Dari cucu seorang Ketua DPRD Minahasa, putri mantan Wali Kota Tomohon, hingga menjadi Wakil Wali Kota pada usia 33 tahun. Sendy Gladys Adolfina Rumajar tumbuh bersama sejarah politik keluarganya. Namun, warisan nama hanyalah permulaan. Di hadapannya terbentang perjalanan yang jauh lebih sulit: membangun kepercayaan dengan kemampuannya sendiri.
Ada nama keluarga yang diwariskan bersama kenangan. Ada pula nama yang datang membawa sejarah, pengaruh, harapan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak selalu mudah dijawab.
Bagi Sendy Gladys Adolfina Rumajar, nama belakangnya bukan sekadar penanda hubungan darah.
Di Tomohon, fam—marga atau nama keluarga—Rumajar pernah melekat pada kekuasaan. Pada masa ketika kota ini masih menjadi bagian dari Kabupaten Minahasa, fam itu hadir di lembaga legislatif. Bertahun-tahun kemudian, ketika Tomohon telah berdiri sebagai daerah otonom, nama yang sama menghuni kursi wali kota.
Kini, nama itu kembali.
Kali ini dibawa seorang perempuan dari generasi ketiga, yang pada usia 33 tahun berdiri di panggung pemerintahan sebagai Wakil Wali Kota Tomohon.
Namun, di balik perjalanan tiga generasi itu, tersimpan pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar siapa mewarisi apa.
Bagaimana seseorang membangun identitasnya sendiri ketika orang-orang sudah lebih dahulu mengenalnya melalui nama ayah dan kakeknya?
Pertanyaan itu membawa kita jauh ke belakang. Ke masa ketika Sendy belum menjadi politisi, belum mengenakan atribut partai, dan belum duduk di kursi pemerintahan.
Ke masa ketika ia hanyalah seorang anak perempuan yang tumbuh di sebuah kota kecil di kaki Gunung Lokon.
Kota Kecil, Nama yang Besar
Tomohon memiliki cara tersendiri untuk menyimpan ingatan.
Di kota pegunungan ini, kabut pagi bisa turun perlahan dari lereng Lokon. Udara dingin menyusup melalui celah jendela rumah. Di pasar, aroma rica, sayuran segar, dan tanah yang masih basah bercampur dengan suara tawar-menawar.
Orang-orang saling mengenal, atau setidaknya merasa pernah mengenal.
Nama keluarga kerap menjadi pintu pembuka percakapan. Seseorang bisa dikenali bukan hanya dari wajahnya, melainkan dari siapa orang tuanya, siapa kakeknya, dan dari keluarga mana ia berasal.
Dalam lingkungan sosial semacam itulah Sendy lahir pada 30 Agustus 1991.
Ketika itu, Tomohon belum menjadi kota otonom. Wilayah ini masih merupakan bagian dari Kabupaten Minahasa.
Kakeknya, Edison Paulus Rumajar, yang dikenal sebagai EP Rumajar atau Edy Rumajar, telah lebih dahulu meninggalkan jejak dalam politik daerah.
Dalam catatan sejarah keluarga yang dikisahkan pada tulisan sebelumnya, di blog DORANG, EP Rumajar pernah menjabat Ketua DPRD Kabupaten Minahasa pada rentang 1967 hingga 1982.
Pada masa itu, Tomohon masih menjadi salah satu kecamatan dalam wilayah kabupaten yang dipimpin dari Tondano.
EP Rumajar hidup dalam lanskap politik yang berbeda dari cucunya. Belum ada media sosial yang setiap hari menampilkan aktivitas pejabat. Belum ada kampanye digital yang mampu membawa wajah calon pemimpin ke layar telepon genggam ribuan orang dalam hitungan detik.
Politik bergerak melalui organisasi, pertemuan, jaringan sosial, dan hubungan antartokoh.
Lalu waktu berjalan.
Tomohon berubah. Generasi berganti. Kekuasaan berpindah tangan. Tetapi nama Rumajar belum selesai menjadi bagian dari cerita kota ini.
Ketika Sang Ayah Menjadi Wali Kota
Pada 2003, Tomohon memasuki babak baru.
Melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2003, Tomohon dibentuk menjadi daerah otonom. Wilayah yang sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Minahasa itu mulai menata pemerintahan sendiri.
Bagi masyarakat, otonomi membawa harapan tentang pelayanan yang lebih dekat, pembangunan yang lebih merata, dan kesempatan menentukan masa depan daerah tanpa selalu bergantung pada kabupaten induk, sebagaimana tulisan sebelumnya Kota yang Pernah Diperjuangkan, Kota yang Kini Harus Membuktikan Diri
Bagi keluarga Rumajar, perubahan itu kelak menghadirkan babak politik berikutnya.
Jefferson Soleiman Montesque Rumajar, yang akrab dikenal sebagai Epe, memasuki panggung kepemimpinan Kota Tomohon.
Ia menjadi wali kota di kota yang sebelumnya merupakan bagian dari wilayah politik ayahnya.
Jika EP Rumajar pernah memimpin lembaga legislatif di Kabupaten Minahasa, Jefferson kemudian memimpin pemerintahan eksekutif di Kota Tomohon. Dari Barak ke Balai Kota dari Janji ke Pelayanan.
Dua generasi. Dua zaman. Dua lembaga yang berbeda.
Dan di antara perjalanan itu, Sendy sedang bertumbuh.
Ketika Tomohon menjadi kota otonom pada 2003, usianya baru 11 tahun.
Usia ketika sebagian besar anak masih lebih akrab dengan buku pelajaran, pekerjaan rumah, teman sekolah, dan berbagai cita-cita yang belum menemukan bentuk akhirnya.
Kita tidak mengetahui secara rinci bagaimana kehidupan pribadinya ketika sang ayah menjalankan tugas pemerintahan.
Bagaimana percakapan keluarga mereka, tentang nasihat yang diberikan, atau tentang bagaimana Sendy memandang dunia politik saat masih remaja.
Namun, ada kenyataan yang sulit dipisahkan dari perjalanan hidupnya: ia tumbuh ketika keluarganya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan sejarah pemerintahan daerah.
Bagi seorang anak, keadaan seperti itu bisa menghadirkan banyak kemungkinan.
Nama keluarga mungkin membuka kesempatan. Tetapi nama yang sama juga dapat mendatangkan penilaian sebelum seseorang sempat memperlihatkan kemampuannya.
Di situlah persoalan identitas mulai menjadi menarik.
Sebab seorang anak tidak pernah memilih keluarga tempat ia dilahirkan.
Yang bisa ia tentukan adalah bagaimana menjalani kehidupannya sendiri.
Sebelum Politik, Ada Disiplin dan Bendera Merah Putih
Jauh sebelum namanya muncul dalam surat suara pemilihan kepala daerah, Sendy memiliki perjalanan yang tidak seluruhnya berhubungan dengan jabatan politik keluarganya.
Ia menempuh pendidikan dasar di SD GMIM IV Tomohon, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Tomohon.
Setelah itu, ia bersekolah di SMA Lokon St. Nicolaus Tomohon pada 2006 hingga 2009.
Masa remaja adalah periode ketika seseorang mulai mengenali dunia di luar keluarganya. Lingkungan sekolah mempertemukan anak-anak dengan aturan, persaingan, persahabatan, keberhasilan, dan kegagalan yang harus dihadapi sendiri.
Bagi Sendy, salah satu pencapaian penting pada masa itu datang pada 2008.
Ia terpilih mewakili Sulawesi Utara sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka Nasional di Istana Negara.
Bayangkan suasana latihan pengibaran bendera.
Barisan harus lurus. Langkah mesti seragam. Gerakan tangan, posisi tubuh, dan irama kaki tidak boleh berjalan menurut kemauan masing-masing.
Satu orang yang bergerak terlalu cepat dapat merusak keselarasan seluruh kelompok.
Dalam dunia seperti itu, nama keluarga tidak dapat menggantikan ketepatan gerakan.
Disiplin harus dijalani. Tanggung jawab tidak bisa diwakilkan.
