Langsung ke konten

Ketika Langit Menahan Hujan, Seluruh Sulawesi Utara Berstatus Awas

Ilustrasi gabungan lahan pertanian yang mengering di Bukit Wawo, Tomohon Selatan, dengan perairan Telaga Sineleyan di Talete, Tomohon Tengah. Dua lanskap yang menggambarkan kontras antara kekeringan dan keberadaan sumber air di tengah ancaman kemarau di Sulawesi Utara.
Dua wajah alam Tomohon. Hamparan lahan pertanian yang mengering di Bukit Wawo, Tomohon Selatan (kiri), berpadu dengan ketenangan air Telaga Sineleyan di Talete, Tomohon Tengah (kanan). Kedua lokasi yang dipotret beberapa hari lalu ini menjadi pengingat pentingnya menjaga sumber daya air ketika seluruh Sulawesi Utara berada dalam status Awas kekeringan meteorologis. (Foto asli: Arsip DORANG | Ilustrasi komposit digital hasil rekayasa berkolaborasi dengan teknologi AI)

Dari Manado hingga Talaud, dari lereng Lokon hingga tanah pertanian Bolaang Mongondow, ancaman kekeringan kini membayangi seluruh Sulawesi Utara. Di balik peringatan BMKG, ada persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan: bagaimana jika air yang selama ini kita anggap selalu tersedia perlahan menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan?

Air adalah salah satu hal yang paling jarang kita pikirkan ketika masih tersedia.

Kita membuka keran tanpa banyak bertanya. Mengisi gelas, mencuci beras, membasuh wajah, menyiram tanaman. Air mengalir dan kehidupan berjalan seperti biasa.

Namun, bayangkan suatu pagi ketika keran dibuka dan yang terdengar hanya desis udara.

Ember kosong. Bak penampungan mulai mengering. Sementara matahari terus naik, memanaskan atap rumah, jalanan, dan tanah yang sudah lama menunggu hujan.

Di dapur, pertanyaannya sederhana: masih cukupkah air untuk memasak hari ini?

Di kebun, persoalannya berbeda. Tanaman membutuhkan kelembapan yang tidak bisa digantikan dengan harapan. Tanah yang kehilangan air perlahan mengeras. Daun-daun bisa kehilangan kesegarannya, sementara petani harus menghitung berapa lama tanaman mereka sanggup bertahan.

Gambaran itu bukan laporan tentang satu keluarga atau satu desa tertentu. Namun, itulah jenis persoalan yang perlu diantisipasi ketika kekeringan semakin panjang.

Dan kini, seluruh Sulawesi Utara berada dalam satu peringatan yang sama.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan seluruh 15 kabupaten dan kota di Sulawesi Utara dalam kategori Awas pada Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis (PDKM) Dasarian II Oktober 2026, yang berlaku untuk periode 11–20 Oktober.

Awas adalah tingkat tertinggi dalam klasifikasi peringatan dini tersebut.

Tidak ada satu pun kabupaten atau kota di provinsi ini yang berada di luar kategori Awas dalam daftar BMKG.

Sebuah kenyataan yang seharusnya membuat kita memandang langit dengan cara berbeda.

Sebab, ketika hujan semakin jarang datang, yang dipertaruhkan bukan sekadar kenyamanan menghadapi cuaca panas.

Yang dipertaruhkan adalah air untuk kehidupan.

Dari Lereng Gunung hingga Pulau-Pulau Terluar

Sulawesi Utara bukan wilayah yang asing dengan hujan.

Di Tomohon, kabut dan udara pegunungan telah lama menjadi bagian dari ingatan tentang kota ini. Di Minahasa, danau, sungai, serta mata air bukan hanya bentang alam, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat.

Di Manado dan Bitung, air menopang rumah tangga, perdagangan, industri, dan berbagai aktivitas perkotaan.

Sementara di Bolaang Mongondow, pertanian bergantung pada hubungan yang tidak pernah sederhana antara tanah, musim, dan ketersediaan air.

