Langsung ke konten

Ketika Tomohon Masih Kemarau, Sudahkah Kita Bersiap Menghadapi Musim Hujan?

Ilustrasi infografis bertema kesiapsiagaan menghadapi musim hujan di Tomohon. Gambar ini terdiri dari beberapa panel: adegan diskusi empat pria di jalanan kota berlatar Gunung Lokon; panel kecil di kanan atas menunjukkan ilustrasi banjir dan tanah longsor; panel kiri bawah memperlihatkan petugas kebersihan sedang membersihkan saluran air; serta teks ajakan bertuliskan "Ketika Tomohon Masih Kemarau, Sudahkah Kita Bersiap Menghadapi Musim Hujan?" dan "Tomohon Bersiap, Lebih Aman".
Gambar ilustrasi bagaimana kesiapsiagaan menghadapi musim hujan, kendati sekarang masih musim kemarau di Kota Tomohon. (Sumber: Gambar dibuat berkolaborasi dengan teknologi AI)

Di bawah trotoar pusat Kota Tomohon, saluran air menunggu dibersihkan. Musim kemarau seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk mengerjakannya, sebelum hujan datang dan warga kembali dibuat khawatir oleh banjir serta tanah longsor.

Pusat Kota Tomohon tidak terlalu ramai pada Selasa, 20 Oktober 2026. Sejumlah toko dan rumah makan terlihat lebih sepi dari biasanya. Kendaraan masih melintas, orang-orang tetap menjalankan urusan mereka, tetapi suasananya terasa agak lengang.

Saya sedang berbincang dengan Herman, seorang sahabat, ketika perhatian kami tertuju pada keadaan kota.

“Terlihat sepi. Mungkin karena warga dalam kesulitan ekonomi. Zaman ini memang sulit untuk mendapatkan rupiah,” kata Herman.

Saya mendengarkan. Apa yang dikatakan Herman mungkin ada benarnya. Namun, dari suasana kota yang sepi saja, tentu kami tidak bisa menyimpulkan keadaan ekonomi seluruh warga Tomohon.

Percakapan kami kemudian beralih ke hal lain. Sesuatu yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri, bahkan tepat di bawah kaki orang-orang yang berjalan melewati pusat kota. Tentang bagaimana pejalan kaki dapat dibaca pada tulisan sebelumnya Di Kota Bunga ke Mana Kaki Kita Harus Berjalan?

Saluran air.

“Di musim kemarau ini sudah seharusnya pemerintah melalui instansi terkait membersihkan saluran-saluran air yang ada,” kata Adyn, yang ikut dalam perbincangan.

“Benar,” jawab saya singkat.

Adyn kemudian menunjuk ke arah trotoar.

Di sejumlah ruas jalan pusat Kota Tomohon, saluran drainase memang berada di bawah trotoar. Tidak semuanya terlihat dari permukaan jalan. Orang yang melintas mungkin tidak terlalu memikirkan apa yang ada di bawah tempat mereka berpijak.

Pada beberapa titik, terdapat bagian penutup yang bisa diangkat. Akses itu memungkinkan petugas masuk untuk memeriksa atau membersihkan saluran air.

“Itu kan bisa diangkat, jika memang drainasenya akan dibersihkan,” kata Adyn sambil menunjuk sepanjang trotoar.

Saya mengikuti arah tangannya.

Saluran-saluran itu memiliki fungsi penting. Air hujan yang turun ke jalan seharusnya mengalir melaluinya, kemudian diteruskan ke saluran pembuangan yang lebih besar.

Tetapi bagaimana jika di dalamnya sudah menumpuk lumpur, pasir, sampah, atau material lain yang menghambat aliran air?

Pertanyaan itu membawa percakapan kami semakin jauh.

“Jika akan membersihkan saluran air di bawah ini, memang cukup berisiko. Karena mungkin di dalamnya banyak ular,” kata Adyn.

