Langsung ke konten

Ketika Media Sibuk Bergunjing, Siapa yang Memberi Harapan?

Aristides Katoppo mengenakan kemeja batik menyerahkan sepiring makanan kepada Norman Meoko, pria berkacamatA, saat ulang tahun Harian Sinar Harapan beberapa waktu lalu.
Penulis dan Pak Aristides Katoppo saat ulang tahun Harian Sinar Harapan beberapa tahun lalu. (Foto: Koleksi Pribadi Norman Meoko)

Di tengah banjir informasi, media sosial bergerak lebih cepat daripada ruang redaksi. Pergunjingan menjadi konsumsi publik, sementara media arus utama ikut berebut perhatian. Namun, di tengah kegaduhan itu, saya teringat pesan Aristides Katoppo, tokoh pers yang pernah saya kenal di Harian Sinar Harapan: bahkan dalam berita yang paling muram sekalipun, seorang jurnalis seharusnya tetap mampu menghadirkan harapan.

Di tengah era banjir informasi seperti sekarang ini. Konten di media sosial datang silih berganti dengan bejibun perguncingan. Tidak heran dalam zaman informasionalisme gunjing diakui atau tidak sudah memasuki ke level tingkat tinggi. Bahkan, sudah mampu mengalahkan kecepatan media arus utama. Media arus utama akhirnya hanya tertatih-tatih tanpa tahu mau berbuat apa.

Deadline tidak lagi menjadi ukuran sebuah informasi. Di tangan jari-jari lentik yang menari-nari di atas smartphone, segala perguncingan apapun jenisnya telah menjadi konsumsi publik ketika diunggah di media sosial. Entah melalui Facebook, Instagram, Youtube atau jenis media sosial lainnya.

Media sosial telah menjadi sarana untuk berkeluh kesah dan luapan kegembiraan—yang paling parah—menebar hoaks dan menjadi alat politik untuk kepentingan diri sendiri, kelompok atau apapun itu namanya. Jika pembaca tidak mempunyai literasi media yang baik maka sulit dibayangkan apa yang terjadi. Konten ditelan mentah-mentah tanpa dicek dulu kebenarannya.

Media sosial telah menjadi medium berceloteh, bergunjing meski sekaligus juga menjadi garis depan revolusi teknologi informasi yakni “berita rakyat untuk rakyat, rakyat untuk pemimpin, pemimpin untuk rakyat, dan pemimpin untuk pemimpin”, di mana pun dan kapan pun.

Dalam konteks ini maka berita yang diagung-agungkan di media arus utama menjadi tidak mempunyai arti lagi. Tak jarang berita tidak lebih dari big talk on small things maka gunjing dalam media sosial sangat sering menjadi small talks on big things.

Ketika saya bekerja di Harian Sinar Harapan beruntung saya berjumpa dengan sosok bernama Aristides Katoppo. Siapa yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini apalagi bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia wartawan.

Ada satu hal yang selalu saya ingat dari tokoh pers yang satu ini. Dalam setiap rapat redaksi, Pak Tides—sapaan kami kepada Aristides Katoppo—selalu menekankan sebuah harapan meski peristiwa atau kejadian yang diliput jurnalis hampir tidak ada fakta yang mengandung harapan.

Begini kata Pak Tides: “Selipkan satu kata atau sejumlah kalimat yang memberi harapan dalam berita yang kamu tulis dan laporkan kepada masyarakat.”

Bagi saya filosofi itu sederhana tetapi maknanya sangat dalam apalagi di tengah era bejibun informasi seperti sekarang ini. Ketika pembaca tidak tahu lagi mana fakta yang sesungguhnya fakta; mana fakta yang sudah dikemas menjadi hoaks.

Ibarat sebuah pasar, pelbagai informasi berseliweran di ruang publik. Masyarakat akhirnya linglung dan seakan tidak berdaya dengan gempuran informasi yang bertubi-tubi itu.

Memberi harapan kepada pembaca bagi saya adalah penting. Saya ambil contoh ketika berita mengenai wabah Covid-19 beberapa tahun silam yang datang silih berganti dan maaf saja: media lebih menyukai berita mengenai pandemi tersebut dari sisi genit, kadang dibumbui dramatis yang bukan tidak mungkin akan menimbulkan kengerian bagi pembaca.

Apalagi laporan beritanya dilengkapi dengan foto-foto mengenai peti jenazah pasien Covid-19 ditambah lubang-lubang makam yang ibarat deret ukur yang seperti tidak ada ujungnya. Tayangan stasiun televisi lebih memperburuk. Visual yang dramatis menjadi sesuatu yang berbahaya.

Dalam komunikasi ada yang disebut sebagai terpaan media. Informasi yang berulang-ulang disampaikan kepada publik lamban laun akan berpengaruh terhadap perilaku pembaca. Cara peliputan media massa dampaknya akan dirasakan oleh para penyintas (survivors) dan keluarganya, masyarakat maupun bagi jurnalis peliput itu sendiri.

Bila peliputan dilakukan dengan tepat sesuai dengan karakterikstik peristiwa tersebut maka hal ini dapat menjadi bagian dari proses pemulihan penyintas. Sebaliknya, bila peliputan dilaksanakan dengan kurang peka maka akan timbul efek-efek negatif seperti trauma ulangan (retraumatisasi) yaitu keadaan di mana korban (pembaca) merasa seperti mengalami kembali kejadian tersebut.