Jauh di utara, masyarakat kepulauan Sangihe, Talaud, dan Sitaro menghadapi tantangan geografis tersendiri dalam mengelola sumber air tawar.

Bentang alamnya berbeda. Kebutuhannya pun tidak selalu sama.

Tetapi dalam peringatan BMKG kali ini, seluruh wilayah tersebut berada pada tingkat kewaspadaan yang sama.

Empat kota—Manado, Bitung, Tomohon, dan Kotamobagu—masuk kategori Awas.

Demikian pula sebelas kabupaten: Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Utara, Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Selatan, Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, serta Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.

Dari kawasan perkotaan yang padat hingga desa-desa pertanian. Dari daerah pegunungan hingga pulau-pulau yang dipisahkan laut.

Semuanya tercantum dalam peringatan tersebut.

Ada hal penting yang perlu dipahami: status Awas tidak berarti semua tempat telah mengalami krisis air bersih dengan tingkat keparahan yang sama.

Kekeringan meteorologis berkaitan dengan kondisi kekurangan curah hujan. Dampaknya terhadap sumur, mata air, pertanian, dan pasokan air rumah tangga dapat berbeda menurut kondisi setempat.

Dengan kata lain, peringatan ini bukan vonis bahwa seluruh keran akan berhenti mengalir.

Ini adalah kesempatan untuk bertindak sebelum keadaan menjadi lebih sulit.

Ketika Mata Air Tak Lagi Bisa Dianggap Abadi

Ada sesuatu yang menenangkan dari suara air. Gemercik sungai yang melewati bebatuan. Tetesan dari pancuran bambu. Aliran kecil yang menyusuri parit di pinggir kebun. Bagi masyarakat yang tumbuh di lingkungan dengan sumber air melimpah, suara-suara itu mungkin begitu biasa sehingga nyaris tidak diperhatikan.

Sampai suatu hari alirannya berkurang.

Mata air tidak selalu berhenti secara tiba-tiba. Dalam kondisi tertentu, debitnya dapat menyusut perlahan, mengikuti perubahan curah hujan, cadangan air tanah, dan keadaan daerah resapan.

Perubahannya mungkin mula-mula terlihat sepele.

Air mengalir lebih kecil. Waktu mengisi bak menjadi lebih lama. Persediaan yang biasanya cukup sampai malam mulai harus dibagi dengan lebih hati-hati.

Lalu kebiasaan sehari-hari ikut berubah.

Mencuci pakaian bisa ditunda. Menyiram tanaman tidak lagi menjadi kegiatan rutin. Air yang tersisa harus diprioritaskan untuk minum, memasak, dan menjaga kebersihan.

Di situlah kekeringan berhenti menjadi istilah klimatologi.

Ia masuk ke dalam rumah.

Ia memengaruhi cara keluarga mengatur kebutuhan, menghabiskan waktu, dan menentukan apa yang harus didahulukan.

Persoalan semacam ini juga menjadi renungan dalam tulisan Ketika Mata Air Berhenti Bernyanyi, sebuah judul yang mengingatkan bahwa hilangnya aliran air bukan sekadar perubahan alam, tetapi juga kehilangan sesuatu yang selama ini menyertai kehidupan.

Kita mungkin baru menyadari betapa berharganya air ketika harus menunggu lebih lama untuk mendapatkannya.

Padahal, bagi alam, air tidak pernah benar-benar datang tanpa proses.

Hujan meresap ke tanah. Sebagian mengisi cadangan air bawah permukaan. Sebagian mengalir menuju sungai, danau, dan sumber air lainnya.

Ketika hujan berkurang dalam waktu panjang, keseimbangan itu dapat terganggu.

Karena itulah, menjaga hutan, daerah tangkapan air, dan kawasan resapan bukan hanya urusan pelestarian lingkungan.

Itu juga urusan dapur kita.

Tanah yang Menunggu, Petani yang Berharap

Di wilayah pertanian, kemarau mempunyai ukuran waktu yang berbeda.

