Jalan Pasar Lama di Tomohon pernah menjadi tempat orang mencari nafkah, bertemu, dan bertukar kabar. Ketika pasar berpindah, keramaiannya perlahan menghilang. Namun di antara toko-toko yang tutup, masih ada orang-orang yang bertahan, menjaga kehidupan di jalan yang pernah makmur itu.
Sore itu hujan turun tanpa permisi.
Saya buru-buru memarkir motor, lalu berlari mencari tempat berteduh di emperan sebuah toko. Di sana sudah ada seekor anjing kampung. Tubuhnya rebah di lantai, kepalanya terangkat sedikit ketika melihat saya datang.
Ia melirik sebentar, kemudian memejamkan mata lagi. Tenang sekali. Tidak menyalak marah. Barangkali karena ia tidak punya cicilan motor, tidak perlu membayar listrik, dan tidak pernah khawatir kehilangan pekerjaan.
Saya berdiri di dekatnya, menunggu hujan reda. Dari emperan toko itulah saya mulai memperhatikan Jalan Pasar Lama.
Jalan ini pernah menjadi salah satu tempat paling ramai di Tomohon. Orang datang untuk berbelanja, berdagang, mencari angkutan, makan, atau sekadar bertemu kenalan. Sekarang, pada sore yang basah itu, kendaraan hanya sesekali melintas.
Di seberang jalan, beberapa toko tertutup. Pintu kayu yang mulai lapuk berdampingan dengan gerbang besi berkarat. Cat dinding mengelupas. Ada papan nama toko yang hurufnya sudah hilang sebagian, membuat orang harus menebak usaha apa yang pernah menempati bangunan itu.
Di ujung jalan, seorang bapak tua duduk sendirian di depan kios. Saya tidak tahu apakah kios itu masih beroperasi atau sudah lama tutup. Bapak itu hanya duduk, sesekali memandang kendaraan yang lewat.
Jalan Pasar Lama tidak benar-benar kosong. Masih ada orang, toko, rumah makan, dan kendaraan yang melintas. Hanya saja, dibandingkan dengan cerita tentang masa lalunya, jalan ini terasa begitu lengang.
Saya sedang memperhatikan deretan bangunan itu ketika Nal datang dari arah timur. Di tangannya ada tas kresek. Sebatang rokok terselip di bibirnya. Nama lengkapnya Renaldo, tetapi hampir tidak ada yang memanggilnya begitu, kecuali mungkin ibunya ketika sedang marah. Nal lahir dan besar di Tomohon. Ia mengenal banyak sudut kota ini, termasuk jalan yang sekarang sedang kami pandangi.
“Dari tadi di sini?” tanyanya.
“Tadinya mau ke rumah teman di jalan atas sana. Tiba-tiba hujan, jadi singgah.”
Nal mengangguk. Ia memandang deretan toko di depan kami.
“Dulu di sini susah cari tempat parkir,” katanya. “Ramai sekali. Pedagang sampai berjubel di jalan. Toko-toko, rumah makan, semua ramai.”
Ia berhenti sebentar.
“Sekarang lihat sendiri.”
Saya kembali memandang jalan.
Sulit membayangkan bahwa tempat yang sore itu hanya sesekali dilewati kendaraan pernah menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi warga Tomohon.
Tetapi bagi Nal, keramaian itu bukan sesuatu yang perlu dibayangkan. Ia pernah menyaksikannya sendiri.
Ketika Jalan Ini Menjadi Tujuan Banyak Orang
Dahulu, orang mengenalnya sebagai Jalan Pasar.
Namanya sederhana. Tidak memerlukan penjelasan panjang, apalagi konsultan komunikasi. Disebut Jalan Pasar karena jalan itu menuju pasar.
Sesederhana itu.
Ketika pasar masih berada di kawasan tersebut, orang-orang berdatangan sejak subuh. Ada pedagang dari Rurukan dan Kumelembuay, dari Lahendong, Woloan, dan Taratara. Ada pula yang datang dari Ranotongkor, Lolah, Lemoh, Tataaran, Tondano, Kawangkoan, Sonder, bahkan Manado, serta kota/kabupaten lain.
