Langsung ke konten

Seminari Kakaskasen: Dari Sebuah Kehilangan, Tumbuh Ribuan Panggilan

Ilustrasi komposit digital Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen, Tomohon, memadukan foto gerbang seminari dengan rekonstruksi visual sejarah pendidikan calon imam, kehancuran bangunan akibat perang, para seminaris, dan Gunung Lokon.
Jejak panjang Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen, Tomohon, dari perintisannya di Woloan pada 1928, kehancuran akibat Perang Dunia II, hingga kebangkitannya melewati pergolakan Permesta. Ilustrasi komposit digital ini menggambarkan perjalanan sejarah, pengorbanan, dan keteguhan panggilan yang terus bertumbuh di kaki Gunung Lokon. (Gambar merupakan rekayasa visual dan ilustrasi historis kolaborasi DORANG dengan teknologi AI.)

Di balik tembok batu dan pepohonan rindang di kaki Gunung Lokon, berdiri sebuah seminari yang pernah kehilangan calon murid pertamanya, luluh lantak oleh perang, dan bertahan di tengah pergolakan. Hampir seabad kemudian, kisahnya bukan hanya tentang pendidikan calon imam, melainkan tentang manusia, pengorbanan, dan kesetiaan pada sebuah panggilan.

Ada tempat yang sejarahnya tidak cukup diceritakan melalui angka tahun, nama bangunan, atau deretan tokoh penting. Untuk memahaminya, orang harus membayangkan kehidupan yang pernah berlangsung di dalamnya: langkah kaki anak-anak muda yang meninggalkan rumah, kegelisahan menjelang tidur, doa yang dipanjatkan diam-diam, dan kerinduan yang tak selalu mudah diucapkan.

Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen di Tomohon adalah salah satu tempat itu.

Dari jalan masuknya, sebuah papan nama berdiri pada dinding batu. Pepohonan tumbuh menaungi kawasan di sekitarnya. Kompleks itu tampak tenang, seolah kehidupan di dalamnya berjalan jauh dari kegaduhan dunia.

Namun, ketenangan itu menyimpan sejarah yang tidak selalu damai.

Di tempat ini, bangunan pernah hancur oleh bom. Para penghuninya pernah terpaksa mengungsi. Pendidikan pernah harus dimulai kembali dari keterbatasan, ketika masa depan bahkan belum tampak jelas.

Dan jauh sebelum semua itu terjadi, kisah seminari ini justru bermula dari sebuah kehilangan.

Seorang Pastor dan Anak yang Tak Pernah Menjadi Imam

Woloan, 1920-an.

Pada masa ketika pendidikan modern belum mudah dijangkau banyak anak pribumi, Pastor Hendricus Croonen, MSC, menjalankan tugas sebagai penjaga sekaligus pembina asrama Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah untuk anak-anak pribumi dengan bahasa pengantar Belanda yang telah berdiri sejak 1 Juni 1922.

Di antara murid-murid yang ditemuinya, ada seorang anak yang menarik perhatiannya.

Pastor Croonen melihat sesuatu pada anak itu. Bukan semata kemampuan belajar, melainkan kemungkinan tumbuhnya sebuah panggilan untuk menjadi imam.

Ia berharap anak tersebut dapat dibimbing lebih jauh.

Namun, harapan itu tidak pernah sampai ke tempat yang dituju.

Ketika sedang berlibur, anak itu jatuh dari pohon dan meninggal dunia.

Namanya tidak disebutkan dalam catatan sejarah yang menjadi sumber kisah ini. Kita tidak mengetahui berapa usianya, bagaimana keluarganya menerima kabar duka, atau apa yang sesungguhnya ia cita-citakan.

Yang diketahui, kematiannya tidak membuat Pastor Croonen menyerah.

Di sinilah sejarah Seminari Kakaskasen menemukan salah satu bagian paling manusiawinya.

Sebuah cita-cita yang semula bertumpu pada seorang anak harus berhadapan dengan kenyataan bahwa hidup bisa berakhir sebelum seseorang sempat menentukan jalan hidupnya.

