“Pangge jo Om Ogem.” Kalimat itu pernah akrab di telinga masyarakat Manado dan Minahasa ketika listrik di rumah mengalami gangguan. Bahkan setelah PLN mengambil alih pelayanan listrik, nama Ogem tetap digunakan selama puluhan tahun. Dari mana sebutan itu berasal, dan mengapa begitu lama bertahan dalam ingatan masyarakat?
Ketika Lampu Padam, Orang Mencari Om Ogem
“Pangge jo Om Ogem.”
Kalimat itu pernah begitu akrab di telinga masyarakat Manado dan Minahasa. Jika lampu di rumah tiba-tiba padam, meteran listrik bermasalah, atau jaringan listrik mengalami gangguan, ada saja orang yang menyarankan agar memanggil Om Ogem.
“Tunggu jo, Om Ogem so ba datang.”
Atau, “Nanti Ogem periksa tu meteran listrik di rumah.”
Bagi generasi yang tumbuh pada 1970-an dan 1980-an, bahkan jauh sebelumnya, ungkapan semacam itu bukan sesuatu yang aneh. Ogem adalah sebutan yang sudah melekat dalam percakapan sehari-hari.
Orang tidak selalu menyebut petugas PLN. Mereka menyebut orang Ogem. Begitu pula ketika hendak mengurus sambungan listrik atau melaporkan gangguan. Yang dituju bukan sekadar kantor listrik, melainkan Kantor Ogem, atau Om Ogem di kampung setempat.
Sebutan itu terdengar biasa. Kala itu, tidak ada yang merasa perlu menjelaskan kepanjangannya. Anak-anak mendengarnya dari orang tua, sementara orang tua telah mengenalnya dari generasi sebelumnya.
Di rumah-rumah yang dahulu masih menggunakan lampu minyak tanah, kehadiran listrik membawa perubahan besar. Malam tidak lagi sepenuhnya bergantung pada nyala api kecil di dalam semprong kaca. Bohlam yang menggantung di langit-langit rumah memungkinkan orang beraktivitas lebih lama setelah matahari terbenam.
Kehadiran listrik juga membawa pengalaman baru: gangguan, kabel putus, meteran rusak, dan lampu yang sewaktu-waktu padam. Ketika persoalan itu datang, orang mencari Ogem. Menariknya, pada masa ketika panggilan tersebut masih digunakan secara luas, perusahaan bernama OGEM sebenarnya sudah tidak lagi mengelola kelistrikan Indonesia.
Lalu, dari mana nama itu berasal? Mengapa masyarakat terus menggunakannya?
Jawabannya membawa kita jauh ke masa ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda.
Sebelum Ada PLN, Ada Perusahaan Bernama OGEM
Untuk memahami asal-usul Ogem, kita perlu mundur lebih dari satu abad, ke tanggal 10 Desember 1863. Ketika itu, sebuah perusahaan bernama Nederlandsch-Indische Gasmaatschappij (NIGM) didirikan untuk menjalankan usaha penyediaan gas di Hindia Belanda.
Pada mulanya, gas menjadi salah satu sumber penerangan di kota-kota kolonial. Jalan, kawasan perdagangan, dan fasilitas tertentu membutuhkan penerangan ketika malam tiba.
Listrik belum menjadi kebutuhan rumah tangga sebagaimana sekarang.
Perkembangan teknologi kemudian mengubah keadaan. Tenaga listrik mulai digunakan untuk penerangan dan berbagai kegiatan ekonomi. Perusahaan-perusahaan penyedia energi pun memperluas usahanya.
NIGM termasuk di antaranya.
Setelah melewati masa kolonial dan Perang Dunia II, perusahaan tersebut berganti nama pada 1950 menjadi Overzeese Gas- en Electriciteits-Maatschappij, yang dikenal dengan singkatan OGEM. Nama perusahaan inilah yang kemudian begitu akrab bagi masyarakat Sulawesi Utara.
OGEM merupakan perusahaan utilitas Belanda yang memiliki kegiatan usaha kelistrikan dan gas di sejumlah wilayah bekas Hindia Belanda. Di Manado dan kawasan Minahasa, nama itu berkaitan dengan pelayanan listrik pada masa sebelum pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda oleh pemerintah Indonesia.
