Dari lapangan terbang militer di Mapanget hingga gerbang udara Sulawesi Utara. Di balik nama Sam Ratulangi, ada sejarah pendudukan, pergolakan, prajurit yang gugur, dan sejumlah landasan yang kini tinggal kenangan.
Pukul 05.40. Hujan masih turun di Manado.
Di lobi keberangkatan Bandara Sam Ratulangi, seorang lelaki tua duduk di kursi besi. Usianya lebih dari 80 tahun. Di sampingnya, Keke, cucunya yang berumur delapan tahun, sibuk memperhatikan layar tablet. Sesekali ia mengangkat kepala ketika suara pengumuman keberangkatan terdengar dari pengeras suara.
Bau kopi dari gelas plastik bercampur dengan aroma lantai yang baru dipel. Roda koper bergulir di atas ubin. Beberapa penumpang berjalan cepat menuju konter, sementara yang lain masih duduk menunggu panggilan penerbangan.
Pagi itu, Keke tiba-tiba bertanya.
“Opa, kiapa ini dorang kase nama Bandara Sam Ratulangi? Sam Ratulangi itu siapa?”
Opa Frans menyeruput kopinya pelan.
“Dia orang Minahasa. Pahlawan nasional. Gubernur pertama Sulawesi.”
Keke kembali melihat layar tabletnya.
“Terus, sebelumnya namanya apa?”
Opa Frans menurunkan gelas plastik. Ia menoleh ke arah kaca besar yang basah oleh hujan.
“Wah, kalau itu ceritanya panjang.”
“Panjang sekali?”
“Lumayan. Kamu duduk yang enak. Pesawat kita masih satu jam lagi.”
Bagi Keke, bandara mungkin hanya tempat menunggu pesawat. Ada kursi, toko makanan, layar keberangkatan, dan orang-orang yang datang lalu pergi. Ia belum tahu bahwa tanah tempat ia duduk menunggu itu menyimpan sejarah yang jauh lebih panjang daripada perjalanan yang akan mereka tempuh pagi itu.
Bandara Sam Ratulangi memang tidak selalu bernama Sam Ratulangi.
Sebelum menjadi gerbang udara utama Sulawesi Utara, tempat ini pernah bernama Lapangan Udara Mapanget, Lapangan Udara Tugiman, dan Lapangan Udara A.A. Maramis. Empat nama dalam perjalanan panjang sebuah landasan yang pernah dibangun untuk kepentingan militer, diperebutkan dalam pergolakan, lalu berkembang menjadi fasilitas penerbangan sipil.
Sebelum Ada Pesawat Penumpang
“Dulu, di sini bukan seperti sekarang,” kata Opa Frans.
Keke menengadah sebentar.
“Memangnya seperti apa?”
“Belum ada terminal besar. Belum ada tempat orang membeli tiket dan menunggu pesawat. Awalnya, tempat ini dibangun untuk kepentingan militer.”
Opa Frans membawakan cerita dengan mengenang tahun-tahun di sekitar 1938. Pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, wilayah Mapanget mulai dilirik sebagai lokasi untuk kegiatan penerbangan. Rencana dan perintisan area penerbangan sudah muncul pada masa itu. Namun, pembangunan yang lebih intensif baru berlangsung ketika tentara Jepang menduduki wilayah Minahasa pada 1942.
Jepang membutuhkan pangkalan udara untuk mendukung operasi militernya di kawasan Pasifik. Landasan di Mapanget kemudian dipadatkan dan dibangun secara intensif.
Tidak ada ruang tunggu berpendingin udara. Tidak ada konter check-in. Tidak ada garbarata yang menghubungkan terminal dengan badan pesawat. Yang ada adalah tanah yang harus diratakan dan diperkeras agar mampu digunakan oleh pesawat militer.
Kita bisa membayangkan pekerjaan itu berlangsung di bawah panas matahari, di antara debu dan tanah yang dikerjakan berulang kali. Dan tentunya di bawah tekanan dari militer penjajah terhadap penduduk pribumi yang dipaksa bekerja.
