Di tengah media arus utama yang kehilangan pembaca dan media sosial yang tak pernah berhenti bicara, barangkali ada sesuatu yang bisa dipelajari jurnalisme dari sebuah warung kopi: bagaimana mendengar, memahami, dan memberi ruang bagi suara orang biasa.
Di sebuah warung kopi sederhana, tidak jauh dari Bandara Blang Bintang, Aceh Besar, saya pernah menemukan sesuatu yang belakangan terus mengusik pikiran.
Bukan semata-mata kopinya, meskipun harus saya akui, kopi yang disajikan di sana luar biasa nikmat.
Warung itu tidak menawarkan kemewahan. Mejanya hanya beralaskan lembaran plastik. Bangku-bangkunya sederhana. Tidak ada yang istimewa dari perabotannya. Orang datang, duduk, memesan kopi, lalu bercakap-cakap.
Tetapi justru di situlah menariknya.
Seorang pengunjung bercerita tentang pekerjaan di kebunnya hari itu. Pengunjung lain punya persoalan berbeda. Anaknya tidak mau bersekolah karena lebih suka bermain tembak-tembakan.
Cerita berpindah dari satu orang ke orang lain. Ada yang menanggapi. Ada yang menyampaikan pendapat. Sesekali terdengar canda, disusul tawa. Tidak semua orang membicarakan persoalan besar. Tidak pula setiap percakapan harus menghasilkan kesimpulan. Mereka datang membawa cerita masing-masing. Dan yang paling menarik bagi saya, mereka ingin didengar.
Saya berada di Aceh ketika itu untuk sebuah tugas. Seorang teman mengajak saya singgah menikmati kopi. Tidak pernah terbayangkan bahwa warung sederhana tersebut kelak mengingatkan saya pada satu persoalan besar yang sedang dihadapi dunia pers.
Persoalan tentang ruang publik.
Tentang siapa yang berbicara, siapa yang mendengarkan, dan siapa yang merasa suaranya masih dianggap penting. Bertahun-tahun kemudian, ketika semakin banyak media arus utama menghadapi kesulitan, ingatan tentang warung kopi di Aceh itu kembali muncul. Jangan-jangan, ada sesuatu yang terlupakan oleh dunia jurnalistik, tetapi masih dipelihara dengan baik oleh orang-orang yang duduk mengelilingi secangkir kopi.
Ketika Koran Mulai Kehilangan Pembacanya
Setiap kali mendengar kabar sebuah media arus utama pamit dari pembacanya, saya selalu merasa sedih.
Perasaan itu bukan tanpa alasan.
Lebih dari 30 tahun saya berjibaku dalam dunia pers, terutama media cetak. Koran pernah menjadi bagian penting dari kehidupan saya. Ada masa ketika pekerjaan wartawan tidak bisa dipisahkan dari ruang redaksi, perjalanan mencari berita, perdebatan dengan editor, dan tenggat yang tidak mengenal kompromi.
Saya mengenal dunia itu cukup lama untuk memahami betapa besar perubahan yang sekarang sedang berlangsung. Dulu orang menyebutnya senjakala media cetak. Koran mulai ditinggalkan pembaca. Oplah menurun. Sebagian penerbit berusaha bertahan, sebagian lagi akhirnya menyerah.
Tetapi ternyata persoalannya tidak berhenti pada koran. Media arus utama lainnya ikut menghadapi tekanan. Gelombang pemutusan hubungan kerja menghantam industri pers. Perusahaan media melakukan penghematan. Ruang redaksi yang dahulu dipenuhi wartawan kini harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang tidak selalu menyenangkan.
Memang masih ada perusahaan media yang mampu bertahan, terutama yang mempunyai modal kuat, pelanggan setia, dan kemampuan menyesuaikan model bisnisnya. Namun, bertahan pun bukan perkara mudah. Mereka harus berhadapan dengan perubahan perilaku masyarakat dalam mencari, menerima, dan membagikan informasi.
Untuk menjawab tantangan itu, banyak perusahaan media mengembangkan apa yang disebut jurnalisme multiplatform. Berita tidak lagi cukup hadir di koran atau situs web. Ia harus bisa menjangkau pembaca melalui berbagai saluran. Ada Instagram, Facebook, TikTok, YouTube, dan beragam platform digital lainnya.
