Langsung ke konten

Cerita tidak pernah habis. Ia hanya berpindah dari satu orang ke orang lain — dan di setiap tangan, ia tumbuh sedikit berbeda.

Walter Benjamin Terinspirasi dari "The Storyteller", 1936

Ketika Nama Ditulis, Sebuah Pelayanan Dimulai

Suasana penghitungan suara pemilihan penatua dan diaken di Kolom 8 Jemaat GMIM Bait El Kamasi, Tomohon, Jumat, 16 Oktober 2026. Panitia mencatat hasil suara di hadapan anggota sidi jemaat.
Panitia mencatat perolehan suara dalam pemilihan Pelayan Khusus Kolom 8 Jemaat GMIM Bait El Kamasi, Wilayah Tomohon Sentrum, Jumat 16 Oktober 2026. Di tengah suasana akrab dan penuh kekeluargaan, anggota sidi jemaat menentukan penatua dan diaken untuk periode pelayanan 2027–2031. (Foto: Dokumentasi CERITA DORANG)

Di sebuah kolom jemaat di Tomohon, orang-orang berkumpul, bersenda gurau, beribadah, lalu menuliskan satu nama di atas surat suara. Peristiwa sederhana itu menjadi bagian dari hajatan besar Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Di balik pemilihan ribuan penatua dan diaken, tersimpan cerita tentang kepercayaan, kebersamaan, dan kesediaan melayani.

Ada keseriusan dan suasana kebersamaan, bahkan gurauan yang tiba-tiba terdengar di tengah pemilihan pelayan khusus sebuah kolom jemaat GMIM di Tomohon, Jumat sore, 16 Oktober 2026.

“Eh, jang tulis nama sandiri neh.”

Yang mengucapkannya seorang anggota sidi jemaat yang masih muda. Gurauan itu muncul ketika warga sedang bergiliran menuliskan nama orang yang akan mereka pilih menjadi diaken dan penatua.

Di tengah acara yang memiliki tata gereja dan tata tertib dan makna penting bagi kehidupan gereja, kalimat sederhana itu menghadirkan suasana akrab. Orang-orang yang berkumpul bukanlah orang asing. Mereka adalah sesama anggota jemaat, orang-orang yang saling mengenal dan menjalani kehidupan bergereja bersama.

Sore itu, mereka datang dengan satu tujuan: memilih siapa yang akan menjadi penatua dan diaken di kolom mereka.

Tidak ada bilik suara seperti dalam pemilihan umum—pilkada, pilpres, pileg. Tidak ada pula panggung kampanye yang megah. Yang ada hanyalah pertemuan warga jemaat, surat suara, kotak suara, panitia, dan nama-nama yang kelak dipercaya mengemban tanggung jawab pelayanan.

Namun, jangan menganggap peristiwa ini kecil.

Pada hari yang sama, ribuan kolom Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) menggelar pemilihan serupa. Dari berbagai tempat di tanah Minahasa, Manado, hingga Bitung, anggota jemaat berkumpul untuk menentukan orang-orang yang akan melayani mereka.

Sebuah keputusan yang mungkin hanya memerlukan beberapa goresan pena, tetapi tanggung jawabnya akan berlangsung jauh lebih lama.

Percakapan Sebelum Hari Pemilihan

Beberapa hari menjelang Jumat, 16 Oktober 2026, ada sesuatu yang terasa berbeda dalam percakapan warga di sejumlah tempat di tanah Minahasa Raya.

Orang-orang berkumpul dan berbincang. Di antara berbagai urusan sehari-hari, terselip pembicaraan mengenai pemilihan pelayan khusus.

Siapa yang akan menjadi penatua? Siapa yang akan terpilih sebagai diaken? Siapa yang bersedia menerima tanggung jawab itu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari percakapan menjelang pemilihan.

Dalam kehidupan jemaat GMIM, penatua dan diaken bukanlah sosok yang jauh dari keseharian warga. Mereka adalah bagian dari persekutuan itu sendiri. Orang yang dikenal, disapa, dan ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itulah pemilihan pelayan khusus memiliki kedekatan yang berbeda dengan pemilihan jabatan pada umumnya.