Fasilitas yang dibangun dengan dibangun dengan keringat dan darah penduduk pribumi itu kemudian dikenal sebagai Lapangan Udara Mapanget, mengambil nama wilayah tempat landasan tersebut berada, yakni Wanua Mapanget, Onderdistrik Tatelu.
Pemberian nama yang sederhana sesuai dengan nama tempat. Tetapi sejarah tidak berhenti pada sebuah nama. Dalam beberapa tahun berikutnya, Mapanget akan menjadi bagian dari pergolakan yang membuat landasan udara ini jauh lebih dikenal daripada sekadar tempat pesawat lepas landas.
Ketika Mapanget Menjadi Medan Pertempuran
“Kamu pernah dengar Permesta?” tanya Opa Frans, kepada ibunda Keke, Mariam.
“Papa sering cerita dulu. Dan juga di buku sekolah.”
“Di sekolah diceritakan panjang?”
Mariam mengangkat bahu.
“Tidak terlalu.”
Opa Frans mengangguk. Ia seperti sudah menduga jawaban itu.
Pergolakan Permesta pada akhir 1950-an membawa Mapanget ke tengah konflik bersenjata. Landasan udara memiliki nilai strategis yang besar. Siapa yang menguasai pangkalan, memiliki keuntungan untuk mengendalikan pergerakan pesawat dan operasi dari udara.
Pergolakan itu tidak hanya meninggalkan jejak pada sejarah penerbangan. Kehidupan masyarakat dan berbagai infrastruktur di Minahasa juga ikut berada dalam pusaran konflik, sebagaimana tergambar dalam tulisan Ogem: Nama yang Tertinggal dari Zaman Ketika Listrik Mulai Menerangi Minahasa.
Karena itu, Mapanget menjadi salah satu lokasi yang diperebutkan dalam konflik tersebut.
Setelah pasukan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI/TNI) menguasai kembali kawasan itu, nama fasilitas militer tersebut sempat diubah menjadi Lapangan Udara Tugiman.
Nama itu diambil dari Sersan Mayor Tugiman, seorang prajurit TNI yang gugur dalam pertempuran memperebutkan pangkalan udara tersebut. Di sini, sejarah sebuah bandara menyimpan nama seorang prajurit yang mungkin tidak banyak dikenal orang sekarang. Yang tertinggal adalah namanya, yang pernah dipasang pada sebuah lapangan udara.
Bagi negara, pemberian nama itu merupakan bentuk penghormatan kepada prajurit yang gugur. Bagi orang yang melintas di kawasan tersebut pada masa itu, nama Tugiman mungkin menjadi pengingat bahwa sebuah pangkalan udara pernah direbut dengan pengorbanan manusia. Namun, nama itu tidak bertahan selamanya.
“Jadi, setelah Tugiman, diganti lagi?” Mariam bertanya.
“Iya.”
“Kenapa?”
Opa Frans memandang anaknya.
“Begitulah perjalanan sebuah tempat. Kadang nama berubah karena sejarah, kadang karena penghormatan kepada orang lain.”
A.A. Maramis, Sebelum Nama Sam Ratulangi
Setelah Lapangan Udara Tugiman, pangkalan tersebut sempat menggunakan nama Lapangan Udara A.A. Maramis.
Nama ini merujuk kepada Alexander Andries Maramis, tokoh pergerakan nasional asal Minahasa yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Nasional. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia.
Bagi masyarakat Minahasa, nama A.A. Maramis bukan nama yang asing. Ia merupakan salah satu tokoh daerah yang mengambil bagian dalam perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan dan masa-masa awal republik.
Perubahan nama pangkalan udara menjadi Lapangan Udara A.A. Maramis memperlihatkan bagaimana sebuah fasilitas militer juga menjadi tempat untuk mengabadikan nama tokoh yang dianggap berjasa.
Dari Mapanget, nama itu berubah menjadi Tugiman, kemudian A.A. Maramis. Tiga nama telah digunakan. Tetapi perjalanan belum selesai.
Nama yang Bertahan: Sam Ratulangi
Nama berikutnya adalah nama yang dikenal hingga sekarang: Bandar Udara Sam Ratulangi.
