Setelah Soputan, Awu, dan Klabat dilanda kebakaran, kini api menjalar di lereng Gunung Lokon. Di tengah asap yang menyelimuti Tomohon, warga dan petugas berjibaku menghadapi kobaran api. Peristiwa ini bukan sekadar cerita tentang hutan yang terbakar, melainkan juga tentang alam yang semakin rentan dan semangat Mapalus yang diuji oleh perubahan zaman.
TOMOHON, Selasa, 13 Oktober 2026.
Ada sesuatu yang mengerikan ketika melihat api berkobar di lereng gunung.
Bukan hanya nyalanya yang membesar. Bukan semata-mata asap yang membubung ke udara. Melainkan betapa cepat api bergerak, sementara manusia yang berusaha menghentikannya harus berhadapan dengan medan yang sulit dijangkau.
Pemandangan itulah yang saya dan warga lainnya saksikan ketika mendatangi salah satu lokasi kebakaran Gunung Lokon, Selasa pagi, 13 Oktober 2026.
Saya memang tidak berada lama di sana. Namun, apa yang terlihat dalam waktu singkat itu cukup untuk memperlihatkan betapa beratnya perjuangan menghadapi kebakaran di kawasan pegunungan.
Api berkobar dengan cepat.
Medannya tidak mudah dijangkau.
Di tengah keadaan itu, sejumlah warga yang menjadi relawan, bergerak bersama petugas pemadam kebakaran dan aparat terkait. Mereka bahu-membahu berusaha memadamkan api.
Di hadapan kobaran yang terus bergerak, perbedaan antara kemampuan manusia dan kekuatan alam terasa begitu nyata.
Api tidak menunggu siapa pun.
Sementara manusia harus mencari jalan untuk mendekatinya, memperhitungkan keselamatan, dan berusaha menghentikannya sebelum menjalar lebih jauh.
Pagi itu, Gunung Lokon bukan lagi sekadar gunung yang menjulang di atas Kota Tomohon.
Ia menjadi tempat orang-orang mengerahkan tenaga dan menghadapi bahaya demi menyelamatkan lingkungan mereka.
Kabar Buruk yang Menyebar Cepat
Di Kakaskasen, dan seantero Kota Tomohon, bahkan Sulawesi Utara, kabar kebakaran dengan cepat menjadi pembicaraan.
Di rumah-rumah, pertokoan, pasar, hingga rumah kopi, orang membicarakan api yang terlihat bergerak ke arah puncak Gunung Lokon. Media sosial pun ramai oleh kabar dan gambar kebakaran.
“Api dengan cepat naik ke puncak gunung,” kata seorang warga Kakaskasen, menggambarkan kobaran yang dilihatnya pagi itu.
“So sapa lagi yang ba bakar ini. Kan tidak mungkin terbakar sendiri,” sahut warga lainnya.
Kalimat terakhir itu terdengar seperti tuduhan. Namun, barangkali lebih tepat dipahami sebagai kegelisahan.
Sebab, ketika api membakar lereng gunung, pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab hampir selalu muncul lebih cepat daripada jawabannya.
Hingga tulisan ini disusun, belum ada informasi pasti mengenai penyebab kebakaran maupun luas kawasan yang terdampak.
Informasi awal yang beredar menyebutkan api diduga bermula dari kaki Gunung Lokon di wilayah Kakaskasen, tidak jauh dari kawasan wisata. Dari sana, kobaran dilaporkan merambat ke bagian lereng yang lebih tinggi.
Di kawasan pegunungan, kebakaran vegetasi dapat berkembang cepat, terutama ketika rerumputan, semak, dan serasah mengering. Angin, kemiringan lereng, serta banyaknya bahan yang mudah terbakar turut menentukan arah dan kecepatan penjalaran api.
Pada lereng yang menanjak, panas dari api dapat mempercepat pemanasan vegetasi di bagian atasnya. Itulah salah satu alasan kebakaran di medan pegunungan sering kali sulit dikendalikan.
