Langsung ke konten

Pak Eddy dan Cerita Panjang Kacang dari Kawangkoan

Pak Eddy Kaen, pedagang kacang asal Kakas berusia 71 tahun, berdiri di samping sepeda motor tua dengan etalase biru-kuning berisi kacang Kawangkoan dan tabung gas LPG di kawasan Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara.
Pak Eddy Kaen penjual Kacang dari Kawangkoan. (Foto: Norman Meoko)

Usianya sudah 71 tahun. Anak-anaknya meminta ia berhenti berkebun, tetapi Eddy Kaen belum ingin berhenti bekerja. Dengan sepeda motor tua, lelaki asal Kakas ini berkeliling Tondano menjajakan kacang Kawangkoan. Di balik dagangannya yang sederhana, tersimpan cerita tentang keluarga, usia senja, dan keinginan untuk tetap menjalani hidup dengan caranya sendiri. Dari pertemuan singkat di pinggir jalan, saya mengenal sebagian perjalanan hidupnya yang panjang.

Di antara deretan kantor Pemerintah Kabupaten Minahasa, saya bertemu seorang lelaki tua bertopi. Ia datang dengan sepeda motor yang juga sudah berumur. Bukan kendaraan bagus atau gerobak dagangan yang mencolok. Hanya sepeda motor tua dengan perlengkapan sederhana untuk menjajakan kacang.

Namanya Eddy Kaen. Usianya 71 tahun.

Sekilas, tubuhnya masih terlihat cukup tangguh untuk lelaki seusianya. Ia masih sanggup berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, menawarkan dagangan kepada siapa saja yang ingin membeli.

Pertemuan itu terjadi ketika saya sedang menyambangi sejumlah kantor di kompleks Pemerintah Kabupaten Minahasa, Tondano. Awalnya, saya hanya tertarik pada kacang yang dijualnya. Tetapi setelah kami berbincang, ternyata ada cerita lain yang jauh lebih menarik daripada sekadar rasa gurih kacang Kawangkoan.

Cerita tentang seorang lelaki yang telah melewati sebagian besar hidupnya dengan bekerja, membesarkan anak-anak, hingga kini memiliki cucu dan cicit. Dan pada usia ketika banyak orang memilih beristirahat di rumah, Pak Eddy masih berjualan.

Dari Kebun di Kakas ke Jalanan Tondano

“Saya orang Kakas. Dulu saya berkebun menanam milu (jagung), tetapi sekarang saya menjual kacang dari Kawangkoan,” katanya membuka percakapan.

Kakas adalah salah satu wilayah di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, yang berada di sekitar Danau Tondano. Wilayah ini kini terbagi menjadi dua kecamatan, yakni Kakas dan Kakas Barat. Bagi masyarakat Minahasa, berkebun bukan pekerjaan asing. Tanah dan hasil pertanian telah menjadi bagian dari kehidupan banyak keluarga selama beberapa generasi.

Begitu pula dengan Pak Eddy. Sejak muda, ia sudah terbiasa bekerja di kebun. Menanam jagung, merawat tanaman, dan menjalani kehidupan sebagai petani. Namun, kehidupan membawanya pada pekerjaan lain. Kini, bukan jagung dari kebunnya yang ia bawa, melainkan kacang Kawangkoan yang sudah lama dikenal sebagai salah satu makanan khas Minahasa.

Saya kemudian bertanya apakah ia pernah mencoba menawarkan kacang sangrai kepada orang-orang yang belum mengenal rasanya. Rupanya, justru saya sendiri yang menjadi sasaran pertanyaan berikutnya.

Pak Eddy bertanya apakah saya pernah mencicipi kacang dari Kawangkoan. Saya menjawab terus terang. Sejak pulang kampung dan tinggal di kampung ibu saya, Desa Kamangta, saya belum pernah lagi mencobanya.

Mendengar jawaban itu, Pak Eddy tertawa.

“Coba dulu,” katanya, sedikit merayu.

Ia mempersilakan saya mengambil dua buah kacang dari dagangannya. Saya mengambilnya, mengupas kulitnya, lalu mencicipinya.

Ternyata enak juga!

Rasa kacangnya membuat saya tak perlu berpikir panjang untuk membeli.

“Satu liter seharga Rp20 ribu. Jika setengah liter, ya Rp10 ribu,” katanya.

Saya membeli kacang itu. Tetapi rupanya, percakapan kami belum selesai.