Nama itu diberikan untuk menghormati Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, atau G.S.S.J. Ratulangi.
Sam Ratulangi merupakan Pahlawan Nasional, Gubernur pertama Sulawesi, dan salah satu tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namanya melekat pada bandara yang menjadi pintu masuk utama melalui udara ke Sulawesi Utara.
Kini, ketika pesawat mendekati Manado, nama Sam Ratulangi terdengar melalui pengeras suara kabin. Penumpang bersiap mengambil barang bawaan. Awak kabin memberikan instruksi pendaratan. Roda pesawat menyentuh landasan.
Bagi sebagian orang, nama itu mungkin hanya bagian dari informasi perjalanan. Bagi yang lain, ia adalah nama seorang tokoh yang pernah mengambil bagian dalam sejarah bangsa.
Dari Mapanget ke Tugiman, lalu A.A. Maramis, dan akhirnya Sam Ratulangi. Empat nama itu pernah melekat pada satu kawasan penerbangan.
Nama Sam Ratulangi yang bertahan hingga sekarang bukan berarti tiga nama sebelumnya tidak penting. Justru dari perubahan itulah kita bisa membaca lapisan sejarah yang pernah terjadi di tempat ini.
“Jadi, bandara ini sudah empat kali punya nama?” sambung Mariam seolah ingin memastikan.
“Betul. Mapanget, Tugiman, A.A. Maramis, lalu Sam Ratulangi.”
Mariam membelai rambut Keke, lalu kembali menatap ke arah kaca besar bandara.
“Banyak juga.”
Opa Frans tersenyum.
“Tempat yang kelihatannya biasa kadang menyimpan cerita yang tidak biasa.”
Kalawiran: Landasan yang Menyimpan Kisah Perang
Ada satu tempat lain yang perlu disebut ketika berbicara tentang sejarah penerbangan di Sulawesi Utara. Namanya Kalawiran, berada di Langowan, Kabupaten Minahasa.
Berbeda dengan Mapanget yang terus berkembang menjadi bandara sipil, Kalawiran kini tidak lagi berfungsi sebagai bandara. Sebagian bekas kawasan landasannya telah berubah menjadi permukiman, lahan pertanian, fasilitas umum, dan arena pacuan kuda.
Jauh sebelum perubahan itu, Kalawiran pernah menjadi pangkalan udara yang memiliki arti penting dalam sejarah militer.
Pada masa Hindia Belanda, kawasan ini dirintis sebagai lapangan terbang darurat dan pos pemantau udara. Bahan sejarah yang tersedia mengaitkannya dengan kepentingan militer kolonial, termasuk KNIL.
Ketika Jepang menguasai Minahasa pada awal 1942, pangkalan itu diambil alih oleh armada udara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang atau Kaigun. Landasannya diperkeras dan diperpanjang menggunakan batu keras setempat. Pekerjaan itu dilakukan agar kawasan tersebut dapat digunakan oleh pesawat militer, termasuk pesawat tempur Mitsubishi A6M Zero dan pesawat pengintai.
Letaknya di dataran tinggi Langowan membuat Kalawiran memiliki nilai strategis. Pangkalan itu digunakan untuk kepentingan pertahanan udara dan mendukung pergerakan militer Jepang di kawasan Pasifik Barat Daya.
Karena peran tersebut, Kalawiran dan wilayah sekitarnya menjadi sasaran serangan udara Sekutu hingga Perang Dunia II berakhir pada 1945.
Bayangkan sebuah pagi di dataran tinggi Langowan. Udara yang biasanya sejuk, kabut yang mungkin masih menyelimuti kawasan, lalu suara pesawat yang datang dari langit. Bukan pesawat penumpang yang membawa orang pulang atau pergi, melainkan pesawat militer yang hadir dalam situasi perang.
1958: Kalawiran dan Pesawat-Pesawat AUREV
Pada 1958, ketika konflik Permesta berlangsung, Kalawiran—bekas lapangan udara peninggalan Belanda dekat Langowan—digunakan sebagai salah satu pangkalan pendukung AUREV, singkatan dari Angkatan Udara Revolusioner. Namun, pusat kekuatan udara Permesta lebih tepat disebut berada di Pangkalan Udara Tasuka, sementara Mapanget juga menjadi pangkalan penting, khususnya bagi pesawat B-26.