Bagi masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Lokon, persoalannya bukan hanya seberapa jauh api bergerak.
Tetapi juga seberapa dekat ancaman itu dengan kehidupan mereka.
Gunung Lokon bukan sekadar bentang alam yang indah dipandang dari kejauhan. Di kaki dan lerengnya terdapat kawasan perkebunan, vegetasi pegunungan, serta ruang hidup yang berhubungan erat dengan keseharian masyarakat.
Ketika api menjalar, yang terancam bukan hanya pepohonan.
Ada tanah yang kehilangan penutup alaminya. Ada habitat satwa yang terganggu. Ada kehidupan kecil di antara akar, semak, dan serasah hutan yang mungkin luput dari perhatian manusia.
Dan ada masyarakat yang harus menghadapi kemungkinan kehilangan lingkungan yang selama ini mereka kenal.
Di Hadapan Api, Manusia Menjadi Kecil
Kabar kebakaran segera menggerakkan sejumlah warga Kakaskasen bersama unsur pemerintah, petugas pemadam kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepolisian, dan TNI.
Dari kantor kelurahan, seruan agar masyarakat ikut membantu juga disampaikan.
“Tadi dari kantor kelurahan telah mengumumkan adanya peristiwa kebakaran di Gunung Lokon ini. Masyarakat diminta membantu memadamkan api,” kata seorang perempuan paruh baya di Kakaskasen.
Ajakan itu memperlihatkan bahwa kebakaran di lereng gunung tidak selalu dapat dihadapi hanya dengan mengandalkan petugas.
Ada medan yang sulit dijangkau kendaraan. Ada kawasan perkebunan dan jalur menuju hutan yang menuntut tenaga manusia.
Memadamkan kebakaran vegetasi bukan pekerjaan sederhana.
Di medan menanjak, petugas dan relawan harus menghadapi hawa panas, sementara asap dapat berubah arah mengikuti embusan angin.
Tubuh bisa mengeluarkan banyak keringat. Tenggorokan mengering. Mata terasa perih ketika asap menerpa wajah. Napas pun dapat menjadi berat.
Dalam kondisi demikian, kebutuhan paling sederhana—seteguk air minum dan kesempatan menghirup udara bersih—menjadi sangat berharga.
Petugas dan relawan juga harus memperhatikan arah angin serta jalur penyelamatan diri. Kebakaran di lereng dapat berubah menjadi perangkap apabila api bergerak memotong jalan keluar.
Keberanian memang dibutuhkan. Namun, keberanian tanpa kewaspadaan justru dapat menambah korban.
Di hadapan api yang terus merambat, manusia diingatkan bahwa alam tidak bisa ditaklukkan hanya dengan semangat.
Diperlukan pengetahuan, koordinasi, perlengkapan keselamatan, dan kerja bersama.
Dan pagi itu, di lereng Gunung Lokon, kerja bersama tersebut masih terlihat.
Jumlah relawan mungkin tidak banyak. Namun, mereka hadir. Mereka bergerak bersama petugas, berusaha menghentikan api yang terus berkobar.
Dalam situasi seperti itulah solidaritas menemukan maknanya yang paling sederhana: kesediaan untuk membantu ketika orang lain sedang menghadapi kesulitan.
Ada yang Membantu, Ada yang Mengabadikan
Di zaman ketika hampir setiap orang membawa kamera dalam genggamannya, peristiwa kebakaran juga menghadirkan pemandangan sosial yang berbeda dibandingkan masa lalu.
Ada warga yang turun membantu. Ada yang memantau perkembangan api dari tempat aman. Ada pula yang datang untuk mengambil gambar atau merekam video.
Kehadiran kamera tentu tidak selalu keliru.
Dokumentasi warga dapat membantu menyebarkan informasi, menunjukkan lokasi kebakaran, bahkan menjadi bahan awal bagi pihak berwenang untuk memahami situasi.