Satu peristiwa bisa dikemas menjadi tulisan panjang, video pendek, infografis, siaran langsung, hingga potongan informasi yang cukup dibaca dalam beberapa detik.
Secara teknologi, perubahan itu tentu menarik. Tetapi ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya. Apakah dengan hadir di semakin banyak platform, jurnalisme otomatis menjadi semakin dekat dengan masyarakat?
Belum tentu. Sebab, persoalan jurnalisme bukan hanya bagaimana sebuah berita sampai kepada pembaca. Yang lebih penting adalah apakah berita itu benar-benar dibutuhkan, dipahami, dan mempunyai makna bagi kehidupan mereka.
Ketika Jempol Lebih Cepat daripada Pikiran
Saya teringat pandangan Sindhunata, mantan jurnalis Kompas, tentang pekerjaan wartawan.
“Wartawan pada awalnya adalah pekerjaan kaki, baru kemudian pekerjaan otak.”
Kalimat itu sederhana, tetapi mempunyai makna yang dalam.
Wartawan harus keluar dari kantornya. Mendatangi tempat kejadian. Menemui orang. Mendengarkan cerita. Mengamati keadaan. Baru kemudian mengolah semua yang ditemukan dengan pikiran yang jernih.
Secemerlang apa pun otak seorang wartawan, jika ia malas menggunakan kakinya, sulit baginya memperoleh berita yang autentik. Saya kira pandangan itu masih relevan. Hanya saja, keadaan sekarang sudah jauh berbeda.
Seorang wartawan tidak selalu harus meninggalkan meja kerjanya untuk mengetahui bahwa sebuah peristiwa sedang terjadi. Cukup membuka media sosial.
Ada kecelakaan lalu lintas, banjir, perkelahian, demonstrasi, atau pernyataan seorang pejabat yang mendadak ramai diperbincangkan. Semuanya bisa muncul di layar telepon genggam dalam hitungan detik.
Ketika terjadi kecelakaan maut di Jalan Tol Cipularang, misalnya, rekaman yang beredar melalui media sosial dapat segera menjadi bahan pemberitaan media online. Video dari saksi mata dipakai untuk melengkapi berita. Peristiwa yang sebelumnya hanya diketahui orang-orang di lokasi mendadak menjadi perhatian publik.
Tentu tidak ada yang keliru dengan memanfaatkan media sosial sebagai sumber awal informasi. Masalah muncul ketika informasi yang beredar dianggap sudah cukup untuk menjadi berita, tanpa pemeriksaan lebih jauh. Padahal, video hanya memperlihatkan sebagian dari sebuah peristiwa. Apa yang terlihat di layar belum tentu menjelaskan seluruh kejadian.
Siapa yang merekam? Kapan rekaman dibuat? Apa yang sebenarnya terjadi sebelum dan sesudahnya? Apakah keterangan yang menyertai video itu benar?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang seharusnya menjadi pekerjaan wartawan. Bukan sekadar mengambil video, menambahkan beberapa kalimat, lalu menerbitkannya secepat mungkin.
Di sinilah saya melihat salah satu persoalan jurnalisme sekarang. Kecepatan sering kali mengalahkan kedalaman. Dan media sosial menyediakan panggung yang luar biasa besar bagi keadaan tersebut.
Siapa saja bisa berbicara. Siapa saja bisa menyampaikan pendapat. Bahkan siapa saja bisa mendadak menjadi pusat perhatian. Sebuah isu muncul, lalu ribuan orang segera memberikan komentar. Ada yang memahami persoalannya. Ada yang hanya membaca judul. Tidak sedikit pula yang langsung bereaksi tanpa mengetahui duduk perkara.
Jari-jemari bergerak lebih cepat daripada pikiran. Orang menjadi begitu mudah menghakimi, mencaci, atau menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Seolah-olah setiap orang harus segera menunjukkan keberadaannya.
“Ini gue, elu mana!”
