Tidak pernah terbayangkan, surat pemeriksaan dari Direktorat Reserse Polda Metro Jaya justru menjadi awal persahabatan saya dengan seorang perwira polisi yang kelak dikenal luas dalam pemberantasan terorisme di Indonesia. Namanya Gregorius Gories Mere. Dari urusan berita Busway sampai pantulan informasi tentang aksi terorisme, hubungan itu berkembang menjadi sesuatu yang tidak pernah saya rencanakan: seorang narasumber A1.
SIAPA yang tidak kenal Gories Mere?
Teman-teman jurnalis yang biasa meliput kriminalitas apalagi terkait aksi terorisme, pasti kenal dengan sosok Gories Mere. Ya, lelaki kelahiran Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.
Awalnya saya juga tidak kenal. Sampai suatu ketika muncul surat dari Direktorat Reserse Polda Metro Jaya yang ditandatangani Kadit Serse Gories Mere ke kantor lantaran berita yang saya turunkan di halaman metropolitan tentang proyek Busway jalur I Blok M-Kota diduga mencemarkan nama baik Gubernur Jakarta, Sutiyoso.
Waktu itu saya menjabat editor metropolitan di Harian Sinar Harapan.
Berita soal kritik tajam tentang proyek Busway itu ditulis oleh teman saya yang ngepos di Balai Kota Jakarta. Namanya Andreas Piatu.
Reporter saya itu menulis berita mengutip keterangan Ketua Forum Warga Jakarta, Azas Tigor Nainggolan yang saya sapa bro Tigor. Dia mengkritik habis proyek busway besutan Gubernur Sutiyoso itu. Bang Yos, sapaan akrab Sutiyoso, yang naik pitam. Dan melapor ke Polda Metro Jaya.
Bro Tigor juga sahabat saya. Kami sama-sama diangkut ke Polda Metro Jaya dari Bundaran Hotel Indonesia karena memprotes kenaikan harga susu di masa Presiden Soeharto. Saya ikut ditangkap karena disangka juga bagian dari aksi unjuk rasa itu. Padahal saya wartawan yang tengah meliput aksi unjuk rasa tersebut. Kebetulan ID pers jatuh. Dari situ saya dan bro Tigor bersahabat hingga kini. Dia aktivis sejati.
Kembali ke soal pemeriksaan gegara berita busway itu. Saya lapor ke Pemred Pak Aristides Katoppo dan beliau minta pemeriksaan saya dengan rekan Andreas Piatu dilakukan usai deadline di kantor dan bukan di Markas Polda Metro Jaya.
Waktu yang ditunggu tiba. Dua penyidik Polda Metro Jaya datang ke kantor di bilangan Fachrudin, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Mereka membawa surat dari Kadit Serse Gories Mere. Kami pun diperiksa terpisah. Tetapi tetap di ruang redaksi.
Dari situlah saya mulai mengenal Bang Gories Mere yang bernama lengkap Gregorius Gories Mere.
Sebagai wartawan ya kami sering kontak dan kerap mendapat pantulan yang bisa dibilang sumber A1 alias sumber yang tidak perlu diragukan lagi.
Pengalaman semacam ini juga mengingatkan saya pada perjalanan panjang dalam dunia jurnalistik dan kecintaan terhadap penulisan feature, sebagaimana pernah saya ceritakan dalam tulisan Selalu Jatuh Cinta dengan Gaya Penulisan Feature, Lho Kok Bisa?.
Ketika aksi terorisme bergejolak, pantulan dari Bang Gories Mere membuat berita lebih mendalam. Malah kadang detail banget. Reporter saya di Polda Metro Jaya, Maya Handini juga dekat dengan Bang Gories Mere.
Berita-berita kami terkait aksi terorisme di Harian Sinar Harapan kerap diikuti koran pagi esoknya. Reporter Maya Handini memang luar biasa.
Di balik berita yang sampai kepada pembaca, ada kerja panjang wartawan dan ruang redaksi. Tentang kehidupan profesi ini, silahkan disimak pada tulisan Pers Disebut Pilar Keempat Demokrasi, tetapi Wartawannya Masih Berjuang untuk Hidup Layak.
Ketika Bang Gories Mere menjabat Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2009-2019 kedekatan dengan saya dan juga teman-teman wartawan juga tetap terpelihara dengan baik.
Kedekatan dengan narasumber tentu tidak menghilangkan kewajiban wartawan untuk menjaga independensi. Persoalan menjaga jarak kritis terhadap kekuasaan ini disinggung dalam tulisan Terlalu Dekat dengan Kekuasaan, Terlalu Jauh dari Rakyat.
Sebelum ke BNN, Bang Gories Mere juga dikenal sebagai perintis lahirnya Detasemen Khusus atau Densus 88 usai peristiwa peledakan bom Bali I oleh Amrozi Cs. Namanya pakai angka 88 mengikuti jumlah warga negara Australia yang tewas dalam aksi peledakan bom Bali I tersebut.
Setelah usai di BNN, saya tidak berjumpa lagi dengan Bang Gories Mere. Sampai akhirnya dalam sebuah acara di Pelataran Senayan, saya kembali bertemu. Kami pun berfoto usai menegak wine warna merah. Asyik juga.
Bang Gories Mere jebolan Akademi Kepolisian tahun 1976 ini ternyata ketika kami bertemu menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan semasa Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Dia tersenyum lebar ketika membisikkan soal jabatannya itu ke saya. Setelah itu kami kembali menegak wine diiringi musik malam.
Hingga saya pulang kampung di Minahasa, saya tidak bertemu lagi.
Lepas dari itu Bang Gories Mere suwer jenderal bintang tiga yang luwes dengan wartawan. Dari beliaulah banyak pantulan yang bercerita ada apa di balik sebuah peristiwa apalagi tentang aksi terorisme.
Dan yang pasti gegara diperiksa penyidik Polda Metro Jaya akhirnya persahabatan itu dimulai.
Dalam pekerjaan jurnalistik, hubungan dan percakapan dengan narasumber memang bisa membuka banyak pintu informasi. Hal ini juga berkaitan dengan gagasan tentang Jurnalisme Warung Kopi, Asyik-asyik Sedap Nih!, tentang pentingnya mendengar dan membangun percakapan.
Ya, gegara diperiksa akhirnya menjadi narasumber luar biasa.