Bagi penduduk yang mulai mengenal jaringan listrik, tiang, kabel, dan meteran, nama perusahaan penyedianya tentu lebih mudah diingat daripada istilah teknis kelistrikan. Apalagi ketika nama itu terus diucapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sinilah kita dapat memahami bagaimana sebuah nama perusahaan perlahan berubah menjadi sebutan untuk petugas listrik. Tetapi sejarah listrik di Sulawesi Utara tidak hanya berlangsung di kantor pelayanan atau rumah-rumah penduduk.
Ada kisah lain yang mengalir dari dataran tinggi Minahasa. Kisah tentang air yang menggerakkan mesin, jauh sebelum pembangkit-pembangkit modern berdiri.
Dari Air Danau Tondano, Listrik Mengalir ke Kota
Air bukan hanya bagian dari lanskap Minahasa, tetapi juga penopang kehidupan masyarakat. Hubungan antara air dan ruang hidup warga dapat dibaca lebih jauh dalam tulisan Sungai, Jembatan, dan Danau di Tomohon yang Mungkin Belum Anda Ketahui.
Di Minahasa, Danau Tondano bukan hanya bagian dari bentang alam yang dikenal masyarakat. Airnya juga memiliki peranan penting dalam perkembangan kelistrikan Sulawesi Utara.
Dari danau tersebut, air mengalir melalui sistem Sungai Tondano, melewati kawasan yang memiliki perbedaan ketinggian dan memungkinkan pemanfaatannya sebagai sumber tenaga pembangkit listrik.
Potensi itulah yang dimanfaatkan dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tonsea Lama. Pembangkit ini menjadi salah satu peninggalan penting dari masa awal pengembangan kelistrikan di Sulawesi.
Sejumlah catatan menyebutkan, PLTA Tonsea Lama ini dibangun sejak 1912, pada masa Hindia Belanda, kemudian mengalami pembangunan lanjutan pada masa pendudukan Jepang.

Ilustrasi visual arsip sejarah: Dokumentasi foto tempo dulu dari situs kebudayaan lokal memperlihatkan lanskap historis kompleks PLTA Tonsea Lama di Tondano, Minahasa. Foto arsip ini disematkan semata-mata untuk kepentingan ilustrasi narasi sejarah lokal, bersumber dari publikasi arsip digital sejarah Sulawesi Utara. (Sumber Arsip/Visual: Arsip Publik Sejarah Lokal Malesung/Dokumen Rujukan Publik)
Kronologi singkat (dari berbagai sumber):
- 1912—Pembangunan awal PLTA Tonsea Lama dimulai pada masa Hindia Belanda
- 1920-an—Ada sumber menyebut Unit 1 pertama kali dibangun pada 1920-an; sumber lain menyebut pembangunan mulai 1928.
- 1923—Salah satu laporan menyebut PLTA mulai beroperasi.
- 1942-1945—Pembangunan dilanjutkan pada masa pendudukan Jepang.
- 1949-1950—Pembangkit mulai beroperasi; pengelolaan resmi disebut dimulai pada 1950.
Bayangkan keadaan ketika jaringan listrik belum menjangkau banyak rumah. Di kawasan pedesaan, lampu minyak masih menjadi bagian dari kehidupan malam. Penerangan listrik lebih dahulu hadir di pusat-pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan, dan permukiman tertentu.
Jangkauannya belum merata.
Pembangkit listrik tenaga air kemudian memungkinkan pengembangan pasokan energi yang lebih besar dibandingkan mengandalkan mesin pembangkit kecil di setiap tempat. Air menggerakkan turbin. Turbin memutar generator. Dari proses itulah energi listrik dihasilkan, lalu disalurkan melalui jaringan menuju kawasan yang membutuhkan.
Di balik lampu yang menyala di rumah penduduk, atau sebuah di Manado dan Minahasa, terdapat pekerjaan teknis yang panjang. Ada mesin yang harus dirawat, saluran air yang dijaga, kabel yang diperiksa, dan gangguan yang harus ditangani.
Pekerjaan itu tidak selalu terlihat oleh masyarakat. Yang mereka ketahui sederhana: ketika listrik menyala, kehidupan terasa lebih mudah. Ketika padam, orang harus mencari petugas. Dan petugas itu, dalam bahasa sehari-hari, dikenal sebagai orang Ogem.