Namun, persoalan muncul ketika keinginan memperoleh gambar dramatis mengalahkan kepedulian terhadap keselamatan.
Ketika kebakaran berubah menjadi tontonan, ada sesuatu yang patut direnungkan.
Apakah kita datang karena ingin membantu, atau sekadar ingin menjadi orang pertama yang mengunggah peristiwa?
Di media sosial, video kobaran api mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk menarik perhatian.
Tetapi bagi orang-orang yang berusaha memadamkannya, beberapa detik dapat menentukan keselamatan.
Sebuah rekaman bisa memperoleh ribuan penonton. Sementara di lapangan, bantuan sederhana seperti menyediakan air minum, mengantar logistik, atau memastikan jalur evakuasi tetap terbuka bisa jauh lebih berarti.
Tentu saja, bantuan semacam itu harus dilakukan sesuai arahan petugas agar tidak menambah risiko di lokasi kebakaran.
Sebab, kepedulian tidak selalu harus dibuktikan dengan berdiri paling dekat dengan api.
Satu demi Satu Gunung Terbakar
Kebakaran Gunung Lokon bukan peristiwa yang berdiri sendiri dalam perjalanan beberapa bulan terakhir.
Sebelumnya, kabar kebakaran juga datang dari sejumlah gunung di Sulawesi Utara.
Pada Agustus 2026, kawasan hutan lindung Gunung Soputan di Minahasa Tenggara dilanda kebakaran.
September menyusul kabar kebakaran Gunung Awu di Kepulauan Sangihe.
Kemudian, Gunung Klabat di Minahasa Utara mengalami kebakaran yang meluas hingga ratusan hektare.
Kini, Oktober, giliran Gunung Lokon.
Soputan. Awu. Klabat. Lokon.
Empat nama gunung yang begitu akrab dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Utara, kini terhubung oleh cerita yang sama: api.
Beberapa pekan sebelumnya, dalam tulisan Ketika Gunung Mulai Terbakar, saya telah menyinggung betapa rentannya bentang alam Sulawesi Utara ketika vegetasi mengering dan kebakaran mulai meluas.
Waktu itu, persoalannya terasa seperti peringatan tentang sesuatu yang sedang berlangsung di tempat lain.
Kini, api itu hadir di Lokon.
Di Tomohon.
Di kawasan yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tentu, rangkaian kebakaran tersebut tidak serta-merta berarti semuanya memiliki penyebab yang sama. Setiap kejadian memerlukan penyelidikan tersendiri.
Namun, peristiwa-peristiwa itu memperlihatkan persoalan yang patut mendapat perhatian serius: betapa rentannya kawasan pegunungan terhadap kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan mendukung api untuk menyebar.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar mengapa gunung-gunung kita terbakar.
Melainkan sampai kapan kebakaran demi kebakaran akan menjadi cerita yang terus berulang?
Ketika Langit Tomohon Kehilangan Kejernihannya
Sementara upaya pemadaman berlangsung di kawasan gunung, persoalan lain terasa di wilayah Kota Tomohon.
Asap.
Kepulan asap dari kebakaran Gunung Lokon terlihat menambah kekaburan udara yang sebelumnya sudah dirasakan di sejumlah kawasan kota.
Bagi masyarakat Tomohon, pemandangan seperti ini menghadirkan ironi.
Kota yang berada di dataran tinggi, dikelilingi pegunungan, dan dikenal dengan kesejukan udaranya kini harus berhadapan dengan ancaman polusi.
Biasanya, udara pagi menjadi salah satu hal yang membuat Tomohon terasa berbeda. Dari kawasan permukiman hingga perkebunan, kesejukan pegunungan merupakan bagian dari identitas kota ini.
Namun, asap mengubah pengalaman itu.
Gunung yang biasanya menjadi pemandangan indah kini menjadi sumber kecemasan.
Udara yang selama ini dianggap sebagai anugerah alam ternyata juga dapat kehilangan kualitasnya.