Mereka membawa hasil kebun, ikan, pakaian, dan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Para tibo, sebutan yang akrab bagi pedagang pasar di Minahasa, menggelar dagangan di tempat yang tersedia. Ketika bagian dalam pasar sudah penuh, kegiatan jual beli meluas sampai ke pinggir jalan.
Pisang, ubi, sayur, tomat, rica, dan ikan segar memenuhi lapak. Pembeli berjalan di antara pedagang yang menawarkan barang. Kendaraan mencari jalan melewati kerumunan. Angkutan umum berhenti menunggu penumpang.
Orang datang bukan hanya untuk berbelanja. Pasar juga menjadi tempat bertukar kabar.
“Dulu kalau mau tahu siapa kawin lari, siapa main judi, siapa belum bayar utang, atau siapa baru beli motor, datang saja ke pasar,” kata Nal.
Saya tertawa.
“Media sosial zaman dulu.”
“Lebih cepat malah. Belum sampai rumah, berita sudah sampai duluan.”
Kami tertawa lagi.
Nal mengisap rokoknya, lalu melanjutkan cerita tentang orang-orang yang dahulu saling mengenal di pasar. Pedagang mengetahui pelanggan tetapnya. Pembeli tahu kepada siapa harus mencari ikan segar, sayur yang baru dipetik, atau kabar terbaru dari kampung sebelah.
Informasi beredar dari mulut ke mulut.
Tentu saja tidak semuanya benar. Gosip tetaplah gosip, bahkan ketika disampaikan oleh orang yang sangat meyakinkan. Tetapi pasar menyediakan sesuatu yang sekarang sering hilang dalam percakapan di media sosial: kesempatan bertanya langsung kepada orang yang menyampaikan kabar.
“Kalau dulu, bisa langsung tanya orangnya,” kata Nal. “Sekarang berita dari akun tidak jelas saja bisa dipercaya banyak orang.”
Saya membayangkan suasana pasar pada masa itu.
Suara pedagang menawarkan dagangan bercampur dengan percakapan pembeli. Aroma ikan, sayuran, makanan yang sedang dimasak, dan asap kendaraan memenuhi udara. Orang berdesakan, kadang berselisih karena tempat parkir atau lapak, kemudian kembali berurusan dengan kegiatan masing-masing.
Pasar bukan tempat yang selalu nyaman. Tetapi di sanalah banyak orang mencari penghidupan.
“Kacau, tapi ada jiwanya,” kata Nal.
Ia memandang jalan yang basah.
“Sekarang lebih tertib, mungkin. Tapi sepi.”
Kalimat itu membuat saya berpikir.
Barangkali yang hilang dari Jalan Pasar Lama bukan semata keramaian. Ada hubungan antarmanusia yang ikut berubah ketika tempat mereka biasa bertemu tidak lagi menjadi tujuan sehari-hari.
Ketika Pasar Berpindah
Perubahan besar terjadi ketika pemerintah Kabupaten Minahasa memindahkan pasar ke kawasan jalan lingkar timur, masih di wilayah Paslaten.
Waktu itu Tomohon belum menjadi daerah otonom. Statusnya masih kecamatan dalam wilayah Kabupaten Minahasa. Pemindahan pasar dilakukan dengan alasan penataan kota.
“Penataan kota,” Nal mengulang dua kata itu sambil tersenyum kecil.
“Apa yang salah?” tanya saya.
“Tidak ada. Kalau memang ditata dengan baik.”
Ia membuang abu rokok ke pinggir jalan.
“Masalahnya, yang dipindahkan bukan cuma pasar. Kehidupan orang-orang yang bergantung pada pasar itu juga ikut berubah.”
Saya tidak langsung menjawab.
Penataan kota tentu diperlukan. Pasar yang semakin padat membutuhkan ruang, akses kendaraan, pengelolaan sampah, sanitasi, dan fasilitas yang lebih memadai. Tidak semua kegiatan ekonomi dapat terus dibiarkan tumbuh tanpa pengaturan.