Orang-orang tidak sedang memilih seseorang yang hanya akan mereka kenal melalui nama dan foto. Mereka memilih dari tengah lingkungan persekutuan mereka sendiri.

Di setiap kolom, Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ) telah mempersiapkan panitia. Undangan dibagikan kepada anggota sidi jemaat yang memiliki hak memilih.

Setiap undangan menjadi pengingat bahwa pada Jumat sore, mereka diharapkan hadir.

Bukan sekadar untuk memberikan suara, melainkan juga mengambil bagian dalam menentukan arah pelayanan di lingkungan jemaat mereka.

Jumat sore itu, rumah dan halaman rumah warga yang menjadi lokasi pemilihan mulai ramai.

Satu demi satu anggota sidi jemaat berdatangan. Ada yang masih muda, ada pula yang telah lanjut usia.

Mereka datang ke tempat pemilihan masing-masing, menyerahkan undangan kepada panitia, lalu mengisi daftar hadir.

Di Kolom 8 Jemaat GMIM Bait El, Kamasi, Wilayah Tomohon Sentrum, proses yang sama berlangsung.

Namun, pemilihan tidak serta-merta dimulai ketika sejumlah warga telah berkumpul.

Ada ketentuan yang harus dipenuhi.

“Kita tunggu sampai kuorum baru ibadah pemilihan pelayan khusus dimulai,” kata Deity Kilis, Panitia Pemilihan Pelayan Khusus Kolom 8.

Maka, orang-orang menunggu.

Dalam penantian itu, suasana tidak menjadi kaku. Mereka saling menyapa, bercakap-cakap, dan sesekali bersenda gurau.

Yang muda dan yang lanjut usia berada dalam satu pertemuan. Tidak ada pemisahan generasi dalam hak untuk hadir dan menentukan pilihan.

Di sela percakapan, panitia sesekali menyampaikan pengumuman. Tata cara pemilihan kembali dijelaskan agar setiap anggota jemaat memahami proses yang akan dijalani.

Menunggu kuorum mungkin terdengar seperti urusan administratif.

Tetapi dalam sebuah persekutuan, kehadiran memiliki makna tersendiri.

Setiap orang yang datang bukan hanya menambah angka dalam daftar hadir. Kehadirannya juga menjadi bagian dari keputusan bersama.

Dan sore itu, keputusan bersama tersebut tidak boleh diambil sebelum jumlah kehadiran memenuhi ketentuan.

Ketika Ibadah Mengawali Pilihan

Setelah penantian yang cukup lama, jumlah kehadiran akhirnya memenuhi kuorum.

Pemilihan pun dapat dimulai.

Namun, sebelum nama-nama dituliskan di atas surat suara, warga jemaat terlebih dahulu mengikuti ibadah.

Seorang penatua memimpin ibadah tersebut. Di dalam rangkaian ibadah, pemimpin kemudian menyatakan bahwa pemilihan dapat segera dilaksanakan.

Inilah salah satu hal yang membedakan pemilihan pelayan khusus dari proses pemungutan suara pada umumnya.

Di sini, memilih bukan sekadar menentukan siapa yang memperoleh suara terbanyak. Prosesnya berada dalam kehidupan peribadatan jemaat.

Ada kesadaran bahwa jabatan yang dipilih bukan semata-mata kedudukan, melainkan tanggung jawab pelayanan.

Sesudah panitia membacakan daftar kehadiran dan menyatakan kuorum terpenuhi, pemilihan diaken dimulai.

Nama anggota sidi jemaat dipanggil satu demi satu berdasarkan daftar hadir.

Mereka menerima surat suara, menuliskan satu nama, kemudian memasukkannya ke dalam kotak suara.

Sederhana.

Tetapi setiap nama yang ditulis mengandung pilihan.