Tetapi bagi Pastor Croonen, kehilangan itu bukan akhir dari usaha menumbuhkan panggilan.

Pada masa yang sama, dorongan dari Roma untuk mendirikan seminari-seminari semakin kuat. Pastor Croonen terus membicarakan kemungkinan tersebut dengan Prefek Apostolik, Mgr. W. Panis.

Pembicaraan itu akhirnya menghasilkan keputusan penting.

Mgr. Panis mempercayakan perintisan seminari kepada Pastor Croonen, sekaligus mengangkatnya menjadi direktur pertama.

Sebuah lembaga pendidikan calon imam pun mulai dirintis. Murid-murid pertama dicari dan dipilih dengan teliti.

Pada 16 Januari 1928, gedung seminari pertama di Woloan diberkati dalam sebuah upacara yang dihadiri para pastor dan bruder.

Dari tempat sederhana itulah sebuah perjalanan panjang dimulai.

Sekolah Kecil dengan Mimpi yang Terlalu Besar

Bangunan pertama seminari sebenarnya jauh dari ideal.

Gedung bekas Kweekschool, yang kemudian digunakan sebagai Normaalschool atau sekolah pendidikan guru, sudah tidak begitu layak dipakai. Tetapi pilihan yang tersedia sangat terbatas.

Para perintis harus menerima kenyataan bahwa cita-cita besar kadang-kadang memang lahir di tempat yang serba kekurangan.

Pendidikan dirancang bertahap, mulai dari Probatorium sebagai tingkat persiapan, kemudian Sexta, Quinta, Quarta, Tertia, Poesis, hingga Rhetorica.

Karena tenaga pengajar terbatas, penerimaan murid hanya dapat dilakukan setiap dua tahun.

Barulah pada Agustus 1929 kegiatan belajar seminari dimulai dengan murid-murid angkatan pertama. Pengetahuan mereka dinilai cukup sehingga dapat langsung memasuki tingkat Sexta.

Kita dapat membayangkan betapa asingnya kehidupan itu bagi anak-anak yang baru meninggalkan rumah.

Mereka harus membiasakan diri dengan jadwal yang teratur, pelajaran yang menuntut kesungguhan, kehidupan bersama, dan disiplin yang tidak selalu mudah dijalani.

Di luar ruang belajar, dunia terus bergerak. Tetapi di dalam seminari, waktu mulai diukur dengan cara berbeda: jam belajar, waktu berdoa, tugas harian, dan kesempatan untuk beristirahat.

Pada Desember 1933, didirikan Akademi Albertina sebagai sarana pengembangan pengetahuan para seminaris.

Pendidikan terus berkembang hingga pada tahun ajaran 1934–1935 muncul tingkat Rhetorica pertama.

Keberhasilan itu justru melahirkan persoalan baru.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ke mana para calon imam harus melanjutkan studi filsafat?

Jawabannya ditemukan melalui penyewaan rumah keluarga Boseke selama satu tahun. Di rumah itulah pendidikan filsafat dimulai, dengan Pastor C. De Bruyn, MSC, sebagai rektor pertama.

Seminari telah tumbuh melampaui keterbatasan bangunan awalnya.

Ia membutuhkan rumah yang lebih besar.

Ketika Mapalus Membangun Rumah Panggilan

Pertambahan jumlah murid membuat kompleks seminari di Woloan semakin sempit.

Kesempatan datang ketika tanah bekas kompleks radio pemerintah di Kakaskasen ditawarkan untuk dijual karena stasiun radio akan dipindahkan.

Tanah itu kemudian dibeli.

Pada 1 Januari 1936, pembangunan dimulai di bawah pimpinan Bruder Boers bersama rekan-rekannya.

Tetapi bangunan seminari tidak hanya berdiri berkat tenaga para bruder dan tukang.

Umat Katolik dari Woloan, Tomohon, Kakaskasen, serta desa-desa sekitar turut mengambil bagian melalui kerja sukarela dengan semangat mapalus.