Terang yang Belum Menjangkau Semua Orang
Kehadiran listrik pada masa kolonial tentu tidak berarti seluruh masyarakat langsung menikmatinya. Pembangunan infrastruktur mengikuti kebutuhan pemerintahan, kegiatan ekonomi, dan kawasan yang dianggap penting oleh pengelola.
Pusat administrasi, perdagangan, serta permukiman kelompok tertentu lebih berpeluang memperoleh layanan lebih dahulu. Sementara itu, banyak keluarga masih menjalani kehidupan dengan penerangan tradisional. Perbedaan tersebut penting untuk diingat.
Sejarah listrik bukan semata-mata sejarah mesin dan perusahaan. Ia juga merupakan sejarah tentang siapa yang lebih dahulu menikmati kemajuan teknologi, dan siapa yang harus menunggu lebih lama.
Bagi keluarga yang belum memiliki sambungan listrik, malam mempunyai batas yang berbeda. Pekerjaan rumah tangga harus menyesuaikan cahaya yang tersedia. Anak-anak belajar dengan penerangan seadanya. Kegiatan setelah gelap sangat bergantung pada kemampuan keluarga menyediakan minyak atau sumber penerangan lain.
Ketika listrik akhirnya masuk ke sebuah lingkungan permukiman, perubahan yang terjadi bukan hanya soal mengganti lampu. Waktu untuk membaca, bekerja, dan berkumpul menjadi lebih panjang. Kegiatan ekonomi pun memperoleh kemungkinan baru. Namun, perubahan itu berlangsung bertahap. Tidak semua tempat mengalami kemajuan pada waktu yang sama.
Dalam perkembangan inilah nama perusahaan listrik menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. OGEM bukan lagi sekadar tulisan pada dokumen perusahaan. Nama itu hadir dalam urusan rumah tangga, percakapan tetangga, dan ingatan anak-anak yang mendengar orang tuanya memanggil petugas listrik. Sebuah nama asing mulai memperoleh tempat dalam bahasa setempat.
Tahun 1958, Ketika Minahasa Berada dalam Pergolakan
Sejarah kelistrikan Sulawesi Utara kemudian memasuki masa yang jauh lebih sulit.
Pada 2 Maret 1957, Piagam Perjuangan Semesta atau Permesta diproklamasikan di Makassar. Gerakan yang lahir dari ketegangan politik dan tuntutan daerah terhadap pemerintah pusat itu kemudian berkembang, dengan Sulawesi Utara menjadi salah satu pusat utamanya.
Memasuki 1958, pertentangan politik berubah menjadi konflik bersenjata. Manado dan Minahasa berada dalam pusaran pergolakan. Keadaan tersebut memengaruhi kehidupan masyarakat, kegiatan ekonomi, transportasi, dan penyelenggaraan pelayanan umum.
Dalam situasi perang, infrastruktur kelistrikan memiliki arti yang sangat penting. Pembangkit dan jaringan listrik bukan hanya dibutuhkan untuk penerangan rumah. Listrik juga diperlukan untuk mendukung komunikasi, fasilitas pelayanan, dan kegiatan pemerintahan.
Karena itu, instalasi energi merupakan bagian dari infrastruktur yang perlu diamankan ketika konflik berlangsung. PLTA Tonsea Lama berada dalam lingkungan sejarah yang penuh ketegangan tersebut. Sejumlah tulisan mengenai pembangkit tua ini menyebut adanya bekas kerusakan pada bangunan yang dikaitkan dengan pergolakan bersenjata pada masa lalu.
Di tengah pergolakan 1958, hubungan Indonesia dengan Belanda juga sedang mengalami perubahan besar. Perusahaan-perusahaan milik Belanda menghadapi proses pengambilalihan, sementara warga negara Belanda yang masih berada di Indonesia menghadapi situasi politik yang semakin tidak menentu.
Bagi pekerja asing dan keluarga mereka, masa itu bukan sekadar pergantian pemerintahan atau perubahan kepemilikan perusahaan. Ada persoalan keselamatan, pekerjaan, dan masa depan. Sumber-sumber mengenai hubungan Indonesia-Belanda pada akhir 1950-an mencatat perpindahan serta pemulangan warga Belanda dari Indonesia.