Bagi sebagian orang, satu minggu tanpa hujan mungkin hanya berarti cuaca panas dan udara yang kurang nyaman. Bagi petani, satu minggu dapat menentukan keadaan tanaman yang sedang tumbuh.

Tanaman membutuhkan air pada fase-fase tertentu. Kekurangan kelembapan tanah dapat menghambat pertumbuhan, menurunkan hasil, bahkan menyebabkan kerusakan apabila berlangsung cukup lama.

Bayangkan sebidang kebun pada tengah hari.

Permukaan tanah mulai keras. Rumput menguning. Daun-daun kehilangan kesegarannya ketika panas mencapai puncak.

Petani yang mengandalkan hujan harus menghadapi ketidakpastian: kapan air kembali turun, dan apakah tanaman masih mampu bertahan sampai saat itu?

Tidak semua petani memiliki sistem irigasi memadai. Tidak semua lahan berada dekat sungai atau sumber air yang dapat dimanfaatkan.

Bahkan ketika irigasi tersedia, berkurangnya debit sumber air dapat menimbulkan persoalan baru.

Di tengah situasi seperti ini, hujan tidak lagi sekadar peristiwa cuaca.

Ia menjadi harapan.

CERITA DORANG pernah mengangkat suasana penantian itu melalui tulisan Hujan Beberapa Menit, Harapan yang Ditunggu Berbulan-bulan.

Judul tersebut menangkap satu kenyataan sederhana: sesuatu yang bagi orang lain mungkin hanya hujan singkat, bagi mereka yang menghadapi kekeringan bisa mempunyai arti jauh lebih besar.

Tetapi hujan beberapa menit belum tentu cukup memulihkan cadangan air yang telah lama berkurang.

Tanah memerlukan waktu untuk menyerap air. Mata air membutuhkan proses pengisian kembali. Tanaman pun memerlukan pasokan yang memadai, bukan sekadar permukaan tanah yang sesaat basah.

Itulah sebabnya, satu kali hujan tidak otomatis mengakhiri ancaman kekeringan.

Dan menunggu hujan tanpa menyiapkan langkah lain bukanlah pilihan yang aman.

Ketika Api Menjadi Ancaman Kedua

Kekeringan jarang datang sendirian.

Ketika rumput, semak, dan vegetasi kehilangan kelembapan, bahan-bahan alami tersebut menjadi lebih mudah terbakar.

Sebuah api kecil yang tidak dikendalikan dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit ditangani, terutama apabila didukung angin dan kondisi lahan yang sangat kering.

Bagi masyarakat Tomohon, ancaman kebakaran vegetasi bukan sesuatu yang sulit dibayangkan.

Gunung Lokon, dengan lereng dan kawasan vegetasinya, menjadi salah satu pengingat bahwa api dapat mengubah wajah sebuah tempat dalam waktu singkat.

Dalam tulisan Gunung Lokon Terbakar, Tomohon Dipenuhi Asap, persoalan kebakaran dan asap telah menjadi bagian dari cerita lingkungan kota ini.

Asap tidak mengenal batas kebun.

Ia dapat terbawa angin, memasuki kawasan permukiman, mengganggu jarak pandang, dan memperburuk kualitas udara yang dihirup masyarakat.

Bagi anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan, paparan asap dapat menjadi persoalan kesehatan yang serius.

Di sinilah kekeringan memperlihatkan wajah lainnya.

Air semakin dibutuhkan, sementara risiko kebakaran justru meningkat.

Ketika api muncul, sumber daya yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari juga dapat diperlukan dalam upaya pemadaman.

Karena itu, larangan membakar sampah, membuka lahan dengan api, atau membuang puntung rokok sembarangan bukan sekadar imbauan rutin yang boleh diabaikan.

Dalam kondisi vegetasi kering, kelalaian kecil dapat membawa akibat besar.

El Niño dan Musim yang Semakin Sulit Ditebak

Peringatan untuk Sulawesi Utara tidak berdiri sendiri.

BMKG dalam analisis dinamika atmosfer yang diterbitkan pada 13 Oktober 2026 melaporkan bahwa kondisi El Niño telah mencapai intensitas sangat kuat.

