Langsung ke konten

Selalu Jatuh Cinta dengan Gaya Penulisan Feature, Lho Kok Bisa?

Penulis berdiri di samping papan informasi Danau Kelimutu, dengan latar belakang salah satu danau kawah yang dikenal sebagai Danau Tiga Warna di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Penulis di Danau Kelimutu, Nusa Tenggara Timur. (Foto: Koleksi Pribadi Norman Meoko)

Ada alasan mengapa saya selalu jatuh cinta dengan penulisan feature. Bukan semata karena gaya penulisannya yang lebih bebas dibandingkan berita, tetapi karena feature memberi ruang bagi seorang wartawan untuk bercerita, menghidupkan detail, dan membawa pembaca ikut mengalami sebuah peristiwa.

Perjalanan jurnalistik saya selalu diwarnai dengan penulisan feature. Saya lebih tertarik menulis salah satu ragam dalam jurnalisme ini.

Mengapa?

Yang pasti dengan feature saya bisa menulis agak bebas ketimbang berita yang selalu terpaku kepada unsur 5W dan 1H.

Dalam feature, wartawan bisa menari-nari dan bermain dengan diksi atau pilihan kata. Pokoknya asyik deh!

Pengalaman panjang di lapangan juga mengajarkan bahwa cerita menarik sering kali ditemukan melalui percakapan sederhana, seperti yang pernah saya tuliskan dalam Jurnalisme Warung Kopi, Asyik-asyik Sedap Nih!.

Itulah sebabnya mengapa ketika tugas akhir menulis skripsi tahun 1989 lalu saya memilih meneliti tentang feature dengan metode penelitian analisis isi.

Dosen pembimbing saya bernama Pak Rosman Rochim. Kebetulan beliau juga seorang praktisi jurnalistik dan menjabat redaktur pelaksana di Majalah Eksekutif.

Ketika saya mengajukan rumusan masalah tentang penggunaan lead dan ending feature pada Rubrik Interlokal di Majalah Mingguan Bergambar (MMB) Jakarta-Jakarta, Pak Rosman langsung setuju dan ACC.

Majalah Mingguan Bergambar Jakarta-Jakarta masuk Grup Kompas-Gramedia. Berkantor di Palmerah, Jakarta Pusat.

Beruntung ada senior saya bekerja di majalah tersebut. Nama Mas Edy Suhardi. Berkat pertolongannya saya dapat melakukan penelitian di Majalah Jakarta-Jakarta. Saya dikenalkan dengan sang pemimpin redaksi Mas Arswendo Atmowiloto dan redaktur pelaksana Mas Seno Gumira Ajidarma.

Jujur saya beruntung dapat diskusi dengan para senior luar biasa tersebut. Mas Arswendo dikenal juga sebagai seorang cerpenis, novelis hingga penulis naskah drama dan skenario film.

Sedangkan Mas Seno adalah sastrawan, wartawan dan akademisi terkemuka di Indonesia yang dikenal melalui karya-karya bertema sosial-politik seperti Sepotong Senja untuk Pacarku. Mas Seno juga pernah menjabat Rektor Institut Kesenian Jakarta pada tahun 2016-2020.

Pengalaman bertemu dan belajar dari para senior pers menjadi bagian penting perjalanan seorang wartawan. Salah satunya saya ceritakan dalam Ketika Media Sibuk Bergunjing, Siapa yang Memberi Harapan?

Asyiknya lagi saat penelitian di sana, saya bisa menginap di kantor redaksi dan itu seizin Mas Indrie HP sang sekretaris redaksi. Menjelang deadline saya bisa menyaksikan prosesnya hingga naskah naik cetak. Suwer sungguh pengalaman yang luar biasa!

Beruntung sebelum tugas akhir saya magang sebagai reporter di Majalah Amanah yang berkantor redaksi di kawasan Kramat, Jakarta Pusat. Belakangan setelah saya menjadi reporter dan diangkut sejumlah aparat intelijen karena disangka demontrans.