Di satu sisi, media sosial telah membuka kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk menyampaikan suara. Tetapi di sisi lain, kesempatan itu tidak selalu disertai kemampuan memilah informasi, memahami konteks, atau menghargai perbedaan pendapat.
Kita hidup dalam keadaan yang dahulu sulit dibayangkan. Informasi tidak lagi langka. Justru terlalu banyak.
Banjir Informasi dan Wartawan yang Kehilangan Arah
Saya pernah mengalami masa ketika memperoleh informasi bukan perkara gampang.
Pada masa Orde Baru, akses terhadap informasi tertentu sangat terbatas. Ada persoalan yang sulit diberitakan. Ada sumber yang enggan berbicara. Ada pula keadaan ketika wartawan harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan keterangan yang dibutuhkan masyarakat.
Sekarang situasinya hampir terbalik. Informasi tersedia di mana-mana. Setiap menit ada kabar baru. Setiap saat muncul pendapat baru. Sebuah peristiwa belum selesai dibicarakan, peristiwa lain sudah mengambil alih perhatian.
Tidak ada tenggat bagi media sosial. Ia terus bergerak, siang dan malam. Keadaan ini sering disebut sebagai the abundance of information, kelimpahan informasi. Namun, kelimpahan tidak selalu berarti masyarakat menjadi lebih memahami persoalan.
Orang bisa membaca puluhan berita dalam sehari, tetapi tetap kebingungan membedakan mana fakta, mana pendapat, dan mana informasi yang sengaja dipelintir.
Di tengah timbunan informasi seperti itu, saya justru melihat pekerjaan wartawan menjadi semakin penting.
Masyarakat membutuhkan seseorang yang bersedia memeriksa, memilah, menghubungkan fakta, dan menjelaskan sebuah persoalan secara masuk akal.
Itulah pekerjaan jurnalisme.
Bukan sekadar memberitahukan bahwa sesuatu telah terjadi, melainkan membantu masyarakat memahami mengapa peristiwa itu terjadi dan apa artinya bagi kehidupan mereka. Sayangnya, sebagian media arus utama justru ikut terseret dalam perlombaan yang dimainkan media sosial.
Berita dibuat agar cepat diklik. Judul disusun supaya menarik perhatian. Topik yang sedang ramai diperbincangkan terus diikuti, meskipun belum tentu mempunyai kepentingan besar bagi publik.
Bahkan pergunjingan di media sosial terkadang memperoleh tempat yang lebih luas daripada persoalan masyarakat yang sesungguhnya membutuhkan perhatian.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua media melakukan hal demikian. Masih banyak wartawan dan redaksi yang bekerja dengan sungguh-sungguh, mempertahankan verifikasi, dan berusaha menghadirkan informasi yang bermutu.
Tetapi tekanan untuk mengejar perhatian pembaca memang nyata.
Lantas, apakah media arus utama harus terus mengikuti irama media sosial?
Atau justru perlu menemukan kembali alasan mengapa jurnalisme hadir sejak awal?
Seorang jurnalis senior pernah mengatakan kepada saya bahwa media arus utama hanya bisa mempertahankan relevansinya dengan kembali menjalankan fungsi utama jurnalisme. Menghadirkan informasi yang berkualitas, relevan, dan bermakna bagi masyarakat.
Saya sependapat.
Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat. Kewajiban pertamanya adalah kepada kebenaran. Bukan kepada jumlah klik, bukan kepada keramaian sesaat, apalagi kepada kabar bohong dan caci maki yang dapat menyulut konflik. Namun, bagaimana prinsip-prinsip itu diterjemahkan dalam hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat?
Pertanyaan itulah yang membawa ingatan saya kembali kepada warung kopi. Kali ini bukan di Aceh, melainkan di Manado.
Dari Aceh ke Manado, Ceritanya Tidak Jauh Berbeda
Di Jalan Dr. Sutomo, Kelurahan Pinaesaan, Kecamatan Wenang, Manado, saya pernah mengunjungi sebuah warung kopi.
Tempatnya juga sederhana.
Ada meja kayu yang sudah reot. Di atasnya tersaji kopi dan kukis. Para pengunjung, kebanyakan laki-laki, duduk bercakap-cakap.
