Dua kali seminggu, Om Roni Dumais meninggalkan Desa Kaleosan untuk menjajakan madu hutan di kawasan Maumbi, Minahasa Utara. Hanya lima botol yang dibawanya setiap kali berjualan. Dari madu yang tidak mudah diperoleh itu, ia berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.
Sang surya masih malu-malu pagi ini tetapi saya memilih iseng-iseng keliling jalan di seputaran Jalan Soekarno hingga kawasan Maumbi, Minahasa Utara.
Dengan motor butut yang saya beli dengan harga pertemanan di Desa Lota, Pineleng, Minahasa, saya pun sambangi sudut-sudut dan tingkungan jalan. Asyik memang!
Saat melintasi jalan potong dari Jalan Soekarno menuju Maumbi, saya mendapati Om Roni Dumais.
Pria asli Desa Kaleosan, wilayah Kecamatan Lembean Timur, Kabupaten Minahasa ini menjajakan sesuatu di sudut jalan tak jauh dari sebuah gereja.
“Pagi om,” sapa saya turun dari motor tua keluaran tahun 2012 lalu.
Om Roni balik menyapa. Wajahnya sumringan. Sebuah topi agak lusuh menutupi sebagian rambut di kepalanya.
“Om jual apa ini,” saya bertanya.
Ternyata pria tiga anak ini menjual madu hutan.
Dia mengaku tidak setiap hari menjual madu hutan. Karena memang untuk mendapatkan madu hutan tidak semudah membalikan telapak tangan.
“Seminggu paling dua kali saya menjajakan madu di sini. Perlu dua orang untuk mencari madu hutan di Desa Kaleosan,” tuturnya ramah.
Satu botol madu hutan dibanderol seharga Rp150 ribu. Om Roni hanya menjual lima botol madu hutan.
“Ya lumayan untuk menyambung hidup,” dia melanjutkan.
Dia menjelaskan, madu hutan merupakan madu yang dipanen dari sarang lebah luar di hutan. Madu jenis ini beda dengan madu budidaya atau ternak.
Dengan menjual madu hutan, Om Roni bisa menyambung hidup dengan istri dan ketiga anaknya. Beruntung anak pertamanya sudah berumah tangga. Tinggal yang kedua dan terakhir yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
Perjumpaan dengan Om Roni mengingatkan saya pada pertemuan lain dengan seorang lelaki tua di Airmadidi Atas. Opa Yoce Robot juga berusaha menyambung hidup dengan menjajakan sapu lidi. Kisahnya saya tuliskan dalam Tiga Sapu Lidi Opa Yoce, Bertahan Hidup di Usia Senja.
Dia menambahkan, madu hutan yang dijualnya selalu habis menjelang sore. Ia bisa membuang senyum ketika sang surya beranjak menepi.
Om Roni menyebutkan, banyak khasiat dengan mengonsumsi madu hutan di antaranya meredakan batuk dan pilek.
“Cukup pakai lemon atau jeruk tipis yang dibakar dan dicampur dengan sedikit madu hutan maka batuk pilek bakal hilang,” dia menjelaskan.
Setiap orang mempunyai cara sendiri untuk mempertahankan penghidupan. Ada yang berjualan madu hutan di pinggir jalan, ada pula yang bertahan menjalankan usaha di tengah perubahan sebuah kawasan. Kisah terakhir itu pernah saya temukan dalam Jalan yang Pernah Makmur.
Dia bersyukur desa kelahiran di Kaleosan banyak kawasan hutan dan menjadi sumber dari madu hutan. Asal tahu saja Desa Kaleosan ternyata berdiri sejak 20 Desember 1927 di zaman Hindia Belanda lho!
Desa dan masyarakat Minahasa memiliki hubungan sosial yang tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan saling membantu dan menjaga kebersamaan. Salah satunya tergambar dalam tulisan Rasa Tou Minahasa yang Tak Pernah Padam.
Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada alam, keberadaan lingkungan yang terjaga memiliki arti penting. Hal itu juga terlihat dalam kisah para petani menghadapi musim kemarau panjang, seperti ada dalam tulisan blog Kekeringan di Tanah Kami.
Menurut catatan, madu hutan berasal dari kandungan zat alkaloid yang cukup tinggi. Zat ini berfungsi sebagai anti infeksi.
Madu hutan juga diketahui sebagai antioksidan yang mampu mengurangi stres oksidatif dalam tubuh dengan membersihkan radikal bebas. Stres oksidatif dengan berbagai kondisi kesehatan kronis termasuk banyak jenis kanker.
Madu hutan tidak berwarna alias bening dan tidak keruh.
Ternyata madu hutan juga mengandung fitokimia, flavonoid dan asam askorbat.
Bahan-bahan tersebut mampu untuk menjaga stamina, kekebalan tubuh, menyehatkan kulit, perbaiki kolesterol, turunkan tekanan darah tinggi, menyembuhkan luka dan meredakan batuk pilek.
Memang hidup terus berlanjut dan Om Roni Dumais tetap menjajakan madu hutan asal Desa Kaleosan, wilayah Kecamatan Lembean Timur, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Di Minahasa, saya pernah bertemu pula dengan Pak Eddy Kaen, lelaki berusia 71 tahun yang masih berkeliling menjual kacang Kawangkoan dengan sepeda motor tuanya. Cerita tentang dirinya saya tuliskan dalam Pak Eddy dan Cerita Panjang Kacang dari Kawangkoan.
Hari mulai meninggi. Dan akhirnya saya pun berpisah dengan Om Roni Dumais.