Dari Kalawiran, tercatat pesawat C-45 AUREV berangkat untuk operasi ke Balikpapan pada 16 April 1958. Pesawat pembom B-26 Invader, termasuk pesawat yang diterbangkan Allen Lawrence Pope, lebih banyak dikaitkan dengan operasi dari Mapanget.
Allen Lawrence Pope disebut-sebut merupakan penerbang Amerika Serikat yang terlibat dalam operasi rahasia CIA untuk mendukung Permesta. Pada 18 Mei 1958, B-26 yang diterbangkannya ditembak jatuh di dekat Ambon; Pope terjun dengan parasut dan ditangkap oleh pasukan pemerintah Indonesia.
Dari pangkalan-pangkalan yang dikuasai AUREV di Sulawesi Utara, termasuk Kalawiran dan Mapanget, dilancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah Indonesia Timur, seperti Makassar, Balikpapan, Ambon, dan Morotai. Serangan Makassar pada 13 April 1958 berangkat dari Mapanget, sedangkan serangan ke Balikpapan dilakukan dengan C-45 dari Kalawiran.
Kondisi tersebut menjadikan lapangan-lapangan udara di Minahasa sebagai sasaran penting operasi pemerintah pusat. AURI menyerang Kalawiran dan menghancurkan dua pesawat C-45, tetapi pendudukan darat atas Kalawiran baru terjadi pada 20 Agustus 1958 dalam Operasi Mega.
Setelah Kalawiran dikuasai pasukan pemerintah pada Agustus 1958, lapangan udara tersebut kehilangan peran militernya. Berbeda dengan Mapanget yang kemudian berkembang sebagai bandara sipil dan kini menjadi Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi, Kalawiran tidak dikembangkan menjadi bandara komersial.
Bekas landasan Kalawiran perlahan berubah fungsi. Sebagian kawasan menjadi permukiman dan lahan pertanian. Tempat yang pernah menjadi pangkalan pesawat perang itu kini dikenal masyarakat melalui kegiatan yang jauh berbeda.
Kalawiran tetap menyimpan jejak dua peristiwa besar: Perang Pasifik, ketika lapangan itu menjadi sasaran operasi terjun payung Jepang, dan pergolakan Permesta, ketika ia sempat menjadi bagian dari jaringan pangkalan AUREV.
Perubahan fungsi sebuah tempat sering kali membuat sejarahnya perlahan menjauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, seperti kisah dua bangunan tua di Tomohon dalam Sonja dan Nusantara: Ketika Dua Bioskop Menyimpan Cinta, Tawa, dan Masa Muda Tomohon, jejak masa lalu kadang tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya.
Mopait: Landasan yang Tidak Lagi Digunakan
Kalawiran bukan satu-satunya lapangan udara lama yang kehilangan fungsi. Di Desa Mopait, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, terdapat bekas lapangan terbang yang juga disebut dibangun oleh militer Jepang pada 1942.
Pada masa lalu, Mopait pernah berperan sebagai pangkalan penerbangan untuk kepentingan pertahanan dan kemudian menjadi simpul penerbangan perintis di wilayah Bolaang Mongondow Raya. Namun, perkembangan wilayah membawa persoalan baru.
Kondisi geografis menjadi salah satu kendala. Kawasan sekitar landasan dikelilingi perbukitan, sehingga perpanjangan landasan pacu tidak mudah dilakukan. Pada saat yang sama, permukiman warga semakin berkembang. Keadaan itu membatasi kemampuan Mopait untuk dikembangkan sebagai bandara yang lebih memadai.
Penerbangan komersial dari Mopait kemudian dihentikan. Pelayanan transportasi udara untuk kawasan Bolaang Mongondow dialihkan ke Bandara Bandar Udara Bolaang Mongondow atau ada juga yang menyebut Bandar Udara Loloda di Lolak.
Bandara yang lebih baru itu diharapkan dapat melayani kebutuhan penerbangan kawasan Bolaang Mongondow Raya dengan fasilitas yang lebih sesuai.
