Ada sesuatu yang sulit dilupakan ketika tou (orang) Minahasa berkumpul untuk baku tulung (saling membantu), baik dalam acara sukacita maupun dukacita. Di antara pekerjaan, percakapan, dan candaan, rasa persaudaraan hadir dengan sendirinya.
Di antara bambu yang dibakar, makanan yang disiapkan, dan percakapan yang saling bersahutan, orang Minahasa merawat kebiasaan baku tulung. Sebuah kebersamaan yang hadir dalam sukacita maupun dukacita.
“Hey, kiapa baru dapa lia?”
Pertanyaan spontan itu kerap dilontarkan seseorang kepada keluarga atau teman yang sudah lama tidak bertemu.
Biasanya cukup dijawab dengan senyum, sedikit cerita, candaan, atau pertanyaan balik yang tidak kalah akrab.
Di tempat lain, seseorang berseru.
“Ambe akang rampa-rampa itu!”
Dari sudut lain terdengar suara dengan nada bergurau.
“Capat sadiki kwa tu tangan kalu ba karja!”
Begitulah suasana yang masih saya ingat dari sebuah kegiatan baku tulung di Tomohon, Minahasa, pada umumnya.
Orang-orang berkumpul. Ada yang membersihkan bumbu, memotong daging, menyiapkan peralatan memasak, atau mengerjakan keperluan lain. Di antara kesibukan itu, percakapan terus berlangsung.
Sesekali terdengar tawa.
“So brapa anak ngana?”
“So brapa ngana pe cucu?”
“Maitua orang mana?”
“Kapan mo kaweng?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang barangkali terdengar biasa bagi orang yang tumbuh di lingkungan masyarakat Minahasa.
Dari satu pertanyaan, percakapan bisa berkembang ke mana-mana. Tentang anak yang sudah menikah, cucu yang bertambah, pekerjaan, atau keluarga yang lama tidak ditemui.
Orang datang untuk bekerja. Tetapi mereka juga membawa cerita tentang kehidupan masing-masing.
Dan di antara semua kesibukan itu, ada satu hal yang selalu menarik perhatian saya: kebersamaan antarsesama.
Datang dengan Sukarela
Ada sesuatu yang khas ketika tou Minahasa mengadakan sebuah acara.
Entah itu pesta perkawinan, perayaan keluarga, pengucapan syukur, maupun kegiatan yang berkaitan dengan kedukaan, selalu ada pekerjaan yang harus diselesaikan bersama.
Di sinilah kebiasaan baku tulung mengambil peran.
Untuk acara sukacita, biasanya keluarga atau kerabat yang telah dihubungi datang membantu tuan rumah, yang dalam percakapan sehari-hari juga disebut tuan pesta.
Mereka mengerjakan berbagai persiapan sebelum acara berlangsung.
Sementara dalam kegiatan dukacita, seperti persiapan maso itam atau kumawus, suasananya sedikit berbeda.
Yang datang bukan hanya keluarga atau kerabat yang diminta membantu. Ada pula tetangga, atau birman, dan warga lain yang merasa terpanggil untuk ikut baku tulung.
Mereka datang seolah sudah tahu apa yang harus dikerjakan.
Memang ada seseorang yang ditunjuk tuan rumah untuk mengoordinasikan pekerjaan, tetapi pembagian tugas biasanya tidak berlangsung secara resmi. Masing-masing mengambil bagian sesuai kemampuan dan pengalamannya.
Seseorang melihat bumbu belum dibersihkan, lalu mulai mengerjakannya. Yang lain membantu memotong bahan makanan. Ada yang menyiapkan bambu, mengurus peralatan, atau menangani pekerjaan yang memerlukan tenaga lebih banyak.
Tidak semua memiliki keterampilan yang sama.
Ada pekerjaan yang membutuhkan pengalaman, terutama ketika memotong daging. Misalnya, seekor babi yang telah dibakar dan kemudian harus dipotong menjadi bagian-bagian lebih kecil.