Di sinilah cerita tentang seminari bertemu dengan salah satu kekuatan sosial masyarakat Minahasa: bekerja bersama untuk sesuatu yang dianggap penting bagi kehidupan bersama.

Ada orang yang menyumbangkan tenaga. Ada yang membantu pekerjaan pembangunan. Mereka mungkin tidak akan pernah menjadi imam, tetapi tangan mereka ikut menyiapkan tempat bagi generasi yang kelak menempuh jalan imamat.

Pada 4 November 1936, gedung seminari yang baru diberkati oleh Mgr. W. Panis.

Hadir dalam peristiwa itu hampir seluruh tenaga misi di wilayah Prefektur Apostolik Manado, Residen Manado, dan sejumlah pejabat pemerintah.

Mula-mula bangunan baru digunakan untuk pendidikan filsafat dan tingkat Rhetorica. Tingkat pendidikan lainnya masih berada di Woloan.

Pembangunan berlanjut hingga Agustus 1937.

Tahun ajaran 1937–1938 kemudian dapat dimulai dengan fasilitas yang lebih memadai.

Kompleks itu menampung Seminari Menengah Theresianum dan Seminari Agung bagian filsafat yang bernama Xaverianum.

Seolah-olah segala sesuatu mulai menemukan bentuknya.

Namun, sejarah segera memperlihatkan bahwa bangunan yang didirikan dengan susah payah pun tidak kebal terhadap kekerasan zaman.

Ketika Perang Memadamkan Kehidupan Seminari

Tanggal 10 Januari 1942.

Tentara Jepang mendarat melalui laut dan udara. Perang Dunia II yang sebelumnya terasa jauh kini memasuki kehidupan masyarakat Sulawesi Utara.

Di Kakaskasen, keadaan berubah menjadi genting.

Pastor C. De Bruyn, yang ketika itu memimpin seminari, memerintahkan para murid untuk segera meninggalkan kompleks dan pulang ke kampung masing-masing demi keselamatan.

Pendidikan yang dibangun bertahun-tahun harus dihentikan.

Bagi para seminaris, kepulangan itu tentu bukan liburan seperti biasanya. Mereka meninggalkan tempat belajar tanpa kepastian kapan dapat kembali.

Tak lama kemudian, kompleks seminari diduduki tentara Jepang. Para pastor ditawan.

Bangunan yang semula diperuntukkan bagi pendidikan calon imam dialihfungsikan menjadi sekolah pertanian, kemudian digunakan untuk menyimpan perlengkapan perang.

Perubahan fungsi itu membawa akibat yang menghancurkan.

Ketika pihak Sekutu mengetahui penggunaan kompleks tersebut, serangan bom diarahkan ke kawasan seminari.

Bangunan-bangunan rusak berat.

Kapel hancur berkeping-keping.

Di antara puing-puing yang berserakan, sebagian altar masih tampak berdiri.

Gambaran itu sulit dilepaskan dari makna simboliknya.

Tempat yang dahulu dibangun untuk doa dan pendidikan kini menjadi reruntuhan perang. Ruang yang pernah menampung harapan anak-anak muda berubah menjadi saksi kekerasan yang jauh lebih besar daripada kehidupan mereka.

Harta benda seminari juga dijarah. Dalam perjalanan masa perang, kompleks tersebut sempat digunakan untuk menampung warga dan keluarga Belanda yang menjadi tawanan.

Apa yang dahulu dibangun dengan mapalus, kerja keras, dan pengorbanan umat, nyaris lenyap.

Tetapi kehancuran bangunan tidak serta-merta mengakhiri pendidikan calon imam.

Sembilan Belas Anak dan Sebuah Permulaan Baru

Sesudah perang, seminari kembali ke Woloan.

Pada 1 Januari 1946, pendidikan dibuka kembali melalui Sekolah Tarcisius di gedung Normaalschool, dengan Pastor Hendriks sebagai direktur.