Dalam bahan sejarah mengenai OGEM di Manado, terdapat pula kisah evakuasi pekerja Belanda melalui jalur pelayaran menuju Nugini Belanda, wilayah yang kini menjadi bagian dari Papua. Kisah tersebut dikaitkan dengan kapal-kapal Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (KPM), perusahaan pelayaran yang memiliki jaringan luas di kepulauan Indonesia.
Perusahaan Berganti, Nama Tetap Tinggal
Pergolakan politik pada akhir 1950-an berlangsung bersamaan dengan kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda. Pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk menguasai aset dan kegiatan usaha yang sebelumnya berada di tangan perusahaan asing. Sektor kelistrikan termasuk di dalamnya.
Proses nasionalisasi ini menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan pengelolaan listrik oleh negara. Aset, jaringan, dan fasilitas yang sebelumnya dijalankan perusahaan-perusahaan Belanda kemudian memasuki sistem pengelolaan nasional yang berkembang menjadi PLN.
Bagi sejarah kelistrikan, perubahan tersebut sangat besar. Tetapi bagi masyarakat yang sehari-hari menggunakan listrik, pergantian nama dan pengelola tidak otomatis mengubah cara mereka berbicara.
Kantor listrik masih disebut Kantor Ogem.
Petugas yang datang memperbaiki jaringan masih dipanggil orang Ogem.
Bahkan ketika pegawainya sudah orang Indonesia dan perusahaan listrik telah berada di bawah pengelolaan negara, sebutan lama itu tetap bertahan.
Inilah bagian menarik dari perjalanan sebuah nama.
Pemerintah mengubah struktur organisasi. Perusahaan berganti kepemilikan. Papan nama kantor diganti. Namun, kebiasaan masyarakat mempunyai jalannya sendiri.
Sebuah kata yang telah digunakan selama bertahun-tahun tidak selalu hilang hanya karena nama resminya berubah. Apalagi jika kata tersebut telah diwariskan dalam percakapan keluarga.
Anak mendengar orang tuanya menyebut Ogem. Ketika dewasa, ia menggunakan kata yang sama. Generasi berikutnya kemudian mengenalnya sebagai istilah yang sudah biasa.
Tidak semua orang perlu mengetahui bahwa OGEM adalah singkatan nama perusahaan Belanda. Bagi mereka, Ogem cukup berarti petugas listrik. Dan pengertian itu bertahan lama.
Sejarah lokal juga dapat bertahan melalui kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jejak semacam itu dapat ditemukan dalam sejarah Tomohon sebagai Kota Bunga, ketika kebiasaan masyarakat perlahan menjadi bagian dari identitas daerah.
Mengapa Orang Tua Masih Menyebut Ogem?
Bahasa sering menyimpan sejarah dengan cara yang tidak kita sadari. Ada nama tempat yang tetap digunakan meskipun bangunannya telah berubah. Ada sebutan pekerjaan yang bertahan ketika teknologi yang melahirkannya sudah ditinggalkan.
Begitu pula dengan Ogem.
Nama perusahaan berubah menjadi bagian dari kosakata percakapan masyarakat. Dalam kajian bahasa, gejala semacam ini dapat dipahami sebagai perubahan nama khusus menjadi sebutan umum karena penggunaannya yang berulang dan meluas.
Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat tentu tidak memikirkan teori kebahasaan. Mereka hanya menggunakan kata yang paling dikenal.
Pada 1970-an dan 1980-an, ketika PLN sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, sebagian warga Manado dan Minahasa masih mempertahankan sebutan Ogem.
Mungkin ada yang mengetahui asal-usulnya. Mungkin pula banyak yang tidak pernah bertanya. Kata itu tetap digunakan karena semua orang memahami maksudnya.
“Lampu padam, lapor pa orang Ogem.”
Ungkapan tersebut tidak memerlukan penjelasan tambahan. Orang langsung tahu siapa yang dimaksud. Di situlah sebuah perusahaan yang berasal dari masa kolonial meninggalkan jejak yang berbeda dari bangunan, mesin, atau dokumen.
Jejak itu tersimpan dalam bahasa. Tidak terlihat, tetapi terus hidup setiap kali diucapkan.
Mesin Tua yang Masih Menjadi Bagian dari Sejarah
Sementara nama Ogem perlahan semakin jarang terdengar, salah satu peninggalan penting dari masa awal kelistrikan Sulawesi Utara masih dapat ditemukan di kawasan Tonsea Lama. PLTA Tonsea Lama menjadi penghubung antara sejarah dan perkembangan teknologi kelistrikan modern.