Begitu pula ketika meracik bumbu untuk masakan seperti tinoransak, pangi, sa’ut, daun pepaya, ikan cakalang, dan masakan lainnya.
Biasanya pekerjaan meracik bumbu dipercayakan kepada orang yang sudah berpengalaman. Mereka mengetahui bahan yang diperlukan dan bagaimana mengolahnya agar menghasilkan rasa yang diinginkan.
Sementara yang lain mengerjakan pekerjaan sesuai kemampuan masing-masing.
Di tengah kesibukan itu, tidak terlalu penting siapa yang paling banyak bekerja atau siapa yang datang paling awal.
Yang penting, pekerjaan tuan rumah menjadi lebih ringan.
Bagi keluarga yang sedang mengadakan pesta, kehadiran orang lain membantu menyelesaikan pekerjaan yang mungkin terlalu berat jika ditangani sendiri.
Bagi keluarga yang sedang berduka, bantuan tersebut memiliki arti tersendiri. Mereka tidak perlu mengurus semua persiapan sendirian ketika pikiran dan perasaan masih tertuju kepada anggota keluarga yang telah meninggal.
Ada tetangga yang datang, kerabat yang bekerja, dan warga yang mengambil bagian tanpa harus diminta berkali-kali.
Bambu yang Menjadi Dapur
Nasi jaha, tinoransak, pangi, sa’ut, daun pepaya, ayam, cakalang, dan berbagai masakan lainnya, oleh orang Tomohon dan Minahasa pada umumnya, biasa dimasak menggunakan bambu.
“Lebe sadap karena ada momasa di bulu,” ucap Udy.
“Butul, kiapa sto kang?” kata Dantje sembari bertanya balik.
“Mungkin karena aroma bulu, asap dan api,” jawab Eky.
Bambu yang telah diisi bahan makanan diatur berjejer pada penyangga besi. Di tengahnya, api berkobar memanaskan bambu-bambu tersebut.
Beberapa orang bertugas menjaga api dan memutar bambu agar tidak cepat hangus, sementara makanan di dalamnya matang dengan sempurna.
“Adoh panas,” teriak Herman saat dirinya mencoba membalik-balikan/mengatur beberapa bulu, dari api, sambil beranjak menjauhi api.
“Somo angus, putar bulu yang ada di tengah!” terdengar teriakan lain.
Panas api memang harus dijaga. Jika terlalu besar atau bambu dibiarkan terlalu lama pada satu posisi, bagian luarnya bisa hangus sebelum makanan di dalamnya matang merata.
Orang yang sudah terbiasa biasanya memahami kapan bambu perlu diputar, bagaimana mengatur jaraknya dari api, dan kapan masakan dianggap cukup matang.
Pekerjaan ini membutuhkan perhatian dan pengalaman.
Pengetahuan semacam itu tidak selalu diperoleh dari buku resep. Sering kali orang mempelajarinya dengan melihat, membantu, lalu mencoba sendiri.
Anak muda yang ikut baku tulung dapat memperhatikan bagaimana orang yang lebih berpengalaman menyiapkan bahan, meracik bumbu, memasukkan makanan ke dalam bambu, hingga menjaga api.
Jika keliru, ada yang mengingatkan. Jika belum tahu, ada yang menunjukkan.
Begitulah keterampilan memasak menggunakan bambu dapat diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di sekitar api yang berkobar, orang bukan hanya menunggu makanan matang. Mereka juga berbagi pengalaman dan pengetahuan, sering kali tanpa merasa sedang mengajarkan sesuatu.
Pertanyaan dan Canda di Tengah Pekerjaan
Kegiatan baku tulung tidak hanya menarik karena cara orang bekerja atau memasak. Ada kehidupan sosial yang berlangsung di sela-selanya.