Muridnya hanya 19 orang, dengan tingkat pengetahuan setara kelas lima sekolah dasar.

Sembilan belas anak.

Jumlah yang kecil dibandingkan dengan cita-cita besar yang pernah dibangun sebelum perang.

Namun, dari sembilan belas anak itulah sebuah lembaga yang hampir kehilangan segalanya kembali menemukan titik awalnya.

Tahun 1948–1949, pendidikan seminari mulai menunjukkan perkembangan. Tingkat Sexta dibuka dengan 15 murid.

Sementara itu, reruntuhan kompleks Kakaskasen mulai diperbaiki.

Bruder Boers kembali memimpin pekerjaan pembangunan dengan giat. Setelah liburan panjang, pada September 1949, para seminaris akhirnya dapat kembali menempati kompleks Kakaskasen.

Saat itu tercatat 15 murid tingkat Quinta, 10 murid Sexta, dan 25 murid Probatorium.

Kembalinya para siswa bukan sekadar perpindahan tempat belajar.

Itu adalah tanda bahwa sebuah lembaga yang pernah dihancurkan perang masih memiliki alasan untuk hidup.

Pada 21 September 1951, Duta Vatikan Mgr. G. de Jonghe d’Ardoye mengunjungi seminari.

Ia memberikan perhatian khusus kepada para calon imam dan menegaskan tiga unsur penting kehidupan mereka: ibadah, pengetahuan, dan disiplin.

Ketiganya menjadi gambaran mengenai pendidikan yang hendak dibangun.

Seorang calon imam tidak cukup hanya pandai. Ia juga harus belajar mengendalikan diri, hidup bersama orang lain, dan bertanggung jawab terhadap pilihan hidupnya.

Pada tahun ajaran 1953–1954, tingkat Rhetorica kembali menghasilkan lulusan yang siap melanjutkan pendidikan ke seminari tinggi.

Perlahan, kehidupan yang pernah terputus mulai tersambung kembali.

Namun, ketenangan itu sekali lagi tidak berlangsung lama.

Belajar di Tengah Dentuman Senjata

Pergolakan Permesta membawa babak sulit berikutnya bagi masyarakat Sulawesi Utara.

Antara 1958 hingga 1961, kehidupan seminari turut merasakan dampak konflik bersenjata.

Catatan sejarah seminari menggambarkan bagaimana kegiatan pendidikan tetap diusahakan berlangsung di tengah dentuman mortir, suara tembakan, dan keharusan berlindung ketika keadaan membahayakan.

Bayangkan seorang anak muda yang seharusnya memikirkan pelajaran, tugas sekolah, atau masa depannya.

Tetapi pada suatu waktu, yang harus dipikirkannya lebih dahulu adalah keselamatan.

Di tengah situasi demikian, Kakaskasen juga menjadi tempat pengungsian para frater dari Seminari Tinggi Pineleng ketika kawasan pendidikan mereka menjadi sasaran tembakan.

Perang kembali mengusik rumah pendidikan yang baru saja bangkit dari kehancuran sebelumnya.

Namun, pergolakan itu meninggalkan sebuah penanda yang berbeda.

Di bagian belakang kompleks Seminari Kakaskasen terdapat sebuah bukit kecil yang dikenal sebagai Kimentur.

Di puncaknya berdiri Kapela Santa Perawan Maria.

Kapela itu didirikan sebagai ungkapan syukur atas perlindungan yang diyakini diterima seminari selama masa Pergolakan Permesta.

Bagi orang yang hanya melihatnya sebagai bangunan kecil di atas bukit, kapela tersebut mungkin tampak biasa.

Tetapi dalam ingatan sejarah seminari, ia menjadi pengingat bahwa pernah ada masa ketika keselamatan tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang pasti.

Kimentur menyimpan kenangan tentang ketakutan, harapan, dan rasa syukur orang-orang yang berhasil melewati masa sulit.

Bukan Semua yang Masuk Akan Menjadi Imam

Setelah pergolakan mereda, Seminari Kakaskasen kembali berkembang.