Ia kemudian bercerita tentang ular yang pernah ditemukan di dalam toko.

“Ular-ular ini sering mengikuti pembuangan air dan masuk ke dalam toko. Dulu sudah berapa kali kejadian ada ular yang didapati dalam toko.”

Cerita Adyn mengingatkan bahwa pekerjaan membersihkan drainase tidak sesederhana membuka penutup trotoar lalu mengangkat sampah.

Saluran tertutup bisa menjadi tempat tikus atau ular berlindung. Di dalamnya mungkin pula terdapat lumpur tebal, benda tajam, dan gas berbahaya. Petugas yang bekerja tentu membutuhkan perlengkapan keselamatan serta prosedur yang memadai.

Namun, risiko pekerjaan itu bukan alasan untuk membiarkan saluran air tanpa pemeriksaan. Justru ketika hujan belum turun deras, pekerjaan tersebut lebih memungkinkan untuk direncanakan dan dilakukan dengan baik.

Mengapa harus menunggu hujan?

“Musim kemarau, saatnya membersihkan saluran-saluran air. Jangan nanti sudah musim penghujan baru kemudian seakan-akan akan berupaya membersihkan,” timpal Johny.

Rupanya ia mendengarkan percakapan kami sejak tadi.

Apa yang dikatakan Johny terdengar sederhana. Tidak perlu menjadi ahli tata kota untuk memahami maksudnya.

Ketika hujan deras datang, petugas akan lebih sulit bekerja di dalam saluran yang sudah dipenuhi air. Sampah dan sedimen yang selama berbulan-bulan dibiarkan menumpuk bisa terbawa arus, lalu tersangkut di bagian saluran yang lebih sempit.

Air yang seharusnya mengalir akhirnya meluap ke jalan.

Di beberapa tempat, air mungkin hanya menggenang sebentar. Tetapi bagi pemilik toko, pedagang, pengendara, atau warga yang rumahnya berada di lokasi rendah, genangan tetap bisa mengganggu aktivitas.

Apalagi jika air masuk ke bangunan.

Johny tampaknya memiliki kegelisahan lain.

Ia menyinggung kebiasaan sebagian pejabat atau pihak terkait yang baru ramai mengingatkan warga tentang kebersihan saluran air ketika hujan mulai menimbulkan masalah.

“Lihat saja waktu hujan beberapa waktu lalu, ada saja orang berbaju pemerintah yang langsung meminta warga untuk waspada banjir, dan menyerukan segera membersihkan saluran-saluran air.”

Saya memahami arah pembicaraannya.

Setiap kali terjadi hujan deras, imbauan agar masyarakat waspada memang penting. Begitu pula kunjungan pejabat ke lokasi bencana. Kehadiran pemerintah dibutuhkan, terutama ketika warga memerlukan pertolongan.

Tetapi ada perbedaan antara menangani keadaan darurat dan mencegah keadaan itu terjadi.

Membersihkan drainase ketika air sudah meluap tentu berbeda dengan membersihkannya ketika cuaca masih memungkinkan.

Johny melanjutkan kritiknya.

“Itu hanya pencitraan saja agar terlihat kerja. Padahal sama sekali tidak ada prestasi atau kepedulian kepada warga.”

Saya tidak ingin terburu-buru membenarkan tuduhan itu. Untuk menilai pekerjaan pemerintah, kita perlu mengetahui apa yang telah dikerjakan, berapa banyak saluran yang dibersihkan, serta bagaimana pemeliharaannya dilakukan.

Namun, satu pertanyaan dari percakapan kami patut diajukan.

Mengapa urusan saluran air sering baru menjadi perhatian besar ketika hujan sudah menimbulkan masalah?

Di bawah trotoar, ada pekerjaan yang jarang terlihat

Membersihkan saluran air bukan pekerjaan yang menarik perhatian banyak orang.