Ketika tangan sibuk membersihkan bumbu, mulut sering kali tidak ikut diam. Orang bertukar kabar tentang keluarga, pekerjaan, anak-anak yang sudah besar, atau cucu yang mungkin jumlahnya telah bertambah sejak pertemuan terakhir.
“So brapa anak ngana?”
Pertanyaan itu bisa membuka cerita panjang, mulai dari anak yang sudah menikah, pekerjaan di luar daerah, sampai kabar saudara yang lama tidak pulang kampung.
“So brapa ngana pe cucu?”
Pertanyaan berikutnya mungkin disambut tawa. Bagi sebagian orang, jumlah cucu menjadi kabar menyenangkan untuk diceritakan. Bagi yang lain, pertanyaan itu bisa menjadi bahan candaan.
Lalu muncul pertanyaan lain.
“Maitua orang mana?”
Percakapan bisa berlanjut pada asal keluarga, hubungan kekerabatan, atau orang-orang yang ternyata sama-sama dikenal. Satu nama membawa nama lain. Dari situ, cerita berkembang tentang keluarga atau kenalan yang sudah lama tidak ditemui.
Tentu tidak semua percakapan berlangsung serius. Ada pula teguran yang disampaikan sambil bercanda.
“Capat sadiki kwa tu tangan kalu ba karja!”
Kalimat itu mungkin terdengar keras bagi orang yang tidak terbiasa. Namun, dalam pergaulan yang akrab, teguran semacam ini sering menjadi bagian dari kelakar antarteman atau kerabat.
Yang ditegur bisa saja membalas dengan candaan lain.
Lalu pekerjaan berlanjut.
Orang bekerja sambil berbicara, saling menggoda, dan sesekali tertawa tanpa harus menghentikan apa yang sedang dikerjakan.
Saya kadang berpikir, kegiatan seperti ini juga menjadi kesempatan untuk memperbarui hubungan.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang bisa tinggal berdekatan tetapi jarang memiliki waktu untuk bercakap-cakap. Kesibukan membuat pertemuan semakin singkat, kadang hanya sebatas sapaan ketika berpapasan.
Namun, ketika ada acara keluarga atau kegiatan kampung, mereka kembali berkumpul.
Pertanyaan “Hey, kiapa baru dapa lia?” menjadi pembuka percakapan yang mungkin sudah lama tertunda. Dari pekerjaan bersama, orang kembali mengetahui kabar satu sama lain.
Baku Tulung di Tengah Dukacita
Pengalaman menghadiri persiapan maso itam, yang juga dikenal sebagai kumawus, masih membekas dalam ingatan saya.
Warga biasanya datang untuk baku tulung sehari sebelum kegiatan berlangsung, umumnya pada Sabtu. Namun, pada hari-hari sebelumnya sudah ada yang datang membantu, sekadar membersihkan bumbu atau menyiapkan bahan makanan lainnya.
Persiapan dilakukan secara bertahap.
Ada makanan yang perlu disediakan, peralatan yang harus dipersiapkan, dan tamu yang akan datang.
Maso itam merupakan bagian dari kebiasaan yang berkaitan dengan masa berkabung dalam kehidupan sebagian masyarakat Minahasa.
Keluarga yang berduka mempersiapkan kegiatan tersebut dengan bantuan kerabat, tetangga, dan warga sekitar.
Menariknya, suasana persiapan tidak selalu muram.
Orang masih bercakap-cakap, bercanda, bahkan tertawa.
Bukan karena mereka melupakan keluarga yang sedang berduka. Kedukaan tetap dirasakan, tetapi pekerjaan yang harus diselesaikan juga membutuhkan tenaga dan perhatian.
Keluarga yang ditinggalkan masih harus menjalani hari-hari berikutnya. Mereka membutuhkan bantuan untuk berbagai keperluan yang menyertai masa berkabung.
Di sinilah kehadiran tetangga dan kerabat menjadi penting.
Ada yang membersihkan bumbu, menyiapkan bambu, memotong daging, atau memastikan makanan tersedia bagi orang-orang yang datang.