Asap kebakaran vegetasi mengandung berbagai polutan, termasuk partikel halus PM2.5, yaitu partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke saluran pernapasan, bahkan mencapai bagian terdalam paru-paru.
Menurut pedoman kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rata-rata konsentrasi PM2.5 selama 24 jam sebaiknya tidak melampaui 15 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut merupakan pedoman berbasis kesehatan, bukan batas yang secara otomatis memisahkan udara aman dan berbahaya.
Paparan asap dapat menimbulkan keluhan seperti mata perih, batuk, iritasi tenggorokan, dan sesak napas. Risikonya lebih besar bagi anak-anak, orang lanjut usia, ibu hamil, serta mereka yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan.
Namun, seberapa buruk sebenarnya kualitas udara Tomohon pada hari kebakaran ini?
Pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban berdasarkan pengukuran.
Tanpa data konsentrasi PM2.5 atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang tercatat sebelum dan selama kebakaran, peningkatan polusi tidak dapat dinyatakan dalam angka secara bertanggung jawab.
Apalagi, asap yang menyelimuti Tomohon sebelum peristiwa kebakaran Lokon diduga juga berkaitan dengan kebakaran lahan di wilayah lain.
Karena itu, belum dapat dipastikan seberapa besar kontribusi kebakaran Gunung Lokon terhadap seluruh polusi udara yang dirasakan masyarakat kota.
Satu hal yang jelas: langit yang tampak berkabut asap merupakan alasan kuat untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan sekadar mengeluhkan hilangnya pemandangan indah.
Hutan yang Terbakar Tidak Pulih dalam Semalam
Ketika kebakaran akhirnya dapat dipadamkan, persoalan sesungguhnya belum tentu selesai.
Api mungkin berhenti menjalar. Asap mungkin perlahan menghilang. Aktivitas masyarakat pun kembali seperti biasa.
Tetapi alam memiliki waktu pemulihannya sendiri.
Vegetasi yang hangus membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali. Sebagian jenis tumbuhan dapat pulih melalui tunas atau biji yang masih bertahan, sedangkan tumbuhan lain mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Besarnya kerusakan bergantung pada intensitas kebakaran, luas area yang terbakar, jenis vegetasi, dan kondisi tanah.
Satwa liar yang hidup di kawasan terdampak juga dapat kehilangan tempat berlindung, sumber makanan, atau jalur pergerakannya.
Sementara itu, hilangnya tutupan vegetasi dapat meningkatkan kerentanan tanah terhadap erosi, terutama ketika hujan deras turun di lereng yang curam.
Dengan kata lain, kebakaran hutan bukan hanya peristiwa satu hari.
Dampaknya dapat berlangsung jauh setelah kobaran api terakhir padam.
Dan pada sebuah kota yang kehidupannya begitu dekat dengan pegunungan, kerusakan lingkungan di lereng gunung seharusnya tidak dianggap sebagai persoalan yang jauh dari permukiman.
Apa yang terjadi di atas, pada akhirnya dapat memengaruhi kehidupan di bawah.
Dulu, Pengeras Suara Memanggil Orang untuk Mapalus
Di tengah kabar kebakaran Gunung Lokon, ingatan saya melayang pada masa ketika kehidupan masyarakat Minahasa masih sangat akrab dengan suara pengeras suara (TOA) dari desa-desa.
Sekitar dekade 1990-an hingga tahun-tahun sesudahnya, bahkan dalam ingatan saya sampai sekitar 2014, ketika terjadi kebakaran di kawasan gunung seperti Lokon atau Mahawu, suara dari pengeras suara segera terdengar.
Warga dipanggil.
Orang-orang diajak bergerak bersama untuk membantu memadamkan api.
Panggilan itu tidak datang melalui notifikasi telepon genggam. Tidak pula melalui unggahan yang harus menunggu dibaca atau dibagikan.
Ia datang melalui pengeras suara yang menggema di lingkungan permukiman.