Di antara orang-orang yang telah lama saling mengenal, seseorang harus memutuskan siapa yang dianggap layak menerima kepercayaan itu.

Dan tidak semua pilihan harus diucapkan dengan lantang.

Cukup ditulis.

Satu nama.

Lalu diserahkan kepada proses bersama.

Nama-Nama yang Mulai Dihitung

Ketika seluruh anggota jemaat selesai memberikan suara untuk pemilihan diaken, kotak suara dibuka.

Surat suara dikeluarkan dan dibacakan satu demi satu.

Sementara nama-nama disebutkan, seorang panitia mencatat perolehan suara pada kertas yang dipajang di dinding.

Proses penghitungan berlangsung terbuka. Warga yang hadir dapat menyaksikan bagaimana setiap suara dihitung dan bagaimana jumlahnya bertambah.

Ada ketentuan yang harus dipenuhi sebelum seseorang dinyatakan terpilih.

“Jika belum mencapai setengah tambah satu pemilihan akan diulang dengan mengambil tiga calon yang mendapat teratas. Jika belum akan diambil dua calon suara teratas,” jelas Deity.

Dengan mekanisme tersebut, perolehan suara menjadi penentu apakah pemilihan dapat selesai dalam satu putaran atau harus dilanjutkan.

Di Kolom 8 GMIM Bait El Kamasi, hasilnya segera diketahui.

Pemilihan diaken cukup berlangsung satu putaran.

Salah satu nama langsung memperoleh dukungan yang memenuhi ketentuan mayoritas suara.

Tidak diperlukan pemungutan suara ulang.

Sesudah itu, pemilihan berlanjut untuk menentukan penatua.

Prosesnya serupa. Anggota jemaat kembali memberikan pilihan, suara dihitung, dan hasilnya diumumkan.

Kali ini pun pemilihan selesai dalam satu putaran.

Dua jabatan pelayanan telah memperoleh orang yang dipercaya untuk mengembannya.

Penatua dan diaken terpilih kemudian menandatangani berita acara.

Setelah seluruh tahapan pemilihan selesai, ibadah dilanjutkan.

Sebuah proses yang sejak awal dibuka dalam suasana peribadatan kembali ditempatkan dalam rangkaian ibadah yang sama.

Di kolom itu, pemilihan telah selesai.

Namun, bagi mereka yang terpilih, perjalanan pelayanan justru memasuki babak baru.

Dari Sebuah Kolom, Melihat Ribuan Persekutuan

Apa yang berlangsung di Jemaat Kolom 8 GMIM Bait El Kamasi hanyalah satu bagian kecil dari peristiwa besar yang terjadi pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Menurut data GMIM menjelang pemilihan, terdapat 11.748 kolom yang dipersiapkan untuk melaksanakan pemilihan pelayan khusus secara serentak.

Data kelembagaan GMIM pada periode ini juga mencatat 151 wilayah dan sekitar 1.089 jemaat.

Angka-angka itu memperlihatkan luasnya persekutuan GMIM yang tersebar di berbagai daerah.

Namun, angka tidak selalu mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya.

Sebab, di balik ribuan kolom terdapat ribuan pertemuan. Ada panitia yang mempersiapkan undangan dan daftar hadir. Ada warga jemaat yang meluangkan waktu untuk datang. Ada orang-orang yang menunggu, berbincang, beribadah, dan menentukan pilihan.

Ada pula nama-nama yang memperoleh kepercayaan dari sesama anggota jemaatnya.

Setiap kolom memiliki suasana dan ceritanya sendiri.

Mungkin prosesnya berlangsung cepat. Mungkin pula ada yang harus menjalani beberapa putaran pemilihan.

Tetapi semuanya dipertemukan oleh satu agenda yang sama: memilih pelayan khusus dalam kehidupan gereja.

Dari satu kolom di Kamasi, kita dapat melihat gambaran yang lebih luas tentang bagaimana sebuah persekutuan mempertahankan tradisi pengambilan keputusan bersama.

