenangkan pemilihan.
Dalam praktik politik lokal, tekanan dari kelompok pendukung tentu bisa muncul. Ada yang merasa telah bekerja keras selama kampanye. Ada yang berharap mendapat jabatan, proyek, atau akses tertentu setelah calon yang didukungnya menang.
Tetapi kemenangan politik tidak dapat dijadikan alasan untuk memperlakukan sumber daya publik sebagai hadiah bagi pendukung. Uang pemerintah bukan uang pribadi pemenang pemilihan. Pelayanan publik juga bukan fasilitas khusus bagi orang-orang yang berada di barisan politik yang benar.
Warga tidak kehilangan haknya hanya karena calon pilihannya kalah. Dan pemerintah tidak boleh memperlakukan kritik sebagai bukti permusuhan. Sebab ketika kritik selalu dicurigai sebagai serangan politik, pemerintah justru kehilangan kesempatan mendengar persoalan yang mungkin benar-benar terjadi.
Ada yang Memilih Duduk di Tengah
Di tengah suasana seperti itu, tidak semua orang ingin terus membicarakan siapa menang dan siapa kalah. Sejumlah warga dari berbagai usia, latar belakang memilih berkumpul dalam sebuah kelompok diskusi kecil.
Mereka menamakannya Ruang Tengah.
Tidak ada bendera partai. Tidak ada nama calon yang dijadikan identitas kelompok. Mereka membicarakan persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sampah. Banjir. Lapangan kerja. Pendidikan. Kesehatan. Pelayanan publik. Penataan kota. Ruang terbuka hijau. Trotoar untuk pejalan kaki. Akses bagi penyandang disabilitas. Masalah-masalah yang tetap ada, siapa pun yang memenangkan pemilihan.
“Kami tidak menolak perbedaan,” kata Kiki, seorang anak muda yang terlibat dalam forum itu.
“Kami hanya menolak perbedaan yang dijadikan alasan untuk saling merendahkan.”
Pertemuan mereka tidak selalu berlangsung di tempat yang sama. Kadang di kafe, kadang di halaman rumah, atau di aula. Pada awalnya, beberapa peserta merasa khawatir. Mereka takut forum itu kembali menjadi tempat orang memperdebatkan pilihan politik.
“Awalnya kami takut,” kata seorang peserta. “Takut nanti dikira membahas politik lagi.”
Namun, setelah beberapa kali pertemuan, mereka mulai menemukan bahwa banyak persoalan yang dihadapi ternyata sama. Seorang perempuan yang telah berkeluarga menyampaikan pengalamannya.
“Ternyata masalah kami sama. Tidak peduli dulu dukung siapa.”
Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Tetapi justru hal-hal biasa seperti itulah yang sering terlupakan ketika masyarakat terlalu lama terjebak dalam persaingan politik.
Seorang ibu membutuhkan pelayanan kesehatan yang baik tanpa harus menjelaskan calon mana yang pernah dipilihnya. Seorang petani membutuhkan bibit dan sarana pertanian berdasarkan kebutuhan serta ketentuan program, bukan karena ia pernah memasang baliho calon tertentu. Anak muda yang sedang mencari pekerjaan tidak seharusnya dinilai berdasarkan pilihan politik keluarganya.
Begitu pula warga yang mengkritik kebijakan pemerintah. Mereka tetap memiliki hak untuk bertanya, menyampaikan pendapat, dan memperoleh pelayanan yang sama.
Ruang Tengah tentu tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan politik di daerah. Namun, setidaknya forum itu memperlihatkan bahwa warga masih bisa bertemu tanpa harus menyamakan pilihan. Mereka dapat berbeda pendapat tentang pemimpin, tetapi bekerja sama membicarakan persoalan kota.
Siapa yang Harus Memulai?
Memulihkan hubungan masyarakat setelah pemilihan bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan melalui satu acara seremonial. Tidak cukup dengan mengundang tokoh-tokoh politik ke sebuah panggung, meminta mereka berjabat tangan, kemudian mengumumkan bahwa seluruh perbedaan telah selesai.
Di luar ruangan pertemuan, masyarakat masih harus menjalani kehidupan sehari-hari. Ada tetangga yang belum saling menyapa. Ada sahabat yang hubungannya renggang. Ada keluarga yang memilih menghindari pembicaraan politik ketika berkumpul.
Karena itu, rekonsiliasi membutuhkan tindakan yang lebih nyata.
Semua pihak memiliki tanggung jawab. Partai politik, kelompok pendukung, pengelola media sosial, tokoh masyarakat, dan warga sendiri perlu berhenti memperlakukan perbedaan sebagai alasan untuk saling merendahkan.
Namun, tanggung jawab yang lebih besar berada pada mereka yang memegang kekuasaan. Kepala daerah, wakil kepala daerah, anggota DPRD, serta elite partai politik memiliki pengaruh yang tidak kecil terhadap cara masyarakat memandang satu sama lain.
Pernyataan mereka didengar. Sikap mereka diperhatikan. Kebijakan yang mereka ambil berdampak langsung pada kehidupan warga.
Ketika pemimpin terus menggunakan bahasa kemenangan dan kekalahan, pendukungnya bisa menganggap persaingan masih berlangsung. Ketika kritik selalu diperlakukan sebagai serangan dari kubu lawan, masyarakat akan semakin sulit membicarakan kebijakan secara terbuka.