Suara yang mungkin terdengar biasa pada masa itu, tetapi menyimpan makna sosial yang besar.
Ada keadaan darurat. Ada pekerjaan bersama. Dan masyarakat diharapkan saling membantu.
Dalam kebudayaan Minahasa, semangat seperti ini berakar pada tradisi Mapalus.
Mapalus bukan sekadar gotong royong dalam pengertian membantu pekerjaan orang lain. Ia merupakan praktik kerja sama yang bertumpu pada kebersamaan, timbal balik, tanggung jawab, dan solidaritas dalam kehidupan masyarakat.
Dalam praktik tradisional, Mapalus dikenal melalui kerja bersama di bidang pertanian dan berbagai kegiatan sosial.
Namun, nilai yang dikandungnya melampaui pekerjaan di kebun.
Mapalus mengajarkan bahwa beban yang berat dapat menjadi lebih ringan ketika dipikul bersama.
Bahwa kepentingan bersama tidak selalu harus menunggu keuntungan pribadi.
Dan bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan kesediaan untuk hadir ketika orang lain memerlukan pertolongan.
Kini, suasananya mulai berubah.
Setidaknya dalam pengalaman saya, seruan melalui pengeras suara yang dahulu akrab terdengar ketika terjadi kebakaran gunung semakin jarang dijumpai, terutama di kawasan pusat kota.
Mungkin di Kakaskasen dan sejumlah lingkungan lain, kebiasaan itu masih bertahan. Pengumuman dari kantor kelurahan pada kebakaran kali ini menunjukkan bahwa ajakan untuk bergerak bersama belum sepenuhnya hilang.
Namun, perubahan cara hidup masyarakat tidak dapat diabaikan.
Kota berkembang. Kesibukan bertambah. Hubungan sosial tidak selalu seerat dahulu. Teknologi komunikasi membuat kabar menyebar jauh lebih cepat, tetapi belum tentu membuat orang lebih cepat bergerak membantu. Seperti tulisan sebelumnya Kota yang Pernah Diperjuangkan, Kota yang Kini Harus Membuktikan Diri
Dulu, suara pengeras suara dapat memanggil orang keluar rumah untuk bekerja bersama.
Sekarang, satu video kebakaran dapat tersebar ke ribuan telepon genggam dalam hitungan menit.
Pertanyaannya: apakah kecepatan informasi juga diikuti kecepatan solidaritas?
Ataukah kita justru semakin mahir menyaksikan kesulitan orang lain dari balik layar?
Mapalus Tidak Harus Mati Bersama Perubahan Zaman
Tentu tidak adil jika seluruh perubahan sosial disimpulkan sebagai kemunduran.
Masyarakat sekarang memiliki cara baru untuk saling membantu.
Informasi dapat disebarkan melalui grup percakapan. Kebutuhan logistik dapat dikoordinasikan dengan lebih cepat. Penggalangan bantuan dapat dilakukan tanpa harus mengumpulkan semua orang di satu tempat.
Bahkan, dokumentasi yang dibuat warga dapat menjadi sarana edukasi dan pengawasan terhadap penanganan bencana.
Artinya, Mapalus tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang sama seperti puluhan tahun lalu.
Nilainya dapat hidup melalui teknologi.
Yang perlu dijaga adalah semangat di baliknya.
Kesediaan untuk tidak membiarkan orang lain menghadapi kesulitan sendirian.
Kesadaran bahwa keselamatan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Dan keberanian untuk bertanya, bukan hanya apa yang sedang terjadi, tetapi juga apa yang bisa saya lakukan.
Dalam kebakaran Gunung Lokon, semangat itu terlihat dari warga yang ikut bergerak bersama petugas.
Mereka mengingatkan bahwa solidaritas belum hilang.
Ia mungkin berubah bentuk, mungkin tidak lagi selalu hadir dalam kerumunan besar yang bergerak setelah mendengar pengeras suara.