Pengalaman Paskibraka bukan bukti otomatis bahwa seseorang kelak akan menjadi pemimpin yang baik. Tetapi pengalaman tersebut memberikan gambaran tentang salah satu lingkungan pembentukan karakter yang pernah dilalui Sendy.
Di sana, seorang remaja dari Tomohon menjadi bagian dari barisan nasional.
Bukan sebagai putri wali kota.
Melainkan sebagai wakil Sulawesi Utara.
Setahun kemudian, pada 2009, ia kembali memperoleh pengalaman internasional melalui program pertukaran pelajar Indonesia–Jepang, JENESYS.
Perjalanan itu memperluas ruang pengalamannya, dari kota pegunungan tempat ia dibesarkan menuju lingkungan budaya dan masyarakat yang berbeda.
Dua pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam riwayat hidupnya sebelum dunia politik mengambil tempat yang semakin besar.
Meninggalkan Tomohon, Membawa Bekal Pulang
Selepas SMA, Sendy melanjutkan pendidikan ke Universitas Pelita Harapan.
Ia mengambil pendidikan sarjana di bidang bisnis pada 2009–2013, kemudian melanjutkan studi magister Ilmu Komunikasi pada 2015–2017 di universitas yang sama.
Dua bidang yang memiliki cara pandang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi.
Bisnis mengajarkan bagaimana keputusan berhubungan dengan sumber daya, risiko, dan hasil. Komunikasi mengajarkan bagaimana pesan dibentuk, diterima, dipahami, atau justru disalahartikan.
Dalam pemerintahan, keduanya memiliki relevansi.
Sebab kebijakan publik bukan sekadar persoalan menghitung anggaran. Pemerintah juga harus mampu menjelaskan mengapa suatu keputusan diambil, siapa yang memperoleh manfaat, dan mengapa masyarakat perlu mempercayainya.
Namun, gelar akademik tentu tidak serta-merta menjamin kecakapan memimpin.
Ijazah menunjukkan bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan. Kepemimpinan diuji ketika pengetahuan harus diterjemahkan menjadi keputusan yang menyangkut kehidupan orang lain.
Dalam perjalanan profesionalnya, Sendy juga pernah bekerja sebagai staf hubungan masyarakat di PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia pada 2018–2019.
Pengalaman itu menempatkannya di lingkungan korporasi, dengan tuntutan komunikasi organisasi yang berbeda dari dinamika politik daerah.
Sebelum menjadi wakil wali kota, ia juga terlibat dalam sejumlah organisasi kepemudaan dan politik.
Pernah menjadi Bendahara KNPI Kota Tomohon, terlibat dalam organisasi kepemudaan Partai Golkar, dan kemudian memimpin DPC Partai Gerindra Kota Tomohon sejak 2020.
Rangkaian pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan Sendy menuju jabatan publik tidak berlangsung dalam satu lompatan.
Ada pendidikan, organisasi, pekerjaan, dan aktivitas politik yang mendahuluinya.
Meski demikian, satu pertanyaan tetap relevan: seberapa jauh pengalaman-pengalaman itu membentuk kemampuannya untuk bekerja bagi masyarakat?
Jawabannya tidak cukup ditemukan dalam daftar riwayat hidup. Jawaban itu harus dicari dalam praktik kepemimpinan.
Tiga Generasi dan Sebuah Warisan yang Tak Terlihat
Ada sesuatu yang menarik ketika perjalanan keluarga Rumajar dibaca bersama sejarah Tomohon.
Pada masa EP Rumajar, Tomohon masih menjadi kecamatan dalam Kabupaten Minahasa. Tentang Kecamatan Tomohon hingga menjadi kota otonom dapat dibaca pada DORANG Pemekaran Kecamatan Tomohon.
Pada masa Jefferson Rumajar, Tomohon telah menjadi kota otonom yang sedang membangun identitas pemerintahan sendiri.
Ketika Sendy memasuki kepemimpinan daerah, Tomohon telah berusia lebih dari dua dasawarsa sebagai kota.
Setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda.
Generasi kakeknya hidup dalam periode ketika struktur pemerintahan dan dinamika politik daerah belum seperti sekarang.
Generasi ayahnya berhadapan dengan kebutuhan membangun dan mengelola kota otonom yang relatif muda.