Saya datang ke Manado dalam perjalanan tugas jurnalistik. Belakangan, daerah ini menjadi bagian dari kehidupan saya.
Di tanah yang mengenal falsafah Sitou Timou Tumou Tou, saya menemukan kebiasaan yang mengingatkan saya pada pengalaman di Aceh.
Orang-orang senang berkumpul dan berbicara.
Di warung kopi itu, topik pembicaraan bisa bermacam-macam. Persoalan sehari-hari menjadi bahan obrolan. Begitu pula politik yang sedang hangat.
Seseorang menyampaikan pendapat. Yang lain menyanggah. Perdebatan berlangsung, tetapi tidak harus berakhir dengan kemarahan. Ada yang tertawa. Ada yang kembali menyeruput kopi. Percakapan kemudian berlanjut ke persoalan lain.
Saya memperhatikan suasana itu.
Tidak ada pemimpin redaksi yang menentukan topik. Tidak ada editor yang memotong pembicaraan karena ruang halaman sudah penuh. Tidak ada algoritma yang memilih siapa harus berbicara lebih dahulu.
Orang datang membawa persoalan masing-masing. Mereka ingin menyampaikan sesuatu. Ingin mengetahui pendapat orang lain. Kadang hanya ingin berbagi cerita. Dan yang terpenting, mereka merasa mempunyai tempat.
Tentu saja, tidak semua percakapan di warung kopi selalu tertib atau menghasilkan pandangan yang benar. Orang bisa keliru. Kabar yang belum teruji juga bisa beredar di sana. Namun, ada satu kebiasaan yang patut diperhatikan. Orang bertemu dan saling mendengarkan.
Mereka tidak hanya menjadi penerima informasi. Mereka ikut membentuk percakapan. Di situlah saya mulai berpikir tentang sesuatu yang saya sebut sebagai jurnalisme warung kopi.
Bagaimana Kalau Jurnalisme Belajar dari Warung Kopi?
Bayangkan sebuah media yang memperlakukan pembacanya sebagaimana orang-orang di warung kopi memperlakukan sesama pengunjung.
Mereka tidak hanya datang untuk menerima cerita. Mereka juga diberi kesempatan untuk menyampaikan cerita.
Ketika seorang petani mengeluhkan hasil kebunnya, misalnya, media tidak berhenti pada pernyataan bahwa harga hasil pertanian sedang turun. Wartawan mendatangi petani itu. Mendengarkan keluhannya. Mencari tahu keadaan di pasar. Bertanya kepada pedagang, pemerintah, dan pihak lain yang terkait.
Dari percakapan sederhana, sebuah persoalan bisa diperiksa lebih dalam. Begitu pula ketika orang tua mengeluhkan anaknya yang tidak mau bersekolah.
Cerita itu mungkin terdengar biasa jika hanya dibicarakan sambil minum kopi. Tetapi bagi wartawan yang mau mendengarkan, ada kemungkinan persoalan lebih luas yang perlu ditelusuri.
Apakah anak itu menghadapi kesulitan belajar? Apakah ada persoalan keluarga? Bagaimana keadaan sekolahnya? Apakah pengalaman serupa dialami anak-anak lain?
Belum tentu semua pertanyaan itu menghasilkan berita. Namun, dari kebiasaan mendengar, wartawan dapat menemukan persoalan yang sebelumnya luput dari perhatian.
Inilah yang saya bayangkan sebagai jurnalisme warung kopi. Bukan berarti wartawan harus memindahkan meja redaksi ke warung kopi. Bukan pula berarti semua percakapan di warung kopi layak dijadikan berita.
Warung kopi adalah tempat orang bertukar cerita, bukan lembaga yang bertugas memverifikasi kebenaran. Justru di situlah peran jurnalisme menjadi penting.
Wartawan mendengarkan, kemudian memeriksa. Wartawan menerima keluhan, kemudian mencari fakta. Wartawan membuka ruang bagi pendapat yang berbeda, tetapi tidak membiarkan kabar bohong diperlakukan sebagai kebenaran. Ada proses jurnalistik yang tetap harus dijalankan.