Saya dibawa mobil ke sebuah Gedung di Kawasan Kramat dekat kantor redaksi Majalah Amanah. Di sana saya diintrograsi dan diputarkan video suasana unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia menentang rezim Orde Baru.

Saya dipaksa sejumlah aparat untuk menunjuk siapa mereka yang berunjuk rasa tersebut. Beruntung saya akhirnya dilepas.

Ternyata kantor redaksi Majalah Amanah itu dekat dengan gedung tempat saya diinterograsi. Saya beruntung tidak disetrum di lantai yang disiram air lalu diberi kawat mengandung aliran listrik.

Di Majalah Amanah ini saya bertemu dan lagi-lagi berdiskusi dengan Pak Maskun Iskandar redaktur pelaksana di sana. Pak Maskun ini juga pengajar senior di Lembaga Pers Dr Soetomo. Ia juga pernah bekerja sebagai editor di Majalah Femina. Dia juga menjadi dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Prof HAMKA (Uhamka) Jakarta.

Saya juga berjumpa dengan Pak Ahmad Tohari yang menjabat editor di Majalah Amanah. Dia dikenal sebagai sastrawan dan budayawan. Ia melahirkan sebuah karya monumental yakni novel Ronggeng Dukuh Paruh. Bahkan, karyanya ini diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Penari.

Singkat kata: karena pertolongan Tuhan saya bersyukur bertemu dan berdiskusi dengan para senior tersebut. Dan, kebandelan saya adalah mencuri ilmu sebanyak-banyaknya dari para senior yang saya sebutkan di atas tadi.

Lumayan dan ilmu itulah yang kemudian saya bagikan kepada mahasiswa saya ketika berkesempatan mengajar di kampus. Mahasiswa saya yang mengikuti matakuliah saya itu tidak hanya kenyang teori jurnalistik tetapi juga mendapat hal-hal yang sama sekali tidak ada dalam teks buku.

Mengapa Harus Feature?

Berbeda dengan berita yang lebih banyak mengandalkan kecepatan dan berisi fakta yang paling penting apalagi jika menyangkut breaking news. Hal itu berbeda dengan feature.

Perubahan dunia pers dan tantangan mempertahankan nilai jurnalistik di tengah perkembangan teknologi juga pernah saya bahas dalam Pertarungan Terakhir Media Massa di Antara Algoritma dan Tetek Bengeknya

Ragam jurnalistik yang satu ini lebih kepada fakta yang menarik dan ditulis agak bebas ketimbang berita. Malah gaya sastra pun bisa dipakai dalam penulisan feature. Karena memang tujuan penulisan feature untuk menghibur pembaca.

Patricia A. Wiliams (1990) menyebut feature sebagai suatu tulisan yang membahas suatu aspek yang menarik dari suatu berita, atau tentang aspek lain lain dari suatu berita.

Sedangkan, Drs Umar Nur Zain (1992) menyebutkan bahwa features dalam arti sempit merupakan tulisan khas yang sifatnya bisa menghibur, mendidik dan memberikan informasi dan sebagainya mengenai aspek kehidupan dengan gaya yang bervariatif.

Intinya feature adalah tulisan yang membicarakan tentang sesuatu yang ada kaitannya dengan sumber berita yang disajikan dengan gaya yang khas sehingga mengandung nilai berita dan nilai estetik.

Salah satu contoh bagaimana pertemuan sederhana dengan seseorang bisa berkembang menjadi cerita human interest dapat dibaca dalam Pak Eddy dan Cerita Panjang Kacang dari Kawangkoan.

Berdasarkan rumusan tersebut maka feature memiliki sejumlah ciri khas.

Pertama, feature bertolak dari fakta atau peristiwa yang terjadi dalam kehidupan nyata. Bukan hoaks. Penulisannya tidak terikat dengan Teknik penulisan berita.

