Langsung ke konten

Dari Sragen, Andri Satria Memburu Sesuap Nasi hingga Minahasa

Andri Satria, pedagang perabotan rumah tangga keliling asal Sragen, berdiri di samping mobil bak terbuka yang dipenuhi aneka barang dagangan di Minahasa Utara.
Andri Satria, perantau asal Sragen, Jawa Tengah, yang berjualan perabotan rumah tangga keliling di wilayah Minahasa Utara demi menghidupi keluarganya di kampung halaman. (Foto: Norman Meoko)

Usianya baru 21 tahun ketika memilih meninggalkan kampung halaman di Sragen, Jawa Tengah. Dengan sebuah mobil bak terbuka berisi perabotan rumah tangga, Andri Satria menyusuri jalan-jalan di Minahasa. Ada istri dan seorang anak perempuan berusia satu setengah tahun yang menunggunya pulang. Untuk merekalah ia bertahan, meski jarak rumah dan tempat mencari nafkah terbentang ribuan kilometer.

DI SEBUAH pintu masuk perumahan di Matungkas, Minahasa Utara, sebuah mobil bak terbuka terparkir. Baknya dipenuhi berbagai perabotan rumah tangga. Barang-barang itu tersusun untuk ditawarkan kepada siapa saja yang melintas atau kebetulan membutuhkan perlengkapan rumah.

Di dekat mobil itulah seorang lelaki muda sibuk membereskan dagangannya.

Namanya Andri Satria.

Kulitnya hitam manis. Usianya masih 21 tahun, tetapi pekerjaannya sudah membawanya jauh dari tempat kelahiran. Ia berasal dari Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Kini, jalan-jalan di Minahasa menjadi tempatnya mencari nafkah.

Andri bukan pedagang yang menunggu pembeli datang ke toko. Setiap hari ia membawa dagangannya berkeliling. Matungkas dan sekitarnya menjadi wilayah yang biasa dijelajahi. Sesekali perjalanan itu membawanya lebih jauh, sampai Likupang, bahkan Kawangkoan.

Jarak bukan perkara kecil. Ia harus meninggalkan kampung halaman, menyeberangi pulau, dan membangun kehidupan di tempat yang jauh dari keluarga.

Ketika disapa, Andri menjawab dengan sedikit malu-malu. Percakapan berlangsung di sela-sela kesibukannya membereskan barang dagangan.

Apa yang membuat seorang lelaki semuda dirinya datang begitu jauh, sampai ke Minahasa, hanya untuk menjual perabotan rumah tangga?

Jawabannya sederhana. Ia ingin hidup lebih baik.

“Hidup di Pulau Jawa, terutama di Kabupaten Sragen, sudah susah,” katanya.

Andri mengatakannya tanpa banyak penjelasan. Seolah-olah kalimat itu sudah cukup menggambarkan keadaan yang membuatnya mengambil keputusan untuk pergi.

Menurut dia, mencari uang di Minahasa terasa lebih memungkinkan.

“Kalau di sini, uang lebih mudah dicari. Asal rajin,” ujarnya.

Ia kembali membereskan dagangannya. Sesekali tangannya merapikan barang-barang yang tersusun di bak mobil.

Bagi Andri, rajin bekerja bukan sekadar pilihan. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari. Ada keluarga yang tidak bisa menunggu sampai keadaan menjadi lebih mudah.

Di Sragen, ia sudah berkeluarga. Istrinya tinggal di kampung bersama seorang anak perempuan yang saat itu baru berusia satu setengah tahun.

Usia anaknya masih begitu kecil. Masa ketika seorang ayah seharusnya bisa melihat sendiri perkembangan anaknya, menemani bermain, atau sekadar menyaksikan tingkah lucunya setiap hari.

Namun, kehidupan tidak selalu memberi kesempatan untuk memilih antara dekat dengan keluarga atau mencari penghasilan yang lebih baik.

“Di Jawa, bekerja ya uangnya langsung habis untuk kebutuhan sehari-hari. Karena biaya hidup di sana mahal. Apalagi saya sudah berkeluarga dan punya anak perempuan berusia satu setengah tahun,” katanya.

Kalimat itu menjelaskan mengapa Andri akhirnya berada di Matungkas.

Menyeberang Pulau Demi Keluarga

Andri datang ke Minahasa bukan seorang diri. Ia diajak temannya yang lebih dahulu mengenal pekerjaan berjualan perabotan rumah tangga di daerah ini.