Tetapi pemindahan sebuah pasar juga bukan sekadar urusan memindahkan bangunan dan lapak.
Ada pedagang yang telah bertahun-tahun membangun hubungan dengan pelanggan. Ada pemilik toko yang mengandalkan orang-orang yang datang ke pasar. Ada rumah makan yang hidup dari pembeli, sopir angkutan, buruh, dan pedagang yang setiap hari melewati jalan itu.
Ketika pasar berpindah, kebiasaan orang berbelanja ikut berubah. Jalan yang sebelumnya dilewati banyak orang tidak lagi menjadi jalur utama kegiatan mereka.
Kawasan bekas pasar kemudian mengalami beberapa perubahan fungsi.
Pernah menjadi Taman Kota, tempat yang dimaksudkan sebagai ruang terbuka bagi masyarakat. Belakangan kawasan itu berkembang menjadi kompleks perkantoran dan fasilitas publik, termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, gedung Pramuka, museum, serta Aula Anugerah.
“Taman Kotanya sekarang di mana?” tanya saya.
“Pindah ke arah Rurukan. Sekarang namanya Hutan Kota.”
“Naik kelas.”
“Atau naik gunung.”
Saya tertawa.
Nal tidak ikut tertawa lama. Ia kembali memandang jalan.
Mungkin baginya, perubahan nama dan fungsi bangunan bukan persoalan utama. Yang ia ingat adalah bagaimana sebuah kawasan yang dahulu menjadi tempat orang mencari nafkah perlahan kehilangan pengunjungnya.
Hujan mulai reda.
Kami meninggalkan emperan toko dan berjalan menyusuri Jalan Pasar Lama.
Anjing yang tadi menemani saya masih berbaring di tempatnya. Ia tampaknya tidak tertarik mengikuti pembicaraan tentang penataan kota.
Orang-orang yang Masih Bertahan
Air hujan mengalir pelan di pinggir jalan.
Kami melewati beberapa ruko yang tertutup. Di antaranya masih ada usaha yang bertahan: warung kecil, kios pulsa, bengkel, dan rumah makan.
Di depan sebuah bengkel, satu motor tampak sedang dibongkar. Tidak terlihat banyak kegiatan di sekitarnya.
“Harga tanah di sini sudah jauh turun dibandingkan dulu,” kata Nal.
Saya menoleh.
“Sejak pasar pindah?”
“Iya. Dulu lokasi di sini mahal. Orang berebut mau buka usaha.”
Pernyataan Nal itu membuat saya kembali memperhatikan bangunan-bangunan di sepanjang jalan.
Harga tanah tentu dipengaruhi banyak hal. Tetapi perubahan aktivitas ekonomi dapat memengaruhi daya tarik suatu kawasan. Tempat yang dahulu dianggap strategis karena dekat dengan pasar bisa kehilangan sebagian keunggulannya ketika pusat kegiatan berpindah.
“Yang saya kasihan, orang-orang yang dulu taruh modal di sini,” kata Nal.
Ia menunjuk deretan toko.
“Dulu mereka pikir tempat ini akan terus ramai.”
Saya membayangkan orang-orang yang pernah membangun usaha dengan harapan demikian. Mungkin ada yang menggunakan tabungan bertahun-tahun untuk membeli tanah. Ada yang membangun kios sedikit demi sedikit. Ada yang meminjam uang karena yakin penghasilan dari toko akan cukup untuk membayar cicilan.
Itu hanya bayangan saya. Saya tidak tahu riwayat pemilik setiap bangunan yang kami lewati.
Namun satu hal terlihat jelas: sebagian bangunan yang dahulu digunakan untuk berdagang sekarang tidak lagi menunjukkan banyak kegiatan.
“Ada yang pindah ke pasar baru?” tanya saya.
“Ada. Banyak yang coba usaha di sana.”
“Berhasil?”
“Macam-macam. Tapi pasar baru sekarang juga tidak seramai dulu.”
Nal kemudian bercerita tentang terminal di kawasan pasar baru. Menurutnya, semakin sedikit penumpang dan angkutan umum yang menggunakan terminal sebagaimana dahulu diharapkan. Sebagian sopir lebih memilih menunggu penumpang di sekitar pusat kota atau tempat-tempat yang lebih mudah dijangkau.