Kedua, feature mempunyai hubungan dengan karya satra khususnya fiksi karena sajiannya yang mengandung nilai estetik namun tidak sepenuhnya mengikuti sifat karya fiksi yang berakar pada rekaan.

Ketiga, karena mempunyai kaitan dengan berita dan sastra maka feature mengandung unsur informasi, hiburan dan Pendidikan.

Pendekatan bercerita yang mengangkat kehidupan seseorang juga dapat ditemukan dalam Sekho Mangarek: Lelaki yang Menjaga Ingatan Kampung Halaman

Dan yang pasti tulisan feature bersifat every green atau bisa diturunkan kapan saja. Artinya tenggat waktu penayangan tidak sekeras berita apalagi breaking news yang harus secepat mungkin ditayangkan. Lebih fleksibel gitu!

Ketika saya bekerja di Harian Jayakarta, sang redaktur pelaksana Bang Albert Kuhon selalu menugaskan saya membuat feature. Tulisan feature pertama saya yang berjudul Glodok, Riwayat Sarang Nyamuk diturunkan di halaman Utama Harian Jayakarta pada tahun 1990 lalu. Tulisan feature saya itu diedit dua orang. Pertama, Bang Albert Kuhon dan kedua, Mas Roso Daras.

Dalam setiap penugasan jurnalistik ke daerah maupun ke luar negeri, saya selalu membuat feature. Ketika keliling ASEAN, saya menulis banyak hal.

Misalnya ketika mengunjungi Singapura saya menulis soal pajak kemacetan yang ketika zaman Gubernur Jakarta Soerjadi Surdirja akan diterapkan tetapi gagal karena terbentur kebijakan pemerintah pusat.

Saat mengunjungi Malaysia, saya pun menulis feature tentang pusat judi di Genting Highlands di Penang. Saya naik bus dari Kuala Lumpur lalu dilanjutan menggunakan kereta gantung ke Genting Highlands.

Di Genting Highlands ini saya tanpa sengaja bertemu dengan seorang ibu yang sedang asyik main judi jackpot. Ternyata ibu ini adalah orangtua seorang pengusaha rokok di Semarang.

Ketika mengunjungi Bangkok dan Manila saya buat feature tentang bagaimana pengelola kedua kota menata keberadaan pedagang kaki lima. Pedagang boleh jualan tetapi hanya pada hari Minggu atau akhir pekan. Usai berdagang, mereka wajib membersihkan lokasi usahanya.

Saat menyambangi Veitnam saya menulis feature tentang rumah susun di sana. Ternyata rumah susun di sana tidak seperti di Jakarta yang bisa sampai delapan lantai.

Di Vietnam, rumah susun paling tinggi lima lantai dan itu dihuni oleh keluarga yang sama. Orangtuanya di lantai bawah. Lantai berikutnya untuk anaknya yang menikah dan seterusnya.

Sabet Penghargaan Anugerah Pesona Wisata Indonesia

Piagam penghargaan Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2005 yang diberikan kepada Norman Meoko sebagai Terbaik III Kategori Media Cetak

Penghargaan kepada penulis dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik. (Foto: Koleksi Pribadi Norman Meoko)

Namun dari semua itu yang paling membuat saya terkejut ketika saya diundang PT Jasa Raharja mengunjungi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan singgah juga ke Maumere di Kabupaten Ende, Flores.

Ya, Gunung Kelimutu adalah gunung berapi di Pulau Flores, Provinsi NTT. Lokasi gunung berada di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende. Gunung ini memiliki tiga buah danau kawah di puncaknya.

Danau ini dikenal dengan nama Danau Tiga Warna karena memiliki tiga warna yang berbeda: merah, biru, dan putih. Warna-warna itu kerap berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu.

Kelimutu merupakan gabungan kata dari “keli” yang berarti gunung dan kata “mutu” yang berarti mendidih. Kepercayaan warga setempat menyebutkan, warna-warna di Danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.

