Langsung ke konten

Mengapa Saya Masih Menjadi Jurnalis? Sebuah Feature dari Lodan yang Tak Pernah Saya Lupakan

Norman Meoko, wartawan dan redaktur Harian Sinar Harapan tersenyum berdiri di ruang kerja kantor dengan latar belakang meja yang dipenuhi tumpukan dokumen dan peralatan kantor, usai deadline.
Penulis bergaya di ruang redaksi Harian Sinar Harapan seusai kelar deadline. (Foto: Koleksi Pribadi Norman Meoko)

Di usia yang tidak lagi muda, pertanyaan itu kembali muncul: sampai kapan saya menjadi jurnalis? Sampai kapan terus menulis? Saya pernah menghadapi kegelisahan serupa pada 1990-an. Namun, sebuah sekolah darurat bagi anak-anak pemulung di Lodan, Jakarta Utara, memberi saya alasan yang hingga hari ini belum pernah benar-benar hilang.

JUJUR di usia yang sudah tidak muda lagi kadang kerap muncul sebuah pertanyaan yang menggelitik.

Begini pertanyaan itu: mau sampai kapan terus menjadi jurnalis? Sampai kapan terus menulis dan menulis?

Beruntung tidak mati lampu. Karena jujur saja yang namanya di kampung, biasanya kelar hujan deras turun langsung mati lampu. Kapan nyalanya? Itu masalahnya.

Dan sekarang saya terdampar di kampung ibu saya di Desa Kamangta, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Pertanyaan itu juga pernah merasuki saya di tahun 1990-an ketika baru menapaki hidup sebagai jurnalis. Saya gelisah. Setiap malam menjelang dijemput peraduan, pertanyaan itu ibarat rentetan meriam yang dimuntahkan tiada henti. Saya di ujung jalan: terus di profesi ini atau banting stir!

Perjalanan panjang dalam dunia jurnalistik memang tidak selalu berjalan lurus. Kecintaan terhadap penulisan feature, misalnya, bisa tumbuh dari pengalaman-pengalaman kecil yang kemudian membentuk cara seorang wartawan memandang pekerjaannya, sebagaimana yang pernah saya ulas dalam tulisan Selalu Jatuh Cinta dengan Gaya Penulisan Feature, Lho Kok Bisa?

Tiba-tiba saya teringat di pertengahan 1990, saya ditugasi mencari feature oleh redaktur saya. Tanpa arahan sama sekali. Ibarat anak ayam yang dibiarkan induknya untuk mencari makan.

Dalam pekerjaan jurnalistik, pengalaman mencari cerita di lapangan memang menjadi bagian penting dari proses belajar seorang reporter. Bagaimana membuat berita berkelas, simak tulisan Mau Konten Media Berkelas, Jangan Malas Bikin Perencanaan Liputan!

Hari nyaris dijemput petang. Kaki saya masih terus melangkah di kawasan Lodan Ancol Jakarta Utara. Karena pertolongan Tuhan, saya mendapati sekolah darurat: hanya beratapkan asbes bolong di sana-sini.

Ternyata itu sekolah yang muridnya adalah anak-anak pemulung. Orangtua mereka menitipkan anak-anak di sana. Baju mereka apa adanya. Bahkan ada anak yang tak berpakaian. Mereka berbaur dengan seorang guru relawan.

Mereka menyambut saya dengan senang hati. Sang guru relawan itu bercerita tentang sekolah darurat untuk anak-anak pemulung. Bertutur tentang pelbagai soal yang membelitnya. Padahal antusiasme anak-anak itu luar biasa.

“Ya beginilah kami. Serba minim tapi saya tetap bertahan karena anak-anak ini. Mereka ingin belajar di tengah keterbatasan itu, " kata sang guru yang bajunya juga sangat sederhana: teramat sangat!

Lama kami ngobrol setelah anak-anak pemulung itu bubar jalan. Hati saya tersentuh. Bahan feature sudah di depan mata. Saya izin mengambil gambar suasana sekolah darurat anak pemulung itu. Ada tiang bendera di sana Sang Merah Putih berkibar. Pekarangan yang tidak terlalu luas. Tapi cukup untuk anak-anak pemulung itu berolahraga.

