Berita pejabat meresmikan sesuatu, membuka pasar murah, atau menghadiri pertemuan sudah terlalu sering memenuhi halaman media online. Isinya seragam, kutipannya itu-itu saja, bahkan foto pejabatnya pun nyaris tak berbeda. Padahal, kualitas sebuah media tidak ditentukan oleh seberapa rajin memberitakan kegiatan pejabat, melainkan sejauh mana redaksinya mampu menggali persoalan yang penting bagi publik.
Hampir dua tahun saya pulang kampung (Kamangta) di Minahasa. Ada kebiasaan saya untuk melihat pemberitaan di Provinsi Nyiur Melambai ini.
Hasilnya—sebelumnya mohon maaf banget—hampir sebagian besar media massa di sini terutama media online kontennya sama persis.
Ya apalagi jika bukan berita pejabat A meresmikan ini itu. Atau pejabat B membuka pasar murah. Atau pejabat C mengadakan pertemuan dengan ini dan itu. Begitu seterusnya.
Jujur sangat membosankan! Belum lagi sang pejabat ditulis dengan deretan gelar kesarjanaan ibarat kereta api.
Dan, maaf semuanya berita menjadi seragam. Sudah itu dipasang foto yang dimodifikasi dengan begitu banyak foto sang pejabat yang tampil dengan wajah sumringah.
Jujur saya agak bagaimana gitu dengan pemberitaan yang seragam seperti itu. Saya jadi teringat masa ketika Departemen Penerangan masih ada. Masih ada kewajiban Surat Izin Usaha Penerbitan Pers atau SIUPP.
Jarang sekali saya temukan konten berbobot yang muncul karena digali oleh tim redaksi yang kuat.
Persoalan kedekatan media dengan kekuasaan dan kebiasaan menjadikan siaran pers sebagai bahan utama pemberitaan dapat dibaca dalam tulisan Terlalu Dekat dengan Kekuasaan, Terlalu Jauh dari Rakyat.
Asal tahu saja sebenarnya kekuatan isi media massa terletak sejauh mana pihak tim redaksi mampu membuat sebuah perencanaan liputan.
Perencanaan liputan inilah yang membedakan sebuah media massa dengan media massa lainnya.
Di tengah perubahan ekosistem media digital, persoalan mempertahankan kualitas dan identitas jurnalistik menjadi semakin penting. Tantangan tersebut pernah dibahas dalam Pertarungan Terakhir Media Massa di Antara Algoritma dan Tetek Bengeknya.
Kini banyak sekali berita yang isinya sama antara satu media massa satu dengan media massa lainnya. Untuk membedakan itu diperlukan sebuah perencanaan liputan.
Perencanaan liputan yang baik akan menghasilkan kualitas berita yang diminati pembaca. Karena itu keluar dari rutinitas atau berita yang seragam seperti yang kerap terjadi di masa Orde Baru. Isi berita waktu itu: “Presiden Soeharto mengatakan….dan seterusnya”
Salah satu bentuk pengembangan hasil perencanaan liputan adalah penulisan feature, sebuah pendekatan jurnalistik yang memberi ruang lebih luas untuk mengolah fakta menjadi cerita yang menarik. Pengalaman dan pandangan tentang hal ini juga dibahas dalam Selalu Jatuh Cinta dengan Gaya Penulisan Feature, Lho Kok Bisa?.
Bagaimana Perencanaan Liputan Dimulai?

Sembilan tahapan perencanaan liputan untuk menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas, mendalam, dan berpihak pada kepentingan publik.
Pertama, ada persoalan itu tidak jelas dan berusaha ditutupi bagi kepentingan publik? Gejala ini muncul dan terus diragukan. Contoh dalam kasus Ferdy Sambo dan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau biasa disebut Brigadir J. Ini kasus pembunuhan berencana yang terjadi pada 8 Juli 2022 lalu di rumah dinas Ferdy Sambo. Awalnya Ferdy Sambo memalsukan skenario “polisi tembak polisi”. Akhirnya setelah kasasi Mahkamah Agung, Ferdy Sambo divonis penjara seumur hidup.
Kedua, petakan persoalan yang diperoleh secara sederhana untuk dilihat pelbagai kemungkinan yang dapat didalami.
Ketiga, setelah dipetakan maka tahap berikutnya yang ditetapkan adalah angle yang akan didalami. Biasanya menjawab pertanyaan “Why” dan “How” di balik persoalan itu. Prinsipnya bukan melaporkan hard news-nya tetapi ada masalah apa di balik “hard news” tersebut.
Keempat, petakan nara sumber yang akan dihubungi untuk mengungkap angle. Juga tujuan dari pengungkapkan itu. Namun, pijakannya adalah kepentingan publik yang perlu mengetahui informasi yang coba ditutupi itu.
Narasumber tidak selalu harus berasal dari kalangan pejabat atau orang-orang yang memiliki jabatan. Mendengarkan percakapan dan persoalan masyarakat juga merupakan bagian penting dari kerja jurnalistik, sebagaimana dibahas dalam Jurnalisme Warung Kopi, Asyik-asyik Sedap Nih!.
Kelima, dibuatkan daftar pertanyaan yang dipertajam untuk mengungkap lebih jauh. Saat bersamaan juga dirancang tampilan laporan liputan yang juga perlu dengan info grafik, ilustrasi, atau foto yang juga perlu dihunting untuk mendukung laporan peliputan.
Keenam, untuk memudahkan reporter akan lebih baik dibuat Terms of Reference (TOR) daftar pertanyaan yang menjadi bekal para reporter untuk memburu para nara sumber. Dalam perjalanan informasi yang diperoleh reporter di-cros cek dengan nara sumber lainnya sebagai pembanding sehingga ditemukan fakta pengungkapan dari liputan.
Ketujuh, kumpulkan sebuah bahan yang diperoleh reporter dan dicek ulang. Setelah oke maka dilanjutkan dengan “menjahit“ fakta-fakta yang diperoleh oleh reporter untuk ditulis sesuai dengan visi dan misi media massa yang bersangkutan. Secara bersamaan disiapkan pula tim untuk mendukung laporan dengan info grafik dan foto-foto.
Kedelapan, diputuskan apakah laporan peliputan ditulis untuk sekali edisi atau bersambung.
Kesembilan, sajikan laporan peliputan.
Silakan dicoba ya agar konten lebih berisi karena didukung dengan data valid yang sudah tersaji dan yang pasti oke punya.
Setidaknya berita tidak melulu pejabat X mengatakan bla bla bla seperti disebut di awal tulisan ini. Please pelan-pelan konten yang hampir semuanya isinya pernyataan atau kutipan narasumber diganti dengan isi yang digarap secara profesional penyajian dari data ke data. Belakangan ada yang menyebutkan sebagai Jurnalisme Data.
Pendekatan semacam ini dapat dilihat dalam laporan Angka APBD Tomohon Berubah, Pembangunan Mana yang Harus Menunggu?, yang mengolah dokumen anggaran menjadi pertanyaan jurnalistik tentang prioritas pembangunan dan kepentingan masyarakat.