Generasi Sendy menghadapi masyarakat yang semakin mudah memperoleh informasi, semakin cepat menyampaikan kritik, dan semakin berani membandingkan janji pemerintah dengan kenyataan sehari-hari.
Dahulu, seorang pejabat mungkin hanya menghadapi kritik dalam rapat atau percakapan terbatas.
Sekarang, satu keluhan warga bisa menyebar ke berbagai platform digital sebelum sebuah surat pengaduan selesai diproses.
Perubahan zaman itu menuntut cara memimpin yang berbeda.
Nama keluarga boleh tetap sama.
Tetapi tantangan tidak pernah benar-benar diwariskan dalam bentuk yang sama.
Di sinilah Sendy berada pada persimpangan antara sejarah dan masa depan.
Ia membawa nama yang telah lama dikenal masyarakat. Namun, ia hidup pada zaman ketika masyarakat juga memiliki lebih banyak cara untuk menilai pemimpinnya.
Warisan politik dapat memberikan modal awal berupa pengenalan publik, jaringan, dan pengalaman sosial.
Tetapi warisan itu tidak menyediakan jawaban otomatis atas persoalan pendidikan, kesehatan, pertanian, lapangan pekerjaan, atau pelayanan pemerintahan.
Nama besar dapat membawa seseorang memasuki ruang kekuasaan.
Namun, nama besar tidak bisa bekerja menggantikan pemiliknya.
Februari 2025: Ketika Giliran Itu Tiba
Jakarta, 20 Februari 2025.
Di Istana Negara, para kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih mengikuti prosesi pelantikan serentak.
Di antara mereka terdapat Caroll Joram Azarias Senduk dan Sendy Gladys Adolfina Rumajar.
Keduanya datang membawa mandat politik hasil Pilkada Tomohon 2024.
Bagi Sendy, hari itu menjadi penanda perubahan besar dalam perjalanan hidupnya.
Perempuan yang lahir pada 30 Agustus 1991 itu dilantik sebagai Wakil Wali Kota Tomohon pada usia 33 tahun.
Ada ironi sejarah yang menarik.
Dahulu, kakeknya pernah memimpin DPRD di kabupaten yang menaungi Tomohon. Kemudian ayahnya menjadi wali kota ketika Tomohon telah berdiri sendiri.
Kini, giliran Sendy menempati salah satu jabatan tertinggi dalam pemerintahan kota yang sama.
Tetapi perjalanan menuju hari pelantikan itu bukan sekadar kelanjutan kisah keluarga.
Ada pemilihan umum yang harus dimenangkan.
Berdasarkan penetapan KPU Kota Tomohon, pasangan Caroll Senduk–Sendy Rumajar memperoleh 31.173 suara atau sekitar 45,8 persen dari suara sah dalam Pilkada 2024.
Angka tersebut mengantarkan mereka memimpin Tomohon untuk masa jabatan 2025–2030.
Tiga puluh satu ribu lebih suara.
Dalam dokumen pemilihan, semuanya tampak sebagai angka.
Tetapi dalam kehidupan demokrasi, setiap suara berasal dari seseorang yang datang ke tempat pemungutan suara dengan alasan dan harapannya sendiri.
Mungkin ada petani yang menginginkan bantuan pertanian lebih mudah diperoleh.
Ada orang tua yang berharap biaya pendidikan anaknya tidak semakin memberatkan.
Ada anak muda yang menginginkan kesempatan bekerja tanpa harus meninggalkan kampung halaman.
Ada pula warga yang sekadar ingin urusan administrasi selesai tanpa berulang kali mendatangi kantor pemerintahan.
Itulah manusia-manusia di balik angka pemilihan.
Dan sejak hari pelantikan, harapan mereka menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintahan yang dipimpin Caroll dan Sendy.
Perempuan Ketiga di Kursi Wakil Wali Kota
Dalam sejarah pemerintahan Tomohon, kehadiran Sendy juga memiliki arti tersendiri.
Ia menjadi perempuan ketiga yang menduduki jabatan Wakil Wali Kota Tomohon.
