Langsung ke konten

Oma Moni Meraup Rupiah Demi Rupiah dengan Pisang hingga Ubi Bete

Oma Moni, perempuan berusia 70 tahun asal Desa Tanggari, duduk di balik meja kios sederhana dengan dagangan pisang, ubi jalar, dan ubi bete yang dijualnya di jalur Bitung–Airmadidi, Minahasa Utara.
Oma Moni penjual pisang hingga ubi bete di Airmadidi, Minahasa Utara. (Foto: Norman Meoko)

Hujan yang turun di ruas jalan raya Bitung–Airmadidi membuat sejumlah pengendara sepeda motor menepi. Di sebuah kios sederhana tempat mereka berteduh, saya bertemu Oma Moni, perempuan berusia 70 tahun yang setiap hari menjual pisang hingga ubi bete demi menghidupi dirinya dan suami yang sudah tidak mampu berjalan.

Siang ini hujan menghentikan laju sepeda motor tua saya saat melewati jalan raya yang menghubungkan Bitung, dan Airmadidi, Minahasa Utara.

Rintik hujan tiba-tiba menyergap dan terpaksa saya harus menyingkir. Awan gelap menyapa. Agaknya hujan bakal panjang meretas.

Saya pun berteduh di sebuah kios sederhana yang menjajakan pisang hingga ubi bete.

Tak hanya saya. Banyak juga pengendara sepeda motor lainnya juga menepi untuk berteduh.

Lama menunggu hujan reda. Saya tertegun melihat penjual pisang hingga ubi bete.

Seorang oma dengan tubuh agak gemuk dengan pakaian apa adanya. Saya pun tertarik berteduh lama dan membuka pembicaraan dengan ibu tua yang hampir separuh gigi depannya sudah tanggal dimakan usia.

“Saya Norman. Maaf boleh tahu nama oma,” tutur saya.

Ternyata oma agak kurang mendengar. Saya pun mendekat.

“Saya Oma Moni. Saya tinggal di Desa Tanggari,” ia mulai bercerita.

Sehari-hari Oma Moni berjualan pisang hingga ubi bete.

Di Minahasa, saya pernah bertemu pula dengan Pak Eddy Kaen, lelaki berusia 71 tahun yang masih berkeliling menjual kacang Kawangkoan dengan sepeda motor tuanya. Cerita tentang dirinya saya tuliskan dalam Pak Eddy dan Cerita Panjang Kacang dari Kawangkoan.

Ia mengaku terpaksa mencari rupiah demi rupiah karena sang suami sudah tidak bisa berjalan lagi. Sepenuh sudah berada di tempat tidur. Lututnya sakit. Menyebabkan kaki sang suami tak kuat lagi.

“Saya sudah sepuluh tahun lebih berjualan di sini,” Oma Moni melanjutkan.

Sesekali perempuan yang lahir 70 tahun lalu itu mengikat beberapa pisang yang putus dengan tali rapia.

Wajahnya sama sekali tidak mencerminkan kesusahan. Dia malah beberapa kali tersenyum ketika asyik saya ajak ngobrol.

Deretan gigi yang tanggal terlihat. Tetapi itu tidak membuatnya malu. Ia malah senang diajak ngobrol.

Ketika saya tanya mulai jam berapa Oma Moni berdagang, dia mengaku sejak pukul 8 pagi sudah bebenah di kios sederhana yang sebenarnya adalah tempat menepi ketika hujan turun dan pengendara sepeda motor ingin berteduh.

“Cucu pertama saya yang antar saya ke sini pakai sepeda motor. Semua jualan juga dibawa pakai motor,” ujarnya lagi.

Soal untung, Oma Moni mengaku lumayan untuk melanjutkan hidup bersama sang suami yang hingga kini masih tergolek di tempat tidur.

“Kalau lagi ramai ya bisa di atas Rp300 ribu. Kalau sepi ya antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu,” katanya.

Barang jualan dia beli dari Pasar Airmadidi atau Pasar Sukur.

Perjumpaan dengan Oma Moni mengingatkan saya pada Om Roni Dumais, warga Desa Kaleosan yang menjajakan madu hutan di kawasan Maumbi. Baginya, lima botol madu yang dibawa berjualan menjadi salah satu cara memenuhi kebutuhan keluarga. Kisahnya saya tuliskan dalam Madu Hutan Kaleosan, Sumber Hidup Om Roni Dumais.

Mengapa oma setua ini masih berjualan? Perempuan yang sudah beruban itu hanya menjawab singkat. Katanya, dirinya tidak mau bergantung sama anak-anak dan cucu apalagi sang suami sudah terbaring lemah di tempat tidur.

Saya teringat pada perjumpaan lain dengan seorang lelaki lanjut usia di Airmadidi Atas. Namanya Opa Yoce Robot. Di usianya yang hampir 80 tahun, ia masih menjajakan sapu lidi untuk menyambung hidup. Kisah pertemuan kami pernah saya tuliskan dalam Tiga Sapu Lidi Opa Yoce, Bertahan Hidup di Usia Senja.

Bagi dirinya yang penting masih bisa berjualan pisang hingga ubi bete. “Itu saja sudah cukup bagi saya. Kalau barang dagangan saya laku, saya dan suami saya bisa hidup,” ia menambahkan.

Hujan sudah berhenti. Saya pamit untuk kembali meneruskan perjalanan. Sebelum sepeda motor saya nyalakan. Dalam hati saya seperti ada yang berbisik untuk memberi beberapa lembaran rupiah ke Oma Moni.

Saya buka dompet dan tanpa melihat saya merogoh serta memberikan kepadanya. Dia menyambut tangan saya. Wajahnya membuang senyum. Saya pun senang.

Saya tidak lupa izin untuk mengambil gambarnya. Ia tidak keberatan.

Perjalanan saya masih panjang. Tetapi saya bersyukur hujan tiba-tiba telah mempertemukan dengan Oma Moni yang dengan kesederhanaan dan senyuman tetap berjuang demi sebuah kehidupan bersama sang suami.

Dalam hati, saya melambungkan doa agar Tuhan Sang Pencipta Jagad ini terus memelihara Oma Moni dan suaminya.

Saya pun pamit dan sepeda motor kembali menyeruak di antara lalu lintas Jalan Raya Bitung-Airmadidi.

Oma Moni adalah sosok perempuan tangguh dan luar biasa. Dia tidak mau menjadi beban anak dan cucunya. Dan pisang hingga ubi bete telah memberinya hidup.

Baca Juga:

Apakah artikel ini bermanfaat?

Bagikan Artikel Ini

Foto Norman Meoko

Norman Meoko

Wartawan senior Indonesia, mantan Pemimpin Redaksi Harian Sinar Harapan. Kini menetap di Minahasa, Sulawesi Utara.

Tentang Penulis →

Pilihan Redaksi

← Kembali ke Beranda