Perubahan Mopait memperlihatkan bahwa sebuah bandara tidak hanya bergantung pada sejarah dan kebutuhan masa lalu. Ia juga harus menyesuaikan diri dengan kondisi geografis, perkembangan permukiman, keselamatan penerbangan, serta kebutuhan transportasi masyarakat.
Ada landasan yang berhenti karena perang berakhir. Ada pula yang tidak lagi digunakan karena perkembangan wilayah membuatnya tidak memungkinkan untuk diperluas.
Jejak Landasan di Kepulauan Utara
Selain Mapanget, Kalawiran, dan Mopait, bahan sejarah yang tersedia juga mencatat keberadaan sejumlah titik landasan darurat di wilayah Sangihe dan Talaud.
Pada pertengahan abad ke-20, sebelum fasilitas penerbangan modern dibangun seperti sekarang, beberapa titik pantai dan dataran rata di pulau-pulau terluar pernah dimanfaatkan sebagai landasan darurat atau airstrip.
Lokasi-lokasi itu digunakan oleh pihak Sekutu, Jepang, maupun militer Indonesia sesuai kepentingan dan situasi pada masanya. Sebagian landasan tersebut kemudian ditinggalkan atau menyatu dengan perkembangan kawasan permukiman dan pembangunan daerah.
Informasi mengenai lokasi persis, masa penggunaan, serta pihak yang menggunakan setiap landasan masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Karena itu, keberadaan titik-titik tersebut lebih tepat disebut sebagai jejak penerbangan darurat di wilayah kepulauan, bukan sebagai daftar bandara yang sudah memiliki kronologi lengkap. Namun, catatan itu memperlihatkan satu hal: sejarah penerbangan di Sulawesi Utara tidak hanya berpusat di Manado.
Wilayah kepulauan di bagian utara juga memiliki kebutuhan dan pengalaman penerbangan sendiri. Jarak antarpulau, kondisi geografis, dan kebutuhan pertahanan membuat transportasi udara memiliki arti penting sejak masa lalu.
Dari Lapangan Militer Menjadi Gerbang Udara
Kembali ke Bandara Sam Ratulangi.
Kawasan yang dahulu dibangun untuk kepentingan militer itu akhirnya berkembang menjadi fasilitas penerbangan sipil. Pengelolaan operasional penerbangan sipil kemudian diserahkan kepada PT Angkasa Pura I.
Salah satu tonggak modernisasi adalah pembangunan terminal baru yang secara resmi dibuka pada 2001. Pengelolaan operasional bandara kemudian dialihkan dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara kepada PT Angkasa Pura I pada 18 Desember 2003.
Pengembangan terminal yang rampung pada 2022 meningkatkan luas terminal penumpang dari 26.481 meter persegi menjadi 57.296 meter persegi. Kapasitas pelayanan meningkat dari sekitar 2,6 juta menjadi hingga 5,7 juta penumpang per tahun.
Perubahan fisiknya cukup besar.
Angka itu memperlihatkan perubahan skala pelayanan bandara. Dari sebuah lapangan udara yang berawal sebagai fasilitas militer, Sam Ratulangi berkembang menjadi infrastruktur transportasi yang melayani pergerakan orang dalam jumlah jauh lebih besar.
Modernisasi tidak hanya terlihat dari luas bangunan.
Desain terminal menggabungkan unsur arsitektur modern dengan identitas budaya Sulawesi Utara. Bentuk fasad dan struktur atapnya terinspirasi dari ikan Gorango, sebutan lokal untuk hiu. Unsur itu dipadukan dengan ornamen ukiran tradisional Minahasa dan motif kain lokal.
Atapnya menjadi salah satu bagian yang mudah dikenali ketika penumpang berada di dalam terminal atau melihat bangunan dari luar.
Konsep eco-airport juga diterapkan melalui pemanfaatan pencahayaan alami dan pengaturan ruang pelayanan. Area layanan ditata agar lebih teratur dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Di dalam terminal, fasilitas pelayanan penumpang terus dikembangkan. Jumlah konter check-in ditambah, ruang tunggu diperluas, dan fasilitas garbarata dioptimalkan untuk memudahkan penumpang naik dan turun pesawat. Sistem penanganan bagasi atau Baggage Handling System juga menggunakan teknologi yang lebih modern dan terintegrasi.