Dengan demikian, masyarakat tidak lagi sekadar menjadi objek pemberitaan. Mereka menjadi bagian penting dalam proses menemukan persoalan yang layak diberitakan.
Media pun tidak hanya sibuk bertanya tentang apa yang sedang ramai dibicarakan orang. Ia mulai bertanya tentang apa yang sesungguhnya sedang dialami masyarakat.
Kedua pertanyaan itu bisa menghasilkan pilihan berita yang sangat berbeda.
Ruang Publik Bukan Sekadar Kolom Komentar
Selama ini media arus utama sebenarnya sudah menyediakan berbagai sarana untuk berinteraksi dengan pembacanya. Ada kolom komentar. Ada akun media sosial. Ada kesempatan mengirimkan tanggapan atau menyampaikan informasi.
Tetapi apakah semua itu sudah cukup untuk disebut sebagai ruang publik yang bermakna?
Saya kira belum tentu.
Ruang publik tidak otomatis terbentuk hanya karena orang diberi tempat untuk menuliskan komentar. Sebuah media bisa mempunyai ribuan komentar di media sosial, tetapi belum tentu memahami persoalan yang sedang dihadapi pembacanya.
Apalagi jika hubungan itu hanya berlangsung satu arah. Redaksi menerbitkan berita, pembaca bereaksi, lalu percakapan berhenti di sana.
Dalam jurnalisme warung kopi yang saya bayangkan, hubungan tersebut seharusnya berlangsung lebih jauh. Media bersedia mendengarkan persoalan yang disampaikan masyarakat. Redaksi menimbang kepentingannya. Wartawan menelusuri fakta. Hasil liputan kemudian dikembalikan kepada publik dalam bentuk informasi yang lebih lengkap.
Setelah itu, masyarakat tetap mempunyai kesempatan untuk menanggapi, mengoreksi, atau menunjukkan persoalan lain yang belum terungkap.
Dengan cara demikian, komunikasi tidak berhenti ketika berita diterbitkan. Ia terus berlangsung.
Saya teringat kembali orang-orang di warung kopi Manado. Mereka bisa berbeda pendapat tentang politik, tetapi tetap duduk di meja yang sama. Barangkali ada pelajaran di sana tentang bagaimana ruang publik seharusnya dipelihara.
Perbedaan pendapat tidak harus selalu menjadi pertengkaran. Orang boleh tidak setuju, tetapi tetap bersedia mendengar.
Tentu dalam praktik jurnalistik, tidak semua pendapat mempunyai kedudukan yang sama di hadapan fakta. Pendapat yang keliru tetap harus diperiksa dan diluruskan. Tuduhan harus dibuktikan. Pihak yang diberitakan harus memperoleh kesempatan memberikan penjelasan. Namun, penghormatan terhadap fakta tidak menghalangi media untuk membuka ruang percakapan yang luas.
Justru itulah yang membedakan jurnalisme dengan keramaian media sosial. Jurnalisme seharusnya mampu menghadirkan percakapan yang lebih jernih, bukan menambah kegaduhan.
Bukan Sekadar Menyelamatkan Koran
Saya menyadari bahwa jurnalisme warung kopi bukan jawaban tunggal atas seluruh persoalan industri media. Perusahaan pers tetap harus memikirkan pembiayaan, teknologi, distribusi, dan cara mempertahankan keberlangsungan usahanya.
Tidak ada jaminan sebuah koran akan kembali memperoleh banyak pelanggan hanya karena redaksinya lebih rajin mendengarkan masyarakat.
Persoalan bisnis media jauh lebih rumit daripada itu. Namun, saya percaya ada sesuatu yang tidak boleh hilang ketika perusahaan media sibuk melakukan perubahan.
Kepercayaan masyarakat.
Kepercayaan tidak dibangun hanya dengan memperbarui tampilan situs web, membuat video pendek, atau membuka akun di semua platform digital. Kepercayaan tumbuh ketika masyarakat merasa media bekerja untuk kepentingan mereka.
Ketika persoalan yang selama ini diabaikan akhirnya mendapat perhatian. Ketika suara orang biasa tidak kalah penting hanya karena ia bukan pejabat, tokoh terkenal, atau seseorang yang mempunyai banyak pengikut di media sosial. Dan ketika wartawan bersedia datang, duduk, mendengarkan, lalu bekerja lebih jauh untuk memahami sebuah persoalan.