Ketika Anak-anak Meminta Ayah Berhenti Berkebun

Sambil menikmati kacang yang baru saya beli, kami melanjutkan obrolan. Pak Eddy termasuk orang yang menyenangkan untuk diajak bicara. Ia menjawab pertanyaan dengan sederhana, tanpa banyak basa-basi.

Ada sesuatu yang membuat saya penasaran. Mengapa lelaki yang sejak muda sudah terbiasa berkebun ini akhirnya memilih menjual kacang?

Saya pun bertanya. Mengapa tidak terus berkebun saja?

Kali ini Pak Eddy tidak segera menjawab. Ia terdiam sebentar. Tatapan wajahnya tampak berubah.

Saya tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin pertanyaan itu mengingatkannya pada tahun-tahun ketika ia masih kuat bekerja di kebun. Mungkin pula ada alasan lain.

Saya menunggu.

Tak lama kemudian, ia mulai bercerita.

“Saya sejak muda sudah berkebun. Ada kebun. Tetapi kini anak-anak sudah besar. Sudah berkeluarga. Sekarang saya punya cucu dan cicit. Mereka menyarankan saya untuk berhenti berkebun. Lalu saya mulai menjual kacang sangrai. Ya, sudah 10 tahun ini,” tuturnya.

Saya mendengarkan.

Jadi, sudah sekitar satu dasawarsa Pak Eddy menjalani pekerjaan barunya.

Anak-anaknya rupanya menginginkan sang ayah tidak lagi terlalu berat bekerja di kebun. Barangkali mereka melihat usia ayahnya yang terus bertambah. Namun, berhenti berkebun ternyata tidak berarti berhenti bekerja.

Pak Eddy hanya mengganti pekerjaan. Dari kebun, ia berpindah ke jalanan. Dari menanam jagung, ia beralih menjual kacang.

Saya tidak bertanya lebih jauh mengapa ia tetap memilih bekerja. Apakah karena kebutuhan hidup, kebiasaan sejak muda, atau sekadar tidak betah berdiam diri di rumah. Tetapi dari ceritanya, satu hal terlihat jelas: Pak Eddy masih ingin menjalani hari-harinya dengan bekerja.

Pak Eddy bukan satu-satunya lelaki lanjut usia yang saya temui masih bekerja. Di Airmadidi, Opa Yoce juga menjalani hari-hari tuanya dengan menjual sapu lidi. Pekerjaan mereka berbeda, begitu pula perjalanan hidupnya. Namun, keduanya mengingatkan saya bahwa usia senja tidak selalu berarti seseorang berhenti mencari penghidupan.

Sepeda Motor Tua dan Tiga Puluh Liter Kacang

Perlengkapan dagang Pak Eddy tidak banyak.

Sebuah sepeda motor tua menjadi kendaraan andalannya. Ada pula tabung gas tiga kilogram yang menjadi bagian dari perlengkapan berjualannya. Dengan kendaraan itulah ia berkeliling di sekitar kompleks Pemerintah Kabupaten Minahasa.

Tempat-tempat yang ramai didatangi orang menjadi lokasi untuk menawarkan kacang. Salah satunya kawasan di depan Samsat Tondano.

“Puji Tuhan banyak yang beli. Pelanggan saya banyak termasuk di depan Samsat Tondano ini,” katanya.

Bagi pedagang kecil, tempat berjualan dan keberadaan pelanggan sangat menentukan. Di Tomohon, perubahan Jalan Pasar Lama memperlihatkan bagaimana berpindahnya pusat perdagangan ikut memengaruhi kehidupan orang-orang yang mencari nafkah. Pak Eddy, dengan sepeda motor tuanya, memilih mendatangi tempat-tempat yang memungkinkan ia bertemu pembeli.

Setiap hari, Pak Eddy mengaku membawa sekitar 30 liter kacang untuk dijual. Jumlah yang tidak sedikit bagi seorang pedagang keliling.

Dengan harga Rp20 ribu per liter, seluruh dagangan itu bernilai Rp600 ribu jika habis terjual.

Angka tersebut membuat saya terkejut. Tetapi tentu saja Rp600 ribu itu bukan keuntungan bersih. Masih ada biaya membeli atau menyiapkan kacang, bahan bakar, dan kebutuhan lain yang harus diperhitungkan.

Saya tidak sempat menanyakan berapa keuntungan bersih yang benar-benar ia bawa pulang. Yang menarik justru bagaimana ia mengatur waktu berjualan.

“Kalau sudah lelah, saya pulang. Malam saya melanjutkan lagi berjualan. Ya, sampai habis,” ucapnya.

Kalimat itu disampaikannya dengan santai. Tidak ada keluhan panjang tentang usia atau pekerjaan yang melelahkan.