Bagi penumpang, semua itu mungkin hanya bagian dari perjalanan yang biasa. Mereka datang, menyerahkan koper, melewati pemeriksaan, menunggu panggilan, lalu masuk ke pesawat.
Tidak banyak yang memikirkan sistem di baliknya.
Koper yang tiba tepat waktu jarang mendapat ucapan terima kasih. Konter yang bekerja lancar tidak menjadi bahan percakapan. Lampu, ruang tunggu, dan sistem bagasi baru terasa penting ketika mengalami gangguan. Padahal, di situlah pekerjaan infrastruktur berlangsung setiap hari: melayani orang tanpa harus selalu terlihat.
“Opa,” kata Keke sambil memandang ke atas. “Atapnya seperti hiu.”
“Memang terinspirasi dari ikan Gorango.”
“Bandara ini punya hiu di atapnya, namanya pernah empat kali ganti, terus di tempat lain ada lahan pertanian bekas lapangan pesawat perang?”
Opa Frans tertawa kecil.
“Begitulah. Banyak cerita di tempat yang kita kira biasa saja.”
Enam Bandara, Satu Provinsi
Sam Ratulangi bukan satu-satunya fasilitas penerbangan di Sulawesi Utara.
Wilayah ini memiliki sejumlah bandara yang melayani kebutuhan transportasi masyarakat, terutama di kawasan kepulauan dan daerah yang memiliki keterbatasan akses darat.
Enam bandar udara yang tercatat aktif dalam sistem pelayanan penerbangan, yang berada di bawah pengelolaan Angkasa Pura Indonesia dan Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
- Bandara Sam Ratulangi di Kota Manado
- Bandara Naha di Kabupaten Kepulauan Sangihe
- Bandara Melonguane di Kabupaten Kepulauan Talaud
- Bandara Miangas di Kabupaten Kepulauan Talaud
- Bandara Taman Sitaro di Kabupaetn Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro
- Bandara Bolaang Mongondow (Raja Loloda) di Kabupaten Bolaang Mongondow
Enam bandara tersebut memiliki peran yang berbeda. Sam Ratulangi menjadi gerbang udara utama, sementara bandara di Sangihe, Talaud, Sitaro, dan Bolaang Mongondow membantu membuka akses menuju wilayah yang dipisahkan oleh laut dan kondisi geografis.
Miangas memiliki posisi tersendiri dalam peta transportasi udara Sulawesi Utara. Pulau yang berada di perbatasan utara Indonesia itu bukan tujuan perjalanan yang setiap hari dibicarakan orang. Namun, keberadaan bandara di sana penting untuk mendukung konektivitas dan pelayanan masyarakat di kawasan terluar.
Bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau tersebut, bandara bukan sekadar tempat pesawat datang dan pergi. Ia bisa menjadi bagian dari akses menuju layanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan hubungan dengan wilayah lain.
Karena itu, membicarakan bandara di Sulawesi Utara tidak cukup hanya melihat ukuran terminal atau jumlah penumpang. Ada persoalan jarak, keterhubungan, dan kebutuhan masyarakat yang juga harus diperhitungkan.
Pesawat Sudah Dipanggil
Pukul 06.55.
Suara dari pengeras terdengar menyebut nomor penerbangan mereka. Beberapa penumpang mulai berdiri. Ada yang memeriksa kembali tiket di ponsel, ada yang mengangkat koper kabin, dan ada pula yang masih menyelesaikan kopi sebelum menuju pintu keberangkatan.
Keke sudah berdiri dengan ransel yang talinya disalempangkan di bahunya, sedikit miring.
“Opa, Mama, ayo.”
Mariam menggenggam tangan mungil puterinya. Opa Frans belum langsung bangkit. Ia masih memandang ke luar melalui kaca besar terminal.
