Di depan Golden Pasar Swalayan, Jalan Piere Tendean, Manado, Kang Ajet Gunawan tetap membuka usaha bordirnya. Namun, hari-hari belakangan tidak lagi seramai dulu. Pesanan sepi, sementara biaya hidup dan sewa tempat usaha terus berjalan. Lelaki perantau asal Tasikmalaya ini memilih bertahan, meski mencari Rp150 ribu sehari kini terasa semakin sulit.
NAMANYA Ajet Gunawan. Usianya baru 52 tahun.
Saya menemui Kang Ajet di depan Golden Pasar Swalayan di kawasan Jalan Piere Tendean, Wenang, Manado, Sulawesi Utara ketika hari mulai meninggi.
Pria asli Pantai Sindanglaut, Cikalong, Tasikmalaya, Jawa Barat ini tengah santai di tempat usaha bordirnya. Ya, di depan Golden Pasar Swalayan.
Wajahnya ketika saya temui tidak seperti biasanya. Ibarat awan gelap membunuh senyumnya.
“Ada apa kang,” tanya saya.
Lelaki yang sudah merantau ke Manado sejak tahun 1999 ini mengaku sekarang kondisi usaha bordirnya tidak seramai dulu.
“Sekarang ekonomi sedang tidak baik-baik amat. Yang datang untuk bordir sepi,” tuturnya. Ia pun lalu menarik dalam-dalam rokoknya.
Dulu, katanya dari usaha bordir ini bisa mengantongi kocek lumayan. Sekarang susah amat. Sementara dirinya hanya bisa bordir topi, tas atau sejenisnya.
“Saya nggak tahu kenapa ekonomi lesu. Sekarang mencari Rp150 ribu susahnya minta ampun,” ujarnya lagi.
Perjuangan mencari penghasilan dari usaha kecil juga pernah saya temukan dalam perjumpaan dengan Oma Moni, perempuan berusia 70 tahun yang setiap hari menjual pisang hingga ubi bete di kawasan Airmadidi. Baginya, setiap rupiah dari hasil dagangan menjadi penopang kehidupan bersama suaminya. Kisahnya saya tuliskan dalam Oma Moni Meraup Rupiah Demi Rupiah dengan Pisang hingga Ubi Bete.
Padahal, dia melanjutkan dirinya harus bayar kontrakan serta membayar sewa tempat usaha bordir di depan Golden Pasar Swalayan sebesar Rp2 juta per bulan.
Tetapi Kang Ajet tidak mau pasrah begitu saja. Dia bukan lelaki yang pantang menyerah. Ia tetap berusaha. Karena rezeki itu sudah ada yang atur.“Rezeki tidak akan tertukar,” katanya.
Saya lalu bertanya bagaimana ceritanya Kang Ajet bisa berlabuh hingga ke Manado.
“Saya awalnya merantau ke Jakarta. Ada bos usaha bordir yang ajak. Di Jakarta saya bekerja di Pusat Bordir Proyek Senen, Jakarta Pusat. Lama juga saya di sana. Sampai akhirnya bos saya membuka usahanya di Samarinda,” dia menjelaskan.
Dia melanjutkan ceritanya.
“Dari Samarinda, bos saya lalu mengajak saya ke Manado. Itu terjadi tahun 1999. Entah bagaimana tiba-tiba bos balik ke Samarinda dan saya luntang-lantung di Manado. Akhirnya saya membuka usaha bordir mandiri. Mulainya saya buka usaha ini di depan Kantor Pos Manado. Sampai akhirnya sekarang di depan Golden Pasar Swalayan. Tetapi ya itu tadi. Kondisi ekonomi sekarang bagaimana gitu,” tuturnya.
Menjalankan usaha sendiri menjadi pilihan banyak orang untuk mempertahankan penghidupan. Saya teringat pada Om Roni Dumais, warga Desa Kaleosan yang menjajakan madu hutan di kawasan Maumbi. Dari lima botol madu yang dibawanya setiap kali berjualan, ia berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Cerita tentang dirinya bisa dibaca dalam Madu Hutan Kaleosan, Sumber Hidup Om Roni Dumais.
Lepas dari itu saya angkat topi buat Kang Ajet Gunawan. Dia rela tinggalkan istri dan dua anaknya di Pantai Sindanglaut, Cikalong. Karena katanya roda kehidupan terus berputar dan dirinya harus bertarung untuk itu. Jauh dari tanah kelahirannya. Luar biasa!
“Ya namanya hidup. Ya harus diperjuangkan atuh. Jangan pernah menyerah apalagi lempar handuk ibarat di ring tinju,” katanya sambil tertawa kecil.
Saya teringat pula pada Pak Eddy Kaen, lelaki berusia 71 tahun asal Kakas yang masih berkeliling menjual kacang Kawangkoan dengan sepeda motor tuanya. Ia pernah berkebun, tetapi kemudian memilih pekerjaan lain agar tetap bisa menjalani hidup dengan bekerja. Kisah perjalanannya saya tuliskan dalam Pak Eddy dan Cerita Panjang Kacang dari Kawangkoan.
Benar Kang. Tetap harus bersemangat dan bertarung dalam menghadapi kehidupan ini.
Cuaca mulai menunjukkan kuasanya. Panas! Saya pamit. Kebetulan jaket yang saya minta bordir sudah selesai.
Saya berikan uang lebih. Kang Ajet terkejut. Saya bilang itu rezekinya buat akang. Wajahnya tersenyum. Saya pun membalas dengan senyum simpul.
Kami pun berpisah. Tetapi satu hal yang saya belajar dari sosok pria asal Pantai Sindanglaut, Cikalong ini: ia tetap bertahan di tengah ekonomi sedang baik-baik saja. Dia percaya bahwa urusan rezeki sudah diatur yang Kuasa. Tetap bersemangat ya kang dalam hati saya.
Perjumpaan dengan Kang Ajet mengingatkan saya pada Opa Yoce Robot, lelaki hampir 80 tahun yang masih menjual sapu lidi di Airmadidi Atas. Usia dan jenis pekerjaannya berbeda, tetapi ada satu kesamaan: keduanya memilih tetap berusaha menyambung hidup. Ceritanya pernah saya tuliskan dalam Tiga Sapu Lidi Opa Yoce, Bertahan Hidup di Usia Senja.
Baca Juga: Politik Rakyat Dimulai dari Dapur, Bukan dari Podium