Ada seorang bos yang juga berasal dari Sragen. Bos tersebut memiliki lima mobil bak terbuka yang digunakan untuk menjajakan barang dagangan.

Sistem kerjanya cukup sederhana. Barang disiapkan oleh bos, sementara Andri bersama empat temannya bertugas menjualnya secara berkeliling.

Mereka membawa dagangan dari satu tempat ke tempat lain. Menawarkan barang kepada warga, mendatangi kawasan permukiman, dan mencari pembeli di wilayah yang dianggap memiliki peluang.

Tidak ada toko permanen yang harus dijaga. Jalanan menjadi ruang kerja mereka.

Di Minahasa, ada pula Pak Eddy Kaen, lelaki asal Kakas yang berkeliling menjual kacang Kawangkoan dengan sepeda motor tuanya. Cerita tentang perjuangannya berjualan hingga usia 71 tahun dapat dibaca dalam Pak Eddy dan Cerita Panjang Kacang dari Kawangkoan.

Hampir lima tahun Andri menjalani pekerjaan itu di Minahasa. Waktu yang cukup panjang bagi seorang lelaki muda yang pada awal kedatangannya mungkin belum sepenuhnya mengenal daerah ini.

Perjalanan Andri mengingatkan saya pada Kang Ajet Gunawan, perantau asal Tasikmalaya yang juga meninggalkan keluarga di kampung halaman untuk mencari nafkah di Manado. Kisahnya saya tuliskan dalam Berjuang di Tengah Lesunya Ekonomi, Kang Ajet Memilih untuk Bertahan.

Dari pekerjaan tersebut, ia mendapatkan penghasilan tetap.

“Saya dapat Rp2 juta dari bos setiap bulan. Kalau libur Lebaran, saya diongkosi tiket pesawat pulang pergi ke kampung,” tuturnya.

Dua juta rupiah mungkin terdengar tidak banyak bagi sebagian orang. Namun, bagi Andri, penghasilan itu memiliki arti lain.

Ada bagian yang bisa ditabung. Ada uang yang dapat dikirim untuk istri dan anaknya di Sragen. Ada pula kesempatan untuk pulang ketika Lebaran tiba.

Jarak yang memisahkan mereka memang tidak berubah. Tetapi setidaknya, ada sesuatu yang bisa ia bawa pulang dari perantauan: hasil kerja dan sedikit tabungan untuk masa depan keluarga.

Setiap hari ia bekerja jauh dari rumah, tetapi tujuan pekerjaannya tetap berada di rumah.

Persaingan Mulai Terasa

Menjadi pedagang keliling bukan berarti selalu mudah mendapatkan pembeli.

Belakangan, Andri mulai merasakan persaingan yang semakin ketat. Muncul pedagang lain yang menawarkan barang-barang perabotan rumah tangga dengan harga serba Rp20 ribu.

Cara mereka berjualan pun berbeda. Barang dagangan digelar di sudut-sudut jalan, terutama di titik-titik keramaian yang memungkinkan orang berhenti dan melihat-lihat.

Kehadiran pedagang baru itu sedikit banyak mulai memengaruhi keuntungan yang diperolehnya. Andri menyadari perubahan tersebut. Ia tidak menutup mata bahwa persaingan bisa membuat penjualan berkurang.

Bagi pedagang kecil, perubahan seperti itu tentu terasa. Sebab, setiap barang yang terjual ikut menentukan berapa banyak uang yang bisa dibawa pulang atau dikirim kepada keluarga. Namun, ia tidak ingin terlalu larut memikirkan persaingan.

“Yang namanya rezeki itu tidak pernah tertukar,” katanya.

Perjuangan mendapatkan penghasilan dari dagangan sederhana juga dialami Oma Moni, perempuan berusia 70 tahun yang menjual pisang hingga ubi bete di kawasan Airmadidi demi memenuhi kebutuhan hidup bersama suaminya. Kisahnya bisa dibaca dalam Oma Moni Meraup Rupiah Demi Rupiah dengan Pisang hingga Ubi Bete.

Ia percaya, selama masih mau bekerja, selalu ada jalan untuk mendapatkan penghasilan.

“Yang penting rajin sholat dan tetap jujur. Insya Allah berkah dan dapat rezeki,” lanjutnya.