Di balik kaca itu, pesawat-pesawat sipil bergerak di atas landasan. Sebagian bersiap lepas landas, sebagian lain baru saja tiba. Aktivitas berlangsung seperti biasa.
Tetapi tanah yang mereka lintasi bukan tanah tanpa cerita. Di sana pernah ada lapangan udara yang dibangun untuk kepentingan militer Jepang. Di sana pula terjadi pertempuran pada masa Permesta. Nama seorang prajurit yang gugur pernah digunakan untuk menandai pangkalan itu. Nama A.A. Maramis kemudian menyusul, sebelum akhirnya nama Sam Ratulangi bertahan hingga sekarang.
Di tempat lain, Kalawiran pernah menjadi pangkalan pesawat tempur. Kini sebagian kawasannya menjadi permukiman, dan lahan pertanian. Mopait juga telah berhenti melayani penerbangan komersial setelah keterbatasan geografis dan perkembangan permukiman membuat pengembangannya semakin sulit.
Sejarah penerbangan Sulawesi Utara ternyata tidak hanya berisi pesawat yang datang dan pergi. Ada tanah yang dibangun, direbut, ditinggalkan, lalu digunakan kembali dengan cara berbeda.
“Opa, ayo. Nanti ketinggalan.”
Opa Frans berdiri. Ia mengambil tas kecilnya.
“Opa ba pikir apa so?” tanya Keke.
Opa Frans tersenyum.
“Cuma ba pikir, banyak tampa yang torang lewati setiap hari, mar tanpa pernah bertanya apa yang pernah terjadi di sana.”
Keke mengangguk, meskipun mungkin belum sepenuhnya memahami maksudnya. Mereka berjalan menuju pintu keberangkatan.
Di atas terminal, bentuk Gorango menghiasi bangunan. Di bawahnya, penumpang bergerak menuju pesawat, melanjutkan perjalanan masing-masing.
Bagi Keke, pagi itu mungkin hanya perjalanan biasa bersama Opa. Tetapi suatu hari nanti, ketika ia kembali melewati bandara yang sama, mungkin ia akan mengingat percakapan singkat itu.
Bahwa sebelum menjadi Sam Ratulangi, bandara itu pernah bernama Mapanget, Tugiman, dan A.A. Maramis.
Ada orang-orang yang pernah bekerja di sana. Ada yang bertempur dan gugur. Ada yang kehilangan fungsi dan berubah menjadi ruang kehidupan baru. Ada pula masyarakat yang sampai hari ini menggantungkan perjalanan mereka pada jalur udara.
Pesawat kemudian lepas landas.
Di bawahnya, tanah tetap berada di tempatnya. Nama-nama boleh berubah, fungsi boleh berganti, tetapi jejak sejarahnya tidak semestinya ikut menghilang.
Catatan Penulis: Artikel ini disusun berdasarkan penelusuran sejumlah bahan sejarah dan referensi mengenai perkembangan bandar udara di Sulawesi Utara. Adegan antara percakapan Opa Frans, Keke, dan Mariam, merupakan ilustrasi naratif untuk membantu pembaca mengikuti perjalanan sejarah.
Rujukan:
- Repositori Politeknik Negeri Manado (Polimdo). Dokumen sejarah bandar udara, khususnya pembahasan mengenai Lapangan Udara Mapanget, Tugiman, dan A.A. Maramis. [Baca dokumen](https://repository.polimdo.ac.id/859/1/bab%201.pdf).
- detikTravel. Sejarah Bandara Sam Ratulangi Manado. Rujukan mengenai sejarah dan pergantian nama bandara, termasuk keterangan peneliti BRIN.
- iNews Manado. Sejarah Bandara Sam Ratulangi Manado: Dibangun Tentara Jepang dan Tiga Kali Ganti Nama.
- ANTARA News. Pemberitaan mengenai pembangunan dan pengembangan Bandara Sam Ratulangi.
- Kumparan. 5 Fakta Menarik Sam Ratulangi, Nama Bandara di Provinsi Sulawesi Utara. [Baca artikel](https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/5-fakta-menarik-sam-ratulangi-nama-bandara-di-provinsi-sulawesi-utara-201rIe4gvhe).