Danau atau Tiwu Kelimutu dibagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna-warna yang ada di dalam danau.

Danau berwarna biru atau “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal.

Danau yang berwarna merah atau “Tiwu Ata Polo” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan atau tenung.

Sedangkan danau berwarna putih atau “Tiwu Ata Mbupu” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Penduduk sekitar Danau Kelimutu percaya bahwa pada saat danau berubah warna, mereka harus memberikan sesajen bagi arwah orang-orang yang telah meninggal.

Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik.

Batas antardanau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter.

Daerah ini diketemukan oleh orang lio Van Such Telen, warga negara Belanda Mama Lio pada 1915.

Keindahannya dikenal luas setelah Y. Bouman melukiskan dalam tulisannya 1929. Sejak saat itu wisatawan asing mulai datang menikmati danau yang dikenal angker bagi masyarakat setempat.

Mereka yang datang bukan hanya pencinta keindahan, tetapi juga peneliti yang ingin tahu kejadian alam yang amat langka itu juga. Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992.

Untuk mencapai Danau Kelimutu, saya bersama rombongan harus menginap di Kampung Moni. Letaknya sangat dekat dengan Danau Kelimutu.

Kami sampai menjelang malam di Kampung Moni. Pak Bonar Kepala Perwakilan PT Jasa Raharja di sana memandu kami hingga tiba di sebuah penginapan berlantai dua. Kami tiba sekitar pukul 21.00. Udara luar biasa dingin.

Penginapan itu sangat sederhana tetapi kamar-kamarnya bersih. Begitu juga dengan kamar mandinya. Jujur saya sangat suka. Jika ada waktu, saya akan singgah di sana lagi.

Sayangnya aliran listrik sedang mati. Sehingga saya tidak berani mandi. Air di bak mandi dinginnya luar biasa. Akhirnya saya dan rombongan diajak Pak Bonar untuk ngobrol di ruang pertemuan di lantai bawah. Kami pun menegak bir angker untuk sekadar menghangatkan tubuh ini.

Kami ngobrol ngalur-ngidul. Hanya lilin dan sebuah petromax bertahan menyala menemani kami. Tawa lepas meledak. Karena dini hari kami akan mengunjungi Danau Kelimutu maka harus tidur cepat. Dan maaf, karena dingin, saya pun nggak berani jebar-jebur alias mandi.

Jam menunjukkan pukul 23.30 malam. Saya pamit pergi tidur walau pasti hanya sebentar untuk merebahkan badan ini. Karena sepanjang hari berada di mobil yang diguncang-gancing lantaran jalan yang kadang mulus, kadang bergelombang. Tapi jujur sangat mengasyikkan lho!

Sekitar pukul 02.00 dini hari. Pintu kamar diketuk. Saya bangun dan hanya cuci muka. Tidak lupa kenakan kaos lengan panjang dan kain khas NTT yang membalut di leher. Tepat pukul 02.15, saya dan teman-teman menggunakan mobil bergerak menuju Danau Kelimutu. Udara masih dingin banget. Bibir saya bergetar. Tangan harus tetap dilipat erat-erat karena menahan tusukan angin dini hari.

Tidak makan waktu lama, saya dan rombongan sudah tiba di kaki Danau Kelimutu. Saya mendengar suara ayam hutan bersahutan. Mobil di parkir dan saya dan teman-teman berjalan kaki menuju Danau Tiga Warna. Saya punya kebiasaan untuk melukiskan detail-detail sebuah perjalanan. Salah satunya saya menghitung anak tangga hingga ke Danau Kelimutu. Ya sekitar 249 anak tangga yang ditapaki ternyata.

Tiba di Danau Kelimutu, pemandangan luar biasa tersaji di depan mata. Kabut belum turun sehingga saya masih sempat melihat tiga warna di Danau Kelimutu: merah, biru dan putih. Warna-warna berubah seiring perjalanan waktu.