Pembangkit ini telah melewati perubahan pemerintahan, pergantian pengelola, perkembangan industri, serta meningkatnya kebutuhan energi masyarakat. Dalam sejumlah pemberitaan mengenai pembangkit tersebut, mesin-mesin tua peninggalan masa kolonial menjadi perhatian karena usia dan riwayat penggunaannya. Bangunan serta peralatan pembangkit juga memiliki nilai sejarah yang melampaui fungsi teknisnya.
Di tempat seperti Tonsea Lama, sejarah kelistrikan dapat dibaca melalui benda-benda yang masih tersisa. Turbin, generator, ruang mesin, dan konstruksi bangunan memperlihatkan bagaimana teknologi masa lalu dirancang untuk memanfaatkan tenaga air.
Peralatan itu mengingatkan kita bahwa listrik yang sekarang tersedia melalui jaringan luas pernah bermula dari sistem yang jauh lebih terbatas. Kini, pasokan listrik Sulawesi Utara telah berkembang dengan memanfaatkan berbagai sumber energi.
Selain pembangkit tenaga air, terdapat pembangkit panas bumi di kawasan Lahendong, Panglombian, Tondangow, dan Tompaso, pembangkit tenaga air lainnya di kawasan Tanggari, serta pembangkit termal yang mendukung kebutuhan sistem kelistrikan regional.
Jaringan interkoneksi memungkinkan pasokan energi dikelola dalam sistem yang lebih luas daripada masa ketika pelayanan listrik masih bergantung pada instalasi lokal.
Teknologi terus berkembang. Tetapi PLTA Tonsea Lama tetap memiliki arti tersendiri sebagai bagian dari perjalanan panjang kelistrikan di Sulawesi Utara. Ia menghubungkan masa ketika listrik merupakan fasilitas terbatas dengan masa ketika energi listrik telah menjadi kebutuhan hampir setiap kegiatan manusia.
Dari Lampu Minyak ke Kehidupan yang Bergantung pada Listrik
Bagi generasi sekarang, listrik sering dianggap sebagai sesuatu yang memang seharusnya tersedia. Orang menyalakan lampu tanpa memikirkan pembangkit yang menghasilkan energinya.
Telepon genggam diisi daya. Televisi dinyalakan. Air dipompa. Makanan disimpan dalam lemari pendingin. Di rumah, sekolah, kantor, pasar, dan rumah sakit, listrik telah menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari.
Justru ketika listrik padam, ketergantungan itu terasa. Kegiatan yang sebelumnya berjalan lancar mendadak terganggu. Orang mencari tahu penyebabnya, menghubungi layanan PLN, atau memeriksa informasi gangguan melalui telepon genggam. Cara melaporkan gangguan sudah jauh berbeda dibandingkan masa lalu.
Dahulu, ketika komunikasi belum semudah sekarang, masyarakat lebih banyak bergantung pada informasi dari tetangga, kantor pelayanan, atau petugas yang dikenal di lingkungan mereka. Nama petugas bahkan bisa menjadi lebih akrab daripada nama perusahaan.
Dari keadaan seperti itulah panggilan Om Ogem memperoleh tempat dalam kehidupan masyarakat. Sebutan tersebut bukan hanya mengingatkan kita pada sejarah perusahaan listrik. Ia juga mengingatkan pada cara orang-orang dahulu menghadapi persoalan bersama. Ketika listrik padam, seseorang memberi tahu tetangga. Ada yang mengetahui ke mana harus melapor. Ada pula yang mengenal petugas yang biasa datang memperbaiki gangguan.
Percakapan berlangsung dari rumah ke rumah.
“Tunggu jo, Om Ogem so ba datang.”
Kalimat itu membawa kita pada masa ketika pelayanan listrik masih memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan lingkungan setempat.
Nama yang Tak Lagi Tertulis, tetapi Pernah Hidup
Sekarang, sebutan Ogem mungkin terdengar asing bagi sebagian generasi muda. Mereka mengenal PLN. Mereka mengetahui nomor layanan pelanggan, aplikasi pengaduan, dan petugas yang datang dengan seragam perusahaan.