Media dengan motif komunikasi termasuk framing yang berbeda-beda tetap mengejar agar berita diklik banyak pembaca (clikbait) dengan pemakaian kalimat menyeramkan; menakutkan bahkan menyeramkan, akan melahirkan efek-efek negatif yang saya sebut tadi.

Media cenderung menyajikan pemberitaan malah ikut menambah gaduh. Di Indonesia ketika wabah Covid-19 meraja maka media arus utama malah berlomba-lomba menayangkan rekor jumlah kematian akibat pandemi Covid-19 tersebut bahkan dihiasi dengan ilustrasi yang buat bulu kudu merinding.

Persoalan ini juga berkaitan dengan perubahan cara media bekerja di tengah tekanan teknologi digital. Dalam tulisan Pertarungan Terakhir Media Massa di Antara Algoritma dan Tetek Bengeknya, saya pernah membahas bagaimana algoritma dan persaingan mendapatkan perhatian pembaca ikut memengaruhi arah pemberitaan.

Dalam pemberitaan politik tidak kalah ramainya. Bahkan, ada media arus utama yang membuat judul yang isinya mengadu domba antara narasumber satu dengan narasumber satunya lagi. Isu lalu diperdebatan tanpa solusi. Yang terjadi gesekan-gesekan yang melahirkan konflik demi konflik malah dipelihara. Dalam beberapa hal malah pertentangan tersebut menjadi ‘barang dagangan’ yang disuguhkan kepada pembaca.

Seharusnya media arus utama menyajikan fakta harapan di tengah kondisi seperti itu. Sepatutnya media arus utama ikut memberi andil. Ya setidaknya dengan menyebarkan berita atau reportase yang memberi harapan. Sehingga masyarakat terobsesi untuk bangkit dan semangat untuk keluar dari persoalan keseharian yang pusing tujuh keliling. Menawarkan harapan dibalut dengan solusi mungkin sesuatu yang bijaksana.

Memang dibutuhkan sebuah tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Saya tidak menggunakan istilah pers bebas yang bertanggung jawab seperti di masa Orde Baru. Karena apalah artinya sebuah nama kata peribahasa.

Bila di era Soeharto, aspek demokrasi yang diperjuangkan maka di era keterbukaan seperti sekarang ini maka seharusnya diperjuangkan pula idealisme pers perdamaian dan pers harapan.

Idealisme seperti ini bukannya tanpa tantangan. Di tengah mulai terpuruknya media arus utama maka mengimplementasikan pers perdamaian (peace jurnalisme) dan pers harapan itu bukan hal mudah. Karena sekarang ini media ikut terpuruk dengan kegamangan yang terjadi di masyarakat. Media tidak lagi menjadi guide atau penuntun kepada kebenaran walau bukan kebenaran yang sejati.

Sementara itu, media nasional baik cetak dan elektronik malah terjebak dalam kapitalisasi ditambah pemberitaan sebagian besar yang bersifat hiburan yang bahan beritanya di-copy paste dari media sosial sehingga yang terjadi kemudian program infotainment menjadi menu utama masyarakat. Ibarat kata ada kecenderungan media semata-mata untuk hiburan yang celakanya tidak mencerdaskan.

Di tengah kegalauan dan ‘cuaca mendung’ itulah maka perlu ada guyuran pikiran-pikiran jernih dan cerah. Bukannya menggomel, menggerutu, mencari kambing hitam, menyalahkan keadaan dan cuci tangan. Bahkan, menjadi penjilat yang berkuasa agar tetap eksis. Karena itu, media sepatutnya menurunkan konten entah berita, feature, foto atau artikel yang memunculkan perdamaian dan harapan bagi bangsa ini.

Masalahnya lagi-lagi bukan soal tiras atau banyak diklik pembaca tetapi bagaimana kualitas pemberitaan yang menuntun pembaca untuk melihat segala persoalan dengan pikiran jernih dan cerah serta bukan malah mengompori.

Saya juga pernah menulis tentang Jurnalisme Warung Kopi, Asyik-asyik Sedap Nih!, sebuah refleksi tentang pentingnya mendengarkan percakapan masyarakat. Sebab, tidak semua persoalan yang layak diberitakan lahir dari konferensi pers atau pernyataan pejabat. Ada cerita penting yang justru muncul dari percakapan sehari-hari.

Maukah kita melakukan itu atau media arus utama akhirnya tenggelam di tengah perguncingan di media sosial yang semakin hebat.

Catatan Penulis: Artikel ini merupakan opini dan refleksi pribadi penulis mengenai praktik jurnalisme di tengah perubahan ekosistem informasi. Kenangan bersama Aristides Katoppo di Harian Sinar Harapan bersumber dari pengalaman penulis sendiri.

Pembahasan mengenai pemberitaan pandemi COVID-19, media sosial, dan jurnalisme perdamaian merupakan pandangan serta pengamatan penulis, bukan hasil penelitian ilmiah. Tulisan ini dimaksudkan sebagai ajakan untuk kembali memikirkan tanggung jawab pers dalam menyampaikan fakta sekaligus memberi harapan kepada masyarakat.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Bagikan Artikel Ini

Foto Norman Meoko

Norman Meoko

Wartawan senior Indonesia, mantan Pemimpin Redaksi Harian Sinar Harapan. Kini menetap di Minahasa, Sulawesi Utara.

Tentang Penulis →

Pilihan Redaksi

← Kembali ke Beranda