Sebaliknya, ketika pemimpin bersedia mendengar orang yang berbeda pandangan, tidak membiarkan pendukungnya merendahkan warga lain, dan memastikan pelayanan berjalan adil, masyarakat mendapat contoh yang berbeda.
Rekonsiliasi bukan berarti semua orang harus menyukai kepala daerah yang terpilih. Bukan pula berarti warga dilarang mengkritik pemerintah demi menjaga suasana tetap tenang.
Dalam demokrasi, perbedaan pendapat justru diperlukan. Yang perlu dihentikan adalah kebiasaan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk memusuhi, menstigma, atau mengabaikan hak orang lain.
Pemerintah yang baik tidak harus selalu mendapat pujian. Tetapi pemerintah harus memastikan bahwa orang yang memuji maupun yang mengkritik tetap memperoleh hak yang sama sebagai warga.
Dua Cangkir Kopi
Malam mulai turun di Tomohon. Hujan kembali membasahi jalan. Kendaraan yang melintas meninggalkan suara ban bergesekan dengan permukaan aspal yang basah.
Di warungnya, Tanta Neke mulai membereskan beberapa peralatan. Malam itu ia hendak menutup warung lebih cepat. Namun, Yos dan Pet masih duduk di meja yang sama. Mereka belum pulang karena hujan belum reda.
Sesekali keduanya berbicara. Sesekali diam.
Tanta Neke datang membawa dua cangkir kopi.
“Kopi ini untuk kalian berdua,” katanya. “Sudah lama tidak duduk sama-sama.”
Yos menoleh. Pet juga. Beberapa saat tidak ada yang berbicara. Kemudian Pet mengambil salah satu cangkir dan menyerahkannya kepada Yos.
“Kopimu,” katanya singkat.
Yos menerima cangkir itu.
“Terima kasih.”
Tidak ada permintaan maaf panjang. Tidak ada pembicaraan mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah dalam pemilihan lalu. Mereka hanya duduk, minum kopi, dan menunggu hujan reda.
Barangkali masih ada hal yang belum selesai di antara keduanya. Namun, malam itu mereka tidak lagi merasa harus memperdebatkan pilihan politik setiap kali bertemu.
Tanta Neke kembali ke dapur kecilnya.
Di luar, hujan masih turun.
Pulang ke Meja Makan yang Sama
Di tempat lain, Om Karel sedang makan malam bersama anak-anak dan cucu-cucunya.
Di meja makan tersedia tinutuan, ikan cakalang bakar, dan dabu-dabu.
Tanta Rina, keponakannya yang memiliki dua anak, membantu menyiapkan hidangan. Aroma ikan bakar dan rica memenuhi ruangan. Orang-orang mulai mengambil makanan, menggeser piring, dan saling meminta lauk.
Mereka duduk mengelilingi meja panjang. Ada yang dulu memilih calon berbeda. Ada yang pernah berdebat. Ada pula yang lebih suka diam setiap kali pembicaraan keluarga mulai menyentuh politik.
Om Karel mengenal mereka semua.
Ia tahu siapa yang mudah tersinggung, siapa yang suka berdebat, dan siapa yang biasanya memilih meninggalkan meja ketika percakapan mulai memanas.
Malam itu ia memandang anak-anak dan cucu-cucunya.
“Makan dulu,” katanya. “Politik boleh nanti. Keluarga jangan.”
Beberapa orang tertawa kecil. Lalu mereka mulai makan.
Percakapan beralih ke pekerjaan, sekolah anak-anak, dan urusan keluarga.
Tidak semua persoalan selesai malam itu.
Perbedaan pendapat masih ada. Pilihan politik mereka pun mungkin tidak akan pernah sama. Tetapi setidaknya mereka masih bisa duduk dan makan bersama.
Di luar rumah, kabut mulai turun di sekitar kaki Gunung Lokon. Lampu-lampu rumah penduduk menyala. Kota Tomohon perlahan memasuki malam.
Besok pagi orang-orang akan kembali bekerja.
Pedagang membuka lapak di pasar. Petani berangkat ke kebun. Anak-anak pergi ke sekolah. Pegawai menuju kantor. Warung kopi kembali menerima pelanggan.
Mereka akan bertemu di jalan, di pasar, di tempat ibadah, dalam acara suka maupun duka. Kehidupan akan terus berjalan, tanpa menunggu seluruh perbedaan politik selesai. Dan mungkin itulah yang perlu diingat setelah setiap pemilihan.
Orang boleh berbeda pilihan. Boleh mendukung calon yang berbeda. Boleh kecewa terhadap hasil pemilihan. Boleh pula mengkritik orang yang sedang memerintah. Namun, tidak satu pun dari perbedaan itu seharusnya membuat seseorang kehilangan tempat di tengah keluarga, sahabat, dan masyarakatnya sendiri.
Sebab ketika suara telah dihitung dan pemenang telah ditetapkan, masih ada pekerjaan yang jauh lebih panjang daripada memenangkan pemilihan. Menjaga agar orang-orang yang berbeda pilihan tetap dapat hidup bersama.
Di meja makan Om Karel, malam itu, pekerjaan tersebut dimulai dengan sesuatu yang sangat biasa. Mereka saling mengambilkan makanan. Dan untuk sementara, tidak seorang pun bertanya siapa yang dulu mereka pilih.