Pertambahan jumlah murid membuat ruang pendidikan semakin terbatas. Sebagian siswa Probatorium bahkan harus menumpang di Frateran Tomohon.

Pembangunan kembali dilakukan selama sekitar lima tahun, melibatkan para bruder, tukang, umat sekitar, dan para frater dari Seminari Tinggi Pineleng.

Tetapi perkembangan seminari tidak hanya berlangsung pada bangunannya.

Sistem pendidikannya pun berubah mengikuti kebutuhan zaman.

Mulai 1960, seminaris mengikuti ujian negara tingkat SMP. Sekitar 1965, ujian negara tingkat SMA mulai diikuti.

Langkah ini mempunyai arti penting.

Sebab tidak semua anak yang masuk seminari akhirnya memilih menjadi imam.

Ada yang setelah bertahun-tahun menjalani pendidikan menyadari bahwa panggilannya berada di tempat lain.

Dan itu bukan berarti pendidikan mereka menjadi sia-sia.

Dengan mengikuti sistem ujian negara, para siswa yang tidak melanjutkan perjalanan menuju imamat tetap memiliki kesempatan meneruskan pendidikan di sekolah lain.

Di sinilah seminari memiliki dimensi kemanusiaan yang sering luput dari perhatian.

Ia bukan sekadar tempat menghasilkan imam.

Ia juga menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk mengenali diri sendiri, termasuk menerima kemungkinan bahwa jalan hidup yang mereka pilih pada akhirnya berbeda dari harapan semula.

Keputusan untuk bertahan membutuhkan keberanian.

Tetapi keputusan untuk meninggalkan jalan yang ternyata bukan panggilannya juga memerlukan kejujuran.

Pada 1978, tingkat Probatorium dihapus sehingga pendidikan seminari menengah berlangsung enam tahun.

Perubahan kembali terjadi pada 1982, ketika seminari tidak lagi menerima lulusan sekolah dasar. Sistem pendidikan kemudian diarahkan kepada calon yang telah menyelesaikan SMP, dengan masa persiapan dan jenjang pendidikan yang disesuaikan.

Tahun 1997 membawa perubahan lain melalui penggantian Kelas Persiapan Bawah menjadi Kelas Persiapan Atas.

Perjalanan panjang itu memperlihatkan satu hal: tradisi tidak selalu berarti mempertahankan seluruh cara lama.

Ada nilai yang dijaga, tetapi ada pula sistem yang harus diperbarui.

Di Antara Kesunyian dan Dunia yang Berubah

Apa sebenarnya yang dicari seorang anak muda ketika memutuskan masuk seminari?

Pertanyaan itu barangkali tidak pernah memiliki satu jawaban yang berlaku bagi semua orang.

Ada yang sejak kecil ingin menjadi imam. Ada yang terdorong oleh lingkungan keluarga atau kehidupan menggereja. Ada pula yang baru memahami makna panggilannya setelah menjalani pendidikan.

Di seminari, kehidupan bersama menuntut lebih daripada kemampuan mengikuti pelajaran.

Ada jadwal yang harus ditaati, tugas yang harus diselesaikan, doa yang harus dijalani dengan kesungguhan, dan orang-orang dengan watak berbeda yang harus diterima sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kesunyian menjadi salah satu unsur penting dalam proses itu.

Bukan karena dunia di luar selalu buruk, melainkan karena manusia terkadang membutuhkan jarak dari keramaian untuk mendengar pertanyaan yang paling sulit dijawab.

Siapa saya?

Untuk apa saya menjalani hidup?

Dan apakah jalan yang sedang saya tempuh benar-benar jalan yang saya pilih?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak otomatis selesai hanya karena seseorang mengenakan seragam seminaris atau tinggal di lingkungan pendidikan religius.

Justru di tempat seperti inilah pertanyaan tersebut terus diuji.

Kesetiaan bukan sesuatu yang lahir dalam sehari.

Ia dibentuk melalui kebiasaan kecil, melalui kegagalan, keraguan, persahabatan, dan keberanian untuk memulai lagi.