Kalau lelah, ia pulang beristirahat. Kalau tenaganya sudah pulih, ia kembali berjualan. Sederhana sekali cara Pak Eddy mengatur hidupnya.

Bagi saya, justru kesederhanaan itu yang menarik. Pada usia 71 tahun, ia masih mengenali batas kemampuan tubuhnya sendiri. Ia tidak harus terus berada di jalan sepanjang hari. Tetapi ia juga belum ingin sepenuhnya meninggalkan pekerjaan.

Kacang Kawangkoan dan Cerita di Balik Rasanya

Berbicara tentang kacang di Minahasa hampir selalu membawa kita pada satu nama: Kawangkoan. Wilayah ini telah lama dikenal sebagai salah satu sentra perdagangan dan pengolahan kacang tanah di Sulawesi Utara. Bahkan, Kawangkoan memiliki tugu kacang, penanda betapa dekatnya komoditas tersebut dengan identitas daerah itu.

Di sepanjang jalan utama Kawangkoan, kios-kios menawarkan beragam olahan kacang. Ada kacang sangrai yang dikenal pula dengan sebutan kacang tore, kacang rebus, hingga kacang goyang.

Bagi orang yang sering melintasi Kawangkoan, deretan kios kacang bukan pemandangan asing. Namun, di balik makanan ringan yang tampaknya sederhana itu, ada pekerjaan yang membutuhkan keterampilan dan ketekunan.

Pak Eddy bercerita tentang proses membuat kacang sangrai.

Sebelum disangrai, kacang harus dijemur terlebih dahulu. Setelah itu, kacang dimasukkan ke dalam wajan besar bersama pasir yang digunakan sebagai penghantar panas.

Dalam proses tradisional, wajan yang digunakan bisa berdiameter sekitar satu setengah meter. Penyangraian dapat berlangsung kurang lebih 45 menit, bergantung pada jumlah kacang dan panas yang digunakan.

Selama proses itu, kacang harus terus diaduk agar matang merata.

“Proses membuat kacang sangrai ini tidak boleh berhenti, karena dapat menyebabkan kacang hangus. Sebelum disangrai, kacang harus dijemur terlebih dahulu,” Pak Eddy menjelaskan.

Mendengar penjelasannya, saya mulai membayangkan pekerjaan di balik sebungkus kacang yang biasa kita beli. Ada proses menjemur, menyiapkan bahan, mengatur panas, dan mengaduk kacang sampai matang. Pekerjaan yang mungkin terlihat sederhana bagi pembeli, tetapi tidak selalu mudah bagi orang yang mengerjakannya.

Apalagi usaha kacang juga bergantung pada hasil pertanian. Ketika musim kemarau mengganggu pertumbuhan tanaman, pasokan kacang dapat berkurang. Harga bahan baku pun bisa berubah. Bagi petani, pengolah, dan pedagang kecil, perubahan itu tentu berpengaruh terhadap penghasilan mereka.

Kacang yang kita nikmati sambil mengobrol atau menonton televisi ternyata memiliki perjalanan yang cukup panjang sebelum sampai ke tangan pembeli. Dan Pak Eddy menjadi salah satu orang yang mengantarkannya.

Ada Istri yang Ikut Bekerja

Dalam percakapan kami, Pak Eddy juga bercerita tentang istrinya. Perempuan yang juga berasal dari Kakas itu ikut membantunya mengolah kacang untuk dijual.

Dalam kehidupan masyarakat Minahasa, bekerja bersama bukan sesuatu yang asing. Semangat kebersamaan itu juga hadir dalam tradisi baku tulung yang menjadi bagian dari rasa tou Minahasa. Pada usaha kecil Pak Eddy, kerja sama terlihat dari bagaimana ia dan istrinya menjalankan dagangan kacang mereka.

Saya tidak sempat bertemu dengannya. Pak Eddy pun tidak banyak bercerita tentang bagaimana mereka membagi pekerjaan di rumah. Tetapi saya membayangkan betapa pentingnya bantuan sang istri dalam usaha kecil mereka. Sebab, sebelum kacang dibawa berkeliling, ada pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Usaha Pak Eddy bukan hanya tentang seorang lelaki tua yang mengendarai sepeda motor untuk mencari pembeli. Ada kerja sama suami istri di belakangnya. Mereka telah melewati masa membesarkan anak-anak. Kini anak-anak itu sudah memiliki keluarga masing-masing, bahkan Pak Eddy sudah mempunyai cicit.

Empat generasi telah hadir dalam perjalanan hidupnya.