Sebelumnya, jabatan itu pernah diemban Linneke Syennie Watoelangkow, yang mendampingi Jefferson Rumajar, dan Syerly Adelyn Sompotan, yang mendampingi Jimmy Feidie Eman.
Ada hubungan sejarah yang menarik di sini.
Ketika Epe, ayah Sendy menjabat wali kota, salah satu perempuan yang mendampinginya adalah Linneke Watoelangkow.
Bertahun-tahun kemudian, putri Epe, Sendy, menempati jabatan wakil wali kota.
Namun, perjalanan perempuan dalam politik tidak seharusnya hanya dihitung berdasarkan berapa banyak yang berhasil menduduki jabatan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa besar ruang yang mereka miliki untuk memengaruhi kebijakan dan mengambil keputusan.
Seorang perempuan bisa saja berada di puncak struktur pemerintahan, tetapi tetap menghadapi tuntutan pembuktian yang tidak sederhana.
Terlebih ketika ia berasal dari keluarga politik yang telah dikenal luas.
Dalam posisi Sendy, terdapat dua identitas yang berjalan bersamaan: seorang perempuan yang mencapai jabatan publik dan seorang anggota keluarga yang memiliki sejarah panjang dalam kekuasaan daerah.
Keduanya dapat menjadi sumber kekuatan.
Keduanya juga dapat menghadirkan kritik.
Yang menentukan bukan semata latar belakangnya, melainkan bagaimana ia menjalankan kewenangan yang dipercayakan kepadanya.
Di Balik Jabatan, Ada Kehidupan yang Lain
Profil resmi Pemerintah Kota Tomohon mencatat Sendy sebagai istri Ariel Rubinstein Warouw dan ibu dari seorang anak.
Keterangan itu mungkin hanya menempati beberapa baris dalam dokumen biografi.
Tetapi kehidupan seseorang tidak pernah sesederhana kolom-kolom administrasi.
Seorang pejabat publik tetap memiliki kehidupan keluarga di luar agenda pemerintahan. Ada waktu yang harus dibagi, tanggung jawab yang berjalan bersamaan, dan batas antara ruang pribadi dengan kepentingan masyarakat yang harus dijaga.
Bagi seorang perempuan yang juga seorang ibu, pertanyaan tentang keseimbangan kehidupan keluarga dan pekerjaan sering kali muncul lebih besar daripada yang ditujukan kepada laki-laki dalam jabatan serupa.
Bagaimana Sendy menjalani kesehariannya di mana ia memiliki lebih dari satu peran.
Ia adalah seorang ibu, seorang istri, seorang pemimpin partai, dan seorang wakil kepala daerah.
Masing-masing peran membawa tanggung jawab berbeda.
Di ruang keluarga, hubungan dibangun melalui kedekatan pribadi.
Di ruang politik, kepercayaan harus dibangun melalui tindakan yang dapat dinilai publik.
Keduanya tidak selalu berjalan dengan ukuran keberhasilan yang sama.
Dan mungkin di situlah salah satu tantangan kehidupan seorang pemimpin: mengetahui kapan harus hadir sebagai pribadi, kapan harus bertindak sebagai pejabat, dan kapan kepentingan publik harus didahulukan.
Janji Politik Bertemu Kehidupan Sehari-hari
Di Tomohon, kehidupan tidak berhenti ketika pemilihan kepala daerah selesai.
Petani tetap berangkat ke kebun.
Pedagang tetap membuka lapak.
Anak-anak tetap berangkat ke sekolah.
Orang sakit tetap membutuhkan pelayanan kesehatan.
Dan keluarga-keluarga tetap menghitung pengeluaran mereka dari bulan ke bulan.
Bagi masyarakat, perubahan kepemimpinan baru memiliki arti ketika ada sesuatu yang benar-benar berubah dalam kehidupan sehari-hari.
Pada Pilkada 2024, pasangan Caroll–Sendy menawarkan berbagai program yang dikenal melalui gagasan Gratis untuk Rakyat.
Program-program itu mencakup bantuan bagi petani, pelayanan kesehatan, administrasi kependudukan, serta fasilitas dan layanan publik lainnya.