Indeks ENSO tiga bulanan Agustus–September–Oktober tercatat sebesar +3,08. Sementara itu, analisis curah hujan Dasarian I Oktober menunjukkan sekitar 83,85 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, dan 87,72 persen berada dalam kondisi hujan bawah normal.

Angka-angka itu mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Namun, di baliknya terdapat perubahan pola atmosfer dan curah hujan yang dapat memengaruhi kehidupan jutaan orang.

El Niño merupakan fenomena iklim yang berkaitan dengan pemanasan suhu permukaan laut di wilayah tertentu Samudra Pasifik tropis. Dalam kondisi tertentu, fenomena ini dapat mengurangi curah hujan di banyak wilayah Indonesia.

Dampaknya tidak selalu sama di setiap daerah dan tidak berarti hujan akan berhenti sepenuhnya.

Tetapi ketika pengaruhnya bertemu dengan musim kemarau, risiko kekurangan air dapat semakin meningkat.

Ancaman tersebut sebelumnya juga menjadi perhatian dalam tulisan Waspada El Niño 2026/2027 dan El Niño Mulai Memukul Kehidupan Sehari-hari.

Kini, persoalan itu semakin relevan bagi masyarakat Sulawesi Utara.

Sebab, peringatan tidak lagi hanya berbicara tentang kemungkinan perubahan iklim dalam skala besar.

Peringatan tersebut telah menyebut wilayah tempat kita tinggal.

Air, Sungai, dan Ingatan tentang Kampung Halaman

Ada hubungan panjang antara masyarakat Sulawesi Utara dan sumber-sumber airnya.

Nama sungai, danau, dan mata air sering menjadi bagian dari penanda tempat. Jembatan dibangun untuk menghubungkan permukiman yang dipisahkan aliran sungai. Kebun tumbuh di sekitar tanah yang memperoleh cukup air.

Di Tomohon, hubungan antara bentang alam dan kehidupan masyarakat dapat ditelusuri melalui cerita tentang Sungai, Jembatan, dan Danau di Tomohon.

Sungai bukan hanya aliran air di peta. Ia dapat menjadi batas kampung, bagian dari sejarah perjalanan penduduk, bahkan tempat tersimpannya kenangan masa kecil.

Danau bukan semata pemandangan yang indah untuk difoto. Ia merupakan bagian dari sistem lingkungan yang lebih luas, tempat air, tanah, vegetasi, dan kehidupan manusia saling berhubungan.

Karena itu, persoalan kekeringan seharusnya mengajak kita memikirkan sesuatu yang lebih mendasar.

Bagaimana keadaan daerah resapan air di sekitar permukiman?

Apakah mata air yang digunakan masyarakat masih terlindungi?

Seberapa baik sistem penyediaan air menghadapi musim kering yang panjang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena kekeringan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan menunggu hujan.

Ketahanan air juga ditentukan oleh cara manusia menjaga dan mengelola sumber daya yang tersedia.

Lima Belas Daerah, Satu Tanggung Jawab

Peringatan Awas yang mencakup seluruh Sulawesi Utara semestinya tidak berhenti sebagai informasi yang dibagikan di media sosial.

Ia perlu diterjemahkan menjadi tindakan.

Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk mengetahui wilayah mana yang paling rentan mengalami kekurangan air, terutama permukiman yang bergantung pada mata air kecil, sumur dangkal, atau jaringan distribusi dengan pasokan terbatas.

BPBD, penyelenggara layanan air minum, dinas kesehatan, dinas pertanian, serta pemerintah desa dan kelurahan perlu memiliki informasi yang saling terhubung.

Wilayah yang mulai mengalami penurunan pasokan air harus dapat dikenali lebih awal.

Cadangan air dan sarana distribusi darurat perlu dipersiapkan berdasarkan kebutuhan nyata, bukan menunggu sampai warga kesulitan mendapatkan air.

Di sektor pertanian, informasi iklim perlu diterjemahkan menjadi pendampingan yang dapat digunakan petani untuk menentukan jadwal tanam, kebutuhan irigasi, dan langkah mengurangi kerugian.