Sebuah tradisi yang tidak hanya melibatkan aturan, tetapi juga hubungan antarmanusia.

Jabatan yang Datang Bersama Tanggung Jawab

Menjadi penatua atau diaken tentu bukan sekadar memperoleh pengakuan dari orang-orang yang memilih.

Ada pekerjaan pelayanan yang menanti.

Di lingkungan GMIM, penatua dan diaken mengambil bagian dalam kehidupan persekutuan, kesaksian, dan pelayanan jemaat sesuai tanggung jawab masing-masing.

Mereka akan berhadapan dengan kehidupan nyata warga jemaat, bukan hanya dengan agenda rapat atau kegiatan ibadah.

Ada keluarga yang membutuhkan perhatian. Ada anggota jemaat yang menghadapi kesulitan. Ada kehidupan persekutuan yang harus terus dipelihara.

Pelayanan tidak selalu berlangsung di hadapan banyak orang.

Sering kali, justru kesediaan hadir dan mendengarkan menjadi bagian penting dari tanggung jawab itu.

Karena itu, kepercayaan yang diberikan melalui surat suara bukanlah akhir dari sebuah proses.

Ia adalah awal dari kewajiban moral untuk menjawab kepercayaan tersebut.

Orang dapat terpilih karena memperoleh dukungan suara. Tetapi kepercayaan yang lebih dalam hanya dapat dipelihara melalui sikap dan tindakan selama menjalankan pelayanan.

Di sinilah makna pemilihan melampaui urusan siapa yang menang dan siapa yang tidak.

Yang terpilih memperoleh tanggung jawab.

Yang memilih pun tetap menjadi bagian dari persekutuan yang sama.

Sesudah pemilihan, mereka masih akan saling bertemu, saling menyapa, dan menjalani kehidupan bergereja bersama.

Sebab, dalam kehidupan sebuah kolom, hubungan antarmanusia tidak berakhir ketika hasil pemilihan diumumkan.

Perjalanan yang Belum Selesai

Pemilihan penatua dan diaken kolom pada Jumat itu juga bukan penutup seluruh rangkaian pemilihan pelayan khusus GMIM.

Tahapan berikutnya dijadwalkan berlangsung Minggu, 18 Oktober 2026, melalui pemilihan penatua pelayanan kategorial BIPRA: Bapak, Ibu, Pemuda, Remaja, dan Anak Sekolah Minggu.

Rangkaian ini merupakan bagian dari proses penataan pelayanan gereja yang dilaksanakan berdasarkan tahapan dan pedoman yang ditetapkan dalam lingkungan Sinode GMIM.

Namun, di luar seluruh ketentuan organisasi, ada satu hal yang tetap menjadi inti dari setiap pemilihan.

Kesediaan manusia untuk melayani manusia lainnya.

Jumat sore di Kamasi memberikan gambaran sederhana mengenai hal itu.

Orang-orang datang membawa undangan. Mereka menyerahkan daftar hadir, menunggu kuorum, mengikuti ibadah, lalu menuliskan nama di atas surat suara.

Ada gurauan yang membuat suasana akrab. Ada panitia yang memastikan setiap tahapan berjalan sesuai aturan. Ada nama-nama yang dihitung hingga akhirnya dua orang memperoleh kepercayaan sebagai diaken dan penatua.

Lalu berita acara ditandatangani.

Pemilihan selesai.

Tetapi sesungguhnya, bagian terpenting dari cerita ini belum terjadi.

Bagian itu baru akan terlihat dalam hari-hari mendatang: ketika orang-orang yang terpilih mulai menjalankan tanggung jawabnya, ketika kepercayaan diuji oleh kesediaan melayani, dan ketika jabatan harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Sebab, menuliskan sebuah nama di atas surat suara hanya membutuhkan waktu sebentar.

Menjadi seseorang yang layak dipercaya melalui nama itu adalah pekerjaan yang jauh lebih panjang.

Bagikan Artikel Ini

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Tentang Penulis →

Pilihan Redaksi

← Kembali ke Beranda