Keyakinan untuk terus bekerja demi keluarga juga terlihat dalam kisah Om Roni Dumais, warga Kaleosan yang menjajakan madu hutan di kawasan Maumbi. Baginya, lima botol madu yang dibawa berjualan menjadi salah satu cara memenuhi kebutuhan keluarganya. Ceritanya ada dalam Madu Hutan Kaleosan, Sumber Hidup Om Roni Dumais.

Ucapan itu keluar dengan tenang. Tidak terdengar seperti kalimat yang disiapkan untuk mengesankan orang lain. Bagi Andri, mungkin itulah pegangan yang membuatnya tetap menjalani pekerjaan di tengah persaingan.

Ia tidak bisa mengatur berapa banyak pedagang baru yang akan datang. Tidak pula bisa menentukan berapa banyak orang yang membeli dagangannya setiap hari. Yang bisa ia lakukan adalah terus berusaha.

Ada Keluarga yang Menunggu

Ketika berbincang dengan Andri, ada satu hal yang terasa lebih besar daripada urusan jual beli perabotan rumah tangga. Ia masih sangat muda. Namun, keputusan hidupnya sudah menuntut pengorbanan yang tidak kecil.

Ia meninggalkan Sragen ketika anak perempuannya masih kecil. Sementara itu, istrinya harus menjalani kehidupan sehari-hari di kampung halaman tanpa kehadiran suami di sampingnya.

Hampir lima tahun berada di Minahasa tentu bukan waktu yang sebentar. Banyak hal dalam kehidupan keluarga yang harus dijalani dari kejauhan.

Anaknya bertumbuh. Waktu terus berjalan. Dan Andri menjalani hari-harinya dengan mobil bak terbuka, berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menjajakan barang.

Di balik setiap perjalanan itu, ada alasan yang selalu sama: keluarga.

Boleh jadi, bagi orang yang melihatnya dari pinggir jalan, Andri hanyalah seorang pedagang keliling. Lelaki muda dengan mobil bak terbuka yang menawarkan aneka perabotan rumah tangga.

Tetapi di balik pekerjaan sederhana itu, ada seorang ayah yang sedang berusaha memenuhi kebutuhan anaknya. Ada seorang suami yang mencari penghasilan agar keluarganya bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Ia mungkin tidak selalu bisa hadir ketika anaknya membutuhkan pelukan. Tidak bisa setiap hari melihat tingkah anaknya yang sedang lucu-lucunya. Namun, ia berusaha memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Hujan rintik mulai turun ketika percakapan kami berakhir.

Saya berpamitan. Andri menganggukkan kepala. Sebuah senyuman mengiringi perpisahan singkat itu.

Ia kembali dengan kesibukannya. Barang-barang dagangan masih tersusun di bak mobil. Jalanan Minahasa masih menjadi tempatnya mencari pembeli.

Sementara itu, di Sragen, ada istri dan seorang anak perempuan yang menjadi alasan mengapa ia terus bekerja.

Andri Satria mungkin belum memiliki banyak hal untuk dibanggakan. Ia juga tidak sedang mengejar sesuatu yang muluk-muluk. Untuk saat ini, cukup baginya bisa bekerja, menabung, mengirim uang ke kampung, dan sesekali pulang menemui keluarga.

Sebuah kehidupan yang dijalani dengan cara sederhana, tetapi membutuhkan ketekunan.

Dari Sragen, ia datang jauh-jauh ke Minahasa. Membawa dagangan, menempuh perjalanan, dan mengumpulkan rupiah demi rupiah. Sebab, bagi Andri, mencari nafkah bukan hanya tentang berapa banyak uang yang berhasil diperoleh hari ini.

Ada kehidupan lain yang sedang ia perjuangkan. Kehidupan istri dan anaknya di kampung halaman. Dan selama masih ada yang menunggu di sana, ia punya alasan untuk terus berjalan.

Baca Juga: Politik Rakyat Dimulai dari Dapur, Bukan dari Podium

Apakah artikel ini bermanfaat?

Bagikan Artikel Ini

Foto Norman Meoko

Norman Meoko

Wartawan senior Indonesia, mantan Pemimpin Redaksi Harian Sinar Harapan. Kini menetap di Minahasa, Sulawesi Utara.

Tentang Penulis →

Pilihan Redaksi

← Kembali ke Beranda