Singkat kata: saya pamit dan bergegas balik ke kantor untuk memuntahkan isi perut soal sekolah darurat buat anak-anak pemulung itu.

Di kantor saya laporkan itu. Redaktur saya senang banget. Hasil jepretan saya berikan ke teman-teman di kamar gelap. Maklum masih pakai kamera analog. Lantas feature pun saya tulis. Gaya human interest saya mainkan. (Kalau sekarang mungkin disebut Story Telling).

Waktu sudah mendekati pukul 20.00 WIB malam. Feature itu pun kelar. Redaktur membacanya dan oke katanya. Saya pun balik kanan setelah memilih foto pendukung dan membuat teksnya. Hari kian malam. Jalan-jalan Jakarta sudah sepi. Malam mengantarkan saya kembali ke rumah.

Esok harinya saya kaget. Ternyata feature saya dimuat di halaman utama. Persis di kaki bawah dengan foto sekolah darurat dengan tiang bendera Sang Merah Putih.

Saya tak pusingkan soal feature itu. Namun betapa kagetnya saya ketika tahu bahwa feature saya itu didesposisi Gubernur Jakarta Wiyogo Atmodarminto untuk dibantu. Klipingan feature saya disertakan di sebuah lembar surat. Saya senang dan bangga.

Dua bulan setelah itu saya pun main ke sekolah darurat bagi anak-anak pemulung itu. Belum sampai kaki saya tiba di sana. Sang guru yang saya wawancara dulu sudah berlari dan memeluk saya. Air matanya jatuh. Saya kaget bukan kepalang.

Ternyata karena feature saya itu, sekolah mereka dibenahi. Buku-buku diberikan. Sang guru dan anak-anak pemulung itu bahagia. Setidaknya jika hujan turun mereka tak kebasahan. Ada senyum mereka.

Pengalaman itu mengingatkan saya bahwa jurnalisme bukan hanya tentang melaporkan apa yang terjadi. Ada tanggung jawab untuk menghadirkan cerita yang bisa memberi harapan kepada masyarakat.Ketika Media Sibuk Bergunjing, Siapa yang Memberi Harapan?

“Terima kasih Mas. Karena tulisan Mas, kami kini diperhatikan. Kami dibantu. Terima kasih ya Mas, " kata sang guru.

Kami sempat ngobrol. Saya pun mendatangi anak-anak pemulung itu. Satu per satu memeluk saya. Pantang bagi saya untuk terhanyut dalam air mata bahagia itu apalagi di depan anak-anak.

Akhirnya kami pun berpisah karena hari sudah petang.

Kejadian itu hingga sekarang masih membekas di benak saya. Karena itulah—entah sampai kapan Tuhan memberi saya usia—saya masih akan menapaki profesi sebagai jurnalis.

Persetan apa kata orang! Ya, paling tidak menulis dan menulis. Menulis dengan hati. Tidak kaya memang. Hidup pas-pasan. Tetapi lebih mulia karena menjadi berkat bagi banyak orang. Ya, setidaknya seperti yang saya ceritakan di tulisan ini.

Memang, di balik tanggung jawab besar seorang wartawan terhadap masyarakat, ada persoalan lain yang tidak kalah nyata: bagaimana profesi ini bisa memberikan kehidupan yang layak bagi orang-orang yang menjalaninya. Bagaimana tanggung jawab besar seorang wartawan terhadap masyarakat Pers Disebut Pilar Keempat Demokrasi, tetapi Wartawannya Masih Berjuang untuk Hidup Layak

Apakah artikel ini bermanfaat?

Bagikan Artikel Ini

Foto Norman Meoko

Norman Meoko

Wartawan senior Indonesia, mantan Pemimpin Redaksi Harian Sinar Harapan. Kini menetap di Minahasa, Sulawesi Utara.

Tentang Penulis →

Pilihan Redaksi

← Kembali ke Beranda