“Terminal itu sekarang juga dipakai untuk parkir kendaraan pengunjung pasar,” katanya. “Saya dengar kabar terbaru mau dijadikan Mal Pelayanan Publik.”
Saya mendengarkan. Kabar mengenai rencana perubahan fungsi terminal itu memang saya sudah lihat beritanya di media sosial berupa video pendek, ada keterangan dari Wali Kota Tomohon.
Tetapi cerita Nal mengingatkan saya pada persoalan yang lebih luas.
Fasilitas umum bisa dibangun dengan perencanaan yang baik di atas kertas. Namun keberhasilannya tetap bergantung pada apakah masyarakat benar-benar menggunakan fasilitas tersebut.
Orang memilih tempat naik kendaraan berdasarkan kebiasaan, jarak, biaya, dan kemudahan. Pedagang memilih lokasi berdasarkan pembeli. Pembeli mendatangi tempat yang dianggap paling praktis.
Kebiasaan-kebiasaan itu tidak selalu berubah hanya karena sebuah fasilitas baru selesai dibangun.
“Mungkin masalahnya bukan di mana pasar itu berada,” kata saya.
Nal menoleh.
“Lalu?”
“Bagaimana perpindahannya dilakukan. Memindahkan pasar itu seperti memindahkan pohon tua. Kalau akarnya banyak yang putus, belum tentu pohonnya bisa tumbuh baik di tempat baru.”
Nal berpikir sebentar.
“Lumayan juga teorimu.”
Saya tersenyum.
“Tapi pohon tidak bisa protes ke DPRD,” lanjutnya.
“Kalau pedagang bisa?”
“Bisa. Pertanyaannya, siapa yang dengar?”
Kami melanjutkan perjalanan.
Dua Puluh Tiga Tahun di Tempat yang Sama
Di sebuah belokan, kami menemukan rumah makan sederhana yang masih buka. Seorang ibu paruh baya sedang mengelap meja. Rambutnya diikat ke belakang. Kaos yang dikenakannya sudah agak pudar. Di salah satu sudut ruangan, seorang lelaki duduk menghadap televisi.
Nal mengenal perempuan itu.
“Bu Onda!” sapanya.
Perempuan itu mengangkat wajah. Rupanya mereka pernah bertetangga.
Kami masuk dan memesan kopi.
Rumah makan itu tidak ramai. Kursi-kursi tersusun di sekitar meja. Tidak ada pembeli lain yang terlihat ketika kami datang.
Bu Onda membawa dua gelas kopi, kemudian meletakkannya di meja.
“Sudah lama buka di sini, Bu?” tanya saya.
“Dua puluh tiga tahun.”
Jawabannya singkat.
Saya mencoba menghitung dalam kepala. Dua puluh tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk mempertahankan usaha di satu tempat.
“Kalau dulu ramai, Bu?”
Bu Onda terdiam sebentar.
“Dulu saya punya tiga pegawai,” katanya. “Sekarang tinggal saya sendiri.”
Ia kembali mengelap meja.
Saya memperhatikan tangannya. Gerakan itu tampak begitu biasa, seperti pekerjaan yang sudah dilakukan ribuan kali.
Tiga pegawai yang dahulu membantunya kini tidak ada lagi. Saya tidak tahu kapan mereka berhenti bekerja atau ke mana mereka pergi. Tetapi perubahan itu cukup menggambarkan bagaimana keadaan usaha Bu Onda sekarang berbeda dengan masa sebelumnya.
“Kenapa tidak pindah ke tempat yang lebih ramai?” tanya Nal.
Bu Onda menatapnya.
“Pindah ke mana? Sewa tempat di pusat kota mahal. Modal dari mana?”
Ia berhenti sebentar.
“Saya sudah tua, Nal. Ini tanah sendiri. Kalau pergi dari sini, mau ke mana?”
Tidak ada nada mengeluh dalam jawabannya. Ia hanya menjelaskan keadaan.
Saya menatap ruangan rumah makan itu.