Saya sempat memikirkan hal itu. Betapa panjang waktu yang sudah dilewati lelaki di hadapan saya ini. Dari seorang pemuda yang bekerja di kebun, menjadi ayah, kakek, hingga buyut. Namun, ketika bertemu dengannya hari itu, ia masih menjalani pekerjaan yang membuatnya bertemu banyak orang.

Masih menawarkan kacang. Masih tertawa ketika pembeli mengaku belum pernah mencicipi dagangannya. Dan masih punya cerita untuk dibagikan.

Bukan Hanya Tentang Kacang

Obrolan kami kemudian kembali ke Kawangkoan.

Pak Eddy rupanya ingin saya tidak hanya mengenal daerah itu melalui kacangnya. Ia mengingatkan bahwa Kawangkoan dan kawasan sekitarnya juga memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi.

Ada Bukit Kasih Kanonang, kawasan pemandian air panas, peninggalan sejarah, hingga pemandangan alam dan pertanian di desa-desa sekitar.

Bagi orang Minahasa, nama-nama tempat itu tentu cukup akrab. Namun, bagi mereka yang datang dari luar daerah, Kawangkoan mungkin lebih dahulu dikenal melalui kacang yang dijual di pinggir jalan.

Pak Eddy mengajak saya suatu waktu berkunjung ke sana.

“Jika ada waktu silakan datang ke Kawangkoan. Jangan cuma mencicipi kacangnya tetapi pesona keindahan alamnya,” tuturnya.

Saya tersenyum mendengar ajakannya.

Lelaki asal Kakas ini ternyata bukan hanya pandai menawarkan kacang. Ia juga ikut memperkenalkan daerah tempat dagangannya berasal. Tidak melalui brosur wisata atau promosi yang muluk-muluk. Cukup melalui percakapan dengan pembeli.

Ketika Kami Harus Berpisah

Hari sudah semakin siang.

Pak Eddy masih harus melanjutkan perjalanan. Masih ada tempat lain yang akan didatanginya untuk menjual kacang. Percakapan kami pun harus berakhir. Ia berpamitan.

Saya membiarkannya melanjutkan pekerjaan, sementara kacang yang saya beli menjadi oleh-oleh kecil dari pertemuan itu. Entah berapa banyak orang yang akan ditemuinya setelah kami berpisah. Mungkin pegawai kantor, pengendara yang singgah, atau pelanggan lama yang sudah mengenalnya.

Saya juga tidak tahu apakah seluruh dagangannya akan habis hari itu. Yang saya tahu, lelaki berusia 71 tahun itu masih memiliki semangat untuk bekerja.

Saya teringat pada jawabannya ketika ditanya mengapa berhenti berkebun. Anak-anaknya sudah besar. Sudah berkeluarga. Ia sudah punya cucu dan cicit. Mereka meminta ayahnya berhenti bekerja di kebun.

Pak Eddy mengikuti saran itu. Tetapi rupanya ia belum selesai dengan dunia kerja.

Sepuluh tahun terakhir, ia menemukan cara lain untuk tetap menjalani hari-harinya. Dengan sepeda motor tua dan kacang Kawangkoan.

Pertemuan kami sebenarnya singkat. Bermula dari dua buah kacang yang ia tawarkan untuk dicicipi, lalu berkembang menjadi percakapan tentang kebun, keluarga, dan kehidupan di usia senja.

Saya datang sebagai pembeli. Pulang dengan membawa kacang dan sebuah cerita. Barangkali itulah yang membuat saya masih mengingat Pak Eddy Kaen. Bukan karena jumlah dagangannya. Bukan pula karena harga kacang yang dijualnya. Melainkan karena di balik pekerjaannya yang sederhana, ada seorang manusia dengan perjalanan hidup yang panjang.

Dan saya bersyukur sempat mendengarkan sebagian kecil dari perjalanan itu.

Sehat-sehat selalu, Pak Eddy. Semoga suatu hari kita berjumpa lagi.

Mungkin di depan Samsat Tondano. Mungkin di jalan lain di Minahasa. Dan kalau kita bertemu, saya ingin membeli kacang lagi. Barangkali sambil mendengarkan cerita yang belum sempat Bapak sampaikan hari itu.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Bagikan Artikel Ini

Foto Norman Meoko

Norman Meoko

Wartawan senior Indonesia, mantan Pemimpin Redaksi Harian Sinar Harapan. Kini menetap di Minahasa, Sulawesi Utara.

Tentang Penulis →

Pilihan Redaksi

← Kembali ke Beranda