Nama OGEM tidak lagi terpampang sebagai pengelola listrik. Perusahaan asal Belanda itu sendiri telah mengalami perjalanan panjang setelah meninggalkan Indonesia, sebelum akhirnya menghadapi kesulitan keuangan dan berakhir melalui proses pembubaran serta likuidasi di negeri asalnya.
Ada sesuatu yang tidak ikut hilang ketika perusahaan tersebut berhenti beroperasi. Di Manado dan Minahasa, namanya pernah bertahan sebagai bagian dari percakapan masyarakat selama puluhan tahun.
Mungkin suatu hari, seorang anak mendengar opa atau omanya menyebut kata Ogem.
Anak itu lalu bertanya, “Ogem itu apa?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membuka cerita panjang.
Tentang perusahaan Belanda yang dahulu mengelola listrik. Tentang air Danau Tondano yang dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin. Tentang masa ketika penerangan listrik belum menjangkau semua rumah. Tentang pergolakan politik yang ikut mengubah pengelolaan infrastruktur di Sulawesi Utara. Dan tentang kebiasaan orang-orang tua yang tetap menyebut nama lama meskipun zaman telah berubah.
Sejarah ternyata tidak selalu tinggal di museum atau tertulis dalam buku. Kadang-kadang, sejarah bertahan dalam satu kata yang terus diucapkan tanpa pernah dipertanyakan asal-usulnya.
Ogem adalah salah satunya.
Dahulu, ketika lampu padam, orang memanggil Om Ogem. Sekarang, ketika nama itu semakin jarang terdengar, yang patut kita jaga bukan sekadar ingatan tentang perusahaan listrik dari masa kolonial. Melainkan juga cerita tentang orang-orang yang pernah menggunakan nama tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sebab suatu saat nanti, mungkin tak ada lagi yang mengucapkan, “Pangge jo Om Ogem.” Dan jika tidak dituliskan, generasi berikutnya bisa kehilangan kesempatan untuk mengetahui mengapa orang-orang tua mereka dahulu memanggil petugas listrik dengan nama itu.
Rujukan:
- Boom Uitgevers. OGEM, Bab 5A. Kajian sejarah korporasi yang membahas asal-usul perusahaan sejak 1863, perubahan nama menjadi OGEM pada 1950, serta perkembangan dan persoalan perusahaan pada masa berikutnya. https://www.boom.nl/media/14/hoofdstuk_5a_-_ogem.pdf
- Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1959 tentang Penentuan Perusahaan Listrik dan/atau Gas Milik Belanda yang Dikenakan Nasionalisasi. Dokumen hukum mengenai nasionalisasi perusahaan listrik dan gas milik Belanda. https://peraturan.bpk.go.id/Details/75739/pp-no-18-tahun-1959 dan https://peraturan.bpk.go.id/Download/66480/PP%20No%20018%20Tahun%201959.pdf
- “Dari 1929 hingga Kini, PLTA Tonsealama Jadi Saksi Sejarah Listrik Indonesia.” 31 Oktober 2025. Liputan mengenai sejarah pembangunan, operasional, dan peranan PLTA Tonsea Lama dalam sistem kelistrikan regional. https://wartaekonomi.co.id/read588327/dari-1929-hingga-kini-plta-tonsealama-jadi-saksi-sejarah-listrik-indonesia
- “Intip Sejarah PLTA Tertua di Pulau Sulawesi.” 25 Juni 2021. Liputan sejarah infrastruktur pembangkit listrik tenaga air di Sulawesi. https://makassar.tribunnews.com/2021/06/25/intip-sejarah-plta-tertua-di-pulau-sulawesi
- Harvey, Barbara Sillars. Permesta: Half a Rebellion. Cornell Modern Indonesia Project, Cornell University, 1977. Rujukan sejarah mengenai latar belakang, perkembangan, dan konflik Permesta. https://books.google.com/books/about/Permesta.html?id=cpgOG-4_7h8C dan https://ailisx.lib.unair.ac.id/opac/detail-opac?id=e43d939dea3e1212301631a6e75fb6d37fa406a0
- Harvey, Barbara Sillars. Permesta: Pemberontakan Setengah Hati. Terjemahan Inkultra. Jakarta: Grafiti Pers, 1984. Edisi bahasa Indonesia yang dapat digunakan untuk penelusuran konteks sejarah lokal. https://balaiyanpus.jogjaprov.go.id/opac/detail-opac?id=35179