Selama dua puluh tiga tahun, Bu Onda tentu telah melihat banyak perubahan di jalan ini. Ia pernah melayani pelanggan ketika kawasan masih ramai, kemudian menyaksikan jumlah pengunjung berkurang.
Sekarang ia tetap membuka rumah makan, menyiapkan minuman, membersihkan meja, dan menunggu orang datang.
Bertahan tidak selalu berarti seseorang yakin keadaan akan membaik. Kadang orang bertahan karena tempat itulah yang masih dimilikinya.
Saya ingin bertanya lebih banyak, tetapi urung.
Ada pertanyaan yang mudah diajukan oleh orang yang hanya singgah minum kopi, tetapi jawabannya harus dijalani bertahun-tahun oleh orang lain.
Kami menghabiskan kopi perlahan.
Di luar, seekor kucing melintas di trotoar. Ia berjalan santai, tidak peduli pada rumah makan yang sepi ataupun dua orang yang sedang membicarakan nasib sebuah jalan.
Siapa yang Mengingat Jalan Ini?
“Kota ini aneh,” kata Nal ketika kami masih duduk.
“Aneh bagaimana?”
“Terus berubah. Tapi tidak selalu maju.”
Saya menunggu ia melanjutkan.
“Pindahkan ini ke sana. Pindahkan itu ke sini. Ganti nama. Bangun yang baru. Resmikan. Lalu beberapa tahun kemudian, pindah lagi.”
“Bukankah semua kota begitu?”
“Mungkin. Tapi di kota kecil, perubahannya lebih terasa. Orang masih ingat apa yang dulu ada di suatu tempat.”
Saya mengangguk.
Tomohon memang tidak sebesar kota-kota metropolitan. Orang yang telah lama tinggal di sini masih bisa menunjuk sebuah bangunan dan menceritakan apa yang pernah berdiri di sana. Seperti halnya cerita dalam artikel Mengapa Tomohon Disebut Kota Bunga?, yang mengungkap bagaimana identitas sebuah kota terbentuk dari hal-hal yang tumbuh dan dirawat oleh warganya.
Sebuah kantor mungkin dahulu pasar. Sebuah jalan yang sekarang sepi pernah dipenuhi kendaraan. Sebuah toko yang tertutup pernah menjadi tempat orang mengantre.
Ingatan warga menyimpan peta kota yang berbeda dengan peta administrasi.
“Yang saya sesalkan bukan cuma sepinya jalan ini,” kata Nal.
“Lalu?”
“Tidak ada yang merasa bertanggung jawab.”
Saya memandangnya.
“Ketika pasar dipindahkan, ada keputusan pemerintah. Ada yang merencanakan, ada yang membangun. Tapi ketika kawasan lama ini semakin sepi, siapa yang memikirkan nasibnya?”
Pertanyaan itu tidak mudah dijawab.
Perubahan kawasan perkotaan memang tidak pernah disebabkan satu faktor saja. Ada perkembangan transportasi, pergeseran pusat perdagangan, perubahan kebiasaan konsumen, persaingan usaha, dan keputusan-keputusan pemerintah yang saling berkaitan.
Karena itu, tidak tepat pula menyimpulkan bahwa seluruh kemunduran Jalan Pasar Lama semata-mata akibat pemindahan pasar. Namun pertanyaan Nal tetap penting.
Ketika sebuah pusat kegiatan ekonomi dipindahkan, apakah kawasan yang ditinggalkan juga dipikirkan masa depannya?
Apakah ada rencana untuk menjaga usaha-usaha yang masih bertahan?
Apakah warga dan pedagang yang terdampak mendapat kesempatan menyampaikan kebutuhan mereka?
Saya belum memiliki jawaban. Yang ada di hadapan saya sore itu adalah sebuah jalan yang jauh lebih sepi daripada masa yang diingat Nal, dan seorang pemilik rumah makan yang masih berusaha mempertahankan penghidupannya.
“Memang tidak ada yang bisa dilakukan?” tanya saya.
Nal mengangkat bahu.
“Entah. Tapi mestinya ada yang bisa dicoba.”