Hampir Seabad, dan Kisahnya Belum Selesai

Pada 2003, ketika seminari memperingati 75 tahun perjalanan sejarahnya, renovasi dilakukan pada sejumlah bagian bangunan, termasuk kapel yang mulai menua.

Tahun 2009, bantuan Pemerintah Kota Tomohon memungkinkan pembangunan dua ruang kelas di bagian barat kompleks.

Catatan tahun 2011 masih menggambarkan sejumlah bangunan seminari yang dimakan usia. Beberapa bagian dalam bangunan bahkan masih menggunakan bahan bambu.

Di balik perubahan sistem pendidikan dan perbaikan fasilitas, satu persoalan terus menyertai perjalanan seminari: bagaimana mempertahankan semangat pembinaan di tengah perubahan zaman.

Kini, dunia anak-anak muda berbeda jauh dari masa Pastor Croonen.

Informasi bergerak cepat. Teknologi membuat orang dapat terhubung dengan siapa saja dalam hitungan detik. Pilihan pendidikan, pekerjaan, dan cara hidup semakin beragam.

Di tengah dunia semacam itu, kehidupan seminari menawarkan sesuatu yang tidak selalu mudah ditemukan: kesempatan untuk menjalani proses panjang sebelum mengambil keputusan besar tentang hidup.

Tetapi relevansi sebuah seminari tidak semata ditentukan oleh seberapa lama ia bertahan.

Ia juga ditentukan oleh kemampuannya mendampingi manusia yang hidup pada zamannya, dengan segala pertanyaan, tantangan, dan harapan yang mereka bawa.

Dan perjalanan itu belum selesai.

Di gerbang Seminari Kakaskasen, papan nama pada dinding batu tetap menyambut siapa pun yang datang.

Orang yang melintas mungkin hanya melihat sebuah lembaga pendidikan Katolik di kawasan yang teduh.

Namun, di balik gerbang itu tersimpan jejak seorang pastor yang tidak menyerah setelah kehilangan calon imam pertamanya.

Ada kenangan tentang umat yang bekerja bersama membangun gedung dengan semangat mapalus.

Ada kisah anak-anak yang terpaksa pulang karena perang, bangunan yang berubah menjadi puing, sembilan belas murid yang memulai kembali pendidikan, serta generasi seminaris yang bertahan melewati pergolakan Permesta.

Ada pula ribuan perjalanan hidup yang tidak semuanya berakhir di altar.

Sebagian menjadi imam. Sebagian memilih jalan pengabdian yang berbeda. Masing-masing membawa pengalaman yang pernah membentuk masa mudanya.

Barangkali itulah warisan paling berharga Seminari Kakaskasen.

Bukan hanya bangunan yang terus berdiri atau daftar panjang lulusan yang pernah melewati gerbangnya.

Melainkan keyakinan bahwa manusia dapat dibentuk melalui pendidikan, kebersamaan, pengorbanan, dan keberanian mendengarkan suara hatinya sendiri.

Kisah itu bermula dari seorang anak yang tak sempat menjadi imam.

Hampir satu abad kemudian, dari cita-cita yang pernah terputus itu, perjalanan ribuan anak muda justru menemukan permulaannya.

Dan di kaki Gunung Lokon, kisah tentang panggilan itu terus ditulis—satu kehidupan demi satu kehidupan.


Catatan Sumber: Penelusuran sejarah dalam tulisan ini merujuk pada Memoria Nostra: Ad Maiorem Dei Gloriam, yang diadaptasi dari Majalah Seminaris Kimentur, Edisi Khusus No. 1/Tahun VII/2003; artikel Sejarah Ringkas Seminari St. Fransiskus yang dimuat di blog Fransisco Supit; serta tulisan Seminari Kakaskasen Tomohon: Panggilan Sunyi karya Donny Turang.

Bagikan Artikel Ini

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Tentang Penulis →

Pilihan Redaksi

← Kembali ke Beranda