Janji semacam itu mudah menarik perhatian karena berhubungan langsung dengan kebutuhan warga.
Tetapi dalam pemerintahan, janji harus melewati perjalanan yang lebih panjang daripada kampanye.
Ia harus diterjemahkan menjadi kebijakan, disesuaikan dengan kemampuan anggaran, dilaksanakan oleh birokrasi, kemudian diukur hasilnya.
Di sinilah posisi Sendy menjadi penting.
Sebagai wakil wali kota, ia bukan hanya bagian dari pasangan yang memenangkan pemilihan. Ia juga bagian dari kepemimpinan yang bertanggung jawab atas jalannya pemerintahan sesuai pembagian tugas dan kewenangan.
Dan masyarakat memiliki hak untuk mengetahui apa yang telah dikerjakan, apa yang belum terlaksana, serta apa yang menjadi hambatannya.
Bagi seorang pemimpin muda, tantangan itu sekaligus menjadi kesempatan.
Kesempatan memperlihatkan bahwa energi generasi baru bukan hanya terlihat dalam penampilan, aktivitas digital, atau kemampuan berbicara di depan publik.
Energi itu harus tampak dalam keberanian mendengarkan persoalan, memahami keterbatasan, dan mencari jalan keluar yang masuk akal.
Sebab pemerintahan bukan panggung tempat setiap persoalan dapat diselesaikan dengan kalimat yang indah.
Kadang-kadang, keputusan terbaik justru tidak menghasilkan tepuk tangan.
Dari Ruang Seremonial ke Ruang Pengabdian
Pada 20 Februari 2026, kepemimpinan Caroll Senduk dan Sendy Rumajar genap berusia satu tahun.
Pemerintah Kota Tomohon memperingati momentum tersebut melalui ibadah syukur pada 23 Februari 2026.
Satu tahun adalah waktu yang cukup untuk mulai melihat arah pemerintahan, tetapi belum cukup untuk memberikan penilaian akhir atas seluruh masa jabatan.
Dalam periode itu, pemerintah mulai menghadapi kenyataan yang tidak selalu terlihat selama kampanye: kebutuhan masyarakat yang beragam, tuntutan anggaran, persoalan birokrasi, dan prioritas pembangunan yang harus dipilih.
Bagi Sendy, perjalanan tersebut merupakan bagian dari proses berpindah dari politik elektoral menuju tanggung jawab administratif.
Dua dunia yang saling berhubungan, tetapi tidak sepenuhnya sama.
Dalam kampanye, seorang calon berusaha meyakinkan masyarakat bahwa ia mampu membawa perubahan.
Dalam pemerintahan, keyakinan itu harus dibuktikan melalui pekerjaan yang dapat diperiksa.
Tidak semua keputusan akan disukai.
Tidak semua harapan dapat dipenuhi sekaligus.
Dan tidak semua keberhasilan dapat diukur dari banyaknya kegiatan yang dihadiri atau foto yang dipublikasikan.
Yang jauh lebih penting adalah manfaat yang dirasakan warga.
Ketika Nama Keluarga Tak Lagi Cukup
Pada akhirnya, cerita Sendy Rumajar bukan hanya tentang perjalanan seorang perempuan menuju jabatan wakil wali kota.
Ini juga cerita tentang bagaimana sejarah keluarga bertemu dengan tuntutan zaman.
Ada orang yang mengawali hidup dengan sangat sedikit kesempatan, lalu harus bekerja keras untuk memperoleh pengakuan.
Ada pula yang lahir dalam lingkungan dengan modal sosial, pendidikan, dan jaringan yang lebih besar.
Sendy berada dalam kelompok kedua.
Mengakui kenyataan itu bukan berarti mengabaikan pendidikan, pengalaman, atau kerja yang telah ia jalani.
Sebaliknya, pengakuan tersebut membantu kita memahami posisi awal seseorang secara lebih utuh.
Dalam kehidupan publik, privilese bukan dosa yang diwariskan.
Tetapi privilese juga bukan prestasi pribadi.
Ia adalah keadaan awal yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan.
Seseorang bisa memanfaatkannya untuk memperkuat kedudukan sendiri. Bisa pula menggunakannya untuk memperluas kesempatan bagi orang lain.