Keramaian yang Tidak Kembali
Kami membayar kopi dan berpamitan kepada Bu Onda serta suaminya.
Di luar, sore mulai beranjak gelap. Jalan masih basah. Cahaya matahari yang tersisa jatuh di antara bangunan, sementara beberapa lampu mulai menyala.
Bapak tua yang tadi saya lihat di depan kios masih berada di tempat yang sama. Ketika kami melewatinya, ia mengangguk kecil. Saya membalas anggukannya.
Entah sudah berapa lama ia duduk di sana. Saya tidak tahu apakah ia pemilik kios, sedang menunggu seseorang, atau sekadar menikmati sore.
Saya juga tidak ingin menganggap setiap orang yang duduk sendirian di depan toko sebagai korban kemunduran ekonomi.
Bisa saja bapak itu sedang beristirahat setelah bekerja. Bisa juga ia sedang menunggu kendaraan atau seorang teman. Tetapi kehadirannya membuat saya kembali memikirkan orang-orang yang hidupnya pernah berhubungan erat dengan Jalan Pasar Lama.
Berapa banyak dari mereka yang masih tinggal di sini?
Berapa banyak yang telah memindahkan usaha?
Dan berapa banyak yang tidak punya pilihan selain bertahan?
“Kadang saya rindu suasana dulu,” kata Nal.
Ia mengatakannya pelan.
Saya memahami kerinduannya, meski tidak ingin terburu-buru menganggap masa lalu selalu lebih baik.
Pasar lama tentu mempunyai persoalannya sendiri. Keramaian bisa berarti kemacetan, sampah, kesulitan parkir, dan berbagai masalah yang mungkin dahulu dikeluhkan warga.
Ingatan manusia memang sering memilih bagian yang menyenangkan. Kita mengingat pertemuan dengan teman lama, tetapi melupakan betapa sulitnya mencari tempat parkir. Namun yang dirindukan Nal tampaknya bukan sekadar jalan yang ramai.
“Mungkin yang kamu rindukan bukan cuma pasarnya,” kata saya.
Nal menoleh.
“Tapi orang-orangnya. Dulu semua punya alasan datang ke sini.”
Ia diam sebentar.
“Bisa jadi.”
Kami terus berjalan.
Di pinggir jalan, plastik-plastik kecil tersangkut di saluran air. Seekor burung hinggap di papan nama toko yang hurufnya sudah tidak lengkap.
Bangunan-bangunan itu masih berdiri. Jalan masih bisa dilalui. Beberapa usaha tetap buka. Tetapi sebuah tempat tidak hidup hanya karena bangunannya masih ada. Ia hidup karena orang datang, bekerja, bertemu, berbelanja, berbincang, dan memiliki alasan untuk kembali.
Yang Tersisa di Jalan Pasar Lama
Di ujung jalan, saya berhenti dan menoleh ke belakang.
Dari tempat itu, deretan bangunan terlihat memanjang mengikuti jalan. Sebagian pintu toko tertutup. Ada rerumputan tumbuh di sela trotoar. Di kejauhan, bapak tua tadi masih tampak duduk di depan kios.
Saya teringat Bu Onda.
Dua puluh tiga tahun membuka rumah makan di tempat yang sama. Dahulu dibantu tiga pegawai, sekarang bekerja sendiri. Ia tidak pindah karena tempat lain membutuhkan biaya yang belum tentu mampu ditanggungnya.
Saya juga teringat cerita Nal tentang para pedagang yang pernah memenuhi jalan ini. Mereka datang membawa barang dagangan dan harapan sederhana: menjual cukup banyak untuk membawa pulang penghasilan.
Bagi orang yang hanya melewati Jalan Pasar Lama sekarang, deretan toko yang tutup mungkin sekadar pemandangan biasa. Tetapi bagi mereka yang pernah menggantungkan hidup di sini, setiap bangunan bisa menyimpan cerita yang panjang.
Tentang usaha yang dimulai dengan modal kecil. Tentang pelanggan yang datang setiap pagi. Tentang anak-anak yang tumbuh dari penghasilan toko orang tuanya. Tentang keputusan untuk bertahan atau akhirnya pergi.