Tidak ada bangunan baru yang bisa diresmikan. Tidak ada jalan yang tampak lebih lebar. Hasilnya pun sering tidak terlihat, terutama jika saluran itu tertutup trotoar.

Orang mungkin hanya melihat beberapa petugas mengangkat penutup drainase, mengeluarkan lumpur, lalu mengangkut sampah yang terkumpul.

Setelah pekerjaan selesai, penutup dipasang kembali.

Besoknya, orang-orang kembali berjalan di atas trotoar yang sama.

Tidak banyak yang membicarakannya.

Padahal pekerjaan semacam itulah yang diperlukan agar saluran air tetap berfungsi.

Drainase yang baik bukan hanya soal seberapa besar saluran dibangun. Saluran yang lebar sekalipun bisa kehilangan kemampuannya menampung air jika dipenuhi sedimen dan sampah.

Karena itu, pemeliharaan seharusnya menjadi pekerjaan rutin, bukan sekadar kegiatan menjelang atau sesudah musim hujan.

Di pusat Kota Tomohon, akses drainase yang sudah tersedia pada beberapa bagian trotoar semestinya memudahkan pemeriksaan.

Tinggal bagaimana pekerjaan itu dijadwalkan, dilaksanakan, dan diawasi.

Warga juga berhak mengetahui kapan saluran-saluran tersebut terakhir dibersihkan dan apakah ada titik yang memerlukan perbaikan.

Pertanyaan semacam itu bukan sesuatu yang berlebihan. Saluran air merupakan bagian dari fasilitas kota yang digunakan untuk kepentingan bersama.

Ingatan tentang air yang datang tanpa diduga

Pembicaraan tentang banjir membawa ingatan saya pada peristiwa di Kakaskasen Dua, Tomohon Utara, pada Mei 2025.

Saat itu, air meluap dan merendam rumah serta lahan pertanian warga di sejumlah lingkungan.

Peristiwa tersebut dikaitkan dengan jebolnya tanggul danau buatan.

Bagi warga yang terdampak, persoalannya tentu bukan sekadar berapa tinggi air yang masuk ke halaman atau rumah.

Ada barang-barang yang harus diselamatkan. Ada pekerjaan yang terganggu. Ada lahan pertanian yang terendam dan mungkin membutuhkan waktu untuk kembali diolah.

Peristiwa itu juga mengingatkan bahwa banjir tidak selalu berasal dari hujan yang turun tepat di atas rumah kita.

Air bisa datang dari tempat lain, melalui saluran, aliran permukaan, sungai, atau tampungan air yang tidak mampu menahan volumenya.

Karena itu, membersihkan drainase kota saja tidak cukup untuk mengatasi seluruh ancaman banjir.

Kondisi tanggul, kolam, saluran penghubung, dan daerah tangkapan air juga perlu diperhatikan.

Setiap lokasi memiliki persoalannya sendiri.

Namun, ada satu hal yang sama: pemeriksaan dan pemeliharaan jauh lebih masuk akal dilakukan sebelum terjadi kerusakan.

Tinoor dan ingatan yang belum hilang

Jika banjir menjadi salah satu kekhawatiran ketika hujan datang, tanah longsor merupakan ancaman lain yang tidak boleh diabaikan di Tomohon.

Kota ini berada di kawasan berbukit. Sejumlah jalan melintasi lereng dengan kemiringan cukup tajam. Salah satu yang paling dikenal adalah jalur Manado-Tomohon melalui Tinoor.

Bagi warga yang sering melintas, jalan tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada orang yang berangkat bekerja ke Manado. Ada pedagang yang membawa barang dagangan. Ada pelajar, pegawai, pengemudi angkutan, dan keluarga yang bepergian dari satu kota ke kota lainnya.

Jalan itu bukan hanya penghubung dua wilayah. Banyak orang menggantungkan aktivitas mereka pada kelancaran jalur tersebut.