Tetapi ia masih bisa ditemukan ketika orang memilih membantu, bukan sekadar menonton.
Barangkali, di situlah makna Mapalus yang sesungguhnya perlu kita temukan kembali.
Bukan sekadar sebagai istilah kebudayaan yang dibanggakan dalam pidato, ditulis dalam buku sejarah, atau diucapkan pada acara seremonial.
Melainkan sebagai nilai yang benar-benar hidup dalam tindakan sehari-hari.
Jangan Tunggu Gunung Terbakar Lagi
Kebakaran Gunung Lokon seharusnya menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap lingkungan tidak cukup dihadapi hanya ketika api sudah terlihat.
Pencegahan jauh lebih penting.
Pengawasan terhadap aktivitas pembakaran di kawasan perkebunan dan sekitar hutan perlu diperkuat. Jalur komunikasi antara masyarakat dan petugas harus dipastikan berjalan. Edukasi mengenai bahaya pembakaran terbuka juga perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Penyebab kebakaran kali ini tetap harus diselidiki berdasarkan bukti, bukan prasangka.
Demikian pula, luas lahan terdampak, kondisi vegetasi, dan kualitas udara perlu dipantau serta diumumkan secara terbuka agar masyarakat mengetahui keadaan sebenarnya.
Bagi warga, kewaspadaan terhadap asap juga penting. Ketika udara memburuk, aktivitas berat di luar ruangan sebaiknya dikurangi, terutama bagi kelompok rentan. Masker respirator yang terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan partikel halus apabila seseorang harus berada di luar ruangan.
Namun, persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana menjaga agar peristiwa serupa tidak terus berulang.
Tomohon tidak hanya membutuhkan pemadaman ketika gunung terbakar.
Kota ini membutuhkan kepedulian yang tetap menyala ketika api sudah padam.
Kepedulian terhadap hutan, terhadap udara, terhadap kehidupan yang bergantung pada keseimbangan alam.
Dan, barangkali yang tidak kalah penting, kepedulian terhadap sesama manusia. sebagaimana tulisan sebelumnya Di Kota Bunga, ke Mana Kaki Kita Harus Berjalan?
Ketika Api Padam, Apa yang Tersisa?
Pada akhirnya, kebakaran Gunung Lokon hari itu menyisakan lebih dari sekadar kepulan asap di langit Tomohon.
Ia meninggalkan pertanyaan tentang cara kita memperlakukan alam yang selama ini memberi kehidupan.
Ia juga mengingatkan kembali pada suara-suara dari masa lalu—suara pengeras suara desa yang memanggil masyarakat untuk bergerak bersama.
Dulu, ketika gunung terbakar, orang-orang dipanggil untuk membantu memadamkan api.
Kini, kabar yang sama dapat sampai ke tangan ribuan orang dalam sekejap.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh ikut berubah.
Gunung yang terbakar membutuhkan lebih dari sekadar penonton.
Saya masih teringat pada kobaran api yang bergerak cepat di lereng Lokon pagi itu. Juga pada orang-orang yang berusaha memadamkannya, meskipun jumlah mereka tidak banyak dan medan yang dihadapi tidak mudah.
Mereka mungkin tidak sedang memikirkan istilah besar tentang solidaritas, pelestarian lingkungan, atau warisan budaya Minahasa.
Mereka hanya tahu ada api yang harus dipadamkan.
Ada lingkungan yang harus diselamatkan.
Dan ada pekerjaan yang tidak mungkin diselesaikan sendirian.
Barangkali, begitulah Mapalus seharusnya terus hidup.
Bukan hanya sebagai cerita indah tentang masa lalu, melainkan sebagai kesediaan untuk hadir ketika sesama membutuhkan pertolongan.
Sebab, mungkin yang paling mengkhawatirkan bukan hanya api yang membakar lereng Gunung Lokon.
Melainkan ketika api kepedulian di antara kita perlahan ikut padam.