Saya membayangkan media lokal mempunyai kesempatan besar untuk menjalankan pendekatan seperti itu.
Di sebuah kota, persoalan yang dibicarakan warga di pasar, terminal, kebun, sekolah, atau warung kopi sering kali berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat setempat.
Tidak semuanya menjadi perhatian media nasional. Padahal, bagi orang yang mengalaminya, persoalan tersebut bisa jauh lebih penting daripada perdebatan politik yang sedang ramai di Jakarta.
Harga hasil kebun yang tidak sebanding dengan biaya produksi, jalan rusak yang bertahun-tahun tidak diperbaiki, kesulitan anak-anak memperoleh pendidikan, atau perubahan kebiasaan masyarakat yang perlahan menghilang.
Cerita-cerita semacam itu mungkin tidak selalu mendatangkan jutaan klik. Tetapi bukan berarti tidak layak diberitakan. Justru di sanalah jurnalisme bisa menunjukkan manfaatnya.
Bukan dengan menjadi yang paling cepat dalam setiap keramaian, melainkan dengan menghadirkan sesuatu yang belum tentu ditemukan masyarakat di tengah banjir informasi.
Konteks.
Latar belakang.
Perspektif yang jernih.
Dan terutama, pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan orang-orang yang diberitakan.
Secangkir Kopi dan Masa Depan Jurnalisme
Setiap kali mengingat warung kopi di Aceh dan Manado, saya selalu teringat pada orang-orang yang duduk di sana.
Mereka bukan sedang mengikuti seminar tentang komunikasi publik. Mereka juga tidak sedang membicarakan masa depan industri media. Mereka hanya datang untuk minum kopi dan bercakap-cakap.
Seorang bercerita tentang kebunnya. Seorang lagi tentang anaknya. Di tempat lain, beberapa orang memperdebatkan politik sambil menikmati kopi dan kukis.
Sederhana sekali. Namun, dari kesederhanaan itu saya melihat sesuatu yang semakin penting dalam kehidupan masyarakat yang dipenuhi informasi.
Keinginan untuk didengar.
Barangkali selama ini media arus utama terlalu sibuk mencari cara agar masyarakat terus membaca, menonton, dan mengklik berita-beritanya. Sementara ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting.
Apakah media juga masih bersedia mendengarkan masyarakat?
Ataukah, seperti yang sering terjadi, mereka justru terlalu dekat dengan kekuasaan dan terlalu jauh dari rakyat?
Saya tidak tahu seperti apa wajah industri pers sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Mungkin akan semakin banyak koran yang berhenti terbit. Mungkin teknologi akan terus mengubah cara wartawan bekerja. Bahkan mungkin bentuk media yang sekarang kita kenal akan mengalami perubahan yang lebih besar lagi.
Tetapi satu hal saya yakini. Selama manusia masih mempunyai cerita, persoalan, harapan, dan keinginan untuk memahami kehidupan di sekitarnya, jurnalisme yang sungguh-sungguh bekerja untuk masyarakat akan tetap dibutuhkan.
Bentuknya boleh berubah. Salurnya boleh berganti. Tetapi alasan keberadaannya jangan sampai hilang.
Saya kembali membayangkan sebuah warung kopi sederhana di Manado. Meja kayunya sudah reot. Kopi dan kukis tersaji. Orang-orang masih asyik berbicara. Ada yang menyampaikan pendapat. Ada yang menyanggah. Sesekali mereka tertawa.
Tidak semua persoalan selesai di meja itu. Tetapi setidaknya setiap orang mempunyai kesempatan untuk bercerita dan didengar. Dan mungkin, di tengah segala kegaduhan tentang masa depan media arus utama, kita perlu kembali belajar dari suasana semacam itu.
Sebab, jurnalisme yang baik bukan hanya tahu bagaimana menyampaikan berita. Ia juga tahu kapan harus diam dan mendengarkan.
Jurnalisme warung kopi?
Asyik-asyik sedap nih!