Sementara di kawasan rawan kebakaran, pengawasan dan kesiapan pemadaman perlu diperkuat.

Bagi masyarakat, langkahnya mungkin tampak sederhana.

Menghemat air. Memperbaiki kebocoran pipa. Menjaga kebersihan penampungan. Menggunakan air sesuai kebutuhan utama. Menghindari pembakaran sampah dan lahan.

Namun, tindakan sederhana yang dilakukan bersama dapat membantu mengurangi tekanan terhadap persediaan air.

Yang tidak kalah penting, masyarakat perlu memperoleh informasi yang jelas mengenai kondisi wilayah masing-masing.

Sebab, status Awas untuk satu kabupaten tidak serta-merta menjelaskan keadaan setiap desa di dalamnya.

Pemantauan lokal tetap diperlukan untuk mengetahui apakah suatu daerah mengalami penurunan debit air, kekeringan lahan pertanian, atau persoalan distribusi air bersih.

Peringatan dini akan kehilangan sebagian manfaatnya apabila tidak diikuti kesiapan menghadapi dampaknya.

Jangan Menunggu Sampai Keran Benar-Benar Kering

Ada satu hal yang menarik dari cara manusia menghadapi bencana.

Kita sering lebih mudah bereaksi terhadap sesuatu yang terlihat.

Api yang membesar segera menarik perhatian. Banjir yang memasuki rumah langsung menimbulkan kepanikan. Tanah longsor meninggalkan kerusakan yang dapat dilihat dengan mata.

Kekeringan berbeda.

Ia bisa datang perlahan.

Tidak selalu ada suara keras. Tidak selalu ada peristiwa dramatis yang menandai permulaannya.

Mungkin hanya hujan yang semakin jarang.

Tanah yang semakin keras.

Aliran air yang semakin kecil.

Atau seseorang yang mulai menghitung berapa ember air yang masih tersisa untuk kebutuhan keluarganya.

Perubahan-perubahan kecil itu dapat berlangsung sebelum masyarakat menyadari bahwa keadaan sudah menjadi serius.

Karena itulah, peringatan dini mempunyai arti penting.

BMKG telah menyampaikan informasi tentang potensi kekeringan meteorologis. Kini, kewaspadaan perlu diterjemahkan menjadi persiapan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Status Awas bukan alasan untuk panik. Tetapi juga bukan sesuatu yang pantas dianggap sebagai kabar cuaca biasa.

Apalagi ketika seluruh 15 kabupaten dan kota di Sulawesi Utara berada dalam kategori yang sama.

Dari Manado hingga Talaud, dari Tomohon hingga Bolaang Mongondow, kita menghadapi persoalan yang saling berkaitan, meskipun dampaknya mungkin berbeda.

Dan di tengah semua itu, air tetap menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.

Suatu hari hujan tentu dapat kembali turun. Bunyi tetesannya di atap seng mungkin akan terdengar seperti musik yang sudah lama dirindukan.

Tanah kembali basah. Daun-daun menerima air. Parit-parit yang kering mungkin mulai dialiri kembali.

Tetapi sebelum hari itu tiba, ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar kapan hujan akan datang.

Sudahkah kita menjaga air yang masih ada?

Sebab, barangkali pelajaran paling berharga dari kekeringan bukanlah tentang betapa panasnya matahari atau betapa lamanya langit tidak menurunkan hujan.

Melainkan tentang betapa mudahnya manusia melupakan sesuatu yang paling dibutuhkan untuk hidup, hanya karena selama ini ia selalu tersedia.

Dan terkadang, kita baru memahami nilai setetes air ketika tetes terakhir hampir habis.

Sumber dan Rujukan

BMKG—Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Dasarian II Oktober 2026 dan Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I Oktober 2026. Status peringatan dapat berubah mengikuti pembaruan BMKG.

Bagikan Artikel Ini

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Tentang Penulis →

Pilihan Redaksi

← Kembali ke Beranda