Saya bahkan sempat bertemu sepasang kekasih asal Belgia yang keliling dunia dengan mengendarai sepeda motor ukuran besar. Mereka senang bisa singgah di Danau Kelimutu. Di bodi motor terlihat stiker pelbagai negara yang disinggahi. Guratan wajah mereka pecah-pecah akibat tersengat sang surya.

Siane, sang perempuan mengatakan, perjalanan mereka akan berakhir di Benua Kanguru alias Australia. Usai mengelilingi daerah itu, mereka akan menjual motor gedenya dan kemudian balik naik pesawat terbang ke Belgia. Luar biasa! Pikir saya dalam hati.

Satu per satu danau saya tengok. Ada pagar besi pemisah untuk melihat danau tiga warna itu. Yang agak ngeri justru di danau yang berwarna gelap. Kabarnya, di danau warna gelap ini bersemayang roh-roh jahat.

Seorang penduduk lokal yang menemani saya menuturkan, pernah kejadian seorang pelajar es-em-a terjatuh ke danau itu. Tim Basarnas yang datang mencari tubuh pelajar itu tidak pernah menemukannya hingga kini. Makin ke dalam danau itu, oksigen semakin berkurang. Sehingga Tim Basarnas yang turun menggunakan tambang harus menggunakan tabung oksigen. Singkat kata: angker deh!

Usai mengunjungi danau tiga warna itu, saya singgah di sebuah tugu. Penjual kopi menyapa saya dan menawarkan segelas kopi. Lumayan untuk menghilangkan tubuh yang kedinginan.

Penjual kopi tersebut sudah sangat tua. Kulitnya hitam legam. Dia sangat ramah dan banyak cerita tentang Danau Kelimutu. Ia juga menjual kain tenun khas daerah setempat. Ada yang ukuran besar tetapi ada pula yang berukuran sedang dan kecil.

Perlahan tapi pasti kabut mulai turun. Danau Kelimutu mulai tertutup. Tanda akhir perjalanan ke sana berakhir. Saya dan teman-teman pun pamit dari danau tersebut. Kami turun ke lokasi parkir mobil untuk kembali ke penginapan.

Perjalanan saya ke Danau Tiga Warna itu kemudian saya tuangkan dalam sebuah tulisan wisata berjudul “Danau Kelimutu, Keajaiban yang Nyaris Terlupakan” dan dimuat satu halaman di Harian Sinar Harapan pada 6 Juli 2005.

Ternyata tulisan saya itu menjadi pemenang ketiga kategori media cetak Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2005 yang diselenggarakan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Saya pun diundang ke Kantor Departemen Kebudayaan dan Pariwisata persis di depan Patung Kuda pada Januari 2006.

Saya pun mendapat penghargaan langsung dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Wah senang banget. Sang menteri menyalami saya dan sempat bertutur singkat. Katanya, “Tulisan kamu soal Danau Kelimutu menarik karena kamu menghitung jumlah anak tangga hingga ke singgah ke Danau Kelimutu. Detail yang kamu paparkan itu luar biasa.”

Ternyata soal jumlah anak tangga yang saya tulis menuju kawasan Danau Kelimuti membawa kemenangan. Intinya, detail-detail dalam sebuah laporan apalagi menyangkut daerah wisata adalah kunci tulisan agar dibaca orang lho. Bahkan, bukan tidak mungkin meraih penghargaan seperti yang saya alami. Asik kan?

Apakah artikel ini bermanfaat?

Bagikan Artikel Ini

Foto Norman Meoko

Norman Meoko

Wartawan senior Indonesia, mantan Pemimpin Redaksi Harian Sinar Harapan. Kini menetap di Minahasa, Sulawesi Utara.

Tentang Penulis β†’

Pilihan Redaksi

← Kembali ke Beranda