Namun, Tinoor juga menyimpan ingatan tentang bencana. Pada 2014, longsor besar terjadi di kawasan Tambulinas. Material tanah dan batu menimbun kendaraan serta bangunan di sekitar lokasi. Korban jiwa berjatuhan.

Peristiwa itu menjadi salah satu tragedi yang dikenang warga ketika membicarakan bahaya longsor di jalur Manado-Tomohon.

Saya membayangkan orang-orang yang pada hari itu hanya ingin sampai ke tempat tujuan. Mereka mungkin berangkat dengan urusan biasa, sebagaimana ribuan orang lainnya yang setiap hari melewati jalan tersebut.

Tidak seorang pun berangkat dengan keinginan menjadi korban bencana. Itulah sebabnya pembicaraan tentang tanah longsor tidak boleh berhenti pada angka kejadian, panjang jalan yang tertutup, atau banyaknya material yang harus disingkirkan.

Di balik setiap peristiwa, ada kehidupan manusia yang berubah. Dan bagi keluarga yang kehilangan orang terdekat, sebuah bencana tidak selesai hanya karena jalan sudah dibuka kembali.

Apa hubungan kemarau dengan tanah longsor?

Mungkin ada yang bertanya, mengapa tanah longsor justru dibicarakan ketika Tomohon sedang mengalami musim kemarau?

Bukankah longsor biasanya terjadi saat hujan deras?

Pertanyaan itu wajar.

Hujan memang merupakan salah satu pemicu utama tanah longsor. Ketika air meresap ke dalam tanah, tekanan air di dalam pori-pori tanah dapat meningkat dan mengurangi kekuatan lereng untuk menahan bebannya sendiri.

Namun, keadaan lereng sebelum hujan turun juga berpengaruh.

Pada jenis tanah tertentu, periode kering yang panjang dapat menyebabkan penyusutan dan pembentukan retakan. Ketika hujan datang, retakan tersebut bisa menjadi jalur masuknya air ke bagian tanah yang lebih dalam.

Meski begitu, tidak semua tanah yang mengering akan mengalami longsor.

Risikonya bergantung pada banyak hal, termasuk jenis tanah, kemiringan lereng, kondisi batuan, tutupan vegetasi, perubahan penggunaan lahan, dan intensitas hujan.

Di daerah berbukit seperti Tomohon, persoalan ini perlu mendapat perhatian.

Saluran air di sekitar lereng juga memiliki peran penting.

Jika saluran tersumbat, rusak, atau mengarahkan air ke tempat yang tidak semestinya, aliran air dapat mengikis tanah dan memperburuk kondisi lereng tertentu.

Karena itu, pemeriksaan drainase jalan, saluran di atas lereng, serta titik-titik yang menunjukkan tanda pergerakan tanah merupakan bagian dari upaya mengurangi risiko.

Tentu saja, membersihkan saluran air tidak otomatis membuat seluruh lereng aman dari longsor.

Ada lokasi yang membutuhkan penanganan teknis lebih jauh, seperti perbaikan sistem pembuangan air, penguatan lereng, atau pembatasan aktivitas pada kawasan berisiko tinggi.

Tetapi membiarkan saluran air rusak atau tersumbat jelas bukan pilihan yang baik.

Jangan hanya meminta warga membersihkan selokan

Percakapan kami di pusat Kota Tomohon akhirnya kembali pada persoalan tanggung jawab.

Setiap kali musim hujan mendekat, masyarakat biasanya diminta membersihkan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, dan memperhatikan saluran air di sekitar rumah.

Imbauan seperti itu tentu masuk akal.

Warga memang memiliki tanggung jawab menjaga kebersihan lingkungannya.

Tetapi tidak semua saluran air bisa dibersihkan oleh warga.

Bagaimana dengan drainase besar yang berada di bawah trotoar? Bagaimana dengan gorong-gorong di bawah jalan raya? Bagaimana dengan sungai yang sudah tertutup karena sudah berada di bawah bangunan pertokoan? Bagaimana dengan saluran yang membutuhkan petugas terlatih dan perlengkapan khusus?