Pilihan itulah yang pada akhirnya memberi makna terhadap warisan yang diterima.
Sendy memiliki modal yang tidak kecil.
Ia berasal dari keluarga yang dikenal dalam sejarah politik Minahasa dan Tomohon. Ia memperoleh pendidikan tinggi, memiliki pengalaman organisasi, pernah bekerja di sektor korporasi, dan kini menduduki jabatan publik.
Semua itu merupakan bekal.
Tetapi masyarakat tidak hidup dari bekal seorang pemimpin.
Masyarakat hidup dari hasil pekerjaannya.
Seorang petani tidak akan memperoleh panen lebih baik hanya karena wakil wali kotanya memiliki gelar akademik.
Seorang ibu tidak otomatis mendapatkan pelayanan kesehatan lebih cepat karena pemimpinnya berasal dari keluarga berpengaruh.
Dan seorang anak muda tidak serta-merta menemukan pekerjaan hanya karena kota tempat tinggalnya dipimpin generasi yang lebih muda.
Untuk menghasilkan perubahan, semua modal itu harus bertemu dengan kebijakan yang tepat, pelaksanaan yang konsisten, dan keberanian mengevaluasi kegagalan.
Itulah ujian yang sebenarnya.
Di Kaki Lokon, Sejarah Masih Ditulis
Tomohon terus bergerak.
Pagi datang bersama udara dingin yang akrab. Aktivitas pasar dimulai. Kendaraan melintas di jalan-jalan kota. Para petani menuju kebun. Anak-anak mengenakan seragam sekolah.
Gunung Lokon tetap berdiri di kejauhan.
Ia telah menyaksikan Tomohon ketika masih menjadi bagian dari Kabupaten Minahasa, ketika kota ini memperjuangkan otonomi, hingga ketika pemerintahan berganti dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di tengah perjalanan panjang itu, keluarga Rumajar telah menjadi bagian dari sejarah politik daerah.
EP Rumajar pernah memimpin lembaga legislatif di kabupaten induk.
Jefferson Rumajar kemudian menjadi Wali Kota Tomohon.
Kini, Sendy Rumajar menjalankan tugas sebagai Wakil Wali Kota Tomohon.
Tiga generasi.
Tiga perjalanan.
Satu nama keluarga yang terus hadir dalam perubahan zaman.
Namun, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah menduduki kursi kekuasaan.
Sejarah juga mencatat apa yang terjadi ketika seseorang berada di kursi itu.
Bagi Sendy, perjalanan menuju jabatan wakil wali kota telah selesai pada hari pelantikannya.
Tetapi perjalanan untuk membangun warisan kepemimpinannya sendiri masih berlangsung.
Kelak, ketika masa jabatannya berakhir dan masyarakat kembali membicarakan nama Rumajar, mungkin akan ada dua cara untuk mengenangnya.
Sebagai cucu EP Rumajar dan putri Jefferson Rumajar yang pernah menjadi Wakil Wali Kota Tomohon.
Atau sebagai Sendy Gladys Adolfina Rumajar, seorang perempuan yang mampu meninggalkan jejak pengabdiannya sendiri.
Perbedaan kedua ingatan itu sangat besar.
Yang pertama menjelaskan dari mana ia berasal.
Yang kedua menjelaskan apa yang telah ia lakukan.
Dan pada akhirnya, barangkali itulah ukuran paling manusiawi dari sebuah perjalanan hidup.
Bukan seberapa besar nama yang kita terima ketika lahir.
Melainkan seberapa bermakna nama itu ketika kelak kita meninggalkan panggung.
Sebab nama keluarga bisa diwariskan. Tetapi kepercayaan harus diperjuangkan.
Dan di Tomohon, di bawah bayang-bayang Gunung Lokon yang tak pernah berhenti menyaksikan pergantian zaman, cerita Sendy Rumajar masih terus ditulis.
Bukan lagi oleh sejarah keluarganya semata.
Melainkan oleh keputusan-keputusannya sendiri—dan oleh masyarakat yang kelak menilai hasilnya.