Tidak semua bantuan disertai kata-kata penghiburan. Ada yang langsung mengambil pekerjaan dan menyelesaikannya.
Bagi keluarga yang sedang menghadapi kehilangan, pekerjaan-pekerjaan sederhana itu tentu membantu meringankan beban.
Saya selalu merasa ada sesuatu yang menyentuh dari kebiasaan ini.
Di tengah kedukaan, orang-orang tetap bisa berkumpul, bekerja, dan saling memperhatikan.
Mungkin tidak semua orang yang hadir memiliki hubungan keluarga dekat dengan tuan rumah. Tetapi sebagai tetangga atau sesama warga, mereka merasa perlu datang membantu.
Yang Tertinggal Setelah Api Padam
Zaman berubah. Begitu pula cara orang mengadakan pesta atau mempersiapkan sebuah acara keluarga.
Kini, berbagai kebutuhan dapat diserahkan kepada penyedia jasa. Makanan bisa dipesan, peralatan disewa, dan pekerjaan yang dahulu melibatkan banyak anggota keluarga dapat diselesaikan oleh orang-orang yang memang dibayar untuk mengerjakannya.
Jasa boga atau katering, misalnya, sangat membantu keluarga yang tidak memiliki cukup waktu atau tenaga untuk mempersiapkan sebuah acara.
Tidak ada yang salah dengan perubahan itu.
Namun, saya kadang bertanya-tanya, jika semakin banyak pekerjaan diserahkan kepada penyedia jasa, apakah kesempatan orang untuk berkumpul dan bekerja bersama juga akan semakin berkurang?
Pertanyaan itu bukan ajakan untuk menolak perubahan.
Sebab kebiasaan baku tulung sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan cara memasak atau banyaknya orang yang bekerja. Ada hubungan kekeluargaan dan bertetangga yang terpelihara melalui kegiatan tersebut.
Saya kembali mengingat suasana persiapan maso itam yang pernah saya hadiri.
Bukan hanya karena makanan yang dimasak menggunakan bambu atau api yang berkobar.
Yang paling melekat justru suara orang-orang.
“Hey, kiapa baru dapa lia?”
“Ambe akang rampa-rampa itu!”
“Capat sadiki kwa tu tangan kalu ba karja!”
“So brapa ngana pe cucu?”
Percakapan yang terdengar biasa, bahkan mungkin tidak akan diingat lagi oleh mereka yang mengucapkannya.
Tetapi di tengah percakapan itulah orang-orang bekerja bersama. Mereka saling membantu sambil bertukar kabar tentang kehidupan masing-masing.
Ketika pekerjaan selesai, api dipadamkan. Makanan yang dimasak dalam bambu telah siap disantap.
Orang-orang yang datang membantu pun pada akhirnya kembali ke rumah masing-masing, melanjutkan kehidupan sehari-hari.
Saya tidak tahu sampai kapan kebiasaan memasak bersama menggunakan bambu akan terus berlangsung seperti yang pernah saya lihat.
Cara orang mengadakan acara mungkin akan berubah. Begitu pula cara mereka mempersiapkan makanan atau membagi pekerjaan.
Namun, saya berharap kebiasaan untuk datang membantu keluarga atau tetangga yang membutuhkan tetap bertahan.
Masih ada orang yang bersedia meluangkan waktu, mengambil pekerjaan, dan berbagi tenaga.
Dan di antara kesibukan itu, masih terdengar seseorang menyapa kawan lamanya:
“Hey, kiapa baru dapa lia?”
Barangkali, selama sapaan sederhana itu masih terdengar di antara orang-orang yang sedang baku tulung, ada bagian dari kehidupan tou Minahasa yang tetap terjaga.
Api boleh padam. Bambu boleh habis terbakar. Tetapi rasa persaudaraan yang membuat orang datang untuk saling membantu, semoga tidak ikut hilang.