Pekerjaan semacam itu memerlukan keterlibatan pemerintah dan instansi yang memiliki kewenangan.

Tidak adil jika tanggung jawab pemeliharaan seluruh saluran air hanya dibebankan kepada masyarakat.

Sebaliknya, pemerintah juga tidak mungkin menjaga setiap saluran tetap bersih jika masih ada orang yang menjadikannya tempat membuang sampah.

Keduanya memiliki peran, tetapi peran itu tidak sama.

Pemerintah bertanggung jawab terhadap pengelolaan dan pemeliharaan infrastruktur sesuai kewenangannya. Masyarakat menjaga lingkungan serta melaporkan kerusakan atau penyumbatan yang ditemukan.

Yang dibutuhkan bukan hanya imbauan, melainkan pekerjaan nyata dan berkelanjutan. Misalnya, pemeriksaan saluran di pusat kota, pembersihan sedimen pada titik yang sering tergenang, pengecekan gorong-gorong, dan penanganan saluran air di sekitar lereng rawan longsor.

Hasil pemeriksaan itu juga sebaiknya terbuka untuk diketahui warga. Dengan begitu, masyarakat dapat melihat apa yang sudah dilakukan dan apa yang masih perlu dikerjakan.

Sebelum hujan benar-benar datang

Hari itu, percakapan kami tidak hanya melibatkan Willem, Adyn, dan Johny. Ada pula orang lain yang mendekat ketika kami berbicara sambil beberapa kali menunjuk ke arah trotoar dan jalan.

Mungkin mereka penasaran.

Mungkin juga mereka memiliki pengalaman sendiri tentang air yang menggenang, selokan yang tersumbat, atau jalan yang sulit dilalui ketika hujan deras.

Saya tidak sempat menanyakan semuanya. Namun, dari percakapan sederhana di pusat kota itu, ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya.

Tomohon tidak harus menunggu hujan deras untuk mulai memikirkan banjir. Tidak perlu pula menunggu tanah bergerak dan menutup jalan untuk kembali membicarakan bahaya longsor. Tomohon menjadi kota otonom karena sebagaimana tulisan sebelumnya Kota yang Pernah Diperjuangkan Kota yang Kini Harus Membuktikan Diri.

Musim kemarau memberi kesempatan untuk memeriksa keadaan, menemukan kerusakan, membersihkan saluran yang tersumbat, dan memperbaiki bagian yang memerlukan penanganan.

Pekerjaan itu mungkin tidak banyak dilihat orang. Tidak selalu menghasilkan foto yang menarik untuk dipublikasikan. Bahkan mungkin tidak akan dibicarakan warga jika semuanya berjalan baik.

Tetapi bukankah memang begitu seharusnya pekerjaan pencegahan?

Orang bisa berangkat ke tempat kerja tanpa khawatir jalan terendam. Pedagang bisa membuka tokonya. Warga dapat beristirahat di rumah ketika hujan turun, tanpa harus berkali-kali keluar memeriksa apakah air sudah masuk ke halaman.

Tidak semua bencana bisa dicegah. Namun, risiko dan dampaknya dapat dikurangi jika pekerjaan dilakukan sebelum keadaan memburuk.

Saya kembali memperhatikan trotoar yang tadi ditunjuk Adyn. Di bawahnya terdapat saluran air yang keberadaannya mungkin jarang dipikirkan orang selama cuaca cerah.

Ketika hujan deras datang, barulah kita mengetahui apakah saluran itu masih berfungsi sebagaimana mestinya.

Dan saat itu tiba, seharusnya kita tidak lagi sibuk bertanya mengapa saluran air belum dibersihkan.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Bagikan Artikel Ini

Foto Donny Turang

Donny Turang

Wartawan Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Tentang Penulis β†’

Pilihan Redaksi

← Kembali ke Beranda