Cerita-cerita itu tidak selalu tercatat dalam dokumen pembangunan.
Ketika sebuah pasar dipindahkan, yang biasanya mudah dihitung adalah luas lahan, jumlah kios, kapasitas parkir, biaya pembangunan, dan fasilitas yang tersedia. Yang jauh lebih sulit dihitung adalah perubahan dalam kehidupan orang-orang yang selama bertahun-tahun bergantung pada kawasan tersebut.
Jalan Pasar Lama membuat saya memikirkan hal itu.
Kemajuan sebuah kota tidak cukup dinilai dari banyaknya bangunan baru atau luasnya jalan. Kita juga perlu melihat apa yang terjadi pada tempat-tempat yang ditinggalkan oleh perubahan.
Ini sejalan dengan pertanyaan yang diangkat dalam artikel Kota yang Pernah Diperjuangkan, Kota yang Kini Harus Membuktikan Diri, tentang bagaimana sebuah kota memperjuangkan masa depannya.
Apakah orang-orang yang hidup di sana masih mempunyai kesempatan untuk mencari nafkah?
Apakah kawasan lama diberi peluang menemukan fungsi baru?
Dan apakah keputusan pembangunan benar-benar mempertimbangkan kehidupan warga yang akan menanggung akibatnya?
Saya tidak tahu apakah Jalan Pasar Lama suatu hari akan kembali ramai.
Mungkin kawasan ini akan menemukan kegiatan ekonomi baru. Mungkin beberapa bangunan akan digunakan untuk usaha yang berbeda. Mungkin pula jalan ini akan tetap seperti sekarang untuk waktu yang lama.
Tetapi selama masih ada orang yang tinggal, bekerja, dan bertahan di sini, ceritanya belum selesai.
“Mau ke mana sekarang?” tanya Nal, membuyarkan pikiran saya.
“Cari makan. Kamu tahu tempat makan enak yang masih ramai?”
“Ada. Tapi agak jauh.”
“Jalan kaki?”
“Bisa naik mikro. Tapi tunggunya lama. Kadang lewat, kadang tidak. Lebih baik naik ojek.”
“Berarti masih ada mikro lewat sini?”
“Ada. Satu dua. Yang setia.”
Saya tertawa.
Di jalan yang dahulu ramai itu, rupanya masih ada beberapa hal yang belum berubah sepenuhnya.
Mikro tua yang sesekali melintas. Bu Onda yang tetap membuka rumah makan. Bapak tua yang duduk di depan kios. Beberapa pemilik usaha yang masih menunggu pelanggan. Dan seekor anjing kampung yang tadi menemani saya berteduh.
Ketika saya menoleh ke arah emperan toko tempat kami pertama kali bertemu, anjing itu masih ada. Ia tetap berbaring dengan tenang.
Barangkali baginya, tidak penting apakah jalan ini dahulu bernama Jalan Pasar, sekarang Jalan Pasar Lama, atau suatu hari nanti mendapat nama baru.
Selama masih ada tempat berteduh, ia tidak punya alasan untuk pergi.
Manusia tentu tidak sesederhana itu.
Bu Onda membutuhkan pembeli. Pedagang membutuhkan pasar. Sopir membutuhkan penumpang. Sebuah kota membutuhkan kegiatan yang membuat orang-orangnya bisa terus hidup.
Dan mungkin, seperti yang diulas dalam artikel Di Kota Bunga, ke Mana Kaki Kita Harus Berjalan?, sebuah kota juga membutuhkan arah dan ruang bagi warganya untuk melangkah.
Saya kemudian bersama Nal menuju ke rumah makan. Perut saya sudah lapar. Sementara di belakang kami, Jalan Pasar Lama perlahan ditinggalkan cahaya sore.
Besok pagi, Bu Onda mungkin akan kembali membuka rumah makannya, membersihkan meja, menyiapkan kopi, dan menunggu pelanggan.
Seperti yang telah dilakukannya selama dua puluh tiga tahun.
Entah berapa orang yang akan datang.









